Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
RUMAH KECIL


__ADS_3

Bima membawa Mariana ke sebuah apartemen kecil di pinggiran kota. Hanya ada satu kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu.


"Mmm, Bima. Ku pikir ini terlalu kecil untuk di tinggali kita berdua. Hanya ada satu kamar dan satu kamar mandi terpisah di sini."


"Aku hanya mampu menyewa ini. Ini saja sudah menguras habis seluruh tabunganku selama lima belas tahun," jawab Bima dingin.


"Ak-aku, aku bisa menyewakan yang sedikit lebih luas untuk kita berdua," jawab Mariana ragu-ragu.


"Tentu saja. Kau kan mempunya banyak uang. Kau seorang CEO perusahaan, berbeda denganku yang hanya gelandangan tak punya rumah."


Mariana diam. Bagaimana pun, ucapannya mungkin telah menyinggung perasaan Bima. Dia tidak bermaksud melakukannya, hanya saja Bima jelas terlalu sensitif soal keuangan mereka.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung. Tapi...."


"Tidak masalah. Aku sama sekali tidak tersinggung. Bukankah kenyataannya memang kau punya banyak uang. Tapi bagaimanapun, sebuah rumah adalah kewajiban suami untuk menyediakannya."


"Bukankah kita sudah sepakat bahwa istilah suami istri itu hanya di atas kertas. Jadi, tidak perlu terlalu ketat soal kewajiban dan tanggung jawab."


"Jadi, apakah kita akan hidup sendiri-sendiri?"


"Tentu saja."

__ADS_1


Bima mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu rumah ini adalah hal terakhir yang akan kuberikan untukmu. Selebihnya, kita akan menghidupi diri kita masing-masing." Usai mengatakannya, Bima berlalu pergi.


Mariana berjalan gontai, masuk ke dalam kamar. Kopernya telah berada di sana, menunggunya. Mariana membuka koper, memasukkan baju-bajunya ke dalam almari yang tidak begitu besar. Dia menyisakan sedikit space untuk Bima, agar laki-laki itu bisa menyimpan bajunya di sana.


Usai menata baju, Mariana keluar kamar untuk pergi mandi. Sebenarnya dia tidak terbiasa mandi menggunakan kamar mandi yang terpisah dari kamarnya, tetapi mau bagaimana lagi. Untuk saat ini yang ada hanyalah itu. Mungkin kedepannya Mariana bisa membujuk Bima untuk menyewa apartemen yang lebih besar.


Tiga puluh menit kemudian, Mariana keluar dari kamar mandi. Tidak ada air panas, tidak ada bathub, jadi waktu yang diperlukan Mariana di kamar mandi jauh lebih singkat daripada biasanya.


Mariana berjalan ke dapur setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambut. Dia bermaksud memasak makanan untuk makan malam, tetapi saat tangannya membuka lemari es, tidak ada apa pun yang bisa dia temukan di dalam sana. kotak pendingin itu kosong.


Mariana menghela nafas, berjalan keluar mencari Bima.


"Bima...." Dia memanggil, tetapi tidak ada jawaban.


"Hhh... Kemana dia." Mariana mendesah pelan. Dia berjalan ke ruang tamu, balkon, kamar, dan mencoba mengetuk kamar mandi, nihil. Tidak ada Bima di manapun, di dalam rumah mereka yang sangat kecil ini.


"Baiklah, aku akan ke supermarket mencari bahan dapur. Mungkin aku akan meninggalkan catatan saja di meja biar kalau dia pulang nanti dia tahu kemana aku pergi." Mariana meninggalkan catatan di secarik kertas, menyelipkannya di bawah vas bunga di atas meja.


Satu jam berkeliling supermarket, Mariana kembali dengan berkantung-kantung belanjaan di tangannya. Dia membuka pintu dengan susah payah karena bawaanya yang begitu banyak. Begitu tangannya berhasil memutar kunci, Mariana membukanya menggunakan siku, mendorong pintu dengan pundaknya.


Mariana membeku di balik pintu, menatap Bima yang duduk di sana sambil memakan mie dengan sikap acuh.

__ADS_1


"Astaga! Tidak bisakah kau membantuku?!" Teriak Mariana jengkel.


Bima mendongak, menatap Mariana sambil menggeleng. "Maaf, aku sedang makan," katanya acuh dengan mulut penuh makanan.


"Kau ini! Sudah tahu wanita mu kesulitan membawa banyak barang, tapi kau malah enak-enakan makan." Mariana menggerutu.


"Wanitaku? Bukankah pernikahan kita hanya di atas kertas?" tanya Bima datar.


Mariana mendengus, berjalan ke arah dapur dengan barang bawaannya yang begitu berat.


Bima menatapnya cuek, mengangkat bahu sambil melanjutkan menyantap makanannya.


"Aroma tumis bawang menguar di udara. Meski perut Bima sudah kenyang, tak ayal liurnya mengalir deras juga mendapati aroma lezat masakan Mariana dari dapur."


Bima berjalan ke dapur membawa mangkuk kosong, mencucinya, sambil sesekali matanya melirik ke arah penggorengan di mana tangan Mariana masih sibuk mengaduk sayuran hijau di dalamnya.


Bima sengaja berlama-lama, berharap Mariana berbasa-basi menawarinya makanan. Sayang, Mariana seolah tak mendengar bahkan melihat kehadirannya di sana. Wanita itu bekerja dalam diam, tangannya lincah menambahkan bumbu-bumbu pelengkap ke atas wajan.


Akhirnya Bima menyerah. Dia berjalan kembali ke ruang tamu, bergelung dibatas sofa dan tidur.


Esok paginya Bima terbangun oleh aroma kopi yang menusuk hidungnya. Saat dia membuka mata, secangkir kopi susu dengan asap mengepul tersaji meja tepat di depan dia tidur. Di sampingnya tergeletak secarik kertas dengan tulisan tangan Mariana.

__ADS_1


Aku membuat kopi untukmu tadi karena ada sisa air panas. Sayang sekali kalau harus dibiarkan dingin. Di meja dapur juga ada sisa sayur dan nasi, kalau kau mau makan. Tidak bersikap sebagai suami istri, bukan berarti aku juga tidak boleh berbagi, kan?


__ADS_2