
Pria yang bersama Mariana mengikuti Mariana masuk ke dalam rumah, membawa koper Mariana. Satu detik kemudian pintu menutup di belakang mereka.
Bima menahan nafas, tatapannya begitu tajam.
"Bos...."
Bima mengangkat tangan menyuruhnya diam.
"Apa kita akan diam saja di sini menunggu mereka sampai besok pagi?!" desis Marco.
Sebelum Bima menjawab, pintu kembali terbuka. Pria yang tadi keluar, diikuti Mariana. Keduanya bercakap di depan pintu.
"Kau bisa melihat auranya?" tanya Bima, menoleh Lucius. Lucius mengangguk.
"Seharusnya aura Mariana tak sejelas itu."
"Itu yang saya lihat juga saat di rumah sakit, Tuan. Itu kenapa saya tidak mengenali auranya. Nyonya begitu penuh cinta, dimana seharusnya auranya selalu berkabut."
Bima mengangguk. "Mereka saling jatuh cinta."
"Tidak, Tuan. Itu belum tentu."
"Kau sudah melihatnya, Lucius."
"Nyonya Mariana sedang sangat mencintai Putranya, Tuan."
Bima kembali menggeleng. "Mariana tidak setulus itu mencintai anaknya. Ada sedikit rasa benci di dalam hatinya karena anak dari hasil dia sebagai korban pemerkosaan Galang. Auranya tidak akan terlihat semurni itu."
Lucius mendesah pasrah, tidak mampu membantah.
"Ayo kita pulang."
"Tapi, Bos...."
"Pulang!" kata Bima dingin.
Marco menyalakan mesin, tatapannya menusuk pada dua orang yang masih berdiri di pintu, saling tertawa.
"Jangan pernah kau sentuh mereka, kalau itu yang ada di dalam benakmu!" Bima mengancam dingin.
Marco mendengus. "Tidak, Tuan." Katanya, menjejak pedal gas dengan sedikit emosi. Mobil melompat lima puluh meter dalam kecepatan cahaya, menderum kencang tepat di samping mobil yang baru ditumpangi Mariana. Mariana dan pria pemilik mobil, menoleh.
Bima menatap lurus ke depan, giginya mengertak keras, kedua tangannya mengepal. Tetapi Lucius tahu bukan aura kemarahan yang menyelimuti tuannya, melainkan kesedihan dan kekecewaan yang teramat dalam.
"Pergi ke bandara."
Marco menoleh sekilas, tetapi tidak membantah.
"Awasi Nyonya Mariana dan cari tahu apa hubungannya dengan laki-laki yang mengantarnya. Lalu selidiki bayi nyonya Mariana, kalau perlu lakukan tes DNA dengan milik Tuan Bima. Aku curiga bayi itu adalah anaknya." Marco memerintah Lucius dan Ronan sesampainya mereka di bandara.
"Baik, Tuan."
"Kabarkan aku perkembangannya."
Marco naik pesawat yang akan membawanya pulang, bersama Bima.
"Ke mana Lucius dan Ronan?" tanya Bima datar.
"Mereka masih harus mengatur pasukan kita yang tersebar di kota ini dan memerintahkan mereka untuk mundur, Bos."
"Kenapa tidak melalui ponsel saja. Ini sudah era digital."
Marco mendengus kesal. "Jangan pura-pura lupa bagaimana cara kerja pasukan kita, Bos," katanya dingin.
Bima merebahkan diri di kursi, mengangkat kedua tangannya untuk menyangga kepala sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Bos."
"Hmm...."
"Apa kau tidak berpikir kalau bayi itu benar anakmu, Bos? Dia mirip sekali denganmu."
"Ya karena aku yang menghidupinya," kata Bima datar.
"Bagaimana kalau ternyata dia anakmu, Bos?"
"Bagaimana bisa wanita hamil yang ku tiduri tiba-tiba hamil anak ku. Gunakan otakmu, bodoh!"
"Tapi dia mirip sekali denganmu, Bos."
"Karena aku yang menghidupinya dan menjaganya! Sudahlah kau diam saja jangan banyak bicara!"
Marco diam, tetapi wajahnya masam. Dia benar-benar bekum selesai dengan Bima, tetapi laki-laki itu kelihatannya sudah tak bisa diganggu lagi. Akhirnya Marco berdiri, keluar dari cabin pribadi bima dan berjalan ke dapur.
"Kopi, Tuan?" tanya seorang pramugari cantik dengan senyum manis.
"Ya. Tanpa gula."
"Tanpa gula?" Wanita itu bertanya, mengangkat satu alisnya.
"Tanpa gula. Karena dengan melihatmu sudah terasa manis."
Wanita di balik balutan rok panjang anggun itu tertawa lirih.
"Kau sudah berkeluarga?" tanya Marco, duduk di bangku panjang menatap wanita itu meracik kopi.
"Sudah, Tuan."
"Aah, Sial! Kalau yang cantik-cantik begini sudah berkeluarga semua aku dapat apa," dengus Marco.
"Masih banyak wanita cantik di luar sana, Tuan. Jangan takut kehabisan," katanya sambil menyodorkan gelas kopi Marco. "Sebaiknya Tuan duduk agar kopi Tuan tidak tumpak saat terjadi turbulensi." Dia mengingatkan.
"Aah, ya. Kau mengusirku secara halus. Baiklah." Marco berdiri, membawa kopinya ke bagian depan pesawat yang telah dimodifikasi menjadi ruang bersantai dengan televisi layar lebar.
Saat melewati kabin pribadi Bima, Marco tidak menemukan pria itu di dalamnya. Bima terus berjalan melewati bagian meja pertemuan, dan melihat Bima duduk di sana dengan laptop terbuka.
"Kau mau kopi, Bos?"
Bima menggeleng kecil.
"Apa yang sedang kau cari?"
"Bagaimana perkembangan perusahaan Sasmita Grup?"
Marco tersenyum miring. "Kehancuran JkA Coorp tinggal menunggu kau memencet tombol enter, Bos. Dan Sasmita Grup sudah memasukkan penawaran kerja sama pada MBC untuk penggunaan bit coin dalam bidang usahanya."
"Perintahkan mereka untuk meruntuhkan JkA sekarang juga. Aku tidak ingin ada yang tersisa darinya. Akuisisi seluruh perusahaannya hingga yang terkecil."
Marco mengeluarkan laptop, duduk persis di hadapan Bima dan membukanya.
"Apa kau akan muncul, Bos?"
"Tidak. Belum waktunya. Biarkan Leo Atlas menjadi momok bagi mereka karena mereka tidak pernah tahu wujudnya."
Marco sekali lagi mengangguk.
Sepuluh menit kemudian....
Marco mengangkat ponselnya yang bergetar di saku celananya.
"Ya," sapanya datar.
__ADS_1
"...."
"Bagus."
Marco menutup ponsel. Bima mendongak menatap Marco, menunggu.
"Mereka sudah melakukannya."
"Sisakan Galang untukku."
Marco mengangguk, kembali membuat panggilan dan berbicara dengan cepat dan singkat.
"Perintahkan Sekretaris Yumi untuk mundur dan bayar seluruh kompensasi yang mereka inginkan dari pemutusan kontrak sepihak Yumi Azura."
Marco kembali mengangguk, lalu melakukan panggilan lain.
Dua jam berlalu, Bima berjalan memasuki lift yang pintunya baru saja terbuka. Saat kakinya melangkah masuk, tatapannya bertemu dengan Noel dan Hendra yang baru akan keluar dari lift.
"Wow, sedang apa gelandangan kita berjalan di dalam gedung perkantoran elit." Hendra menatap tajam Bima.
"Sudah biarkan saja. Mungkin dia dengan mendinginkan otaknya di ruangan berAC." Noel menimpali. Lalu keduanya terbahak.
"Hancurkan mereka malam ini juga!" desis Bima begitu pintu lift menutup di hadapannya.
"Tidak bisa, Bos. Permainan masih sangat panjang. Kau tidak boleh terpancing hanya karena ulah istrimu."
Bima menatap kosong pada pintu lift yang terus bergerak naik.
"Fokus pada tujuanmu, Bos. Ini baru permulaan."
Bima mengeras di tempatnya.
Marco berjalan menuju kantor Bima yang berada tiga ruangan dari depan lift, lalu membukanya untuk Bima.
"Panggil gadis putri Hortensia itu ke tempatku."
Tanpa membantah, meski sedikit bingung.
Lima menit kemudian gadis itu telah datang dengan kepala menunduk dalam.
"Kau putri Hortensia, benar?" tanya Bima dingin. Wanita itu mengangguk patah-patah.
"Kau bilang kau di buang dari keluargamu?"Sekali lagi wanita itu mengangguk, masih menunduk dalam.
"Apa kau membenci keluargamu?"
Gadis itu diam, bingung."Bagaimana kalau aku memberi posisi untukmu, untuk melawan keluargamu."
Gadis itu terkesiap. "M-maaf, Tuan. Sebenci apa pun aku dengan mereka, tapi aku tidak akan pernah menghancurkan mereka. Maat, Tian."
Bima masih menatap dingin. "Kalau begitu kau bisa membantuku sedikit."
"Membantu Tuan? Baik, Tuan. Bukankah selama ini saya bisa di sini juga atas bantuan Tuan. Saya akan melakukan apa pun yang Tuan ingin saya kerjakan."
"Termasuk jika aku memintamu melompat dari lantai 30?"
"Jika itu untuk sebuah kebaikan, ya Tuan. Saya percaya Tuan tidak akan mencelakai orang begitu saja," jawab gadis itu sangat tenang.
Bima menarik nafas panjang. "Aku membutuhkan bantuan mu untuk menghancurkan perusahaan yang pernah menginjak ku seperti tanah. Dan kau bisa membantuku, tetapi mungkin akan sedikit menghancurkan keluargamu. Jangan khawatir, aku akan mengganti seluruh kerugian yang dialami keluargamu."
Sekali lagi gadis itu tersenyum, mengangguk.
"Saya siap melakukan apa pun untuk Tuan. Termasuk jika harus berlawanan pandang dengan kedua orang tua saya."
Bima mengangguk. "Baiklah, kita akan memulainya besok." kata Bima dingin.
__ADS_1