
"Aku mau ke kamar mandi." Mariana menaruh gelas, berdiri mendorong kursi menggunakan pahanya.
"Mau ku antar?"
"Memangnya aku nenek-nenek!" kata Mariana sewot lalu berjalan ke kamar mandi dengan tenang. Bima menatap tubuh Mariana yang terlihat semakin bulat, hingga wanita itu menghilang di sudut belokan menuju toilet wanita.
"Oh!" pekik Mariana, saat lampu toilet tiba-tiba padam. Dia membuka pintu toilet, tatapannya bertemu dengan sosok wanita yang berdiri dengan senyum sinis persis di hadapannya.
"Apa mau mu?" tanya Mariana datar, meski rasa cemas membuat tangannya reflek memegang perut. Tindakan kecilnya itu tertangkap mata Sarah yang seketika menyeringai buas.
"Anak siapa yang kau kandung?" tanya Sarah dingin.
"Anak Bima, tentu saja," jawab Mariana, tak kalak dingin.
"Katakan sejujurnya."
"Apa kau akan percaya kalau aku mengatakan yang sebenarnya kalau anak ini adalah anak Bima?"
"Beri aku alasan yang bisa membuatku percaya."
Mariana maju, kepalanya mendongak menatap Sarah yang satu kepala lebih tinggi darinya.
"Ayo ikut aku ke rumah sakit sekarang dan kau akan menemukan aku telah menggugurkan bayiku sebelum aku berhubungan dengan Bima. Kau bisa bertanya pada Bima, kapan dia menyentuhku."
Nyala api terlihat berkobar di dalam mata Sarah. Kebencian terlukis jelas di wajahnya. Matanya menatap nyalang.
"Pantas saja Bima sangat menjaganya," desis Sarah penuh kebencian.
"Tentu saja. Bagaimana tidak, kalau yang berada di dalam perutku adalah darah dagingnya!"
Sungguh sebuah kesalahan, karena begitu kata itu terucap, Sarah mendorong tubuh Mariana hingga menabrak dinding pembatas toilet.
"Auw!" teriak Mariana tertahan. Tangan dengan jari-jari lentik dan kuku panjang itu kini mencengkeram lehernya, membuat wajah Mariana perlahan memucat.
"Aku tidak menyakiti wanita hamil dan aku tidak membunuh bayi, kecuali kau tidak menjauh dari Bima. Asal kau tahu, Bima telah menelantarkan anaknya yang ku kandung dan ku lahirkan dengan susah payah. Dia sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Dia membencinya. Dia telah membunuh anak itu karena terlantar dan kedinginan!"
"A-aku t-tidak tahu. T-tapi tolong l-lepas... kan aku t-idak b-i-sa b-er... na-fas." Mariana menggeleng pelan diantara cengkeraman Sarah.
Melihat wajah Mariana yang mulai membiru, Sarah melepaskannya. Wanita hamil itu terbatuk-batuk.
"Katakan pada Bima anak itu bukan anaknya, dan pergilah jauh-jauh darinya."
Mariana membalas tatapan Sarah, wajahnya yang semula menantang berubah lembut.
"Bima tidak pernah membenci anak kalian. Mungkin kau salah paham, Sarah."
Sarah menggeleng tegas. "Tidak. Dia membenci bayi kami, karena saat itu dia sedang meniti karirnya yang menanjak hebat. Dia tidak ingin skandal di antara kami menghancurkannya."
Mariana mengerutkan kening. "Apa kau bersedia memberi tahu ku siapa Bima sebenarnya? Karena selama ini dia muncul di balik topeng lelaki pengangguran yang tak punya rumah."
"Apa yang akan aku dapat kalau aku memberitahu mu?"
Mariana berpikir sejenak, kemudian mengangguk pelan. "Aku akan pergi dari Bima dan membawa anak ini menjauh darinya."
"Anak siapa yang ada di dalam perutmu itu?"
Mariana menggeleng pelan. "Sejujurnya aku tidak tahu. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya padamu, apa kau tahu kenapa aku menikah dengan Bima?" tanya Mariana.
__ADS_1
"Aku telah mencari tahu kebenarannya karena aku takut Bima menipumu seperti dia melakukannya padaku dulu."
Mariana tersenyum. "Kalau begitu kau tahu anak dalam kandungan ini belum tentu anak Bima?"
Sarah mengangguk.
"Aku tahu aku hamil anak bajingan itu, beberapa minggu setelah kami menikah. Aku tahu dia bukan anak Bima, karena kami tidak pernah berhubungan. Pernikahan kami hanya di atas kertas. Kemudian aku mengalami perdarahan beberapa saat sebelum hubunganku dan Bima membaik. Beberapa minggu setelahnya, barulah kami berhubungan. Jadi aku tidak tahu anak siapa yang berada di dalam kandunganku ini, tetapi percayalah, aku tidak ingin mengandung benih pemerkosa itu di dalam rahimku, jadi ijinkan aku menganggapnya sebagai anak Bima."
Sarah diam, menatap Mariana dengan tatapan menilai.
"Aku tidak berbohong. Seperti Bima, aku yakin kau bisa mengetahui jika seseorang sedang berbohong, meski aku tidak tahu bagaimana caranya."
"Ya, kau benar. Aku bisa. Tetapi kau agak lebih sulit."
"Kenapa?" tanya Mariana penasaran.
"Kau tidak akan pernah memahaminya. Sekarang, apa kau yakin ingin mengetahui masa lalu Bima, dengan resiko yang kau janjikan?"
Tanpa berpikir Mariana mengangguk yakin. Rasa penasarannya akan siapa Bima sebenarnya, membuat pikirannya buta.
"Tetapi kita tidak akan melakukannya di sini. Sebentar lagi Bima datang menemui mu karena kau sudah terlalu lama di sini." Sarah mengingatkan.
"Oh... kau benar. Apa yang harus aku katakan?"
"Katakan saja perutmu mulas. Aku akan menemui mu besok di alamat ini. Pergilah sendiri." Sarah menyodorkan kartu nama dengan alamat dan nomor telepon, lalu menghilang ke dalam bilik toilet bertepatan lampu menyala dan pintu berayun terbuka.
"Mariana...." Suara Bima terdengar tepat kepalanya muncul dari balik pintu.
"Oh, apa aku terlalu lama?" tanya Mariana, menatap Bima dengan tatapan manja.
"T-tadi perutku sembelit. Sepertinya raviolinya terlalu pedas." Mariana berkilah.
"Kenapa kau tidak bilang padaku?"
"Bagaimana caraku memberitahu mu, kalau aku di dalam toilet dan kau duduk di meja makan," Mariana bergelayut di tangan Bima, membawanya kembali ke meja mereka.
Bima mengelus kepala Mariana, mengacak rambutnya dengan gemas.
"Tapi sekarang aku lapar lagi."
"Apa?!" tanya Bima menahan geli.
Mariana mengangguk yakin.
"Kau ingin pesan apa?"
"Aku tidak mau di sini. Aku mau soup cream buatan mu saja nanti di rumah."
Bima tersenyum, menggamit pinggang Mariana membawanya pergi.
Duduk di dalam mobil, mata Mariana menangkap kelebat Sarah masuk ke dalam mobil sport merah di ujung parkiran, lalu meluncur pergi.
"Apa Sarah mengganggumu di toilet?" tanya Bima tiba-tiba.
Mariana menoleh kaget, cepat-cepat menggeleng. "Tidak. Dia bahkan tidak pergi ke toilet."
"Apa kau baru keluar saat aku mengintip masuk?"
__ADS_1
Mariana mengangguk patah-patah.
"Kenapa?" tanya Mariana.
"Tidak. Tapi dia berada di bilik tengah saat aku masuk tadi. Mungkin dia tidak menyadari keberadaan mu di dalam sana. Untunglah."
"Bagaimana kau tahu dia di bilik tengah?" tanya Mariana, mengerut curiga.
Bima tersenyum. "Aku tahu. Tapi aku tidak bisa memberi tahu mu. Aku benar-benar minta maaf," kata Bima.
Mariana tersenyum, membalas permintaan maaf Bima dengan anggukan mengerti.
"Aku tahu. Tidak semua yang terjadi di dunia ini perlu untuk kita ketahui. Terkadang, bersikap masa bodoh dan memilih untuk tidak ingin tahu justru lebih baik, bukankah begitu?" tanya Mariana.
Bima mengangguk. "Ya. Itu lebih baik. Terima kasih sudah mengerti."
Mobil berhenti di depan pintu utama rumah Bima, Mariana turun. Bima menggandengnya masuk.
"Apa kau masih ingin soup cream?" tanya Bima.
Mariana menggeleng. "Sepertinya aku sudah mengantuk. Aku mau langsung tidur saja."
Bima kembali tersenyum, mengangguk, lalu membawa Mariana langsung ke kamar.
Mariana pergi mandi. Dua puluh menit kemudian wanita itu tampak lebih segar dengan setelah piyama merah jambu bergambar beruang coklat dan rambut basah.
"Kau mau aku mengeringkan rambutmu dulu?" tanya Bima.
Mariana menggeleng. "Tidak mau. Hair dryer membuatku gerah. Begini saja."
"Tapi rambutmu basah."
"Tidak apa. M... Bima, apa kau bisa membawakan ku susu?" tanya Mariana.
Bima mengangguk. "Tentu saja."
Begitu Bima keluar dari kamar, Mariana meraih ponsel dari dalam tasnya dan mengeluarkan kartu nama yang dia sembunyikan di balik casing. Mariana menyalin nomor telepon Sarah, memberinya label Mom and Baby Spa. Lalu Mariana menyembunyikan kartu nama itu di balik tumpukan kotak sepatu pestanya, setelah menulis alamat yang tertera di sana ke dalam field alamat kantor pada data kontak.
Bima masuk, membawa segelas susu putih hangat.
"Terima kasih...." Mariana menerima gelas susu, meneguknya perlahan hingga tandas seluruhnya.
"Tidurlah. Aku akan menaruh gelas di bawah dan melihat Boggy sebentar."
Mariana mengangguk. Boggy, anjing raksasa yang minggu lalu Bima tolong di pinggir jalan saat kakinya terluka, yang kini menghuni krangkeng besi di belakang rumah Mariana.
Sepeninggal Bima, bukannya tidur, Mariana kembali mengeluarkan ponsel.
Sarah. ini aku, Mariana.
Jangan menghubungiku di rumah. Bima tidak bisa dibohongi. Dia akan tahu kau menyembunyikan sesuatu. Hapus saja pesannya. Pesan balasan Sarah masuk kurang dari satu detik.
Panik, Mariana menghapus pesan Sarah cepat-cepat sambil melirik pintu, berharap Bima masih berada di kandang Boggy. Lalu Mariana meringkuk di tempat tidurnya, meninggalkan ponsel dalam posisi mati di atas nakas.
Bima membuka pintu beberapa menit kemudian, saat Mariana sudah meringkuk terlelap. Bima memasangkan selimut di atas Mariana dan mengecup keningnya. Wanita itu tidak bergerak.
Saat hendak mengambil ponselnya, Bima menatap ponsel Mariana yang tergeletak di atas nakas, layarnya mati.
__ADS_1