Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
NOMOR TELEPON


__ADS_3

Tidur Mariana tidak nyenyak. Hingga menjelang pagi, berkali-kali dia terbangun. Berkali-kali pun Mariana ke kamar mandi, lalu ke dapur untuk minum, tapi dia sama sekali tidak menemukan Bima.


Mariana kembali tidur. Badannya terasa nyeri hampir di sekujur tubuh. Dia kedinginan, tetapi keringat membasahi tubuh dan kepalanya.


Mariana meringkuk, tubuhnya menggigil. Matahari sudah tinggi, tapi tubuh Mariana lemas. Dia membiarkan matanya terpejam, mengikuti keinginan tubuhnya untuk terus tidur.


"Katakan padanya kalau dia tidak datang, sama artinya dengan dia mengakui semua perbuatannya!"


Mariana membuka mata. Dia mengerjap sebentar, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari.


Perlahan dia bangkit, berjalan keluar.


"Ada apa?" tanya Mariana pelan, menatap punggung Bima. Laki-laki itu berhadapan dengan seseorang yang berada di depan pintu.


Bima menoleh. "Tidak ada apa-apa. Hanya kecoa busuk yang salah masuk."


"Hei, Kau! Kenapa kau kabur dari pertanggungjawaban. Apa kau mau bilang kalau kau takut menghadapi tim audit?" Leo muncul dari balik pintu, menatap murka pada Mariana.


Mariana tersenyum. Dengan wajah kusut dia berjalan mendekat.


"Tidak sama sekali, Leo. Aku minta maaf karena aku bangun kesiangan."


"Hah! Segala bangun kesiangan kau jadikan alasan. Dasar pel***r tak tahu di...."


Buk! Sebuah hantaman keras membungkam mulut Leo, kembuat kata-katanya terhenti.


"Bima!" Mariana berlari mendekat, menahan lengan Bima yang siap berayun untuk kedua kalinya.


"Berani kau menyebut kata kotor iku di depanku...." Bima menatap Leo dengan tatapan berkobar, tetapi nada suaranya sedingin lautan es.


"Bima...." Mariana merengek, masih menggenggam erat lengan Bima. Sementara di ujung sana, Leo mengelap bibirnya yang membiru dan mengeluarkan darah. Laki-laki itu meludah sembarangan di hadapan Bima, membuang cairan darah yang membanjiri mulutnya.


"Ha! Kalian memang sama-sama menjijikkan. Sangat pantas hidup bersama dalam kemiskinan." Mata Leo memindai bagian dalam rumah Bima yang kecil.


"Pergi, atau aku akan meremukkan rahangmu!" ancam Bima.


"Ssst... sudahlah kalian berdua. Aku akan segera mandi, lalu berangkat." Mariana menengahi keduanya.


"Bima.... Aku akan bersiap sebentar. Tolong temani tamu kita, ya." Mariana menatap Bima lembut, meremas sedikit lengan yang berada di genggamannya.


"Tidak perlu!" Leo menggeram. "Aku akan menunggumu di kantor. Jika dalam waktu satu jam kau tidak muncul, ku anggap seluruh tuduhan yang kami temukan, benar."


Mariana mengangguk singkat sebagai jawaban.


Dua puluh menit kemudian, Mariana sudah duduk tenang di kursi penumpang, sementara Bima menyetir dengan wajah gusar.


"Ada apa denganmu?" tanya Mariana, menatap Bima.


"Tidak," jawab Bima dingin.


Mariana tersenyum. "Kenapa wajahmu begitu marah? Tidak biasanya aku melihatmu seperti itu."


Bima menarik bibir membentuk senyum sinis. "Siapa orang yang tidak marah kalau pagi-pagi ada seseorang yang menggedor rumahnya dengan tidak sopan, kemudian berteriak-teriak tidak jelas dan mengatai istrinya seorang pe***ur," kata Bima dingin.


"Jadi, kau marah karena dia menyebutku begitu?" tanya Mariana.

__ADS_1


"Aku akan marah pada siapa pun yang menyebut seorang wanita dengan panggilan kotor itu!" geram Bima.


Mariana membuang tatapannya ke depan, mendesah panjang namun sangat pelan.


"Ada apa?" tanya Bima datar, menatap raut wajah Mariana yang terlihat kecewa.


Mariana menggeleng, tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Memangnya kenapa? Ada yang salah denganku sehingga membuat kau bertanya seperti itu?" Mariana balas bertanya. Bima menggeleng.


Diam-diam Bima sangat kagum melihat ketenangan pada diri Mariana. Wanita di sampingnya ini, begitu hebat sistem pengendalian dirinya. Padahal Bima tahu betul Mariana sedang tidak baik-baik saja, dan semalam wanita itu demam. Saat Mariana menyentuh lengan Bima tadi pun, Bima masih bisa merasakan tangannya yang panas, menggenggamnya erat. Tetapi saat ini, wanita itu terlihat biasa saja bahkan sangat luar biasa. Hanya tatapan matanya saja yang sedikit sayu, menandakan dia sedang kurang sehat.


Bima menurunkan Mariana di depan gedung kantornya yang berlantai 20.


"Maaf harus meminjam mobilmu. Telepon aku kalau kau sudah pulang." Bima menatap Mriana lebih lembut dari biasanya.


Mariana mengerutkan kening.


"Kenapa?" tanya Bima, raut wajahnya sudah kembali datar dan dingin.


"Bagaimana caraku menelponmu?"


Sekarang ganti Bima yang mengerutkan kening. "Apa kau tidak memiliki ponsel?" tanya Bima heran. Selama ini, Bima memang tidak pernah melihat Mariana bermain ponsel selama bersamanya.


Mariana mendengus. "Tentu saja aku punya. Tapi aku tidak memiliki nomer ponselmu," gerutu Mariana.


Bima menatap kaget. Mariana tersentak, lalu memalingkan wajah. Perpaduan ekspresi dingin yang khas dan terkejut, membuat wajah Bima terlihat begitu mempesona, dan seolah ada sesuatu yang melompat di dalam perut Mariana, membuatnya tersentak kaget.


"Mana ponselmu." Bima mengulurkan tangan.


Mariana merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya pada Bima. Bima menuliskan sederet nomor dan mengembalikan ponsel pada Mariana.


"Kau mau ke mana?" Mariana memberanikan diri bertanya, menatap Bima penasaran.


"Melakukan sesuatu yang berguna."


Mariana tersenyum masam. Melakukan sesuatu yang berguna. Seperti apa contohnya. Nyatanya sejauh ini, Mariana sama sekali tidak melihat Bima berusaha melamar pekerjaan atau apa pun. Sehari-hari dia hanya tidur-tiduran di rumah dan tiap malam pergi keluyuran entah kemana.


"Baiklah, aku turun dulu."


Bima mengangguk, tanpa menatap Mariana.


Rasa kecewa merayapi hati dan perasaan Mariana, membuatnya marah. Mariana turun, menutup pintu agak sedikit lebih keras dari seharusnya dan berjalan pergi. Bima diam di tempatnya, menatap punggung Mariana hingga menghilang.


"Halo, Marco." Bima menempelkan ponsel di telinga.


"Ya, Bos."


"Bagaimana progres mu?"


"Beres, Bos. Aku sudah menemukan pelakunya. Ada orang dalam dari Perusahaan dan Bank yang mengeluarkan rekening koran Mariana."


"Oke. Kirimkan padaku data-datanya."


"Baik, Bos. Eh, Bos.... Apakah kau akan ke kantor hari ini?"


"Ya. Aku meluncur sekarang."

__ADS_1


Bima menutup telepon, memundurkan mobil dan melaju di atas jalanan beraspal, menuju pusat kota.


Bima masuk ke dalam mansion mewah dengan gaya luxury, memarkir mobilnya sembarangan di depan pintu. Seorang laki-laki dengan seragam serba hitam mengenakan sarung tangan putih, berlari membukakan pintu.


"Tuan." Paria itu membungkuk.


"Pergilah," jawab Bima dingin. Pria itu mengangguk, lalu berjalan pergi.


Bima memasuki pintu yang dibukakan oleh dua orang penjaga dengan seragam sama persis. Pria itu membungkuk sopan saat Bima lewat.


"Tuan... Anda datang. Saya akan menyiapkan sarapan." Seorang wanita baya berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah, menyambut kedatangan Bima.


"Tidak usah. Aku hanya berganti baju dan akan berangkat lagi."


"Apakah Tuan akan memakai mobil Tuan sendiri?" Pria yang sejak Bima turun dari mobil telah mengikutinya, bertanya.


"Ya."


"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan mobilnya."


"Aku akan membawanya sendiri."


"T-tapi, Tuan...." Paria itu menatap kaget.


"Marco akan kesini sebentar lagi."


"Baiklah, Tuan." Pria itu mengangguk, kemudian berbalik dan pergi.


Bima menaiki lantai lima, menuju kamarnya. Lima belas menit kemudian dia turun, mengenakan setelan jas mahal warna navy, rambutnya tersisir rapi. Tatapan matanya yang tajam dingin menusuk tulang. Siapa pun yang melihatnya, tidak akan mengenali bahwa itu seorang Bima, gelandangan tidak punya rumah yang menikahi Mariana.


Bima berjalan turun, seorang pengawal dengan pakaian serba hitam mengikutinya.


"Tuan Marco menunggu di ruang kerja Anda, Tuan." Pengawal itu memberi tahu.


Bima mengangguk sekilas, kemudian berjalan ke ruang kerjanya.


"Bos...." Marco berdiri, begitu Bima masuk ruangan.


"Apakah ada sesuatu yang baru?"


"Ya. Sumber informasi kita mengatakan, mereka bersiap memecat Nona Mariana dan menguras habis hartanya dengan dalih pengembalian dana."


Bima tersenyum sinis. "Biarkan saja. Aku mempunya lebih dari yang dibutuhkan Mariana untuk hidup berfoya-foya. kita lihat saja nanti, setelah Mariana duduk di kursi CEO perusahaannya sendiri."


"Bos, apakah Anda yakin akan memberikan induk perusahaan FMCG ke tangan istri Anda?"


"Tentu saja. Apa kau meragukan istriku?" kata Bima sengit.


"Tidak. Tentu saja tidak. Saya hanya khawatir istri Anda belum terlalu berpengalaman dengan perusahaan sebesar itu. Firma Texas jelas hanya sepuluh bagian kecil di banding Four Trainer Grup," jawab Marco.


"Jangan khawatir. Istriku bukan wanita sembarangan," jawab Bima datar.


"Sekarang, kalau kau sudah selesai membahas istriku, ayo kita berangkat."


Marco melompat berdiri, membuka pintu untuk Bima dan berjalan di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2