Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
GAJI LIMA TAS BRANDED


__ADS_3

Mariana terisak dalam pelukan Bima.


"Maafkan aku, Mariana." Bima balas mendekap tubuh Mariana.


Mariana menggeleng. "Terima kasih," bisiknya lirih. "Aku berjanji akan menjaga anak kita."


"Jaga bayiku baik-baik, Mariana."


Mariana mengangguk. Kepalanya mendongak, kembali menubruk bibir Bima yang masih terlihat memerah.


"Mariana... ingat kehamilanmu."


"Satu kali saja, Bima." Mariana merengek.


Bima terbahak, memeluk tubuh sintal Mariana sekali lagi.


"Cukup untuk hari ini, Sayang. Kau perlu tidur."


Mariana cemberut. Bima mengecup keningnya perlahan sambil mengelus puncak kepalanya.


Ponsel Bima berbunyi. Bima meraihnya dari atas nakas.


"Yaa...." Bima menyapa, sebelah lengannya tidak melepas pelukannya pada tubuh Mariana.


"Rumahnya sudah siap ditempati, Bos."


"Ya," jawab Bima singkat, lalu memutus sambungan.


"Aku punya hadiah untukmu. Kau mau tidur dulu, atau kita akan pergi sekarang?"


"Kau yang menyetir. Tapi aku mau beli soup cream jagung dulu sebelum menerima apa pun kejutan darimu." Mariana beranjak duduk dengan cepat.


Bima tersenyum lebar, merengkuh tubuh Mariana dan membawanya ke kamar mandi.


Lima puluh menit kemudian, Mariana tersenyum lebar di dalam mobil, tangannya memegang soup cream jagung yang masih mengepulkan asap. Di sampingnya ada air lemon dingin tertancap di tempat gelas.


"Terima kasih, Bima."


Bima tersenyum, mengangguk.


"Apa pun yang kau mau, ibu hamil."


Mariana cemberut, menyendok soup creamnya dan memakannya.


Tiga puluh menit kemudian, Bima memasuki gerbang tinggi rumah mewah bergaya imperio.


"Rumah siapa ini?" tanya Mariana membelalak lebar.


"Rumah yang akan kita tempati."


"Apa?!" tanya Mariana kaget.


"Ayo turun." Bima tidak menjawab kekagetan Mariana, melainkan beranjak turun lalu membuka pintu untuk Mariana.


"Silahkan, Nyonya besar."


Mariana tertawa lebar, melangkah turun dari mobil.


"Saat kau bilang kita akan menempati rumah temanmu, apakah ini rumahnya?" tanya Mariana ternganga.


"Ya. Dan sekarang kita akan menempatinya."


"T-tapi, Bima.... Kau yakin pemiliknya membolehkan kita menempati rumah ini?"


"Tentu saja." Bima menjawab tenang.

__ADS_1


"T-tapi apartemen kita masih sisa 9 bulan lagi. Sayang kan uangmu. Apa lagi setelah ini aku sudah tidak bekerja lagi."


Bima mendesah panjang. Dia sudah mengira Mariana akan mengatakan ini. Melihat Marco berlari menuruni tangga depan, Bima tersenyum.


"Istriku, aku di bayar untuk menempati tempat ini. Jadi jangan khawatir kita tidak memiliki uang."


"Di bayar?"


Bima mengangguk. "Ya. Di bayar."


"Selamat Sore, Tuan Bima." Marco menyapa dengan sangat resmi. Gayanya yang kaku, membuat Bima ingin tertawa.


"Selamat sore, Marco. Mariana, ini Marco. Dia yang akan menjadi managermu di perusahaan yang kau pimpin."


Marco membelalak kaget, begitupun Mariana."


"P-perusahaan apa?"


Bima menatap tenang. "Bukankah aku sudah memberitahumu, temanku ingin membuka cabang perusahaannya di sini dan mencari CEO."


"T-tapi...."


"Aku sudah mengajukan CV mu padanya dan temanku setuju. Marco ini yang akan menjadi tangan kananmu, sekaligus orang yang bisa menghubungkanmu dengan pemilik perusahaan langsung." Bima memberi tatapan peringatan pada Marco, laki-laki itu mengubah ekspresinya dengan cepat.


"Selamat bergabung dengan perusahaan kami, No... maksud saya, Nyonya Sandiago."


"Panggil aku Mariana saja."


"Baik, Nyonya Mariana."


"Em... Marco. Bisa kita masuk sekarang? Ku pikir Mariana perlu banyak beristirahat, mengingat kondisi kehamilannya agak sedikit melemahkan fisiknya."


"Oh, baik, Tian Bima. Silahkan. Anda bisa menempati kamar mana pun yang Nyonya inginkan."


"Apakah pemilik rumah ini tidak menggunakan kamar sama sekali? Bagaimana kalau dia pulang?"


"Mariana tersenyum, mengangguk mengerti."


Bima membawa Mariana masuk, mengikuti Marco yang sudah masuk terlebih dulu. Rumah itu besar, mewah. Bahkan jauh lebih mewah dibandingkan kediaman orang tua Mariana yang mana ayah Mariana termasuk dalam sepuluh orang terkaya di kotanya.


"Siapa pemilik rumah ini sebenarnya, Bima. Kenapa dia tidak tercatat dalam deretan pria terkaya di kota, kalau dia sekaya ini?" tanya Mariana, matanya memindai seluruh isi rumah dengan pandangan takjub.


"Ya. Karena dia tidak terdaftar sebagai warga kota ini," jawab Bima tenang.


"Apa dia warga negara asing?"


Bima menggeleng. "Dia dulu tinggal di desaku, di kota sebelah. Dan yang aku tahu, hingga kini identitasnya masih menggunakan kota sebelah."


"Tapi, kenapa dia juga tidak masuk dalam deretan orang-orang terkaya di kota sebelah?"


"Memangnya kamu menghafal seluruh nama orang-orang terkaya di kota sebelah?" tanya Bima, tersenyum.


Mariana menggeleng. "Tidak juga sih, tetapi ku pikir mereka sering mengadakan pertemuan dengan ayah. Kau tahu, perkumpulan orang-orang terkaya di negara bagian timur."


"Apakah semua orang-orang kaya berkumpul dalam pertemuan itu?" tanya Bima, mengerutkan kening.


"Tidak semua sih, tapi sebagian besar. Yah, beberapa yang terlalu sibuk jarang menghadiri pertemuan. Dan ayah juga bilang ada beberapa orang yang memang tidak suka menghadiri pertemuan semacam itu, karena mereka tidak hidup dalam persaingan ketat. Tetapi tetap saja mereka orang-orang terkaya di kotanya."


"Mungkin temanku salah satunya," Bima mengangkat bahu dengan acuh.


"Memangnya siapa nama temanmu? Mungkin kita bisa menemukannya di deretan pria-pria pengusaha sukses di negara bagian timur." Mariana mendesak.


"Apakah itu begitu penting sekarang, Mariana. Kalau memang temanku salah satu dari deretan orang kaya itu, apakah kau akan berpaling dariku kepadanya. Setahuku dia juga masih belum beristri." Bima sewot.


Mariana menoleh kaget, kemudian tertawa.

__ADS_1


"Apa itu ungkapan cemburu atau apa?" tanyanya terkikik.


Bima mengangkat bahu, wajahnya tampak datar. "Mungkin," katanya singkat.


Mariana tertawa, bergelayut di lengan Bima kemudian meraup bibir cemberut suaminya.


"Apa kau tidak malu pada manager baru mu yang berdiri menonton di sana?" tanya Bima, setelah Mariana melepas pagutannya. Mariana mengejang, menatap Bima tegang, tidak berani menoleh ke arah yang di tunjuk Bima.


Bima tertawa. "Makanya jangan asal seruduk seperti banteng, Ibu Hamil." Bima menyentil ujung hidung Mariana.


"Kenapa kau tidak memperingatkanku," desis Mariana, mendelik menatap Bima.


"Kau tidak bilang-bilang mau menciumku," kata Bima tenang.


"Tapi kau kan bisa menolakku kalau tahu dia ada di sana." Mariana mengertakkan gigi, masih mendesis pelan.


"Yah, aku tidak tahu sampai kau melepas pagutanmu."


"Kau ini...." Mariana mencubit perut Bima hingga laki-laki itu meringis kesakitan.


"Sudah, sudah. Ayo naik dan memilih kamar yang kau inginkan. Dia sudah pergi." Bima menarik tangan Mariana lembut dari pinggangnya.


"Tapi aku malu bertemu dengannya," rengek Mariana.


"Kenapa harus malu. Kau istriku, kita suami istri yang sah."


"Ya tapi seharusnya tidak sembarangan juga, kan."


"Jangan khawatir, dia pasti tahu kita masih pengantin baru. Itu wajar." Bima tersenyum, mengelus rambut panjang Mariana dengan lembut.


Mariana tersenyum, mengangguk, lalu berjalan ke arah tangga dalam rengkuhan Bima.


Mariana mengambil kamar yang terletak di tengah di lantai dua, dengan pemandangan langsung ke arah taman yang ditempati kandang burung besar dan kelinci.


"Aku suka tempat ini. Dari sini aku bisa melihat taman bunga, burung-burung yang beterbangan dalam sangkar raksasanya, dan kelinci yang berlarian di bawah. Aku juga menyukai ayunan ini. Nyaman sekali pasti duduk di sini menatap gunung yang membiru itu sambil membaca buku," kata Mariana tersenyum lebar.


"Kalau begitu kita akan menempati kamar yang ini." Bima menyetujui.


"Apa boleh sama temanmu, Bima?"


"Kau sudah dengar dari Marco, kan. Kita bebas memilih kamar yang mana."


Mariana mengangguk. "Tapi, Bima. Rumah ini sangat besar. Dengan kondisi kehamilanku, aku khawatir tidak akan sanggup membersihkannya sendirian." Mariana menggeleng, kembali memperhatikan sekeliling rumah.


Bima kembali tersenyum. "Tidak perlu khawatir. Rumah ini memiliki beberapa asisten rumah tangga."


"Apa?!" tanya Mariana kaget.


"Kenapa kaget? Rumah ini tidak ditempati pemiliknya, tetapi sangat bersih. Kau pikir siapa yang membersihkannya selama ini. Jin?"


Mariana kembali menggeleng. "Tapi kalau kita meminjamnya untuk ditempati, tentunya tidak termasuk biaya asisten rumah tangga, kan, Bima." Mariana mengerutkan kening.


"Apa kau lupa kalau aku tinggal di rumah ini juga di gaji. Temanku memberiku gaji karena aku bersedia menempati rumahnya dan menjadi pengawas bagi seluruh asisten rumah tangganya."


Mariana menatap bingung. "Temanmu sangat aneh."


"Ya, mungkin. Tapi begitulah dia. Bingung bagaimana menghabiskan uangnya yang bertumpuk semakin banyak setiap harinya. Dia bahkan menggaji ku cukup banyak hingga cukup untuk kau gunakan berfoya-foya dan berbelanja barang mewah."


"Apa?! Memangnya berapa dia menggajimu setiap bulan?" tanya Mariana kaget.


"Yah, katakan saja kau bisa membeli tas branded lima kali dalam satu bulan, tanpa kita kelaparan."


"Kau gila! Kau pikir berapa harga tas branded, hah?" tanya Mariana sebal.


Bima mengangkat bahu. "Mungkin dua atau tiga ratus ribu, kan."

__ADS_1


"Gila!" Mariana berteriak sebal, lalu berbalik pergi.


__ADS_2