
Bima uring-uringan. Kegagalannya menemukan Sarah dan Mariana serta tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada anak buahnya membuat darahnya naik sampai ke ubun-ubun.
Brak!
Bima menggebrak meja saat salah satu pengawalnya melaporkan bahwa rumah Sarah yang di apartemen maupun di desa telah dikosongkan. Seluruh data identitas yang mengatasnamakan sarah pun telah pasif, keuangan di bank telah dikosongkan.
"Cari brengsek itu sampai dapat atau aku akan menghabisi kalian semua! Dia membawa anak dan istriku, apa kalian belum mengerti apa artinya itu?!" Bima melempar seluruh barang yang berada di atas meja, wajahnya murka.
"Siap, Tuan. Kami sudah bergerak."
"Lacak kendaraannya."
"Terakhir mobilnya beroperasi dia pergi ke bandara internasional di hari yang sama saat Nyonya menghilang, kemudian ke minimarket. Dari minimarket dia pulang dan sampai hari ini mobilnya tak terdeteksi keluar kemana pun, Tuan. Saat kami ke apartemennya, mobil Nona Sarah juga berada di sana."
"Wanita terkutuk! Berani dia menyakiti anak dan istriku, akan aku kuliti dia hidup-hidup," geram Bima terdengar sangat mengancam.
Di tempatnya, di salah satu kamar apartemen termewah di kotanya, Sarah tersenyum puas. Dia mengamati orang-orang Bima yang bergerak memenuhi kota untuk memburunya.
"Selamat datang di dunia sakit hati, Bima. Kau akan merasakan betapa hancurnya sebuah kehilangan dan betapa menyakitkannya tidak dapat membalaskan sebuah dendam." Sarah berdiri di depan cermin, wajahnya yang bulat menatap balik pada matanya yang lebar dengan bulu mata tebal. Alis sepeti goresan arang menggantung di atas kelopak matanya.
Sarah mundur, mengamati tubuhnya yang juga membulat secara ajaib. Senyum ibis terkembang di sudut bibirnya, satu-satunya bentuk yang tersisa dari seluruh bagian tubuh dan wajah asli Sarah. Rambutnya yang dulu panjang dan lurus kini berintik dan menggantung di atas bahu.
Sarah meraih ransel butut dari atas mja, mengenakannya di satu lengan lalu melangkah keluar. Perut buncitnya agak sedikit menghalangi saat wanita itu menunduk untuk memasang sepatu keta di kedua kakinya. Kaus lengan panjang kedodoran dan celana jins kekecilan memperkuat perbedaan atara Sarah yang lama dengan Sarah yang saat ini sedng mengayunkan kaki besarnya melangkahi badan motor dilan butut.
Sarah menstater motor bututnya, bunyi knalpotnya memekakkan telinga, membuat satpam apartemen menoleh sambil mengernyitkan hidung.
"Selamat pagi, Pak." Mariana mengangguk sedikit, menyeriangi, saat melewati pak satpam yang maaih mengernyit.
"Ya, ya. Selamat pagi, Neng Intan." Satpam gempal itu balas menyapa Sarah dengan sopan.
Sarah berjalan di sekitar taman di dekat apartemen lamanya sambil menggenggam pelastik berisi cilok dan gelas orange juice. Dia sengaja melewati dua orang berbaju hitam yang dia tahu sudah dua hari ini mengawasi apartemennya yang kosong.
"Oh!" Sarah tersandung, menumpahkan gelas orange juice tepat di kaki salah satu dari mereka.
"Hati-hati, Nona." Kedua orang itu segera membantu Sarah berdiri. Sarah berdiri, menepuk-nepuk lututnya yang kotor.
"Sebaiknya kalau kakan duduk dulu, Nona." Salah satu dari mereka mengingatkan Mariana dengan sopan.
"I-iya, Pak. Maaf ini memang kebiasaan buruk saya. Terima kasih sudah menolong saya, tapi...." Sarah menuduk, seolah mencari sesuatu. Kedua orang di hadapannya mengamati dengan bingung.
"Saya idak punya apa-apa untuk membalas kebalikan bapak." Sarah merogoh saku jumpernya, mengeluarkan dua buah permen bulat berbentuk semangka yang rasanya kenyal. "Hanya ada ini. Terimalah sebagai rasa terima kasih saya."
Kedua pria itu mengerutkan kening.
"Tidak perlu, Nona. Tidak perlu. Kami tidak melakukan apa pun, hanya membantumu berdiri."
"Ya, tapi tetap saja perbuatan baik harus di balas." Mariana kembali mengulurkan dua buah permen di tangannya.
__ADS_1
Kedua pria itu saling tatap, lalu mengangguk.
"Baiklah. Kami terima ucapan terima kasihmu. Lain kali berhati-hatilah." Salah sati dari keduanya yang sepatunya tersiram orange juice Sarah, tersenyum, mengulurkan tangan untuk menerima permen."
"Terima kasih, Paman. Akan aku ingat pesanmu." Lalu Sarah berbalik dan melangkah pergi meninggalkan keduanya dengan langkah riang.
"Apa dia waras?" tanya salah seorang yang lebih kurus.
Satunya menggeleng. "Mungkin kurang satu oersen, aku tidak tahu. Tapi niatnya baik, jadi makan ini. Lumayan untuk membasahi tenggorokan," katanya, tangannya menjejalkan permen bulat ke tangan temannya yang masih mengamati arrah menghilangnya Sarah.
Ctak!
Dua orang berbadan gempal itu menggigit permen hingga berbunyi cetak, lalu mengunyah bulatan hijau di dalamnya, mengantongi bungkusnya di saku celana karena tidak menemukan tempat sampah di dekatnya.
"Lumayan. Manis...." kata-katanya menggantung. Keduanya saling tatap dalam diam begitu permen yang mereka makan masuk ke dalam tenggorokan.
"Apa kau merasakan sesuatu?" tanya si berbadan lebih gempal.
"Ya. Ini seperti...."
"Hubungi tuan."
"Tidak, ia akan membunuh kita. Wanita muda itu...."
Tak menunggu, satu orang di antara mereka mengeluarkan ponsel dan menelepon Marco. Mereka terhuyung ke belakang, bersandar pada tembok bangunan.
"Apa?!" teriak Marco, suaranya sampai terdengar keluar dari speaker ponsel.
"Kamywwylwllyl...."
"Johan! Ada apa dengan kalian?!" teriak Marco lagi.
Hening. Tidak ada respon. Pria yang di panggil Jogan telah luruh ke taran dan menelungkup di atas temannya yang sudah terlebih dulu terguling.
"Ada apa?" Bima mendongak, menatap Marco.
Marco menggeleng. "Entahlah. Tapi sepertinya terjadi sesuatu dengan Johan dan Gery," jawab Marco panik, mengantongi pistol dan beranjak pergi.
"Di mana mereka?"
"Berjaga di depan apartemen Sarah."
Bima meraup pistol dari dalam brankas, membantingnya menutup dan berlari mengejar Marco yang sudah lebih dulu keluar.
Black Lion kembali menderu di jalanan yang haru ini lebih padat, berlari kencang menuju apartemen Sarah.
"Sial!" teriak Bima bersamaan dengan Marco, saat melihat kerumunan orang di sekitar jalan dekat apartemen Sarah. Marco menghentikan mobil di sembarang tempat lalu berlari menyibak kerumunan diikuti Bima.
__ADS_1
"Johan! Gery!"
Bima berlutut, mengecek nadi keduanya.
Melihat siapa yang sedang berlutut, kerumunan menyibak, kemudian perlahan bubar. Nama Leo Atlas terlalu buas untuk didekati pada jarak kurang dari lima meter, jadi mereka memilih pergi sejauh mungkin.
Bima dan Marco mengangkat kedua pengawalnya, membawanya masuk ke dalam mobil.
"Apa kita perlu membawa mereka ke Rumah Sakit, Bos?"
Bima menggeleng. "Bawa ke mansion. Biar dokter Enggar datang memeriksa mereka."
Setelah mengatakannya, Bima membuat satu panggilan serius dengan dokter pribadinya.
"Bawa mereka ke lantai dua. Dokter akan memeriksanya." Marco memberi perintah pada para pengawal yang berdiri di sekitar.
Tanpa menunggu, enam orang bertubuh kekar segera membawa Johan dan Gery naik dan menidurkan keduanya di sebuah ruangan luas yang memang telah disulap Bima menjadi miniatur rumah sakit kecil, karena seringnya pasukannya terluka dan harus di rawat serius selama beberapa waktu.
Tatapan keenam orang yang membawa mereka berdua terlihat bertanya-tanya, tetapi tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka semua tahu resiko seperti apa yang harus mereka tanggung, saat mereka menobatkan diri sebagai pasukan singa.
Bima berdiri dengan cemas di dalam ruang kerjanya.
"Apa yang terjadi pada mereka. Apakah Sarah menyerang mereka. Apa Sarah kembali ke partemennya. Atau, apakah mereka melihat keberadaan Mariana bersama Sarah, sehingga Sarah menyerang mereka?"
Pikiran Bima berkecamuk. Dia sedang berteriak murka saat Marxo masuk.
"Dokter Enggar sedang memeriksa mereka," kata Marco, memberi tahu.
Tanpa menjawab, Bima berjalan keluar melewti Marxo dan meninggalkannya sendirian di ruang kerjanya.
"Ck!" Marco berdecak, mengikuti keluar.
"Bagaimana keadaan mereka?" songsong Bima, begitu dokter Enggar keluar dari kamar periksa.
Dokter botak beruban itu tersenyum tenang. "Siapa pun yang menyerang mereka, tidak bermaksud untuk mencelakainya. Mereka hanya memasukkan obat bius dosis tinggi pada permen." Dokter itu membuka telapak tangannya, mengulurkan dua bungkus permen kosong.
"Tidak oerlu khawatir. Mereka akan bangun dengan sendirinya dalam waktu lima sampai enam jam kedepan."
"Lima sampai enam jam? Apa itu tidak terlalu lama?" tanya bima dingin.
"Tidak. Karena si penyerang memasukkannya dalam dosis tinggi."
"Tapi siapapun yang menyerangnya, dia sudah akan hilang dalam waktu seperempat hari."
"Koreksi kalau aku salah, tapi... benarkah dugaanku, setelah memiliki ostri kau jadi lembek? Kenapa untuk menemukan seorang yang membagi permen pada dua pasukanmu saja kau hrus menunggu mereka bangun?" tanya dokter Enggar sok polos. Bima tersentak, wajahnya mengeras.
"Tentu saja tidak. Tapi abgaimana pun mereka harus tetap bangun untuk memberikan penjelasan."
__ADS_1
"Tak ku ragukan, kau akan melaundry mereka sampai kusut, lalu menyetrikanya pada suhu tinggi hingga kering kerontang dan kembali licin." Dokter Enggar mencibir, berlalu pergi dan menuruni tangga tanpa berpamitan pada Bima. Bima menatapnya yang menghilang di dasar tangga.