
Mariana berlutut di depan kakeknya, menangis. "Maafkan Mariana, Kakek. Mariana terpaksa. Mariana tidak mampu lagi menahan cemoohan mereka."
Kakek Mariana tersenyum, mengangguk. Satu tangannya mengelus rambut panjang Mariana.
"Tidak apa-apa, Mariana. Kakek tahu apa yang selama ini terjadi kepadamu. Pergilah, Nak. Bekerjalah di tempat di mana kemampuanmu di hargai dengan pantas."
Mariana mendongak menatap kakeknya, mengangguk.
"Sekarang pergilah bantu bibi mu menyiapkan makan malam. Aku perlu berbicara dengan suamimu."
Mariana mengangguk, lalu berjalan pergi.
"Ikuti aku." Kakek Mariana berdiri, berjalan menuju ruang kerjanya.
"Ceritakan," katanya, begitu laki-laki tua itu duduk di belakang meja kerja lebar dengan tumpukan buku-buku usang.
"Mariana hamil."
Kakek Mariana mendesah pasrah.
"Tetapi dia membenci bayinya. Dia tidak ingin mengandung anak dari laki-laki bajingan itu."
"Lalu?"
"Aku tidak ingin dia membunuh janin hanya karena dia membencinya."
Kakek Mariana mengangguk paham, tetapi tatapannya menunggu. Jelas laki-laki itu tahu Bima belum selesai dengan ceritanya.
"Kami melakukannya."
Tarikan nafas panjang menjadi tanggapan pertama yang Kakek Mariana berikan.
"Kau mencoba memanipulasi pikiran Mariana?"
Bima mengangguk.
"Apa itu berhasil?"
Bima kembali mengangguk.
"Apa wanita itu sudah muncul?"
Bima menggeleng.
"Bagaimana bisa?"
Tatapan Bima menurun, kembali menggeleng. "Aku juga tidak tahu, Kek."
"Kau sudah menghubungi kakekmu?"
Bima kembali menggeleng. Tatapannya kembali pada mata tua berkeriput di hadapannya.
"Apa wanita itu mengacau di desa kalian?"
Bima sekali lagi menggeleng. "Akan ada suruhan orang yang mencari saya kalau itu terjadi.
"Sejujurnya aku merasa heran dengan kakekmu. Dia tahu wanita terkutuk itu akan bangkit jika kau tidur dengan seorang wanita, tetapi dia justru menjebakmu di dalam sebuah pernikahan. Apa dia pikir kau akan selamanya mampu menahan hasratmu di bawah atap yang kau huni bersama seorang wanita yang telah kau halalkan," kata Bima sinis.
"Para tetua mengira kami telah melakukannya, sebelum mereka memutuskan untuk menikahkan kami, kakek. Mereka menemukanku dan Mariana tidur dalam satu ranjang, dengan kondisi Mariana yang telanjang, karena seluruh bajunya robek saat dia diperkosa."
"Jadi mereka lebih mempercayai mata telanjangnya dari pada aura yang terpancar di tubuhmu?" tanya Kakek Mariana geram.
Bima menggeleng. "Aku minta maaf, Kakek. Saat itu aku memang memiliki hasrat pada Mariana. Meski aku mampu menahannya, tapi aura itu akan tetap muncul dan terlihat jelas oleh mereka."
Kakek Mariana kembali menghembuskan nafas panjang, mengangguk.
"Ya, ya. Tentu saja mereka terkecoh, jika kau merasakannya dengan kuat."
"Aku sudah mencoba menepisnya, Kakek."
Kakek Mariana menggeleng. "Aku tidak menyalahkanmu. Kau laki-laki normal. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah jika iblis terkutuk itu muncul, apa yang akan kau lakukan?"
Bima menggeleng. "Belum ada yang bisa dilakukan sebelum kita tahu dia muncul dalam wujud apa. Dia bisa muncul dalam berbagai jelmaan, Kakek."
Kakek Mariana kembali mengangguk.
"Baiklah. Kita singkirkan dulu masalah itu untuk nanti. Tidak ada yang bisa kita lakukan sebelum iblis itu muncul. Aku akan bicara pada kakek mu untuk menemui mu di sini, kau jangan menginjak tanah mereka untuk sementara. Siapa tahu dengan kau berada di sini bau mu yang telah bercampur wanita tidak lagi tercium oleh iblis wanita itu."
Bima mengangguk.
"Sekarang, apa yang kau lakukan dengan Mariana. Apa kau sudah membuka kedok mu? Ku lihat kalian membeli mobil baru "
"Tidak." Bima menggeleng. "Aku bilang itu uang pemberian temanku, yang meminjamkan rumah dan memberinya pekerjaan."
__ADS_1
"Dia percaya?"
"Tidak begitu saja, tentunya. Dia tidak menuntut, tetapi aku yakin Mariana sudah mencurigai sesuatu yang aneh."
"Dia wanita cerdas."
"Aku tahu, Kakek."
"Kapan Mariana akan mulai bekerja?"
"Aku berencana meresmikan perusahaan itu bulan depan. Saat ini, kondisi Mariana masih terlalu lemah untuk bekerja keras. Dia banyak muntah, terutama pagi hari."
"Kau sudah mengatur segalanya?" Kakek Mariana manggut-manggut.
Bima mengangguk. "Mariana akan bekerja dengan Marco sebagai manager umumnya. Marco lah yang akan menjadi perantara Mariana denganku, Kek. Minggu ini, aku dan Marco sudah bersiap menggemparkan kota dengan kemunculan anak perusahaan four trainer group."
"Tentu saja mereka akan menjadi gempar. Four Trainer Group bukan perusahaan kecil yang bisa di remehkan. Kau telah merajai pusat hiburan dan perbelanjaan hampir di seluruh penjuru negeri."
Bima diam, menatap mata tua yang tersenyum tenang di hadapannya.
"Kuasai kota kecil ini, Nak. Aku pasrahkan kebahagiaan Mariana padamu."
"Saya akan menjaminnya, Kek." Bima mengangguk percaya diri.
"Apa kalian belum selesai?" tanya Mariana, membuka perlahan pintu ruang kerja kakeknya. Bima menoleh kaget.
"Tentu saja sudah sejak tadi. Kami sudah kelaparan menunggu kalian selesai menyiapkan makan malam." Kakek Mariana berdiri. Dengan ajaib, suaranya telah kembali pada mode menggerutu.
Bima tersenyum, melangkah mendekati Mariana. "Kami sudah siap makan malam. Apa kau sudah selesai?"
Mariana mengangguk, berjalan ke meja makan.
Jam sepuluh malam Mariana dan Bima baru memasuki pelataran rumah mewah yang baru mereka tempati. Mariana tertidur di mobil, Bima membawanya masuk dengan menggendongnya.
Mariana menggeliat merasakan matanya yang tiba-tiba silau. Sinar matahari pagi menerobos masuk melewati jendela yang terbuka, menerpa wajah Mariana yang masih mengerjap-ngerjap.
Mariana berbalik, matanya menatap segelas susu dengan kertas terlipat di depannya.
"Minumlah susumu. Aku juga sudah memasak bubur jagung di dapur, untuk sarapanmu. Aku oergi sebentar, temanku memintaku menemuinya di bandara. Dia transit selama delapan puluh menit saja. Maaf tidak membangunkanmu, tapi aku tahu kau lelah. Aku akan segera pulang segera setelah dia kembali berangkat."
Mariana tersenyum membaca pesan Bima. Tulisan tangan Bima bagus, miring-miring dan sangat rapi. Mariana kembali melipatnya, menaruhnya di atas meja, lalu mengambil susu dan meminumnya hingga habis.
Sementara di tempat lain...
Lima belas menit kemudian, Marco datang.
"Ayo berangkat."
Marco yang udah siap menaruh pantatnya di atas sofa, membeku. Pantatnya mengambang dua puluh senti dari kursi.
"Tidak bisakah aku menempelkan pantatku lima menit saja, Bos. Sudah nanggung ini," katanya memelas."
"Taruh saja nanti di kursi di balik kemudi. Ayo." Bima melangkah membuka pintu, keluar.
Marco mengangkat kembali pantatnya, berdiri tegak dan mengikuti Bima berjalan keluar.
"Apa semua sudah berkumpul?" tanya Bima di perjalanan menuju hotel yang telah dipesan Marco untuk mereka mengadakan pertemuan.
"Sudah, Bos."
Bima mengangguk. Tiba di loby hotel, Bima berjalan masuk tanpa merasa perlu memandang siapa pun.
"Tuan Bima." Seorang wanita dengan setelan rapi berwarna biru navy menyapanya. Wanita itu membungkuk sopan.
"Tidak perlu seperti itu. Aku bukan dewa," kata Bima datar.
Wanita itu kembali menegak, lalu menekan tombol lift naik. Lift terbuka, keduanya masuk. Keluar di lantai enam, wanita anggun dengan sanggul mungil itu membawa Bima ke ruang privasi di ujung koridor. Saat membuka pintu, semua orang yang ada di dalamnya seketika berdiri.
"Duduk. Aku bukan guru yang harus di sambut dengan berdiri sambil mengucap salam," kata Bima dingin. Laki-laki itu berjalan menuju kursi paling ujung, yang selalu disiapkan bagi posisi tertinggi eksekutif perusahaan.
"Bagaimana kelanjutan proyek kita?" tanya Bima, begitu pantatnya menempel pada kulit kursi.
"Kita perlu memberi banyak upeti untuk urusan perijinan itu, Bos. Para pejabat kota kecil ini benar-benar seperti kapal ponton. Mereka memiliki lambung yang sangat besar dengan muatan kosong, dan tidak akan berjalan sebelum muatannya penuh. Fiuh!" lapor seorang pria yang duduk di sisi kiri Bima.
"Tidak masalah. Penduduk di sini sangat menguntungkan. Daya saing penduduk kota ini sangat tinggi. Gengsi selalu berhasil mendongkrak daya beli." Bima berdiri, menekan proyektor hingga menyala dan menunjukkan sebuah skema perusahaan.
"Di sini lah MDC akan masuk."
Beberapa dahi mengerutkan kening bingung.
"MDC adalah perusahaan yang bergerak pada bidang digitalisasi uang. Taman hiburan kita, akan memberlakukan tiket masuk menggunakan uang digital. Uang digital ini akan bisa di dapat tidak hanya dari tranding aplikasi, tetapi kita akan mengaplikasikannya pada kehidupan nyata. Mereka bisa mendapatkan poin dari hasil belanja di outlet-outlet yang sudah kita miliki saat ini, untuk kemudian ditukar menjadi uang digital."
"Maka setiap orang akan berbondong-bondong pergi ke outlet kita, demi mendapatkan uang digital yang sangat berharga." Bisma menyeringai dari deretan tengah meja.
__ADS_1
"Menjadi tugasmu untu memviralkan uang digital ini agar menggelitik daya saing masyarakat."
"Jangan khawatir, Bos. Itulah pekerjaanku."
"Fransisco. Aku mau kau menyelesaikan proyek taman hiburan kita agar siap diresmikan tepat saat perayaan malam tahun baru. Kerahkan arsitek-arsitek terbaik di seluruh negeri." Bima memberi perintah.
Yang dipanggil Fransisco, laki-laki dengan rambut bulu landak tebal dan alis yang hampir menempel, mengangguk tegas.
Bima balas mengangguk puas.
"Kita akan mulai menjalankan sistem digitalisasi uangnya, besok pagi. Aku sudah membuka aplikasinya untuk diunduh secara luas. Ben, kau bisa mulai menggebrak masyarakat malam ini?"
Ben, pria kurus tinggi dengan wajah kuda mendongak menatap skema baru yang muncul di layar.
"Hmm... Sistem trading," gumamnya. "Mereka akan terkecoh dengan nominal rupiahnya yang sangat kecil," lanjutnya.
"Ya. Itu hanya untuk menjangkau mereka yang kekuatan financialnya minim. Tetapi nominal kecil tentu saja hanya memiliki sedikit keuntungan, mereka akan segera bergeser ke nominal pembelian yang lebih besar," jelas Bima.
"Apakah kita akan mulai memberikan poin trading pada struk pembelian juga, Bos?"
Bima menggeleng. "Tidak. Beberapa perusahaan seperti Firma Texas akan menyadari ini sebuah permainan jika kita melakukannya bersamaan. Kembangkan digitalisasi uang tersebut di luar, lalu kita akan memulainya minggu depan, seolah kita sedang terseret arus digitalisasi uang dan menjadikannya sebagai alat promosi barang."
Kesepuluh staf eksekutif yang memimpin anak perusahaan Four Trainer Group mengangguk paham.
"Maaf, Bos. Tetapi bagaimana kita bisa berjalan tanpa kantor pusat. Itu akan dianggap sebagai tranding gelap."
Sekali lagi Bima menggeleng. "Marco sudah mengaturnya di luar. Induk FMCG saat ini sudah berdiri di kota Malaba, Aser, dengan permainan skala kecil. Tugasmu, Ben, membuatnya menjadi viral. Kenapa kita memulainya di luar negeri, karena penduduk negeri kita mengalami krisis kepercayaan terhadap negeri sendiri. Maka produk luar akan lebih mereka percaya dari pada produk dalam negeri."
Beberapa kepala mengangguk paham.
"Baiklah. Kalau semua sudah mengerti, kita cukupi pertemuan hari ini. Kita akan memulai seluruh gebrakannya pekan depan."
Pertemuan bubar, tetapi Bima menahan Fransisco dan Marco di ruang pertemuan.
"Satu yang perlu kau ketahui, Fransisco. FMCG, bukan anak perusahaan Four Trainer Group."
"Apakah itu perusahaan afiliasi?" tanya Fransisco.
Bima menggeleng. "Tidak. FMCG adalah induk perusahaan digitalisasi uang yang aku dirikan tidak di bawah Four Trainer Group, karena istriku yang akan menjalankannya."
Fransisco, sebagai kepala induk Four Trainer Group, tersenyum. "Ini akan menguntungkan kita."
"Tentu saja. Musuh tidak akan tahu dua perusahaan sedang bekerja di bawah satu kekuasaan," timpal Marco.
"Kalau boleh aku tahu, Bos, perusahaan mana yang sedang kau serang?" tanya Fransisco. Sebagai tangan kedua Bima, Marco dan Fransisco hampir mengetahui semua seluk beluk Bima. Sama seperti Tompson, yang saat ini memegang perusahaan otomotif dan sekaligus mengendalikan showroom yang baru dua bulan ini Bima buka di kota Maraya ini.
"Istriku, terlempar keluar dari perusahaan keluarganya. Firma Texas. Dan dia diperlakukan seperti sampah."
"Kami akan mengurusnya, Bos."
"Perhatikan juga untuk Bondan Coorporation Founder."
"Ada apa dengan perusahaan itu?"
"Putra tunggalnya yang telah memperkosa istriku dengan sangat biadab!" Bima menggeram.
"Apa?!" Fransisco berdiri kaget.
"Tenang." Bima mengangkat tangan. "Jangan gegabah. Perusahaannya berada di bawah dukungan para penguasa dan penegak hukum."
"Tapi gengster yang kau pimpin berada jauh di atas merek, Bos!" desis Fransisco geram.
Bima tersenyum tenang. "Apa begitu cara mainmu setelah bertahun-tahun aku tidak beraama kalian, Fransisco?" tanyanya dingin.
Fransisco diam, kemudian perlahan kembali duduk. "Tidak, Bos. Maafkan aku."
Bima mengangguk. "Bagus. Bekerjalah dengan profesional. Dan aku juga ingin memberitahumu, ada kemungkinan wanita iblis itu akan bangkit."
Bima mengerut. "Bagaimana bisa? Bukankah kau tidak tidur dengan istrimu, Bos?"
"Sayangnya, ya."
Fransisco menepuk keningnya. "Bagaimana itu bisa terjadi, Bos. Seharusnya kau tahu resikonya. Dia bisa memporak porandakan segala yang telah kita bangun selama ini," keluh Fransisco.
Bima menggeleng. "Kita sudah lebih siap saat ini. Itu kenapa aku menaruhmu di atas Four Trainer Group, menaruh Tompson di Otto Tech, dan menaruh Marco di MFCG," jelas Bima.
"Ke mana Tompson?" tanya Marco.
"Aku menyuruhnya menemui Kakek."
"Untuk apa?"
"Ku tahu,"
__ADS_1
Marco menyeringai. "Hanya memastikan, Bos," katanya.