
Mariana berjalan keluar kamar diikuti Bima. Tangannya menyeret koper besar Mariana. Tiba di puncak tangga lantai dua, langkah kaki Mariana terhenti, karena telinganya menangkap suara teriakan dari bawah.
"Aah... Ini dia pengantin baru kita tercinta. Aku ingin lihat seperti apa wajah gelandangan yang berhasil menidurinya. Dasar wanita murahan." Angel. Sepupu Mariana yang seumuran dengannya, dan sangat membenci Mariana karena gadis itu selalu lebih segalanya darinya.
Mariana menarik nafas panjang, berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri.
Mariana memejamkan mata, berusaha memblokir suara tawa mengejek dari saudara-saudaranya yang tiba-tiba saja sudah memenuhi kediaman orang tuanya meski tidak diundang.
"Hei, Mariana. Kau mau kemana?" tanya Alex, sepupu Mariana dari Bibi pertama. Laki-laki itu juga sngat membenci Mariana, karena Mariana berhasil menduduki posisi lebih tinggi darinya di perusahaan.
"Hei, dia pasti akan berbulan madu, tentu saja. Apa kau lupa dia pengantin baru, Alex." timpal Angel.
Tangan Mariana mengepal erat, berusaha menahan kakinya agar tetap berpinak di tempatnya.
"Ayo," bisik Bima lagi.
"Ooh, aku lupa. Tentu saja. Menikahi seorang gelandngan, ah aku ingin tahu bagaimana rasanya berbulan madu di kolong jembatan dengan ditonton tikus got."
Mariana menelan ludah, berjalan ke arah pintu tanpa menoleh siapa pun.
"Jangan lupa mengambil foto saat kalian berciuman, Mariana. Pemandangan di kolong jembatan pastilah sangat indah."
"Sangat romantis."
"Benar-benar pasangan serasi. Aku jadi iri dan ingin ikut bersama mereka tidur di kolong jembatan."
Mariana tiba di pintu. Bima mendorongnya keluar dengan perlahan sebelum berbalik dan menatap setiap orang yang ada di sana.
"Kalau kalian tidak menutup mulut kalian rapat-rapat, kupastikan kalian akan merasakan bagaimana rasanya tidur di kolong jembatan," kata Bima dingin. Auranya yang sehitam kabut asap bahkan mampu membungkam seluruh orang yang berada di ruang utama, sebelum mereka tersadar dan segera terbahak. Namun saat itu terjadi, Bima telah menghilang bersama Mariana di balik pintu.
Mariana berjalan menunduk menuruni anak tangga. Air matanya meleleh deras.
"Maafkan aku, Mariana. Karena aku, kau jadi mengalami hal buruk ini."
Mariana menggeleng. "Lupakan. Ini bukan salahmu," katanya. "Kau bisa engendarai mobil?" tanya Mariana kemudian, berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di garasi utama.
"Sedikit. Aku pernah menj...."
Mariana mengulurkan kunci mobil. "Aku sedang dalam keadaan terlalu buruk untuk menyetir."
Bima menatap ragu, namun tangannya terulur menerima kunci. Dia menekan tombol remot control, lampu mobil Nadia berkedip sekali dengan bunyi bib.
Bima segera berlari membuka pintu untuk Nadia.
__ADS_1
"Aku ini istrimu, bukan bosmu. Kenapa kau memintaku duduk di belakang."
"Oh." Bima membelalak. "K-kupikir, kau tidak akan mau duduk denganku di depan."
Mariana mendengus, membuka pintu depan dan duduk. Bima segera menutup pintu belakang, menyeret koper Nadia dan melemparnya ke bagasi.
"Kau siap?" tanya Bima tepat setelah bunyi klik sabuk pengaman terdengar.
Mariana mengangguk.
"Kita akan ke mana?" tanya Bima.
"Aku masih punya sedikit tabungan untuk kita tidur di hotel."
"Tapi kau akan memerlukannya untuk kedepannya. Aku tidak yakin aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat."
Mariana kembali mengangguk.
"Apa kau keberatan jika kita tidur di pinggir jalan untuk malam ini?"
"Tidak." Mariana kembali menggeleng. "Kita bisa tidur di dalam mobil. Bawa aku ke mana pun kau akan pergi, yang penting segera menjauh dari tempat mengerikan ini."
Bima mengangguk, segera menyalakan mobil dan meluncur keluar dari area Mansion keluarga Mariana.Mariana berjalan keluar kamar diikuti Bima yang menyeret koper besar Mariana. Tiba di puncak tangga lantai dua, langkah kaki Mariana terhenti karena telinganya menangkap suara teriakan dari bawah.
"Aah... Ini dia pengantin baru kita tercinta. Aku ingin lihat seperti apa wajah gelandangan yang berhasil menidurinya. Dasar wanita murahan." Angel. Sepupu Mariana yang seumuran dengannya, dan sangat membenci Mariana karena gadis itu selalu lebih segalanya darinya.
Mariana menarik nafas panjang, berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri.
Mariana memejamkan mata, berusaha memblokir suara tawa mengejek dari saudara-saudaranya yang tiba-tiba saja sudah memenuhi kediaman orang tuanya meski tidak diundang.
"Hei, Mariana. Kau mau kemana?" tanya Alex, sepupu Mariana dari Bibi pertama. Laki-laki itu juga sangat membenci Mariana, karena Mariana berhasil menduduki posisi lebih tinggi darinya di perusahaan.
"Hei, dia pasti akan berbulan madu, tentu saja. Apa kau lupa dia pengantin baru, Alex." timpal Angel.
Tangan Mariana mengepal erat, berusaha menahan kakinya agar tetap berpijak di tempatnya.
"Ayo," bisik Bima lagi.
"Ooh, aku lupa. Tentu saja. Menikahi seorang gelandangan, ah aku ingin tahu bagaimana rasanya berbulan madu di kolong jembatan dengan ditonton tikus got."
Mariana menelan ludah, berjalan ke arah pintu tanpa menoleh siapa pun.
"Jangan lupa mengambil foto saat kalian berciuman, Mariana. Pemandangan di kolong jembatan pastilah sangat indah."
__ADS_1
"Sangat romantis."
"Benar-benar pasangan serasi. Aku jadi iri dan ingin ikut bersama mereka tidur di kolong jembatan."
Mariana tiba di pintu. Bima mendorongnya keluar dengan perlahan sebelum berbalik dan menatap setiap orang yang ada di sana.
"Kalau kalian tidak menutup mulut kalian rapat-rapat, ku pastikan kalian akan merasakan bagaimana rasanya tidur di kolong jembatan," kata Bima dingin. Auranya yang se hitam kabut asap bahkan mampu membungkam seluruh orang yang berada di ruang utama, sebelum mereka tersadar dan segera terbahak. Namun saat itu terjadi, Bima telah menghilang bersama Mariana di balik pintu.
Mariana berjalan menunduk menuruni anak tangga. Air matanya meleleh deras.
"Maafkan aku, Mariana. Karena aku, kau jadi mengalami hal buruk ini."
Mariana menggeleng. "Lupakan. Ini bukan salahmu," katanya. "Kau bisa mengendarai mobil?" tanya Mariana kemudian, berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di garasi utama.
"Sedikit. Aku pernah menj...."
Mariana mengulurkan kunci mobil. "Aku sedang dalam keadaan terlalu buruk untuk menyetir."
Bima menatap ragu, namun tangannya terulur menerima kunci. Dia menekan tombol remote control, lampu mobil Nadia berkedip sekali dengan bunyi bib.
Bima segera berlari membuka pintu untuk Nadia.
"Aku ini istrimu, bukan bos mu. Kenapa kau memintaku duduk di belakang."
"Oh." Bima membelalak. "K-kupikir, kau tidak akan mau duduk denganku di depan."
Mariana mendengus, membuka pintu depan dan duduk. Bima segera menutup pintu belakang, menyeret koper Nadia dan melemparnya ke bagasi.
"Kau siap?" tanya Bima tepat setelah bunyi klik sabuk pengaman terdengar.
Mariana mengangguk.
"Kita akan ke mana?" tanya Bima.
"Aku masih punya sedikit tabungan untuk kita tidur di hotel."
"Tapi kau akan memerlukannya untuk kedepannya. Aku tidak yakin aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat."
Mariana kembali mengangguk.
"Apa kau keberatan jika kita tidur di pinggir jalan untuk malam ini?"
"Tidak." Mariana kembali menggeleng. "Kita bisa tidur di dalam mobil. Bawa aku ke mana pun kau akan pergi, yang penting segera menjauh dari tempat mengerikan ini."
__ADS_1
Bima mengangguk, segera menyalakan mobil dan meluncur keluar dari area Mansion keluarga Mariana.