
Mariana membeku di tempatnya. Dia masih menatap tidak percaya pada rekening koran yang kini tersaji di hadapannya.
"A-aku tidak pernah menerimanya," sahut Mariana tergagap.
"Lalu bagaimana kau akan menjelaskan soal dana yang masuk di rekening mu melalui rekening perusahaan," tanya Leo sarkas.
"Apa kau bermaksud mengatakan bahwa bank memonopoli data perbankan milikmu?"
Mariana kembali menggeleng. "A-aku tidak tahu. Tapi aku benar-benar tidak pernah menerimanya."
"Begini saja. Mariana, kami beri kau waktu lima hari untuk menjelaskan semua ini dan mungkin termasuk mengkroscek data perbankan mu di bank. Kalau dalam waktu itu kau gagal memberikan penjelasan yang masuk akal, maka kau harus mengundurkan diri dari jabatan mu, dan kami juga mau kau mengembalikan seluruh dana yang telah kau terima di luar hak mu. Tidak terkecuali dana dividen saham yang masuk di rekening mu."
"Di tempat ini kau adalah satu-satunya orang yang tidak memegang saham perusahaan. Seharusnya kau sudah cukup puas dengan jabatan tertinggi yang kami berikan padamu, bukan malah menghabiskan uang perusahaan untuk masuk ke kantong pribadimu." Leo mengatakannya dengan sangat tegas, membuat telinga Mariana merona.
Mariana menarik nafas panjang, menenangkan diri.
"Baik, rekan-rekan. Aku akan bertanggung jawab pada seluruh kecurangan ini. Dalam waktu lima hari, jika aku gagal membawa bukti bahwa aku tidak bersalah, maka aku akan mengundurkan diri dari jabatan CEO perusahaan, bahkan dari perusahaan ini." Mariana menjawab dengan percaya diri.
Plok... Plok... Plok...
Leo berdiri di samping Noah, bertepuk tangan.
"Sungguh wanita yang gentleman, bukan. Aku akan dengan senang hati menunggu datangnya surat pengunduran dirimu, Nona Mariana," katanya sinis. Mariana tersenyum tenang, mengangguk.
Mariana pulang dengan pikiran kosong. Dia tidak langsung pergi ke apartemen, melainkan menemui Ara, sahabatnya, di sebuah resto kecil di pusat kota.
"Ada apa?" Ara bertanya begitu Mariana berhenti dari menangis di pelukan Ara.
Mariana menceritakan segala yang terjadi di perusahaannya. Air matanya bercucuran deras, tak sanggup lagi dia menahan sesaknya.
"Mereka jahat sekali," bisik Ara,menepuk perlahan punggung Mariana.
"Mmm... Mariana. Kenapa kau tidak menceritakan saja semua ini kepada suamimu. Siapa tahu dia memiliki solusi untuk mengatasi ini."
Mariana mendongak, lalu menggeleng. "Kami tidak pernah menikah, Ara," jawabnya pelan.
"Apa?!"
"Ya. Kami membuat kesepakatan, bahwa pernikahan kami hanya sebatas di atas kertas. Selebihnya, kami hidup sendiri-sendiri."
Ara mengerutkan kening tidak percaya. "Kenapa kau melakukan itu?" tanya Ara pelan.
Sekali lagi Mariana menggeleng.
"Ku pikir saat melakukannya, kalian suka sama suka. Apa pemuda itu menjebak mu, Mariana. Apa dia memperkosa mu waktu itu?" tanya Ara cemas, menggenggam kedua jemari Mariana.
"Tidak." Mariana menggeleng sekali lagi. "Dia hanya berada di tempat yang salah, pada waktu salah."
"Apa maksudmu. Kenapa kau tidak menceritakannya saja padaku apa yang terjadi, Mariana. Jangan membuat diriku tampak bodoh seperti ini," gerutu Ara.
__ADS_1
Mariana menarik nafas panjang berkali-kali, mencoba menenangkan diri.
"Dia hanya menolongku."
"Menolong?"
Mariana mengangguk.
"Tetapi mereka bilang kau tidur dengannya."
"Itu memang benar. Dan aku memang benar-benar dalam keadaan telanjang bulat. Tetapi kami tidak melakukan apa pun."
"Apa maksudmu kalian tidak melakukan apa pun. Kalau kau tidak melakukannya, lalu kenapa kau tidur dengannya dalam keadaan telanjang?"
"Karena bajuku koyak."
Ara mengerutkan kening tidak mengerti.
"Galang memperkosaku dengan membawa kelima anak buahnya."
"Galang?!" Ara membelalak kaget.
"Ssst...!" Mariana memperingatkan kepalanya menoleh kesana kemari. Untunglah tidak ada yang memperhatikan mereka. Hanya ad satu orang laki-laki yang duduk di dekat mereka, tetapi sepertinya dia sedang sibuk dengan satu ponselnya, sementara ponselnya yang lain terselip saku dadanya.
"Jaga volume suaramu!" Mariana berbisik memperingatkan.
Mariana mengangguk. "Ya. Dengan lima temannya."
Ara menggosok wajahnya dengan frustasi. "Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?" tanya Ara.
Mariana menggeleng. "Aku bekum siap. Aku takut kau membenciku, karena aku sekarang kotor."
"Sial! Kenapa pikiranmu sangat pendek, Mariana!" desis Ara kesal.
"Jadi, bagaimana rasanya diperkosa enam orang beramai-ramai?" bisik Ara, lebih dekat pada Mariana.
Buk! Mariana memukul pundak Ara keras-keras.
"Aaw... Kenapa kau memukulku?" protes Ara.
"Apa kau ingin merasakannya? Kalau iya, akan aku hubungi Galang sekarang juga supaya membawa semua teman-temannya!"
Ara memucat. "Tidak, tidak. Tidak perlu. aku cukup mendengar dari ceritamu saja, aku yakin aku sudah bisa merasakannya lebih dari cukup." Ara nyengir.
Mariana, mendengus kasar.
"Seandainya saja Bima tidak datang. Mungkin aku sudah habis di gilir."
"Jadi... Dia muncul seperti seorang super hero?" tanya Ara bersemangat.
__ADS_1
"Ya. Dia muncul dengan wajah murka tepat sebelum anak buah Galang merobek bagian belakangku."
"Apa?!"
"Mereka bersiap melakukannya berdua. Untung saja Bima yang datang menolongku. Aku tidak tahu bagaimana dia mengusir mereka semu, karena tepat setelah melihatnya mendobrak pintu, kegelapan menguasaiku."
"Ooh, so sweet...." Ara tersenyum lebar, matanya berbinar-binar seperti wanita yang tengah jatuh cinta pada rayuan maut seorang pria.
Mariana sekali lagi mendengus panjang. "Apa kau pikir pertolongan yang datang setelah kejadian perkosaan gila itu adalah sebuah hal romantis seperti di film-film laga. Kalau iya, maka kau salah besar."
Ara diam, mematung.
"Begitu membuka mata dan melihatnya, ketakutan seketika menyelimuti ku. Aku tidak tahu kenapa Galang masih meninggalkan pria lain lagi untuk menghabisi ku setelah dirinya dan seluruh anak buahnya yang kejam itu. Aku sudah lelah, tubuhku sangat sakit. Rasanya aku lebih memilih mati dari pada merek harus melakukannya lagi padaku."
"Ooh, Mariana, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tahu kau pasti hancur dengan semua kejadian itu." Ara memeluk erat sahabatnya.
"Terima kasih sudah menerimaku meski kini kau tahu aku kotor, Ara."
"Ssst!" Ara menempelkan telunjuknya di bibir Mariana. "Jangan pernah katakan itu lagi."
Mariana tersenyum, mengangguk.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan dengan Bima sekarang, setelah pernikahan kalian di atas kertas."
"Kami akan hidup satu atap, tetapi sendiri-sendiri."
"Apa maksudnya?"
"Ya, kami tidak saling terikat."
"Dan apakah itu berarti dia sama sekali tidak dapat membantumu?"
"Meskipun kami benar-benar menikah, dia tetap tidak akan membantuku, Ara."
"Apa? Tapi kenapa?"
"Karena dia baru akan mencari kerja."
Bibir Mariana melongo. "Pria itu tidak bekerja? Bukankah dia...." kalimatnya terhenti karena dering ponsel di sakunya.
"Oh, maaf. Aku mengangkat telepon sebentar."
Mariana mengangguk. Ara meraih ponselnya, melihat deretan nomor tak di kenali sana.
"Ya...." Ara menyapa.
"Jangan katakan apa pun pada Mariana, kalau kau masih ingin persahabatan mu dengannya terus berlanjut."
Ara membeku di tempatnya.
__ADS_1