Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
BUKAN ANAK KU


__ADS_3

Mariana masih tertegun di tempatnya, saat Bima memasuki ruangan.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bima.


Mariana mendongak. "Aku... baik. Hanya terlalu lelah," katanya lalu kembali menunduk.


"Kau bisa pulang, atau harus menginap untuk kesehatanmu?"


Mariana menggeleng. "Tidak. Aku pulang saja."


"Bukan kau yang menentukan, Nona Mariana. Tapi Dokter. Apa mereka bilang kau bokeh pulang?" tanya Bima dengan nada dingin seperti biasa.


Mariana kembali mendongak, menatap Bima sejenak, laku kembali menunduk. Rasa perih mengiris batinnya saat dia mendengar panggilan Bima kepadanya. Nona.


Ya. Mereka memang hanya menikah di atas kertas, tidak di kehidupan yang sebenarnya. Dan sekarang Mariana hamil. Mariana yakin, dia mengandung anak Galang. Walau mereka hanya melakukannya satu kali, tapi Galang telah membuahinya berkali-kali, fan saat itu dia dalam masa subur.


Mariana ingin menangis, tetapi dia berusaha kuat menahan air matanya agar tidak menetes.


"Mmm... Bima."


Bima menatap datar, hanya mengangkat satu alisnya sebagai respon.


"Bisakah aku meminta tolong belikan air putih. Aku haus sekali."


Buma mengangguk tenang, lalu berbalik dan berjalan keluar.


Sepeninggal Bima, Mariana memencet bel untuk memanggil perawat.


"Ada yang bisa di bantu, Nyonya?" Perawat datang dengan senyum merekah di bibirnya.


Mariana menatap ragu-ragu, kemudian beranjak duduk.


"Dokter, apakah pasien berhak merahasiakan kondisinya dari keluarga atau bahkan suaminya sekalipun?" tanya Mariana pelan, menatap takut-takut pada perawat dengan baju serba biru.


Perawat itu tersenyum. "Yang pertama, Nyona. Saya bukan dokter, saya perawat. Dan yang kedua, ya. Nyonya bisa kerahasiakan kondisi nyonya bahkan kehamilan nyonya sekalipun, dari siapa pun."


Mariana menarik nafas panjang. "Bolehkah kalau saya meminta untuk dirahasiakan dari suami saya dan siapa pun?" tanya Mariana lagi.


"Tentu, Nyonya. Kami akan melakukan yang Anda minta." Perawat itu mengangguk, tersenyum.


"Terima kasih, Suster."


"Mariana...." Bima masuk, menyodorkan sebotol air mineral dan sedotan.


Mariana tersentak, menoleh. "T-terima kasih," jawab Mariana tergagap.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Bima, menatap perawat di depannya.


"Nyonya Mariana baik-baik saja. Hanya terlalu lelah dan pikirannya terlalu berat," jawab perawat itu dengan sangat tenang.


"Apa kau sudah memeriksanya secara menyeluruh?"


"Sesuai arahan Tuan Marco, yang membawa Nyonya masuk."


"Baik. Terima kasih. Apa dia sudah boleh pulang?"


"Sudah, Tuan. Saya akan kengambilkan resep untuk Nyonya, kemudian Nyonya bisa pulang."


Bima mengangguk datar.


Perawat itu berbalik, lalu berjalan pergi.


"Terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit. Maaf merepotkanmu." Mariana duduk bersandar di kursi penumpang, menatap Bima yang serius di balik kemudi.

__ADS_1


"Bukan aku yang membawamu, tapi Marco," jawab Bima datar.


"Hhh.... katakan padanya aku berterima kasih."


"Kenapa tak kau sampaikan saja sendiri."


"Aku mana tahu laki-laki itu siapa dan di mana bisa menemuinya?! Kau ini kenapa sih, aneh sekali jadi orang!" Mariana tersulut dan membentak marah, menatap Bima dengan kesal.


Bima menoleh, menatap kaget, tapi diam.


"Kau ini, selalu saja membuatku kesal," gumam Mariana, kembali menatap jalan.


Bima kembali menatap ke depan, berkonsentrasi ke jalan, hingga mobil berbelok ke apartemen kecilnya.


"Kita sudah sampai," kata Bima datar.


Mariana membuka pintu, turun. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berjalan ke dalam apartemen dan naik menuju kamarnya.


"Aku sudah kengurus semua berkas pengunduran dirimu di kantor." Bima mengatakan dengan tenang, saat Mariana membuka pintu kamarnya.


Mariana membeku sejenak, berusaha mencerna kat-kata Bima, kemudian berbalik perlahan.


"Apa katamu?" tanya Mariana pelan.


"Aku sudah mengurus semua berkas pengunduran dirimu di kantor."


"Apa maksudmu berkata begitu?!"


Bima mengangkat bahu. "Yah, mereka tidak menginginkanmu lagi, bukan."


"Dan apa hak mu memutuskan aku harus keluar atau tetap bekerja di perusahaan keluarga ku?" tanya Mariana, giginya bergemeretuk menahan amarah.


"Yah, ku pikir aku suami mu,' kata Bima datar, lalu berjalan pergi.


Bima menyeduh kopi, lalu duduk di meja makan dengan perasaan berkecamuk. Apa yang terjadi sebenarnya pada Mariana. Apakah perawat klinik menyembunyikan sesuatu tentangnya.


Bima mengambil ponselnya, mengetik sesuatu dengan sangat cepat.


Periksa berkas pemeriksaan Mariana di klinik.


Pesan balasan masuk dalam dua detik.


Baik, Bos.


Bima berdiri, berjalan ke ruang tamu saat melihat Mariana keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.


"Mariana...."


Mariana menoleh.


"Apa kau masih demam?"


"Kata siapa aku demam? Aku hanya lelah," sewot Mariana.


"Tapi semalam kau demam."


Mariana mengerutkan kening. "Dari mana kau tahu?" tanyanya curiga.


"Yah, aku...."


"Apa kau berbuat yang tidak-tidak saat aku tidur?!"


"Enak saja."

__ADS_1


"Awas saja kau berani melakukannya. Akan ku patahkan lenganmu!"


"Aku semalam hanya memeriksa mu, karena kau mengigau berkali-kali. Aku tidak pernah masuk ke kamarmu diam-diam sebelumnya," protes Bima.


"Bohong! Aku semalaman tidak bisa tidur. Aku berkali-kali ke dapur untuk minum, tapi kau tidak ada di rumah."


"Ck! Kata siapa aku tidak ada di rumah. Aku di rumah semalaman dan kau berkali-kali mengigau dalam tidurmu."


"Tidak! Kau mengada-ada." Mariana sewot, masuk ke dalam kamar, membanting pintunya dan menguncinya.


Sebentar kemudian, Mariana kembali keluar, sudah berganti baju dan membawa tas.


"Mau ke mana?" tanya Bima.


"Aku keluar sebentar menemui teman ku." Mariana menjawab, kali ini lebih lembut.


Bima mengerutkan kening. "Bukankah kau sakit?" tanyanya dingin.


Mariana tersenyum, "Aku akan baik-baik saja. Aku butuh menghirup udara segar."


Bima menatap datar, mengangguk.


"Baiklah. Berhati-hatilah di jalan. Kalau merasa kondisimu kurang baik untuk menyetir, menepi lah."


"Jangan membahayakan orang lain." Bima cepat-cepat menambahkan saat melihat bibir Mariana mulai merekah membentuk senyuman. Bibir merah itu urung tersenyum, berubah cemberut. Lalu Mariana pergi meninggalkan dengus kesal di belakangnya.


Bima tersenyum menatap punggung Mariana.


"Ternyata kau takluk juga padaku. Rupanya perhatianku yang setetes demi setetes membuatmu rindu, Mariana," gumam Bima.


Sepeninggal Mariana, ponsel Bima bergetar di sakunya.


"Ya." Bima menyapa.


"Bos... istrimu, maksud ku, Nona Mariana... dia hamil, Bos."


"Apa?!" Bima tersentak kaget, seketika berdiri dari duduknya.


"Ya. Perawat yang menanganinya mengatakan dia hamil, tetapi ingin menyembunyikannya dari suaminya."


"Kenapa dia melakukan itu?" tanya Bima cemas.


"Perawat itu mengatakan banyak alasan seorang wanita ingin kenyembunyikan kehamilannya. Diantaranya, keadaan rumah tangga yang tidak harmonis, mereka mendekati perceraian, atau suami mereka belum menginginkan kehadiran seorang anak."


"Kenapa Mariana melakukan itu. Rumah tangga kami bahkan tidak berada dalam masalah apa pun dan...." kata-kata Bima menggantung.


"Dan apa, Bos?" tanya Marco di seberang.


"Dia keluar membawa mobil sendirian. Cari dia dan ikuti, tapi lakukan dengan profesional. Jangan sampai dia tahu kau sedang menguntitnya dan jangan membuatnya ketakutan."


"Tapi, Bos. Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Kau atau aku bosnya di sini?!"


"B-baik, Bos. Siap. Akan saya lakukan." Marco segera memutus sambungan telepon dengan Bima.


Di tempatnya, Bima terduduk dengan lesu.


"Mariana... apa karena itu kau menyembunyikan kehamilanmu?" bisiknya lirih. "Apa karena bayi dlam kandunganmu bukan anak ku. Apa karena dia anak laki-laki pemerkosa itu."


Bima membanting kepalanya ke sandaran kursi.


"Aku memang menginginkan seorang anak, Mariana. Tapi kau benar. Anak di dalam perutmu bukan anak ku. Dia anak Galang." Bima masih berbicara sendiri, wajahnya datar dan tatapan matanya kosong.

__ADS_1


__ADS_2