Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
SARAH VS MARIANA


__ADS_3

Sebuah pemahaman terbentuk di raut wajah Mariana, sementara Sarah menatap Bima dengan tidak percaya.


"Hai, Sarah. Kenalkan, aku Mariana." Mariana mengulurkan tangan, namun Bima segera menepisnya turun.


Mariana menoleh tidak setuju. "Kenapa? Bukankah kesopanan adalah segalanya, Bima?" tanya Mariana sarkas.


Bima menggeleng tenang, matanya masih menatap Sarah dingin.


"Urungkan niat mu dan pergi dari hadapanku sekarang juga, Sarah." Bima berkata tajam dan dingin.


Sayang tersenyum miring, jelas meremehkan. "Aku tidak akan menyembunyikan niatku sama sekali karena aku yakin kau akan tetap mengetahuinya. Tapi aku juga tidak akan pernah mundur meski kau mengancam ku sekali pun."


"Kau akan sangat menyesal kalau melakukannya. Mariana sudah tahi masa lalu kita, jadi mundur lah dengan teratur atau aku yang akan memaksamu untuk mundur."


"Meski kay dapat membaca aura membunuh pada diriku, tetap saja kau tak akan pernah bisa membaca rencana yang telah aku susun, Bima. Jadi jangan pernah mengancam ku."


Bima maju satu langkah, Tatapan dinginnya menusuk tajam mata Sarah. "Dia tak akan bisa kau pengaruhi karena dia sudah mendengar dari mulutku sendiri bagaimana kehidupan masa lalu kita!" kata Bima mengertakkan gigi menahan amarah.


Sarah mendongak menantang, dagunya yang lancip sejajar dengan wajah Bima.


"Baik. Mari kita buktikan siapa yang bisa memainkan perannya lebih baik. Kau atau aku," kata gadis itu mengancam, lalu dia berjalan begitu saja diantara Bima dan Mariana.


"Dia mengerikan sekali, Bima." Mariana segera memeluk lengan Bima, begitu Sarah menghilang dari pandangan mereka berdua.


"Seperti yang aku bilang, kan."


Mariana mengangguk, menoleh sekali lagi ke arah pintu masuk di mana Sarah baru saja menghilang.

__ADS_1


"Apa dia akan mengganggu kita?"


Bima menggeleng. "Itu jelas. Tapi jangan takut dia tidak akan berbuat nekat."


Bima menarik kursi tepat pada meja yang bertuliskan reservasi, menyilakan istri tercintanya untuk duduk sebelum dia mengikuti duduk di hadapannya.


"Peran apa yang sebenarnya sedang kalian mainkan? Kenapa dia mau bertaruh tentang siapa yang lebih hebat memainkan perannya?" tanya Mariana curiga.


waiters datang, Bima menahan pertanyaan Mariana untuk di jawab nanti.


"Spaghetti carbonara daging domba dan soda." Bima memesan tanpa melihat menu. Sementara Mariana menerima buku menu dari tangan pelayan.


"Aku mau jamur ravioli, Pistachio Panna Cotta dan...."


"Granita. Itu yang paling aman untukmu, Sayang."


Mariana melirik Bima sekilas, lalu mengangguk. "Ya, ku pikir dia benar. Saya sedang hamil. Tolong zero soda dan alkohol."


"Jadi bagaimana?" tanya Mariana, melanjutkan percakapan mereka yang sempat tertunda.


"Yah, seperti yang kau lihat. Dalam kehidupan selalu ada dua peran yang berseberangan. Si jahat dan si baik. Si lemah dan si kuat, si kaya dan si miskin, dan masih banyak lagi peran-peran yang seolah sejodoh, selaku bertemu tetapi selalu berseberangan."


"Jadi maksudmu kalau aku si kaya kau adalah si miskin. Dan kalau dia si jahat, maka kau adalah si baik?" Mariana menyelidik.


Bima mengangkat bahu sedikit, bibirnya mencebik acuh.


"Ya, ya... baiklah. Kalau begitu aku tinggal menunggu saja kapan aku jatuh miskin, kan?" tanya Mariana sinis.

__ADS_1


Bima menatapnya heran, tetapi tidak bertanya.


Pramusaji datang, membawa dua minuman dan sekeranjang roti dan salt butter.


Sepeninggal sang pramusaji, Bima menatap tajam Mariana.


"Apa maksudmu dengan jatuh miskin, Mariana?"


Kini giliran Mariana yang mengendikkan bahu dengan acuh.


"Kau bilang jatuh miskin?"


Mariana mengangguk.


"Apa yang membuatku berpikiran seperti itu?" tanya Bima serius.


"Bukankah di dalam sebuah kehidupan selalu ada dua oeran yang berseberangan namun tak terpisahkan, seperti katamu?" Mariana balas bertanya dengan suara yang cukup tenang.


"Maksudmu?"


"Yah, yang aku maksud adalah saat di mana kau akan menunjukkan wujud aslimu sebagai Pangeran Kerajaan Penguasa, maka di situlah saatnya aku jatuh miskin, bukan."


"Kau tak akan pernah jatuh miskin!"


"Tapi tak lagi berpenghasilan sama saja artinya dengan jatuh miskin. Yah, meski aku akan tetap kaya karena suamiku yang konglomerat itu akan memberiku uang seperti keran air."


Bima teraenyum masam. "Percaya diri sekali kau, Mariana."

__ADS_1


"Tentu saja. Aku selalu percaya pada apa pun yang sudah aku pikirkan, tak terkecuali kau."


Bima menghela nafas panjang. Makanan datang, keduanya menyantap makanan dengan tenang.


__ADS_2