
Kakek Bima meneguk minuman beberapa tegukan, lalu menaruh botol limunnya di atas meja.
"Giliran mu bercerita, Tompson. Aku mau makan camilan."
"Tuan besar, jangan saya."
"Ceritakan saja. Kalau tidak, wanita ini akan menghantui seumur hidupmu," kata kakek Bima, lalu menggigit scone di tangannya.
"Tuan besar, George...."
"Tidak, aku juga mau makan muffin."
"Paman Tompson, apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Mariana, menatap Tompson penasaran.
"Mohon ijin, Tuan tuan besar, saya...."
"Hmm, yaa yaa... lanjutkan."
"Nyonya. Jadi, Sejak itu saya yang selalu mendampingi Tuan Jeremi. Dia memang sedikit nakal. Banyak sekali wanita simpanannya di berbagai sudut kota."
"Apakah istrinya tidak tahu?"
"Tahu, Nyonya. Tentu saja dia tahu. Tetapi Nyonya tidak peduli, selama itu tidak mengganggu karir Nyonya."
"Kenapa mereka tidak bercerai saja! Percuma mereka menikah kalau tidak ada interaksi diantara keduanya."
"Tidak, Nyonya. Mereka saling mencintai. Nyonya Hortensia hanya memberikan kebebasan kepada Tuan Jeremi agar pria itu mendapatkan apa yang dia inginkan saat Nyonya tidak bisa memberikannya karena terlalu sibuk."
Mariana mendengus keras. "Lalu bagaimana bisa itu sampai terjadi pada ibu Bima, putri dari sahabatnya sendiri?" tanya Mariana ketus.
"Semua terjadi saat Tuan Besar Leonardo mengadakan resepsi pernikahan putrinya. Tuan besar Jeremi datang, dan dia begitu terpesona pada putri Tuan Besar Leonardo. Nyonya Marian memang begitu cantik dan tampak sangat indah dengan auranya yang memancar bagai serpihan emas. Orang awam seperti saya saja, sampai bisa melihatnya."
Mariana mengerutkan kening.
"Rasa bahagianya terlalu tinggi. Putriku tidak pandai mengendalikan auranya." Kakek Bima menyela.
Mariana mengangguk paham, meski tidak dapat membayangkan setiap kali mereka membicarakan aura, seperti apa sebenarnya yang mereka lihat.
"Jadi, ya. Tuan besar Jeremi menginginkan putri tuan besar Leonardo, Nyonya Maria."
"Apa yang dilakukan kakek Jeremi padanya?"
"Merayunya. Tuan Jeremi merayu nyonya, hingga wanita itu jatuh bertekuk lutut pada Tuan."
"Bagaimana bisa?"
"Kau belum pernah bertemu Jeremi, Mariana. Dia sepuluh kali lebih tampan dari Galang, kalau kau masih mau mengakui bahwa Galang tampan. Di usianya yang ke empat puluh, saat aku menyelenggarakan pernikahan putriku, pesonanya sebagai CEO perusahaan keluarga dengan kekayaan yang mampu membalut tubuhnya dengan barang-barang mewah, akan membuat inti wanita manapun berkedut. Apalagi tubuhnya yang bidang dan tegap, bisa dibilang tempat yang tepat untuk sandaran para wanita rapuh seperti putriku."
"Rapuh?"
__ADS_1
"Ya. Anakku, pimpinan penjuru komplotan gengster yang aku pimpin. Bisa di bilang dia adalah tangan kanan ku. Maria memang hebat, dia sniper jarak jauh terbaik yang aku miliki. Tetapi kesibukan suaminya di dunia bawah tanah membuatnya sedikit kesepian di usia pernikahannya yang masih baru. Di situlah Jeremi masuk. Dia memberi perhatian kepada Maria, merayunya hingga putriku terlena dan bersedia tidur dengannya."
"Dan itu membuatnya hamil?"
"Tidak dalam satu kali, Nyonya. Mereka telah melakukannya lebih dari empat bulan, hingga Nyonya dinyatakan hamil. Sejak itu hubungan mereka terputus." Tompson menjelaskan.
"Lalu, dari mana ayah Bima mengetahui Bima bukan putranya?"
"Nyonya bisa membaca aura, sedangkan Tuan tidak. Nyonya bisa melihat aura tuan Bima berbeda dari suaminya. Itu membuatnya curiga sehingga dia melakukan tes DNA. Hasil tes itu menunjukkan bahwa tuan 99% menunjukkan kesamaan dengan Tuan Besar Jeremi."
"Bukan ayah Bima yang melakukan tes DNA?" tanya Mariana.
"Ayah Tuan Bima. Tetapi saat tuan masih bayi, nyonya Maria telah melakukannya. Lalu nyonya membawa bukti itu kepada Tuan Besar Jeremi."
"Bagaimana rekasi kakek Jeremi?"
"Beliau berjanji untuk menafkahi Tuan Bima. Karena selama empat bulan hubungan mereka, telah menumbuhkan benih-benih cinta pada hati tuan besar, mengalahkan cintanya pada Nyonya Hortensia."
"Dia benar-benar menafkahinya?"
"Ya. Tuan besar memberi uang secara rutin untuk tuan Bima. Mereka mengadakan pertemuan dua tiga kali dalam satu bulan."
"Mereka masih bertemu?"
"Ya. Sampai usia Tuan Bima Empat tahun. Setelah itu mereka hanya bertemu satu atau dua bulan sekali untuk melepas rindu, tanpa membawa Tuan Bima karena dia sudah mulai mengerti dan bisa bercerita."
"Tidak. Semua keburukan itu terjadi saat Tuan sudah besar. Dia duduk di bangku kelas 3 SMP, tampan, kaya raya, populer. Saat itu, tuan besar Jeremi mengalihkan satu perusahaan yang dirintisnya sendiri tanpa diketahui siapa pun, atas nama Tuan Bima. Dia telah mempersiapkan perusahaan itu untuknya sejak mengetahui bayi itu adalah anaknya. Tetapi sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Nyonya mengetahui hal itu, dia menyelidikinya dan menemukan bahwa tuan Bima adalah putra tuan besar Jeremi di luar nikah."
"Apakah hanya bisa anak kakek Jeremi yang terlahir di luar nikah?" tanya Mariana curiga.
"Tidak. Tetapi hanya tuan Bima yang di rawat dan di nafkahi oleh tuan besar. Itu membuat nyonya hortensia murka."
"Kenapa?"
"Karena itu artinya ada kepedulian tuan besar pada anak itu."
Mariana menarik nafas panjang, mengangguk.
"Usia tuan Bima hanya terpaut tujuh hari dari tuan Galang, cucu tuan besar dengan nyonya Hortensia. Tetapi saat itu, tuan besar bahkan belum mempersiapkan satu perusahaan pun untuknya. Dia bilang bahwa tuan Galang masih perlu banyak sekali belajar sebelum dia siap memegang sebuah perusahaan."
Mariana mengerutkan kening. "Tetapi, bukankah ayah ibu Galang memegang perusahaan keluarga?"
"Ya. JkA dipegang oleh nyonya dan tuan Xilas. Tetapi dia juga belum berpikir untuk mengalihkan perusahaan itu kepada tuan Galang."
"Kenapa?"
"Karena, seperti yang nyonya lihat, Galang hanya bisa berhura-hura. Dia terlalu banyak bermain-main wanita di luar sana, persis seperti kakeknya. Tetapi bedanya, tuan besar sangat cerdas, hebat dan pekerja keras, sementara pernikahan sedarah membuat tuan galang mengalami masalah pada otak dan psikologisnya."
"Pernikahan sedarah?"
__ADS_1
Tompson mengangguk. Mariana menatap kakek Bima dan kakeknya bergantian, tatapannya ingin tahu.
Kedua orang tua itu menarik nafas panjang bersamaan.
"Ya. Benih memang sudah rusak dari akarnya. Takut putra putrinya menjadi liar seperti ayahnya, istri Jeremi mengekang pergaulan dua kembar itu. Atas persetujuan Jeremi, mereka membawakan pengawal untuk anak-anaknya kemanapun mereka pergi. Menghindari kejadian yang pernah dia lakukan dulu bersama Tompson, Jeremi memasang kamera pengawas pada sabuk pengawal yang menjaga anak-anak mereka."
"Apakah itu kemudian membuat mereka tidak mengenal orang lain?"
"Tidak. Tentu saja tidak. Tetapi pergaulan mereka telah tercemar gadget. Tidak bisa melakukannya di luar mereka mencobanya berdua tanpa tahu resiko apa yang akan mereka dapatkan."
"Mereka melakukan... itu?"
"Ya. Berdua."
Mariana menoleh Tompson, mencari pembenaran.
"Benar, Nyonya."
"Bagaimana bisa kakek Jeremi tidak tahu. Bukankah dia memasang kamera pengawas pada pengawalnya?"
"Kau jangan terlalu bodoh, Mariana. Coba pikirkan sekarang. Kalau kau memiliki saudara kandung laki-laki dan aku memberi kalian pengawal, apakah saat kalian berada di dalam kamar yang sama, pengawal kalian ikut masuk?"
Mariana dian sejenak, lalu menggeleng.
"Itulah yang terjadi. Kesalahan fatal bagi ibunya, karena menaruh dua remaja berbeda jenis di dalam satu kamar."
"Mereka memiliki satu kamar?"
"Sebenarnya tidak nyata dalam satu kamar. Tetapi untuk memudahkan akses mereka, Jeremi memasang pintu tembus di antara kamar mereka."
Mariana kembali mendengus panjang.
"Jadi, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan orang tuanya menikahkannya?"
Ketiga pria tua itu kembali menggeleng.
"Mereka tidak pernah menikah."
"Tidak?" Mariana mengerutkan kening.
"Janny hamil anak Jack, benar. Tetapi mereka tidak pernah menikah."
Mariana menarik nafas panjang, menghembuskannya kasar.
"Sampai sekarang?"
"Sampai sekarang. Tapi mereka berdua merawat Galang dengan sangat baik. Sayang takdir masih belum rela melepas mereka dari keburukan, Galang tumbuh menjadi pengembara cinta persis seperti kakeknya, bahkan lebih brutal."
"Jauh lebih buruk. Kalau Jeremi punya banyak wanita dengan merayunya, lain Galang. Anak itu menghabiskan perawan dengan memperkosanya." Kakek Bima menyambung, kepalanya menggeleng kecewa.
__ADS_1