Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
KAKEK


__ADS_3

"Halo, Kakek. Ada apa?" Mariana menjawab panggilan.


"Di mana kalian?" tanya laki-laki di seberang.


"Kami, kami sedang menuju penginapan, Kek," jawab Mariana, ragu.


"Penginapan?"


"Ya. Maaf aku tidak menunggu Kakek tiba. Aku...."


"Pulang ke rumah kakek."


"Apa?"


"Pulang ke rumah Kakek sekarang juga."


Sambungan terputus, Mariana diam.


"Ada apa?" tanya Bima, menatap Mariana.


"Kakek meminta kita ke rumahnya."


Bima mengerutkan kening.


"Kakek orang yang baik. Aku yakin Kakek akan menerimamu dengan lebih baik dari pada keluargaku yang lain. Tapi... Kekek orang yang keras."


Bima tersenyum. "Kau tahu aku bisa menghadapi apa pun, Mariana. Haris berapa kali aku bilang jangan mencemaskanku."


Mariana menelan ludah.


"Di mana rumah kakekmu?"


"Kakek bukan orang yang bisa di ajak bernegosiasi."

__ADS_1


"Dan apa maksudnya itu?" tanya Bima.


"Kalau Kakek tidak menerimamu, maka kau harus pergi. Tidak ada penjelasan, tidak ada permohonan, apa lagi penolakan."


"Kalau itu yang di inginkan kakekmu, maka aku akan pergi."


"Tidak bisa!" Mariana hampir berteriak.


Bima menatap heran.


"Aku... Maaf aku melakukan ini. Tapi sebenarnya tujuanku menikahimu adalah agar Galang berhenti menggangguku. Kalau dia tahu aku sudah menikah, maka dia akan berhenti berusaha meniduriku."


Bima tertawa hambar. "Aku sudah terbiasa digunakan sebagai tempat berlindung sementara. Jangan khawatir."


"Aku tidak bermaksud memanfaatkanmu, maaf."


Bima melambaikan tangan seolah sedang mengusir nyamuk. "Di mana rumah kakekmu?" tanyanya dingin.


"Kita putar balik." Mariana menjawab dengan datar, menyesal telah mengatakan yang sebenarnya pada Bima.


Suasana menjadi begitu canggung setelah pembicaraan yang salah tadi. Mariana tidak berani menatap Bima, sementara Bima sendiri serius menatap jalanan yang semakin gelap namun semakin ramai.


"Di depan." Mariana menunjuk rumah tiga lantai bergaya belanda dengan dinding putih bersih. Bima berbelok, masuk ke sebuah pelataran dengan gerbang terbuka lebar. Mariana menahan nafas tegang.


Gerbang tinggi yang membatasi rumah kakek dengan jalan biasanya tak pernah terbuka kecuali dia sedang menunggu keluarga besar yang memang sudah dijadwalkan berkumpul. Mariana sedang tidak ingin bertemu keluarga besarnya dalam kondisi seperti ini.


Bima berhenti di ujung jalan masuk, mematikan mesin dan segera turun. laki-laki itu berjalan cepat memutari mobil lalu membuka pintu untuk Mariana.


"Aku menikahimu bukan untuk menjadi antek ku. Aku bisa melakukannya sendiri," protes Mariana.


"Aku hanya berusaha menghargaimu sebagai wanita."


"Terima kasih. Tapi aku tidak terbiasa diperlakukan seberharga itu."

__ADS_1


"Dengan laki-laki itu, aku tidak meragukannya sama sekali," jawab Bima datar.


Mariana mendengus keras, keluar dari mobil dan berjalan mendekati pintu utama rumah kakek yang juga terbuka lebar.


"Kakek...." Mariana menyapa tepat kakinya melewati ambang pintu.


"Kemarilah, Mariana. Dan ajak suamimu masuk."


Mariana menatap ke tengah ruangan dimana seorang laki-laki tua beruban sedang duduk di kursi malas sambil membaca majalah.


Mariana melirik Bima, lalu melangkah masuk.


"Kek, ini Bima. Dia suamiku."


Laki-laki tua itu mengangguk. Tangan kirinya menepuk pundak Bima dua kali saat Bima membungkuk untuk mencium punggung tangan keriputnya.


"Naiklah ke atas, kalian berdua. Aku sudah menyiapkan kamar."


"Tapi, Kek...."


"Naik, dan istirahatlah. Aku akan menunggu kalian di meja makan esok pagi."


Mariana tidak bisa membantah. Seperti biasa, perkataan kakek tidak pernah bisa di bantah. Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya seolah hukum yang harus dipatuhi oleh setiap anggota keluarga.


Mariana berbalik, berjalan menaiki tangga, sementara Bima berbalik keluar untuk mengambil koper Mariana.


"Berikan kuncinya pada Samsul. Dia yang akan mengangkat koper dan tasmu."


Yang di panggil Samsul buru-buru masuk dan mengulurkan tangan untuk meminta kunci mobil.


Bima menyerahkan kunci mobil kemudian berbalik menatap kakek Mariana. Laki-laki tua itu sudah berdiri, mendongak menatap Mariana di ujung tangga.


"Aku akan tahu kalau kalian tidur di kamar yang terpisah," katanya, lalu berjalan timpang masuk ke dalam kamar yang terletak di ujung ruangan.

__ADS_1


Bima mendongak menatap Mariana yang membeku di tempatnya.


__ADS_2