
Tompson membersihkan sisa-sisa peralatan makan di atas meja, sementara Mariana menatap tidak sabar pada kedua pria tua yang dengan santai menenggak minumannya perlahan-lahan.
"Kakek... ayolah."
"Bersabarlah, Mariana. Bagaimana kalau aku tersedak dan mati. Kau malah tidak akan pernah mendengar kisah ku sama sekali."
Mariana cemberut, mendengus panjang.
"Baiklah, baiklah. Ayo. Sampai mana kita tadi."
"Sarah dikirim sebagai umpan."
"Aah, ya ya..." Kakek Bima mengangguk angguk, memperbaiki posisi duduknya.
"Jadi, Sarah datang sebagai umpan. Tapi sebelumnya, akan aku ceritakan bagaimana Bima memiliki sebuah perusahaan."
Mariana mengangguk, kembali menatap serius.
"Jadi, Jeremi datang kembali padaku satu tahun setelah kebangkitan Bima. Dia memberikan satu perusahaan yang telah dia siapkan untuk Bima, melalui aku. Dia tidak ingin identitasnya sebagai ayah kandung Bima diketahui, kecuali ibu Bima sendiri yang membukanya. Maka, aku memberikan perusahaan itu kepada Bima atas nama ku dan meminta dia merintisnya. Aku tahu perusahaan itu sudah berkembang, tapi aku ingin Bima bekerja keras untuk melupakan masa lalunya, maka aku memodifikasinya sedikit, membuatnya agar tampak sedang berkembang. Aku menyerahkan perusahaan itu bersamaan dengan aku menyerahkan kekuasaan atas kepemimpinan Singa Belang. Seperti kataku, Bima sibuk dengan urusannya dan berhasil melupakan masa lalunya."
Kakek Bima mengambil jeda untuk menarik nafas panjang, melonggarkan dadanya yang terasa sedikit sesak.
"Singa belang berjaya di bawah tangan Bima. Perusahaan yang Jeremi berikan pun mulai berkembang pesat. Tetapi sayang, ada beberapa orang yang tidak senang melihat kemajuan Bima."
"Hortensia?" tebak Mariana, hampir tepat.
"Galang dan Javier."
Mariana menghela nafas panjang. "Ayah Bima?"
"Benar. Javier Salvator, mendekati Gengster Elang putih yang selama ini berada jauh di bawah Singa Belang. Dia melakukan pendanaan besar-besaran kepada Elang Putih dengan syarat mereka bersedia menerima Galang sebagai pemimpinnya."
"Galang?!" tanya Mariana kaget.
"Soal ini, kakek mu yang lebih mengerti."
Mariana menoleh kakeknya yang bersandar santai. Pria tua itu bergerak, memposisikan duduknya lebih serius.
"Benar. Semua itu bermula saat Jeremi datang padaku, meminta tolong agar aku berbicara pada Hortensia untuk tidak menghancurkan perusahaan kami."
Mariana mengerutkan kening, tetapi diam, menunggu.
"Anna, Nona Hortensia muda, istri Jeremi, marah besar karena Jeremi memberikan perusahaannya untuk Bima. Dia kemudian berencana untuk menghancurkan perusahaan kami dengan menagihkan seluruh keuangan yang pernah mereka gelontorkan untuk perusahaan kami. Sialnya, dia memiliki seluruh data keuangan itu. Rupanya dia sudah menyiapkan senjata kalau-kalau Jeremi sewaktu-waktu berniat untuk meninggalkannya."
"Jadi, wanita itu tahu kalau suatu saat Kakek Jeremi mungkin akan pergi?"
"Ya. Sebagai wanita yang sangat cerdas dan penuh perhitungan, melihat betapa liarnya Jeremi di luar sana, tentu dia sudah menyiapkan senjata untuk bertahan, bukan."
Mariana mengangguk paham.
"Memenuhi permintaan Jeremi, aku datang menemui Anna. Aku menceritakan pada wanita itu, bahwa Jeremi melakukan itu bukan karena ingin berpaling dari Anna, melainkan karena Maria adalah putri salah satu dari sahabat kami. Dia hanya ingin bertanggung jawab pada sahabatnya, bukan pad anak atau wanita selingkuhannya."
"Apakah Nona Anna percaya?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak akan mempercayai kakek mu ini, kalau auranya sudah semerbak mengelilingi tubuhnya." Kakek Mariana tergelak.
"Dia percaya, dan rasa cintanya yang begitu besar menghancurkan kekecewaannya pada Jeremi. Tetapi itu tetap saja tidak meluruhkan rasa bencinya pada Bima dan Maria."
"Apa yang dia inginkan?"
"Melenyapkan mereka berdua. Itu kenapa dia mencari Javier dan mengatakan kebenarannya pada pria itu, berharap Javier lah yang akan membunuh putra dan istrinya menggunakan tangannya. Sayang Javier juga terlalu mencintai Maria untuk sanggup melakukannya."
"Jadi, Dia gagal bukan?"
"Sama sekali tidak. Justru dia berhasil mencuci tangan sebersih-bersihnya dari perbuatannya."
__ADS_1
"Bagaimana...?"
"Biar aku lanjutkan." Kakek Bima memberi isyarat menggunakan tangannya.
"Jadi, dia mengirim Sarah untuk mendekati Bima. Skenario yang dia susun adalah agar Sarah menggerogoti harta benda Bima dan menghabiskannya. Sayangnya, Bima bukan pria yang mudah jatuh cinta. Kekecewaan masa lalu, membuat hatinya membeku. Dia memperlakukan Sarah dengan baik, dia bahkan menuruti saat Sarah memohon agar Bima bersedia tidur dengannya, tetapi Bima sama sekali tidak peduli padanya. Dia mengikuti apa pun kemauan Sarah, hanya karena Sarah telah bekerja penuh tanggung jawab selama menjadi sekretarisnya."
"Sarah, sekretaris Bima?"
"Ya. Wanita itu bahkan hampir bisa di bilang adalah tubuh Bima. Semua yang perlu Bima kerjakan di perusahaan, Sarah yang melakukan."
Mariana mengangguk paham.
"Kegagalan rencananya membuat Anna marah dan dia memutuskan untuk bersekongkol dengan Javier, dengan menempatkan Galang di posisi kepala elang putih. Kali ini mereka berhasil dengan mudah, tentu saja. Karena dana yang Hortensia gelontorkan untuk kemajuan gengster elang putih begitu besar, maka dengan tangan terbuka mereka bersedia menerima Galang. Merasa kuat, mereka datang menemui Bima untuk membagi wilayah."
"Membagi wilayah?"
"Ya. Gengster selalu punya wilayah. Selama ini Singa Belang adalah raja di dunia bawah tanah. Dia menguasai seluruh wilayah, meski dia tahu ada elang putih yang bergerak di area-area kecil yang tak terjamah."
"Apa Bima menyetujuinya?"
"Ya. Tetapi bukan itu masalahnya. Pembagian wilayah bukan hal yang aneh di dunia bawah tanah, Mariana. Tetapi yang menjadi akar masalahnya adalah, saat itu Galang melihat Sarah dan jatuh cinta padanya. Sarah pun begitu. Melihat aura cinta yang begitu besar pada diri Galang, sementara Bima sama sekali tidak memilikinya, membuat Sarah berpaling. Diam-diam Sarah berhubungan dengan Galang di belakang Bima."
"Mereka berselingkuh?"
"Tepatnya tidak. Karena Sarah dan Bima tidak pernah memiliki hubungan khusus. Hubungan mereka hanya sebatas bos dan sekretaris saja, tidak lebih. Meski mereka melakukan hubungan seksual, tetapi bukan berarti itu membuat mereka terikat dalam pertalian hubungan."
"Kalian hidup seperti di barat," keluh Mariana.
"Benar. Seperti itulah kehidupan kami para manusia bawah tanah."
Mariana mendengus panjang.
"Aku ingat, Sarah pernah mengatakan ketua gangster Elang Putih jatuh cinta padanya, tapi dia tidak mengatakan mereka memiliki hubungan. Dia bilang dia baru bertemu ketua gangster elang putih setelah melahirkan anaknya, kalau aku tidak salah ingat anaknya meninggal di sebuah tempat makan di daerah kekuasaan elang putih."
Kakek Bima tersenyum sinis. "Benar. Bayi itu memang meninggal di sana, di sebuah tempat makan yang tepatnya adalah markas besar gangster elang putih."
Kakek Bima mengangguk.
"Tetapi tempat itu sama sekali tidak terlihat seperti sebuah markas. Hanya tempat makan kecil."
Kakek Mariana melebarkan mata. "Apa kau pernah mengunjungi tempat itu?!" tanyanya, menunduk menatap Mariana serius.
Mariana mengangguk ragu. "Sarah membawaku ke sana, tepat sebelum aku pergi meninggalkan Bima."
"Licik!" desis Tompson, membuat Mariana menoleh.
"Ada apa, Paman?"
Tompson menggeleng.
"Tempat itu adalah markas besar elang putih, Mariana. Ada jalan rahasia menuju bawah tanah, tempa mereka berkumpul. Tetapi untuk saja kau memutuskan untuk pergi menjauhi Bima saat itu, karena kalau tidak mereka pasti akan menyekap dan menghabisi mu di sana, atau menjadikanmu tawanan."
Mariana membelalak ngeri.
"Sarah hafal betul daerah itu dan dia bahkan tahu apa yang ada di bawah kedai kecil itu, Mariana. Dia hampir menjebak mu. Keputusan yang sangat benar untuk menjauh dari Bima, di sana."
Mariana berkedip, mencoba mencerna penjelasan Kakeknya.
"Apakah... apakah hubungan gelap itu yang kemudian membuat Sarah hamil?" tanya Mariana, di tengah kebingungannya mencerna informasi yang bertumpuk.
"Ya."
"Mengapa Sarah tidak menuntut Galang, alih-alih Bima. Apa yang Sarah cari dari Bima?"
"Pertama, mereka tidak mungkin mengakuinya, karena Sarah masuk di dalam kotak wilayah Bima."
__ADS_1
"Apa maksudnya?"
"Apa pun yang berada di atas tanah, di permukaan tanah, sampai di bawah tanah wilayah Bima tidak boleh disentuh oleh Elang Putih. Itu artinya, mencakup seluruh manusia yang menapak di atas tanah Bima, tak boleh tersentuh oleh komplotan gangster Elang Putih. Begitu pun sebaliknya."
"Itu mustahil."
"Begitulah kenyataannya, Mariana."
"Jadi, itu membuat Sarah mengakui bayi itu sebagai putra Bima?"
"Bukan satu-satunya alasan. Karena sebenarnya Sarah juga bimbang. Dia sendiri tidak yakin bayi di dalam perutnya itu bayi siapa, karena dia bermain dengan keduanya tanpa pengaman."
"Bodoh!" Mariana menggeleng tidak percaya.
"Tetapi Bima tahu. Bima, sepertiku. Dia pembaca yang sangat cakap. Meski bayi itu baru tumbuh di dalam rahim ibunya, tetapi auranya sudah bercampur dengan aura ibunya, dan Bima tahu bayi itu bukan miliknya."
Mariana mengerut bingung.
"Untuk bagian ini kau tidak akan paham. Yang jelas aku dan Bima tahu, bayi Sarah bukan milik Bima."
Mariana mengangguk asal, hanya agar cerita itu berlanjut.
"Bima menolak mengakui bayinya. Sementara itu, alasan ketiga Sarah memburu Bima, karena Sarah baru menyadari bahwa Galang juga sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya. Pria itu tidur dengan beberapa wanita lain, meski mulutnya mengatakan Sarah adalah satu-satunya. Dia memanfaatkan Sarah, untuk menghancurkan Bima. Sayangnya Bima sama sekali tidak takut kehilangan Sarah."
"Bagaimana Sarah bisa tertipu? Bukankah dia juga bisa membaca aura?"
"Ya. Terkadang bagi pembaca yang tidak cakap, membaca aura pun bisa salah. Mereka tidak akan bisa membedakan rasa sesaat, rasa yang sengaja di buat, dan yang murni dari dalam hati."
Mariana bingung, tetapi kepalanya kembali mengangguk. "Ku anggap aku mengerti. Baiklah, lanjutkan."
Kakek Bima tersenyum paham. "Sulit memang, Nak. Karena kau telah dibutakan."
"Dibutakan?"
"Ah, sudah lah. Maksudku, kau tidak akan pernah bisa memahaminya."
Mariana kembali mengangguk.
"Jadi itu yang membuat Bima meninggalkan Sarah? Apa karena dia tahu bayi Sarah bukan anaknya?"
"Tidak, tidak, kau salah. Bima tidak pernah meninggalkan Sarah. Dia masih menuruti apa pun yang Sarah inginkan, tetapi tidak pernah memberi wanita itu perhatian yang dia butuhkan. Sudah aku katakan, hati Bima telah mati bertahun-tahun sebelumnya."
"Apa Sarah tidak tahu anak yang dia kandung bukan anak Bima?"
"Tahu. Meski sempat bimbang, tetapi pada akhirnya dia tahu."
"Jadi, kenapa dia kembali kepada Bima?"
"Karena tiga alasan yang sudah aku sebutkan tadi."
Mariana diam, wajahnya merenung.
"Kenapa?" tanya Kakek Bima, memperhatikan perubahan raut wajah Mariana.
"Aku tahu bagaimana rasanya menjadi Sarah, Kek."
"Tidak. Kau tidak tahu." Kakek Mariana menyela.
"Selama hamil Leo aku hidup sendiri sama seperti Sarah, Kek. Tidak ada suami, keluarga, atau pun teman yang memberi support, padahal Leo sangat rewel saat di dalam kandungan."
"Salah kamu sendiri kenapa main kabur dari suami mu. Kau tidak tahu saja Bima hampir bunuh diri karena mu!" gertak Kakek Mariana, memelotot marah.
Mariana membeku di tempatnya, berkedip pun terasa berat.
"Kau menghancurkan Bima saat kau memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Sudah aku katakan, hati Bima telah membeku. Kau yang mencairkannya. Jadi setelah ini, jangan salahkan kalau sikapnya kepadamu kembali dingin dan datar, karena kau juga yang mengembalikannya pada suhu rendah."
__ADS_1
Mariana menelan ludah. Ingin protes, tetapi dia tahu dia sudah bersalah.