
Bima duduk dengan tegang, mengamati seluruh jalanan yang lengang. Setiap orang yang lalu lalang di jalan dia amati dengan tatapan tajam.
"Di mana dia," geramnya rendah.
"Saya akan mengenalinya, Tuan."
"Kau pikir aku tidak?!" katanya tajam, tanpa melirik Lucius yang berada di balik kemudi mobil yang mereka sewa di Bandara.
"Kau sudah meminta setiap rumah sakit untuk mengecek DNA mereka, Marco?"
"Sudah, Tuan. Agak lebih sulit karena nama besar mu tidak mencapai kasta rendah di sini. Klinik-klinik kecil harus di suap dengan pantas."
Bima tidak merespon. Matanya terus memindai setiap inci jalan, seperti sedang mencari tetes hujan diantara terik matahari yang memancar terang.
"Kompleks ini tidak besar. Kita sewa tempat paling ujung yang dilewati kendaraan keluar masuk."
"Baik, Bos."
"Kau yakin jalan keluar masuk kompleks ini hanya satu?"
"Di peta digambarkan seperti itu, Bos."
"Pastikan!"
"Siap, Bos!" Marco menjawab tak kalah galak.
Usai memastikan kawasan Lotus Golden Park hanya memiliki satu jalan utama untuk keluar masuk pengunjung, mereka mendapatkan rumah sewa dengan pemandangan utama gerbang masuk kompleks.
"Lucius. Kamu cek seluruh penduduk sekitar, pastikan kalian menemukan Mariana atau Sarah diantara mereka."
"Baik, Tuan."
Lucius segera keluar bersama Ronan setelah memarkirkan kendaraannya di garasi. Sementara Bima berjalan masuk, mengecek rumah sewa mereka.
"Bos, tempat ini hanya memiliki dua kamar tidur."
"Biarkan Ronan dan Lucius berada satu kamar," jawab Bima datar, sambil merebahkan tubuh di atas sofa.
"Dan kita satu kamar?"
"Kau tidur di sofa."
"Wow! Itu tidak adil, Bos. Tempat ini dingin sekali."
"Tidur di mobil."
"Bos saja di mobil, coba." gumam Marco, berjalan ke dapur dan membuka kulkas.
"Aku tidak mendengar mu dengan jelas. Coba kau ulangi!"
"Iya.... Aku akan tidur di sofa!" teriak Marco, menjawab dengan nada jengkel. Bima menyeringai.
"Bagaimana perkembangan rumah sakit yang kau hubungi?"
"Ya belum ada perkembangan. Bukankan ini belum dua puluh empat jam dari saat aku memintanya mengirimkan data-data."
"Kalau begitu kau yang ke sana untuk mencari tahu data-data pasiennya, Bodoh! Aku yakin hari-hari ini saatnya istriku melahirkan. Dia pasti mengambil uang itu untuk biaya melahirkan anak ku!"
"Iya... iya... aku berangkat melihat anak bajingan itu." Marco berjalan keluar, meninggalkan kopinya yang belum sempat di seduh.
"Sekali lagi kau mengatakannya, ku potong lidahmu!"
Jglek! Pintu terbuka tepat saat Marco menyentuh pegangannya.
"Tuan. Tidak ada tanda-tanda Nyonya Mariana atau pun Sarah di sekitar."
"Kau sudah mengecek rumah sakit?" tanya Marco.
"Satu Rumah Sakit, dua klinik bersalin dan satu bidan praktik terdekat, sudah. hasilnya nihil," jawab Ronan.
"Baiklah. Masuklah kalian. Biar Marco menggantikan kalian mencari informasi keberadaan Mariana."
"Apa?!" Marco menoleh protes. Bima kembali merebahkan tubuh, memejamkan mata, tidak peduli pada protes Marco.
Brak! Marco menutup pintu agak terlalu keras saat menghilang dari dalam rumah.
Di tempat lain....
Mariana berjuang dengan peluh menetes deras.
"Sekali lagi, Nyonya."
Air mata Mariana menetes tak kalah deras dengan peluhnya. Nafasnya tersengal, tangannya perlahan mengelus perut besarnya.
"Ayo, Nak. Bantu ibu, ya. Biarkan ayahmu mendengar tangis mu yang dibawa oleh angin padanya," rintih Mariana.
Mariana menunduk sekali lagi lalu menarik nafas panjang sebelum mendorong perutnya dengan kekuatan terakhir yang dia miliki.
"Oooaaa... oooaaa... oooaaaa...."
"Bayinya....! Bima tersentak dari tidurnya, melompat bangun.
"Tuan! Tuan bermimpi." Ronan menahan pundak Bima yang bersiap berlari.
Bima menatap sekitar, mencari-cari suara tangis bayi yang beberapa detik sebelumnya begitu jelas di telinganya.
Bima menggeleng keras begitu menyadari di mana dirinya berada.
__ADS_1
"Mariana. Bayinya... anak ku, dia terlahir."
"Apakah Tuan bermimpi?" tanya Ronan, masih mencengkeram pundak Bima.
Perlahan Bima kembali duduk, menggeleng.
"Tidak. Aku tidak bermimpi. Dia benar-benar lahir."
"Tuan. Maaf aku harus membahas ini. Aku sungguh meminta maaf. Tapi, anak itu bukan darah daging Tuan. Tuan tidak akan bisa merasakan hubungannya seperti jika dia...." Lucius menggantung kalimatnya.
"Tapi aku berhubungan dengan Mariana selama kehamilannya."
"Itu tidak berarti bayi itu menjadi darah daging Tuan."
"Tetapi mungkin saja dia mengenaliku atau saudaranya meski hanya lewat."
Lucius menggeleng pelan, menatap Bima dengan iba. "Tidak, Tuan."
Bima mencengkeram kepalanya, mendongak frustasi.
"Laporan kelahiran di rumah sakit Bunda Bertha, sepuluh menit yang lalu."
Bima kembali tegak, menatap Marco yang membawa laptop dengan wajah tegang.
"Putra Nyonya Kamila dan Tuan Sandy. DNAnya tidak cocok dengan DNA Galang."
Bima mendengus keras, kembali membanting tubuhnya ke sandaran sofa.
"Aaaaggrrhh.... Periksa Rumah Sakit itu!" teriaknya frustasi.
"Rumah sakit itu dua puluh sembilan kilo meter dari sini, Bos."
"Periksa saja!" teriak Bima.
Lucius dan Ronan berdiri.
"Tidak! kalian tidak mengenali wajah istriku. Biar Marco saja."
Marco memutar bola matanya, menaruh laptop di atas meja dan berjalan keluar.
"Lucius, kau pergi dengannya, kenali istriku dari auranya. Jangan membuat kesalahan sedikit pun."
Lucius mengangguk, berdiri dan mengikuti Marco yang sudah lebih dulu pergi.
"Tempat itu jaraknya dua puluh sembilan kilo meter dari sini. Mana mungkin Nyonya berada di sana. Apa kau pikir itu mungkin?" tanya Marco menggerutu, berjalan ke garasi.
"Kemungkinannya kecil sekali. Tetapi tidak ada salahnya kita melihat ke sana."
Marco mendengus keras.
"Apa ada pasien atas nama Mariana?"
Petugas tersenyum, lalu mengetikkan nama Mariana pada tuts keyboard.
"Maaf, Pak. Tidak ada pasien atas nama ibu Mariana di sini," jawabnya.
"Pasien yang baru saja melahirkan." Marco bertanya tidak sabar.
Petugas kembali mengetik sesuatu.
"Hari ini hanya ada satu pasien melahirkan, Pak. Nyonya Kamila dari desa Hyacinth. Beliau masih di ruang bersalin."
"Di mana kami bisa menemuinya?"
Wanita itu tersenyum. "Silahkan bapak ke lantai dua, koridor sebelah kiri."
Tanpa berterima kasih keduanya berbalik dan segera menaiki tangga menuju lantau dua. Tempat ini tidak begitu luas. Mata Marco bisa menangkap ke ampat sisi dinding bangunan tanpa terhalang apa pun.
Di lantau dua, Marco dan Lucius berjalan menuju koridor sebelah kiri.
"Atas nama nyonya Kamila di sebelah mana?" tanya Marco, tanpa basa basi.
"Maaf, Pak. Apakah Bapak keluarga ibu Kamila?" tanya perawat dengan seragam serba hijau.
"Ya."
"Tapi, Nyonya Kamila mengatakan suaminya bekerja di pelayaran dan keluarganya jauh di luar kota." Perawat menatap Marco dengan curiga.
"Saya orang suruhan suaminya, untuk melihat kondisi Nyonya Kamila, karena ponselnya tidak dapat dihubungi sesaat setelah dia mengatakan pergi ke rumah sakit."
"Oh, ya Pak. Benar. Karena Nyonya Kamila masuk dalam kondisi putranya sudah hampir lahir, dan untuk saat ini, kondisinya sedikit kurang baik."
"Di mana dia?"
"Maaf, Pak. Beliau tidak dapat dihubungi, karena berada di ruang ICU. Kondisinya sangat lemah jadi kami melarang siapa pun untuk menjenguknya."
"Kami orang suruhan suaminya!"
"Kami mohon maaf, Tuan. Tidak bisa." Perawat itu membungkuk.
"Panggil direktur mu!" teriak Marco galak.
"Mohon maaf, Tuan...."
"Panggil dia! Atau akan aku robohkan rumah sakit kecil ini dalam sekali tendangan. Kau belum tahu saja siapa kami!"
Seorang perawat bertubuh kecil di belakang meja pelayanan, berlari masuk. Lima menit kemudian, seorang wanita mengenakan setelan jas biru tua berlari-lari mendekat di atas high heelsnya yang berbunyi tak tok.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya Wanita itu, membungkuk kecil."
"Kami ingin menemui Nyonya Kamila."
"Kalau boleh tahu, Tuan-tuan ini siapa?" tanya wanita itu sopan.
"Kami suruhan suaminya. Suami Nyonya Kamila berkerja di pelayaran. Dia ingin memastikan istrinya baik-baik saja."
"Maaf, Tuan. Untuk saat ini kondisi Nyonya Kamila belum bisa di jenguk. Tuan bisa memberi tahukan kepada suaminya, kondisinya sedikit menurun."
"Ya. Kami akan memberitahukannya setelah melihatnya."
"Kami hanya bisa mengijinkan tuan-tuan sekalian untuk melihatnya dari balik kaca, Tuan."
"Suami Nyonya Kamila tangan kanan Leo Atlas. Apa kau ingin berurusan dengannya?!" gertak Marco.
"Siapa pun orangnya, Tuan. Kami meminta maaf tidak dapat mengijinkan Tuan untuk masuk menjenguknya."
"Berapa yang kau inginkan?!" tanya Marco tidak sabar.
Wanita itu membungkuk sedikit, kepalanya menunduk. "Maaf, Tuan. Keselamatan Pasien adalah prioritas kami. Jadi apa pun yang Tuan inginkan dan tawarkan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan. Kami tidak akan menerimanya."
"Sialan! Apa kau benar-benar ingin berurusan dengan Leo Atlas!" teriak Marco murka.
"Maaf sekali lagi, Tuan. Kami hanya berusaha menjaga prioritas kami untuk menyelamatkan pasien. Tuan-tuan bisa menjenguknya melalui kaca jika berkenan."
Marco mendengus marah. "Baiklah. Tunjukkan!"
Wanita itu berjalan ke sisi lain Koridor, memimpin jalan menuju ruang ICU.
"Silahkan, Tuan. Nyonya Kamila berada di bangsal nomer tiga. Tim kami sedang berusaha menyelamatkannya."
Marco melihat seseorang di balik selimut hijau muda sedang dikerubuti tiga orang yang juga berada di balik jubah panjang serba hijau dengan penutup kepala. Marco sampai tidak dapat mengenali apakah mereka laki-laki atau wanita, karena menggunakan penutup kepala, masker dan google yang menyamarkan wajah mereka.
"Bagaimana?" tanya Marco, menatap Lucius yang berdiri di sebelahnya. Pria itu menggeleng.
"Di mana anaknya?" tanya Marco lagi, menoleh wanita yang membawanya ke tempat itu.
"Di ruang bayi, Tuan. Tetapi...."
"Ya, ya. Aku tidak akan menjenguknya. Aku hanya ingin melihatnya dari kaca. Apa tidak boleh?!" sergah Marco.
Wanita itu kembali tersenyum. "Silahkan, Tuan-tuan," katanya, lalu berjalan ke koridor sebelumnya.
Marco dan Lucius kembali mengikuti sang direktur, menuju kamar bayi. Di depan kaca besar, wanita itu memerintahkan perawat di dalam untuk mendorong satu-satunya box yang berisi bayi, ke dekat jendela.
"Apa itu anaknya?"
"Ya, Tuan."
"Di mana bayi-bayi yang lainnya?"
"Tidak ada kelahiran di rumah sakit kami selama tiga hari terakhir, jadi tidak ada bayi lain yang berada di sini."
Bima mengangguk, lalu melongok ke dalam box bayi bersama dengan Lucius.
Menatap bayi di dalam Box, keduanya membelalak lalu saling pandang, menggeleng.
"Apa dia sehat?"
"Sehat, Tuan. Dan segera setelah ibunya membaik, kami bisa mengirim mereka pulang. Tetapi, Tuan-tuan. Mengingat kondisi Nyonya Kamila yang lemah, saya sarankan sebaiknya ada yang menemaninya menjaga bayinya selama dia di rumah."
"Boleh aku memotret bayi ini?" tanya Marco. "Untuk ku kirimkan pada ayahnya."
Wanita itu mengangguk, kedua matanya berbinar. "Tentu saja, Tuan-tuan. Silahkan."
Marco menjejak pedal gas, keluar dari area pelataran rumah sakit.
"Apa kau tidak merasa bayi itu sedikit lebih mirip Bima?"
Lucius nyengir. "Aku juga berpikir begitu. Mulut, hidung dan rahangnya hampir seperti Tuan Leo."
"Apa kau pikir wanita di dalam itu Mariana?"
"Aku ragu, Tuan. Karena aura Nyonya Mariana diselimuti kabut putih, sementara wanita di dalam tadi jelas sekali dia sedang bahagia, meski aku bisa membaca kesedihan yang berada jauh di dalam pikirannya seolah berusaha dia tenggelamkan."
"Kenapa begitu?"
"Mungkin karena seperti kata perawat tadi, suaminya masih berlayar. Tentunya dia sedih melahirkan tanpa di tunggu suaminya, tetapi dia berusaha memendamnya sedalam mungkin karena dia tahu suaminya akan pulang."
Marco mengangguk-angguk. "Bisa jadi. Tapi aku tetap saja penasaran, karena bayi itu mirip sekali dengan Bima."
"Kau pikir bagaimana rekasi Tuan Leo saat melihat foto bayi itu, Tuan?" tanya Lucius.
"Haha... Aku yakin dia ingin mengecek sendiri bayinya."
"Kalau begitu sepertinya kita harus bersiap kembali ke tempat itu, bukan?"
Bima terbahak. Tepat saat itu Lucius memukul keras pundaknya dan menunjuk sesuatu yang berlawanan arah dengan mereka.
"Apa sih?!"
"Sarah! itu Nona Sarah!"
"Apa?! Mana?"
"Mobil itu...!"
__ADS_1