Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
RINDU MARIANA


__ADS_3

Bima berjalan memasuki ruang pertemuan. Seluruh pejabat eksekutif perusahaan berikut jaringannya telah berkumpul di sana menunggu kedatangan Bima. Mereka serentak berdiri saat Bima berjalan melewati pintu masuk.


"Duduk."


Seluruh peserta duduk, termasuk Bima. Bima menatap setiap orang yang ada di sana dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.


"Siapa dulu."


"Saya, Tuan." Seseorang dengan rambut beruban segera berdiri. Bima mengangguk sekilas.


"Seluruh bukti manipulasi data JKA Coorp terhadap perusahaan-perusahaan yang dikerjakannya sudah terkumpul dan siap dibuka pada publik."


"Lakukan siang ini."


"Siap, Tuan."


Laki-laki lain berdiri tepat saat pria sebelumnya duduk.


"LAFinance telah mengajukan penawaran. Seperti yang kita harapkan, mereka menolak. Tetapi setelah kehancuran JKA, aku yakin mereka akan menghubungiku."


"Dengan keterlibatan mereka pada kasus JKA, tidak akan ada finance yang bersedia berurusan dengan mereka. Minta jaminan seluruh nilai perusahaan saat mereka menghubungimu, Tompson."


Tompson mengangguk.


"Bagaimana perkembangan keuangan mereka sendiri?"


Kali ini seorang wanita berdiri dan mengangguk sopan, senyumnya terkembang ramah. "Keberadaan Paka Lea Land tentu saja mematikan bisnis mereka hampir lima puluh persen, Tuan. Pengunjung berkurang drastis terlebih setelah kita membuka sistem pembelian menggunakan bit coin. Penghasilan mereka menurun hingga tiga puluh persen dalam bulan ini." Wanita itu tersenyum puas. Begitu pun Bima, seringai kepuasan terhias di salah satu sudut bibirnya.


"Apa mereka berencana bekerja sama dengan MBC?"


"Setelah menghilangnya Nyo.... maksudku, setelah kepe...."


"Tidak apa-apa. Lanjutkan."


"Maaf, Tuan." Wanita itu mengangguk kaku. "Setelah menghilangnya Nyonya, dan kepemimpinannya berada di bawah Amanda, mereka berencana untuk mengajukan kerja sama. Aku bahkan telah menyelesaikan draf kerjasamanya kemarin."


Bima mengangguk singkat.


"Berapa kompensasi yang mereka inginkan untuk pemutusan kontrak sepihak?" tanya Bima datar.


"Seratus Lima Puluh Juta Rupiah, Tuan."


"Lakukan."


Wanita itu mengangguk tenang, tak ada sedikitpun raut wajah terkejut.


"Setelah perjanjian kontrak yang mereka inginkan masuk, kau yang akan mengantar berkas persetujuan kerja sama." Sekali lagi wanita itu mengangguk tenang.


"Amanda. Buat nilai pembatalan kontrak lima puluh kali dari nilai yang mereka ajukan."


Wanita cantik luar biasa yang duduk tepat di hadapan Bima, mengangguk kecil. Sorot matanya yang tajam dengan wajah angkuh dan tegas menatap Bima tanpa senyum.


"Baiklah. Untuk hari ini cukup. Pastikan siapa pun yang pernah menyentuh istriku di masa lalu, musnah hingga ke akar-akarnya!"


Semua kenapa mengangguk yakin.


"Kalian boleh pergi. Aku masih ada urusan dengan Lucius dan Ronan."


Derit kursi terdengar saat beberapa pasang kaki beranjak berdiri dan mendorong kursi ke belakang menggunakan paha mereka. Langkah-langkah kaki bersuara keluar beriringan, menyisakan empat orang yang tak beranjak dari duduknya termasuk Bima.


Bima melirik ke arah pria muda di sisi kirinya. "Bagaimana perkembangan pencarian Sarah dan istriku?"


Pria itu menunduk dalam, kepalanya membuat gerakan ke kanan dan ke kiri. "Maaf, Tuan," katanya singkat.


Bima menghela nafas panjang. "Pantau seluruh rumah sakit dan klinik bersalin maupun dokter praktik mandiri spesialis kandungan. Pastikan seluruh bayi lahir telah dilakukan tes DNA dan seluruh data masuk ke dalam sistem laporan kita. Aku tidak mau ada manipulasi sekecil apa pun."


"Tetapi, Tuan. Kami memiliki sedikit masalah."


"Katakan."


"Mengingat pria itu kemungkinan menanam benih di banyak rahim, seperti wanita yang kau kirim ke kantor beberapa minggu yang lalu, ada kemungkinan kita menemukan bayi-bayi dengan DNA pria itu di rumah-rumah sakit atau klinik."

__ADS_1


Bima mengerutkan kening.


"Karena... pagi ini kami menemukannya, Tuan. Tapi kami sudah ke sana dan bukan Nyonya Mariana ibu dari bayi itu," Lucius menambahkan cepat saat Bima sudah berdiri dengan gusar.


"Kenapa kau baru mengatakannya?"


"Karena kami sudah melihat wanita itu. DNA di ambil sebelum bayi itu lahir, Tuan. Kami melihat wanita itu melahirkan anaknya dan itu bukan Nyonya."


Kau sudah memastikan di seluruh rumah sakit itu tidak ada istriku?"


Lucius dan Ronan menggeleng cepat. "Tidak ada, Tuan."


"Jangan sampai kalian membuat kesalahan. Pastikan dengan benar kau tidak dikelabui. Kalian sedang berhadapan dengan iblis wanita yang bisa berubah dalam banyak wujud."


Sekali lagi keduanya mengangguk. "Saya menghafal aura Nyonya, Tuan. Nyonya dikelilingi kabut putih."


Bima menarik nafas panjang, mengangguk. "Ya. Dia berbeda."


"Bos, seperti yang pernah ku katakan, kemungkinan Sarah telah membawa Nyonya keluar kota."


Bima menggeleng tegas. "Kita sudah menutup seluruh jalur keluar dan memeriksa setiap orang yang keluar saat Sarah bahkan belum pergi dari kota ini."


"Bagaimana kalau Sarah membawa Nyonya keluar terlebih dahulu, baru dia menyusulnya setelah berhasil mengecoh kita."


"Tidak. Mariana tidak sebodoh itu. Kalau Sarah melepasnya tanpa pengawasan, Mariana akan menghilang dengan cepat."


"Mungkin Sarah menyuruh orang."


"Mariana jauh lebih pintar dari orang suruhan Sarah."


Marco mengangguk kalah.


"Tapi mung...."


Brak!


Semua kepala menoleh saat pintu terbuka dengan keras.


"Katakan."


"Sebuah transaksi sebesar lima ribu dolar tercatat keluar dari black cart anda yang dipegang Nyonya. Deteksi pencairan dana berada di kota Frontes."


"Apa?!" Bima bangkir berdiri dengan cepat.


"Ya, Tuan. Saya yakin itu Nyonya Mariana."


"Kau yakin itu Mariana?"


"Seratus persen. Bukankah Tuan yang memasang chip sidik jadi pada karu itu?"


"Buat permintaan penerbangan pribadi sekarang juga!" Bima berlari ke pintu, diikuti Marco dan dua lainnya.


"Reservasi bandara untuk penerbangan pribadi Tuan Leo Atlas." Lucius mengingatkan wanita yang masih tertegun di pintu itu, sambil berlari mengikuti ketiganya.


"Tenang, Tuan. Kita pasti menemukannya."


"Bagaimana bisa dia berada sejauh itu sementara tidak ada satu penerbangan pun yang mencatat namanya!" geram Bima di dalam pesawat pribadi yang mereka tumpangi.


"Mungkin Sarah memalsukan namanya."


Jemari Bima mengepal keras. Pria itu menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan sambil memejamkan mata.


"Bos, kau harus bisa mengendalikan emosimu. Ingat apa yang kita hadapi dan siapa yang harus kita lindungi. Jangan sampai melakukan kesalahan berikutnya, Bos."


Setelah kembali menarik nafas dan membuangnya beberapa kali, Bima akhirnya membuka mata, lalu mengangguk.


"Aku akan menjaganya tetap terlelap, Marco. Jangan khawatirkan aku. Tapi untuk berjaga-jaga, adalah tugasmu, Lucius dan Ronan untuk menyelamatkan istriku dari siapa pun termasuk dariku sendiri."


"Siap, Tuan." Lucius dan Ronan mengangguk bersama.


Sementara itu di kediaman Mariana....

__ADS_1


"Mariana! Di mana kau?!" teriak Sarah panik, sampai Mariana harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Aku, di rumah. Ada apa, Sarah?" tanya Mariana bingung.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa Bima dan yang lainnya bisa menemukanmu?"


"Oh, soal itu. Kau tenang saja, Sarah."


"Tenang?! Mereka sedang mengarah ke tempatmu sekarang. Atau kau sudah ingin menyerah pada perasaanmu, Mariana?" tanya Sarah, suaranya berubah dingin.


Mariana tersenyum, meski Sarah tidak bisa melihatnya.


"Aku memang sangat merindukan Bima. Tapi tenang saja, Sarah. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Aku hanya ingin dia berada di kota ini saat aku melahirkan, tetapi aku yakin dia tidak akan menemukanku."


"Bagaimana kau bisa begitu yakin?"


"Karena aku tahu siapa Bima."


"Apa maksudmu?"


"Aku mengambil uang menggunakan ATMnya dalam jumlah yang sangat besar. Aku yakin mereka akan mengetahuinya dengan seketika. Tetapi aku mengambilnya di Lotus Golden Park. Kau tahu tempat itu berjarak dua puluh sembilan kilo meter dari tempatku berada."


"Itu tidak akan menyembunyikan mu dari orang-orang Bima."


"Akan. Karena seperti yang pasti juga sudah kau ketahui, Bima mengecek DNA setiap wanita melahirkan dan mencocokkannya dengan DNA Galang, bukan."


"Ya. Dia dibuat frustasi karena kenyataan berapa banyak benih yang telah ditanam galang di banyak wanita. Ha!" Sarah mencibir.


"Ya. Karena itu kenapa aku yakin Bima tidak akan pernah menemukanku."


"Apa...."


"Ya."


Sarah menghela nafas panjang.


"Apa kau akan membenci bayiku?"


Diam.


"Sarah...."


"Apa kau sudah memastikannya bahwa DNAnya milik Bima?"


"Jangan khawatir, perasaan seorang ibu jauh lebih kuat. Anak ku bukan anak bajingan itu."


"Baiklah. Aku akan berusaha untuk tidak menemui bayimu."


"Kenapa?"


"Karena itu akan mengingatkanku pada luka masa lalu ku."


"Tidakkah kau ingin mencintainya seperti kau mencintai anakmu?"


"Mungkin nanti, kalau aku sudah siap."


Mariana mengangguk. "Maafkan aku, Sarah."


"Tidak, tidak perlu meminta maaf. Kau tidak bersalah."


"Tidak. Aku minta maaf telah memancing Bima untuk datang kemari. Aku hanya ingin saat proses kelahiran putraku, ayahnya ada di dekatnya."


"Aku bisa mengerti perasaanmu, Mariana. Semoga kalian sehat dan selamat. Aku akan menghubungimu lagi nanti."


"Terima kasih, Sarah. Semoga kau juga baik-baik saja di sana."


"Bye...."


Belum Mariana menjawab, sambungan telepon terputus.


Marian menghela nafas panjang. "Maafkan aku, Sarah. Aku telah mengecewakanmu. Aku tidak bermaksud untuk mengkhianatimu, tetapi perasaanku tidak mampu lagi menahan rinduku."

__ADS_1


Mariana menatap kebun mungil di depan rumahnya dari balik kaca, air matanya menetes. Dia begitu merindukan Bima, merindukan hari-hari dimana dia diperlakukan bagai seorang permaisuri raja. Hari-hari di mana dia lalui dengan rengekan manja dan pelukan mesra. Mariana merasa tak sanggup lagi hidup kesepian sendirian, harus melewati hari-hari penuh perjuangan tanpa bantuan dan perhatian.


__ADS_2