
Bima membuka mata. Dia mengernyit merasakan gatal di hidungnya. Melirik ke bawah, rupanya rambut Mariana yang telah menggelitik hidungnya.
Bima membenahi rambut Mariana, lalu mengusap-usap hidungnya perlahan agar tidak bersin. Merasakan gerakan kecil Bima, Mariana beringsut sedikit, tetapi matanya masih terpejam, dadanya naik turun dengan konstan, menandakan dia masih tertidur pulas.
Bima menarik lengannya perlahan dari bawah kepala Mariana.
"Mau ke mana?" tanya Mariana, matanya terbuka lebar menatap Bima yang sudah setengah duduk.
"Minum kopi sebentar untuk menenangkan sarafku. Kau tidurlah."
"Aku ikut."
"Ini masih tengah malam, Mariana."
"Tapi aku ingin ikut."
Bima menghela nafas, lalu mengangguk. Bima membantu Mariana turun dari temoat tidur, menggandengnya perlahan ke dapur.
"Kau mau minum apa?" tanya Bima.
"Susu coklat."
Bima mengangguk, meninggalkan Mariana duduk di meja bar, sementara dia menyiapkan kopi dan susu coklat Mariana. Saat berbalik membawa dua gelas kopi dan susu, entah atas dasar apa, melihat punggung Mariana dengan pantatnya bang semakin melebar karena hamil membuat jantungnya berdebar kencang seolah dirinya baru saja menelan ribuan petasan yang meledak secara beruntun.
"Aah, Mariana. Bisakah kau duduk di meja makan saja?" tanya Bima.
Mariana menoleh. "Kenapa?"
Bima menaruh gelas kopi dan susu di atas meja makan, lalu memeluk tubuh Mariana dari belakang.
"Kehamilanmu membuatmu tampak semakin seksi, kau tahu? Aku tidak sanggup menahannya."
Mariana tersenyum menggoda. "Apa yang terjadi dengan Sarah semakin sering kita melakukannya?"
"Ku harap dia akhirnya menyerah."
"Se mudah itu?"
Bima menggeleng, menyusupkan hidungnya di leher Mariana.
"Tidak," bisiknya.
"Aku wanita. Tentunya aku tidak ingin menyiksa perasaan sesama wanita.
"Dia bukan lagi wanita, Mariana. Dia iblis."
"Jangan mengatakan itu kalau kau pernah menginginkan dirinya."
Bima menggeleng pelan, mengirup dalam-dalam aroma Mariana di belakang telinganya.
"Kau harum."
"Bima, jangan."
"Kenapa?"
"Aku tidak...."
"Jangan berlagak sok pahlawan dengan mengatakan kau tidak ingin menyakiti Sarah. Dia akan mekisahkan kita dan tidak akan pernah peduli dengan perasaanmu."
"Tidak, bukan itu."
"Lalu kenapa? Apa kau sudah bosan padaku?" Bima memeluk di atas peru Mariana dan menekannya lembut, membuat tubuh Mariana menempel rapat padanya.
"Jangan pernah katakan kau tertarik pada yang lain. Aku bisa menjadi iblis paling jahanam di dunia kalau sampai itu terjadi." Bima menggeram di tengkuk Mariana.
"Aah...." Mariana mengerang saat Bima menggigit lembut bagian sisi lehernya.
"Aku manusia normal. Tertarik pada lawan jenis itu manusiawi, Bima."
"Jangan katakan itu, Mariana."
"Kau tak pernah mempercayaiku."
__ADS_1
"Aku percaya padamu," desis Bima. "Kau milikku. Tidak ada orang lain yang boleh menyentuhmu."
"Nyatanya sebelum kau menyentuhku, seseorang telah mengambil kesucianku darimu."
"Stop mengatakan itu!" Bima mengertakkan gigi, jemarinya meremas lembut tubuh Mariana.
"Jangan menyangkalnya. Kau bahkan menyaksikannya langsung!" Mariana bersikeras. Entah kenapa, sejak Bima mengurungnya semalam dalam rasa cemburu, Mariana seolah ketagihan melihat Bima yang posesif dan sangat mendominasi. Itu membangkitkan seleranya dengan sangat kuat.
Nafas Mariana memburu, tetapi dia bertahan di tempatnya, masih memancing emosi Bima.
"Katakan padaku kenapa kau membiarkan semua itu terjadi malam itu. Kenapa kau tidak mencegahnya."
"Cukup mengingatkan aku pada kejadian itu, Mariana. Cukup!" Bima menelusuri leher hingga tulang selangka Mariana, menghirup dalam-dalam dengan gigi yang masih bergemeretak.
"Aku hanya ingin tahu."
Bima menggeleng.
Mariana berputar di kursinya, lalu turun. Dia sedikit berjinjit, menyambut ciuman Bima.
"Katakan, apa kau benar-benar tertarik padaku?" bisik Mariana di antara ciumannya.
"Sangat," jawab Bima singkat, dan segera meraup bibir Mariana lagi.
Mariana melepasnya. "Lalu kenapa kau membiarkan itu terjadi."
"Cukup, Mariana, ku mohon!"
Setiap kali Mariana mengatakannya, degup jantung Bima memukul dua kali lebih keras dan cengkeramannya mengeras.
"Atau kau kenikmati menonton aku disiksa?"
"Mariana!" geram Bima.
"Baiklah. Aku tahu. Kau memang menikmatinya melihat aku dihabiskan oleh dua orang sekaligus." Mariana mendorong Bima, berjalan menajuh.
Bima menangkap pergelangan tangan Mariana, tatapannya murka, matanya memerah.
"Cukup mengatakan itu!" bentaknya dengan suara dingin. Tetapi Mariana sama sekali tidak merasa takut, dia justru merasa menang.
Bima mengertakkan gigi hingga berbunyi, menatap Mariana kecewa, lalu menubruk keras tubuh Mariana, mendorongnya ke dinding dan mencumbunya dengan brutal.
"Aah...." Mariana merintih.
"Bima...."
Bima tidak peduli. Mariana telah melepaskan monster mengerikan yang berada di dalam diri Bima, membuatnya murka. Sungguh kesalahan, memancing kesabaran Bima yang tak berlapis baja.
Bima merobek baju Mariana dengan kasar, melucutinya.
"Bima, jangan d...."
Kalimat Mariana kembali tertelan akibat bibir Bima yang brutal.
"Pwln pennmpph... Byme!" Ucapan Mariana tidak jelas.
"Kau melepas kesabaran ku, Mariana! Sudah ku katakan cukup!" Bima mendesis seperti ular, bibirnya dan tangannya tidak berhenti bergerak.
"Aaaah... Bima. Please, sakit. Ini benar-benar sakit." Mariana menahan tubuh Bima yang bergerak brutal, satu tangannya menahan perutnya yang terasa nyeri.
"Bima please, Sayang." Mariana membelai pipi Bima, matanya terpejam menahan sakit yang teramat sangat di perutnya.
Merasakan sentuhan lembut tangan Mariana, Bima tersadar. Dia mengentikan gerakannya dengan mendadak, tatapannya membeku pada wajah Mariana yang sedikit memucat.
"Mariana...." panggilnya. Suaranya jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Apa aku menyakitimu?"
Mariana mengangguk patah-patah. "S-sakit...." bisik Mariana, satu tangannya masih menahan perutnya yang terasa semakin melilit.
Bima menunduk perlahan, menatap sesuatu yang terasa basah di bawah sana. Betapa kaget dirinya saat melihat cairan merah mengotori sofa.
"Mariana!" Bima melompat ke samping.
Mariana membuka mata, menatap Bima. Tangan mungilnya mencengkeram lengan Bima. "Tidak apa, lanjutkan. Tapi pelan saja."
__ADS_1
Bima menggeleng keras. "Kau berdarah, Mariana."
"Apa?!" Mariana membelalak kaget.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit." Bima berlari ke kamar, membersihkan diri dan berpakaian lalu menyambar baju Mariana.
"Jangan banyak bergerak, Mariana." Bima cepat memegang tubuh Mariana saat wanita itu mencoba untuk duduk.
"Tapi aku harus membersihkan diri."
Bima menggeleng. "Biar aku yang bersihkan."
Satu jam kemudian...
"Bayi dan ibunya selamat, Tuan. Tetapi saya sarankan untuk tidak mengulangi kegiatan itu untuk sementara waktu, sampai kandungannya benar-benar kuat." Seorang wanita mengenakan jas dokter dengan label nama dr. Andira, berbicara pada Bima di depan ruang gawat darurat.
"Baik, Dokter. Saya akan mengingatnya."
"Kandungannya masih lemah. Jangan biarkan istri anda bekerja terlalu berat. Harus banyak istirahat dan rebahan. Apa dia bekerja di kantor?"
Bima mengangguk.
"Aku akan memberikan surat permintaan istirahat selama dua minggu."
Bima mengangguk.
"Baik. Silahkan temui dia sementara menunggu kamar rawat siap."
"Apa dia harus di rawat?"
"Saya harus memantau kesehatannya setidaknya untuk tiga hari ke depan."
Bima kembali mengangguk.
Sepeninggal dokter muda dengan rambut coklat berombak itu, Bima berjalan memasuki ruang perawatan Mariana.
"Mariana."
Mariana menoleh.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah tidak sakit lagi. Dokter bilang dia sehat, tetapi kandunganku lemah."
Bima mengangguk. "Maafkan aku, Mariana."
Wanita itu tersenyum, menggeleng. Tangannya terjulur meraih lengan Bima. "Aku yang seharusnya meminta maaf. Tidak semestinya aku terus menerobos ambang batas kesabaranmu, padahal kau sudah memperingatkan ku."
Bima membalas senyum Mariana, membelai rambut wanita itu. "Kau tahu kan sekarang, seiblis apa aku jika monster itu terlepas dari tubuhku."
Mariana mencebik. "Tapi aku suka melihat sisi liar mu dan tatapan mu yang mendominasi. Kau tahu, mungkin aku sedikit kelainan, tapi aku benar-benar menyukai sisimu yang dingin dan mendominasi."
Bima mengerutkan kening.
Mariana menarik baru Bima, mendekatkannya padanya.
"Kau sangat seksi saat matamu mendominasi. Itu membuatku gila!" bisik Mariana lirih tepat di telinga Bima.
"Jangan mulai, Mariana. Dokter sudah memperingatkan ku untuk tidak melakukannya lagi."
Mariana tertawa lirih. "Bagaimana kalau aku menginginkannya," pancing Mariana.
"Kau membuatku gila! Aku akan membelikanmu minum, diam di sini baik-baik dan jangan mulai bersikap nakal, Mariana. Aku mengingatkanmu!" Bima menatap serius pada Mariana, kemudian berbalik pergi.
Bima berjalan menyusuri koridor panjang mengikuti petunjuk arah yang bertuliskan kantin. Dia butuh sesuatu untuk menenangkan diri karena monster di dalam perutnya kembali bergejolak.
Bima menunduk di depan showcase, tangannya meraih coffee kalengan dan mengambil susu kotak untuk Mariana.
"Dia sengaja melakukannya untuk membunuh bayimu, kemudian melempar kesalahan padamu."
Bima mendongak, menoleh kaget melihat pemilik suara di belakangnya.
"Halo, Bima." Wanita cantik luar biasa itu tersenyum ramah, sayang itu tak dapat menutupi tatapan iblisnya yang kejam.
__ADS_1
"Mau apa kau di sini?!" tanya Bima, menatap galak pada wanita di depannya.