
Ara menggenggam erat lengan Mariana.
"Dia mengikuti kita," bisik Ara tegang.
"Aduh! Apa aku bilang. Dia sangat mencurigakan. Saat masuk tadi, tatapannya langsung tertuju pada meja kita."
"Apa kau punya musuh, Mariana?"
"Tentu saja. Apa kau lupa soal Galang?!" jawab Mariana sinis. "Aku masih trauma dengan perlakuannya."
"Apakah menurutmu dia orang suruhan Galang?"
"Aku tidak tahu. Tapi bisa saja kan," jawab Mariana tegang.
"Jadi, kita harus bagaimana?"
"Ke sana."
Ara menatap Marina bingung."
"Kita ke tempat banyak orang di sana. Kalau dia berbuat nekat, kita tinggal berteriak dan akan banyak orang yang datang menolong."
"Kau yakin mereka akan menolong kalau kita berteriak?" tanya Ara, suaranya terdengar ingin menangis.
"Sudahlah. Mendekati banyak orang jauh lebih aman dari pada di tempat sepi. Dia akan lebih leluasa menyergap kita kalau tidak ada orang."
"Ka-kau benar. Setidaknya, dia harus berpikir dua kali sebelum menculik kita, kalau banyak saksi mata."
Keduanya berjalan semakin cepat, menuju kerumunan orang yang sedang berjalan santai di sekitar taman kota.
Sementara di belakang mereka, laki-laki itu terus membuntuti, sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari keduanya.
"Ara. Bagaimana kalau kita ke mobil dan segera pulang."
"Jangan. Tempat parkirnya sepi. Aku takut dia menyergap kita di sana, lalu memasukkan kita berdua ke dalam mobil kita sendiri dan membawa kita pergi."
__ADS_1
Mariana menelan ludah, mengangguk. "Kita harus mengecohnya."
"Apa kau punya ide?"
Mariana mengangguk. "Kalau instingku benar, laki-laki ini mengincarku."
Ara mengangguk cepat.
"Lihat. Orang itu mengenakan baju hampir sama dengan yang aku kenakan." Mariana menunjuk seseorang menggunakan hidungnya. "Aku akan membuat sedikit keributan di belakangnya, lalu aku akan menyelinap dan bersembunyi sementara kau berjalanlah di samping wanita itu. Pakai earphonemu, kita terhubung melalui telepon dan aku akan memberitahumu kapan waktunya kau menyelinap pergi."
Ara terlihat sedikit memucat tapi kepalanya mengangguk setuju.
"Baik. Bersiaplah."
"Apa yang...." Belum selesai Ara bertanya, Mariana sudah bergerak cepat, menyobek kantung plastik berisi apel di depannya menggunakan antingnya.
Buah apel merah itu berjatuhan, menggelinding kemana-mana. Pemiliknya panik, sementara beberapa orang membungkuk untuk membantu memungut buah apel yang terjatuh, termasuk Mariana dan Ara.
Mariana menengok sekilas ke belakang, pria yang menguntit mereka juga menunduk mengambil sebuah apel yang menggelinding ke kakinya.
"Sekarang!" Mariana mendorong Ara untuk maju, sementara dengan cepat dia masuk ke sebuah toko roti. Dari jendela kaca toko roti, Mariana bisa melihat pria itu celingukan sebentar, sebelum mempercepat langkahnya mengikuti Ara.
"Ya. Tersambung." Ara berbisik.
Mariana keluar dari toko roti, berjalan cepat. Kekacauan yang baru saja dia buat rupanya sudah terkendali. Orang-orang sudah kembali berjalan normal di trotoar padat.
Marian mempercepat langkah, matanya mencari-cari sosok laki-laki yang tadi membuntutinya. Tidak terlalu sulit karena pria itu mengenakan jas dan celana hitam yang membuatnya sedikit mencolok di antara pakaian santai berwarna-warni yang berjalan di sekelilingnya. Mariana menemukan laki-laki itu berjalan tiga meter dari Ara dan wanita itu.
Mariana terus menguntit mereka, mencari celah untuk bisa membebaskan Ara. Tidak jauh dari posisi Ara dan pria penguntitnya, Mariana melihat seorang anak kecil memegang balon helium di tangannya, sementara anak itu berada di gendongan ayahnya.
Mariana tersenyum, mengeluarkan gunting dari dalam tasnya dan berjalan mendekat. Tepat di belakang anak itu, Mariana memotong batu pemberat balon yang menggantung di bawah genggaman mungil pemiliknya.
"Maafkan aku...." Mariana merintih sambil menggunting tali. Batu terjatuh, tali yang berada di genggaman anak itu meluncur mulus, terbang bersama balok merah besar ke angkasa.
Anak kecil itu mendongak, lalu berteriak kencang.
__ADS_1
"Ayaaaahh... Balonku!"
Semua kepala di sekitarnya menoleh kaget, lalu mendongak mengikuti arah pandangan laki-laki kecil itu, tak terkecuali pria penguntit Mariana.
"Sekarang. Masuk ke toko pakaian di sisi kanan mu!" Mariana memberi arahan pada Ara.
Ara sigap. tanpa menunggu, dia berbalik dan berjalan masuk ke dalam toko pakaian dengan tenang.
"Aku di toko madu, tepat di sebelah toko kue."
"Ya. Tetaplah di sana, aku akan menyusul mu sebentar lagi." Ara balas berbisik.
Mariana berjalan mendekati deretan rak yang menjual berbagai olahan madu. Dia menunggu Ara dengan perasaan was-was.
"Ara, apa kau baik-baik saja?" tanya Mariana cemas, pada telepon yang masih tersambung.
"Ssst. Tenanglah. Aku sudah berjalan ke arahmu."
Mariana mengangguk, lupa Ara tidak bisa melihatnya.
Sebentar kemudian, Ara muncul dari balik pintu mengenakan topi baseball dan jaket hitam.
"Ara?!" Mariana menatap kaget saat Ara menepuk pundaknya.
"Ayo keluar. Pria itu di dalam toko baju. Kita ke parkiran dengan cepat lalu segera pergi."
Tanpa menunggu lagi, keduanya segera berjalan cepat keluar toko madu, menyusuri trotoar jalan yang cukup padar.
"Pakai jaket ku dan kuncir rambutmu." Ara mengeluarkan karet gelang dari saku celananya.
Mariana menerimanya, menguncir rambutnya dengan asal-asalan lalu menerima jaket Ara dan mengenakannya.
"Kau membeli jaket baru?" tanya Mariana melirik jaket hitam yang kini Ara kenakan.
Ara membalas dengan anggukan.
__ADS_1
Kurang dari lima menit, keduanya sampai di mobil dan segera masuk. Mariana mengunci pintu begitu Ara duduk di tempatnya. Keduanya mengenakan sabuk pengaman, sebelum Mariana menancap gas dengan cepat.
Tepat di ujung pintu keluar tempat parkir, mata keduanya menangkap sosok pria yang menguntitnya, sedang memperhatikan mobilnya yang meluncur pergi.