Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
KEHAMILAN


__ADS_3

Di perusahaan....


Mariana duduk dengan wajah pucat, keringat dingin terus membanjiri tubuhnya. Seluruh eksekutif perusahaan duduk mengelilinginya dengan wajah galak, tak terkecuali tim audit yang siap ********** hidup-hidup.


"Jadi, apa kau masih mau mengelak, Mariana? Semua bukti sudah jelas di sini." Noah berdiri, menatap Mariana sinis.


Mariana mengikuti berdiri, tangannya mencengkeram meja untuk menahan tubuhnya yang terasa lemas.


"Aku tidak akan mengelak, tetapi aku juga tidak akan pernah mengakuinya, karena aku sama sekali tidak pernah merasa menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadiku." Suara Mariana terdengar lebih lemah.


"Ha! Lalu ke mana uang yang mengalir ke rekening mu kau gunakan? Apa untuk menghidupi suami gelandangan mu yang tak punya rumah itu?"


Mariana menggeleng. "Sekedar untuk kau ketahui, Bima tidak pernah menggunakan uang ku sepeser pun."


Beberapa orang terbahak mendengar penuturan Mariana.


"Lalu dengan apa kalian hidup kalau bukan dengan uang hasil korupsi. Memangnya berapa gaji CEO mu, sementara kau tidak memegang saham sama sekali?" kata Leo mencibir.


Mariana kembali menggeleng. Namun detik berikutnya, tubuhnya limbung dan Mariana terjatuh ke lantai.


Semua yang hadir refleks berdiri, tapi ada yang jauh lebih cepat dari yang lainnya.


Bima menerobos masuk ke dalam ruang rapat, langsung menghampiri tubuh Mariana yang luruh ke lantai dan mengangkatnya.


"Hei, Kau!" teriak Leo, begitu kesadarannya kembali dan matanya menatap Bima yang tengah menggendong tubuh pingsan Mariana.


Bima menoleh sekilas dengan tatapan membunuh, kemudian berlalu begitu saja tanpa suara.

__ADS_1


"Tangkap dia! Mereka pasti sedang bersandiwara untuk menunda persidangan!" teriak Leo keras.


Bima tak peduli, seandainya saja tidak ada dua orang yang menghadangnya di pintu.


"Dia istriku dan dia sedang butuh diselamatkan," kata Bima dingin.


Kedua orang yang menghadangnya bergeming, seolah mereka tuli dan sama sekali tidak mendengar nada peringatan serius yang dilontarkan oleh Bima.


"Minggir!"


"Kau yang minggir. Turunkan jal***g itu biar ku siram air waja...."


Buk!


Kalimat Leo tidak terselesaikan lantaran hantaman kaki Bima lebih dulu mengenai wajahnya, membuatnya limbung seketika.


Semua mata membelalak lebar, melihat tubuh Leo yang terhuyung mundur beberapa langkah, hidung dan bibirnya berdarah. Seandainya saja mereka tidak melihat dengan mata kepala mereka sendiri Bima melakukan tendangan sambil kedua tangannya menggendong tubuh pingsan Mariana, mereka tidak akan mempercayai cerita semacam ini.


"Atur berkas pengunduran diri istriku, aku akan menandatanganinya setelah mengantarnya ke mobil," kata Bima dingin, lalu melangkah ke luar ruangan.


"Awasi mereka, Marco. Aku akan mengantar Nyonya ke mobil kemudian kau bisa membawanya ke klinik sementara aku mengurus berkas-berkas pengunduran dirinya." Bima berbicara pada Marco yang menunggu di depan pintu dengan kepala mendongak, membuat nyali setiap orang yang berada di dalam ruangan menciut bahkan sebelum benar-benar berhadapan dengannya.


Bima melangkah membawa Mariana ke dalam mobil, menidurkannya di belakang lalu kembali ke ruang rapat dimana orang-orang berwajah tegang itu masih menunggunya.


"Mana berkas-berkas yang harus ku tanda tangani," kata Bima datar.


"Kau pikir kau siapa, heh?!" tanya Noah sini, maju e depan mendekati Marco.

__ADS_1


"Aku suaminya. Dan aku berhak menentukan istriku masih perlu bekerja atau tidak," jawab Bima dingin.


"Memangnya kau bisa memberinya makan kalau dia berhenti bekerja?" tanya Hendra sinis.


Bima tersenyum dingin. "Rumah tanggaku adalah urusanku, kalian tidak perlu ikut campur di dalamnya."


"Tentu saja kami perlu. Mariana sepupu kami. Kebahagiaannya juga merupakan tanggung jawab kami."


"Seorang wanita yang telah menikah, bahkan orang tuanya pun sudah tidak lagi bertanggungjawab atas dirinya. Aku lah yang bertanggungjawab atas Mariana saat ini, jadi aku memutuskan dia sudah cukup bekerja dan waktunya istirahat di rumah."


"Ha! baiklah. Turuti saja kemauan gelandangan miskin ini, lalu kita lihat seberapa jauh mereka mampu bertahan tanpa makan dan minum." Leo berbicara dari ujung ruangan, seseorang terlihat baru selesai merawat lukanya.


Bima bergeming, beranjak duduk dengan tenang di kursi yang sebelumnya di duduki Mariana. Bima menatap dingin ke seluruh ruangan, matanya memindai aura-aura busuk yang mengelilingi setiap orang yang duduk di dalam sana.


Sementara Bima menunggu dalam diam, Mariana dan Marco telah sampai di klinik terdekat, sepuluh menit yang lalu. Sekarang Marco tengah mondar-mandir di depan pintu IGD, menunggu Bima atau dokter yang merawat Mariana muncul.


Di dalam ruang pemeriksaan IGD, Mariana menatap dokter yang tersenyum padanya sambil membawa lembar hasil pemeriksaan laboratoriumnya.


"Selamat, Nyonya. Anda akan menjadi seorang ibu."


Suara dokter cantik yang sangat lembut itu, bagai ledakan petir di telinga Mariana. Hamil... bagaimana bisa. Dia bahkan tidak pernah tidur bersama Bima selama dua bulan mereka menikah. Kecuali....


Mariana tersentak sadar. Ya. Dia baru menyadari, kalau semenjak kejadian pemerkosaannya oleh Galang, Mariana belum mengalami datang bulan. Mariana tidak menyadarinya, karena terlalu sibuk dengan urusan pernikahannya dan kondisi perusahaannya yang mendadak kacau. Semua kerumitan ini membuat pikirannya hampir meledak, hingga dia melupakan bahkan tanggal dia biasa mengalami datang bulan.


"T-tapi, dokter...."


Dokter cantik itu mengerutkan kening. "Anda sepertinya tidak terlalu senang, Nyonya." Sela dokter wanita itu penasaran.

__ADS_1


Mariana menggeleng putus asa. "Tidak, tidak. Tentu saja tidak ada yang salah," jawab Mariana tergagap.


"Baiklah. Kalau kau membutuhkanku, panggil saja aku melalui perawat jaga."


__ADS_2