
Mariana membuka mata, cahaya matahari masuk melalui kisi-kisi jendela yang sudah terbuka lebar.
"Aaah... Pagi yang cerah." Mariana menggeliat, melemaskan otot-ototnya sembari menguap.
"Apa kamu akan membiarkan kakek menunggu lebih lama untuk sarapan?" Sebuah suara mengejutkan Mariana.
"Oh!" pekiknya tertahan, begitu matanya menatap wajah Bima di ambang pintu. Dia baru ingat kalau dirinya sedang berada di rumah kakek dan laki-laki tua itu sudah menunggunya untuk turun sarapan.
"Jam berapa sekarang?" tanya Mariana.
"Hampir jam delapan pagi."
"Apa?!" Mariana membelalak lebar. "Apa kau sudah bangun dari tadi?" tanyanya.
Bima mengangguk. "Sejak subuh."
"Kenapa tidak membangunkanku?"
"Kau tidak meninggalkan pesan. Mana aku tahu kau tidak bisa bangun pagi sendirian." Bima mengangkat bahu dengan acuh.
Mariana membelalak,melompat turun dari tempat tidur dan berlari masuk kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian, Mariana keluar kamar mandi, audah dengan aroma sabun dan rambut basah tergerai. Mariana memandang sekeliling kamar dengan terkejut. Selimutnya yang tadi masih acak-acakan sudah terlipat rapi begitupun tempat tidurnya. Mariana tersenyum, di matanya terbayang Bima yang menata tempat tidur selama dirinya berada di kamar mandi.
Usai memoles wajahnya menggunakan bedak dan make up tipis, Mariana turun dan langsung menuju meja makan.
"Berapa lama lagi kau akan menyiksaku dalam rasa lapar?!" Baru saja dia berdiri di ambang pintu, kakek Mariana sudah menggerutu marah.
"M-maafkan Mariana, Kek. Aku, kesiangan," jawab Mariana tergagap.
"Kalau begitu cepatlah duduk dan ambil makananmu. Jangan berdiri di sana lebih lama lagi."
Mariana mendengus, tapi tidak membantah. Dia berjalan ke meja makan,menarik kursi di samping Bima dan duduk.
__ADS_1
"Apa kau yang membereskan kamar selama aku mandi?" tanya Mariana, menatap Bima yang sudah mulai makan.
"Tentu saja...."
"Asisten."
".... Asisten rumah tangga yang membersihkannya. Kau masih molor!" Kakek Mariana berbelok tajam dari kalimat awal yang ingin diucapkannya, setelah menatap kaget saat mendengar jawaban Bima yang memotong ucapannya.
Mariana cemberut.
"Kau sudah bersuami. Setidaknya bangunlah lebih pagi dan siapkan makanan untuk suamimu!"
"Tapi kami...."
"Tidak perlu kuatir, Kek. Mariana pasti akan melakukannya. Pagi ini dia hanya terlalu lelah."
Kakek Bima menatap curiga. Bima tersenyum misterius.
"Aaah...." kata lelaki ubanan itu akhirnya, sambil kepalanya mengangguk-angguk paham.
"Ssst. Makan jangan banyak berbicara." Sekali lagi Bima memotong kalimat Mariana, menunjuk makanan di piringnya yang masih terabaikan.
Mariana mendengus, lalu segera makan.
Usai makan, Bima berdiri. "Kau bisa berangkat bekerja sendiri, kan?" tanyanya pada Mariana.
"K-kau mau kemana?"
"Menemui temanku, tentu saja."
Mariana mengerutkan kening. "Bukankah temanmu di luar negeri?"
Bima menarik sedikit ujung bibirnya, membentuk senyuman masam. "Pemilik rumahnya di luar negeri. Tapi pemegang kuncinya tidak. Kalau kita mau tinggal di sana, aku harus mengambil kuncinya, bukan?" kata Bima tenang.
__ADS_1
"Kau pergi naik apa?"
"Aku sudah terbiasa berjalan kaki."
"Antarkan aku ke kantor, lalu kau bisa membawa mobilku." Mariana berdiri, meraih tas di kursi dan melangkah keluar.
"Kakek, kami pergi dulu." Bima mengulurkan tangan, tetapi Kakek Mariana melambai dan mengusir mereka sementara matanya sudah sibuk di atas koran yang terbuka lebar di meja di hadapannya.
Mobil meluncur membelah jalanan pagi. Tidak terlaku ramai karena jam mobilisasi memang sudah lewat. Tiga puluh menit, Mariana sampai di kantornya.
"Aah... Bos istri gelandangan kita mulai lupa dengan jam kerjanya, rupanya." Seorang pria menyambut Mariana di pintu masuk utama, begitu mobilnya merapat di depan pintu lobi. Suaranya terdengar bahkan sebelum Mariana membuka pintu mobil.
Lengan lelaki itu terlihat menahan satpam yang hendak membuka pintu mobil untuk Mariana.
"Tunggu." Bima mencekal lengan Mariana saat wanita itu bersiap membuka pintu. Mariana menoleh, namun Bima membuka pintunya sendiri dan keluar, lalu berlari-lari kecil mengitari mobil dan membuka pintu untuk Mariana.
"Wah wah... Enak juga punya suami merangkap sopir," celetuk pria itu, menatap rendah Bima.
"Tentu saja. Mempunyai suami yang bisa menghargai seorang wanita adalah segala-galanya bagi perempuan." Mariana menjawab, sudah berdiri di sisi mobil dengan wajah angkuh.
"Hahaha... Kau bisa berlagak angkuh sekarang,tapi setelah ini kau akan menjilat bahkan sepatu berlumpur kami demi belas kasihan."
Bima menatap diam, memperhatikan lawan bicara Mariana dengan tatapan dingin.
"Hei kau! Minggirkan mobilnya. Ini lobi, bukan tempat memarkir mobil butut!" teriak pria itu pada Bima. Bima tersenyum mencibir, kemudian masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi.
Bima meraih ponsel di sakunya, menekan beberapa angka sampai terdengar nada sambung panggilan.
"Boss... Kau kembali," sapa suara di seberang, menggema di dalam mobil karena Bima menyalakan load speaker sementara ponselnya dia letakkan di atas dashboard.
"Ya. Aku kembali."
"Apa... Apa yang membuat Anda kembali, Bos?" tanya laki-laki di seberang dengan suara gugup.
__ADS_1
"Carikan aku rumah seharga 50 milliar."