
Bima membanting botol keempatnya ke atas meja. Meski yang diminumnya adalah wine terbaik yang dimiliki bar Plutto, tapi bukan berarti Bima akan mengalah pada kerasnya. Mata elangnya masih menyorot tajam, mengamati dua pria dengan seorang wanita di antara mereka. Wajah wanita itu memerah karena mabuk, tetapi kedua pria di kanan kirinya tampaknya belum ingin berhenti mencekokinya minuman. Mereka mendekatkan satu gelas lagi ke bibir wanita itu.
Wanita itu meronta, menolak gelas kesekian yang disorongkan paksa ke bibirnya sampai tumpah. Dia berdiri sempoyongan, lalu kembali ambruk.
Bima berdiri mendadak, kedua tangannya mengepal.
"Bos...." Marco ikut berdiri kaget, matanya mengikuti arah pandangan Bima.
"Ada apa, Bos? Apa kau mengenal wanita itu?" tanya Marco berbisik.
Bima tidak menjawab, berjalan mendekati meja kedua pria yang terus menyiksa wanita itu. Dari pakaiannya, Bima tahu wanita itu pasti buka wanita sewaan. Entah mereka memungutnya di mana, karena baju yang wanita itu kenakan terlalu sopan untuk seorang wanita malam.
Brak!!
Bima menjejak meja hingga hampir terbalik. Dua pria yang sedang memaksa wanita malang itu kembali minum, menoleh kaget.
"Hei! Apa mau mu?!" tanya Pria tinggi kurus namun ototnya terlihat bergumpal di banyak sisi lengannya.
"Lepaskan dia!" kata Bima, tajam dan dingin.
"Memangnya kau pikir siapa dirimu, brengsek! Kau belum tahu siapa dia. Berani sekali kau mengusiknya?" pria itu menunjuk temannya yang masih memegangi wanita yang meronta di tangannya.
Bima menoleh perlahan. "Aku tidak perlu mengetahui latar belakangnya untuk tahu bajingan seperti apa dirinya," jawab Bima. Suaranya bergemuruh mengancam bagai badai topan salju.
Pria yang ditoleh mengangkat salah satu sudut bibirnya membentuk seringai. Tangannya melepas wanita itu, mendorongnya kasar ke arah temannya yang langsung menahannya.
"Aaah...." Pria itu berdiri, menepuk-nepuk celana jinsnya di bagian paha seolah menghilangkan debu. "Si pahlawan kemalaman muncul lagi rupanya. Kenapa wanita ****** yang kau selamatkan kali lalu. Apa dia sudah menjalang lagi dan meninggalkanmu?" tanya pria itu, suaranya dipanjang-panjangkan seolah sengaja memancing emosi Bima yang sudah di puncak.
Bluk!
Brak!
"Aaa...!"
Bima memukul wajah pria itu tanpa aba-aba, membuatnya terpental dan rubuh di atas meja di belakangnya. Para wanita yang berada di mejanya berteriak histeris sambil berlarian.
"Hei!" Dua orang pria berlarian dari luar sata mendengar keributan.
"Tetap di tempatmu kalau kau ingin selamat." Marco merentangkan lengan, menahan dua lelaki tersebut.
"Tapi dia...."
"Panggil managermu."
__ADS_1
"Tapi, Tuan."
"Panggil!" perintah Marco dingin, diiringi tatapan menghunus yang langsung membuat nyali keduanya mengkerrut.
"Pengecut! Berani sekali kau menyerang tanpa aba-aba!" Galang bersusah payah berdiri dari lantai dengan pecahan gelas dan botol wine di bawah punggungnya.
"Bima menarik wanita yang duduk dalam cengkeraman teman Galang, menatiknya kuat namun lembut ke arahnya. Wanita itu berdiri ketakutan.
"Anak siapa yang kau kandung?!" tanya Bima dingin.
"A-aku... ini...."
"Katakan!" perintah Bima. Tatapannya yang bagai badai es membuat wanita itu mengerut.
"I-ini anak dia." Wanita itu menunjuk Galang.
"Kenapa dia memaksamu minum?"
"A-agar... anak ini... tidak selamat," jawab wanita itu lagi, semakin ketakutan.
Bima menyeret wanita itu, melemparnya ke arah Marco yang dengan sigap menangkapnya. Lalu bahkan sebelum semua sempat berkedip setelah melihat wanita itu mendarat di pelukan Marco, Galang sudah kembali terkapar dan Bima menurunkan kakinya perlahan.
"Berapa wanita yang akan kau tanami benih kotormu, pria brengsek! Apa kau tidak tahu netapa susahnya mereka mempertahankan seorang bayi di dalam perutnya hingga melahirkan dan membesarkannya! Apa kau terlahir dari seonggok batu?!"
Bima berdiri, membersihkan ujung baju dan celananya lalu beranjak pergi, melewati wanita itu begitu saja.
"Tuan, tunggu!" Seorang wanita berlarian, mendekati Bima yang sudah berjalan ke arah mobilnya.
"Tuan, boleh saya tahu apa alasan Anda membuat kekacauan di tempat kami?" tanya wanita itu tegas, menatap Bima galak.
Bima melirik Marco, Marco mengeluarkan domper dan mengambil sebuah kartu nama.
"Hubungi nomor ini setelah kau menghitung semua kerugiannya."
Wanita itu menunduk, membaca kartu nama yang di sodorkan Bima.
"L-eo At...las...." Wanita itu tergagap, sebelum kemudian kepalanya mendongak perlahan menatap Bima yang sudah bergerak memasuki mobil. Wanita itu menoleh Marco, tapi pria itu juga telah berada di dalam mobil, siap menginjak pedal gas dan meluncur pergi.
Mendapatkan kembali kesadarannya setelah mobil Bima meluncur pergi, wanita muda dengan tampang galak itu berjalan cepat memasuki bar.
"Siapa yang membuat kekacauan di sini!" teriaknya, membuat seluruh pengunjung bar menoleh, bahkan sang dj untuk sesaat menghentikan permainannya.
"Hei, Kau! Ganti rugi semua yang telah kau hancurkan dan bawa sampahmu itu keluar dari sini secepatnya, sebelum aku berubah pikiran dan kenyeretmu ke penjara!" teriak Madona, wanita yang bertanggungjawab penuh atas bar Plutto.
__ADS_1
"T-tapi, bukan kami yang memulai. Dia yang tiba-tiba datang dan menghajr temanku. Seharusnya kau menangkapnya dan memintakan uang pengobatan kami sekal...."
"Uang pengobatan, katamu?!" Madona mencengkeram kerah leher pria di depannya hingga kepalanya mendongak. "Bagus temanmu masih bisa bernafas meski hampir mati. Kau belum tahu dengan siapa kau berhadapan, anak bodoh!"
"M-memangnya s-siap-a pria i-itu." Laki-laki itu tergagap.
"Katakan pada ayah temanmu kalau dia mau menuntut, yang melakukannya adalah Leo Atlas!" Wanita itu lalu berbalik dan pergi.
Mendengar wanita itu menyebut nama Leo Atlas, membuat pria muda itu bergidig. Nama ity seolah mengingatkannya pada sosok iblis penghancur yang sangat mengerikan. Tapi sampai detik pengawal menyeretnya pergi, dia belum bisa mengingat di mana dia pernah mendengar atau menemukan nama Leo Atlas, dan siapa pria mengerikan itu sebenarnya.
Sementara Bima di dalam mobil menggeram rendah bagai singa yang tengah mendengkur.
"Bos, apa yang membuatmu menyerang pria itu, tadi?" tanya Marco memberanikan diri, melihat kegusaran di wajah Bima.
"Mereka menyiksa wanita hamil. Itu mengingatkanku pada Mariana dan anak ku. Di mana mereka. Kemana Sarah membawanya. Bagaimana dia makan dan memberi nutrisi pada bayi di dalam kandungannya. Bagaimana kalau ada pria brengsek seperti tadi yang menyiksanya dan memaksanya untuk minum!" Semakin lama suara Bima semakin meninggi.
"Tenanglah, Bos. Bukankah kita sudah memerintahkan pada seluruh rumah sakit di negeri ini agar melakukan tes DNA pada setiap bayi yang lahir." Bima mengingatkan.
Bima menggeleng. "Bagaimana kalau Mariana dibawa ke luar negeri oleh Sarah."
Marco terdiam. Bima memang memiliki kuasa di negeri Florin, tetapi di negeri lain, belum tentu mereka mengenal Bima sekalipun dia menggunakan nama Leo Atlas untuk menunjukkan taringnya.
"Satu bulan lagi waktunya dia melahirkan. Bagaimana kalau aku tetap tidak menemukannya. Kemana dia akan berlindung setelah melahirkan anaknya. Dimana dia akan tinggal dan dengan apa mereka akan hidup."
Bima menunduk, dan baru kali itu Marco melihat Bima meneteskan air mata.
"Tenanglah, Bos. Kau harus yakin kita akan segera menemukannya."
"Tapi ini sudah empat bulan berlalu dan kita tidak mendapatkan petunjuk apa pun tentangnya. Bahkan menemukan Sarah pun aku tak bisa."
Mobil berbelok di mansion Bima. betapa terkejutnya dia, melihat wanita yang tadi di tolongnya tengah duduk bersandar di dekat pagar.
"Bukankah itu perempuan di bar tadi?" tanya Bima.
Marco mengamati wanita itu sekali lagi, lalu mengangguk.
"Apa yang dia inginkan?"
Marco menggeleng. "Kita masuk saja duku, Bos. Nanti aku akan menyuruh penjaga untuk menanyainya.
Bima mengangguk. Marco melajukan mobil masuk ke pelataran setelah gerbang terbuka.
"Edin. Tolong kau tanya wanita di luar itu, sedang apa dia di sana. Jangan kasar, wanita itu hamil."
__ADS_1
Bima mendengar Marco memerintah Edin. Dia berjalan masuk, langsung menuju ke ruang kerjanya. Marco mengikuti beberapa langkah di belakang.