Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
MASA LALU


__ADS_3

Bima berjalan mendekati Mariana, mencengkeram lengan wanita itu dan membawanya masuk.


Mariana ingin mengaduh, tapi ketakutan membungkusnya dengan sangat lekat saat melihat wajah Bima yang begitu murka. Tatapan membunuh, yang baru pertama kali di lihatnya sejak dia bertemu Bima.


"B-Bima...." rengek Mariana pelan. Tapi seolah Bima sama sekali tidak mendengarnya, pria itu terus membawa Mariana, setengah menyeretnya, ke dalam kamar.


"B-Bima, sakit. Kau ini kenapa?" Air mata Mariana menetes, saat dia terseok dan tersandung di anak tangga karena tarikan tangan Bima.


Bima melempar tubuh Mariana ke samping begitu mereka memasuki kamar. Mariana berpegangan pada sofa di sisinya, air matanya mengalir semakin deras.


Bima membanting pintu dengan kasar, menguncinya, lalu menarik tubuh Mariana mendekat padanya. Melihat air mata Mariana, hati Bima tergetar, meletuskan balon emosi yang membungkus kuat pikirannya.


Bima menarik tubuh Mariana ke dalam pelukannya, mendekapnya erat, seolah dia baru saja menemukan Mariana yang telah menghilang dalam timbunan gempa.


"Bima... ada apa?" Mariana memberanikan diri bertanya, merasakan dekapan erat Bima yang seolah takut terpisah darinya.


"Jangan pernah tinggalkan aku."


"Memangnya siapa yang mau meninggalkanmu?" Mariana mengangkat kedua tangannya, membelai punggung Bima dengan sabar. "Kau pikir kemana aku akan pulang kalau aku pergi darimu," lanjutnya.


Bima mendekap Mariana lebih erat, sampai wanita itu kesulitan bernafas.


"Aku cemburu, Mariana. Aku cemburu. Dan aku kesulitan mengontrol emosiku," bisik Bima pelan di telinga Mariana.


"Cemburu?" tanya Mariana bingung.


Bima mengangguk. "Jangan pernah membicarakan kelebihan pria lain di depanku, tolong."


"Oh!" Mariana tersadar. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membandingkannya denganmu, Bima. Bagaimanapun, aku tidak akan pernah membiarkan diriku sendiri jatuh cinta kepada pria lain selain dirimu. Aku berjanji." Mariana kembali membelai punggung Bima dengan sabar.


"Aku punya masa lalu yang buruk dengan emosiku." Bima kembali berbisik.


"Kau mau berbagi denganku?"


"Kau akan pergi."


"Tidak. Aku berjanji."


"Kau akan ketakutan."


"Tidak selama aku bersamamu."


"Aku iblis."


"Lebih baik aku menikahi iblis berhati malaikat sepertimu, daripada menikahi manusia berhati iblis!" desis Mariana.


Bima melepas pelukannya, menatap dalam Mariana.


"Aku benar-benar buruk." Bima menggeleng.


"Aku siap mendengar yang terburuk."


"Kau tidak akan bisa membayangkan yang terburuk." Bima menunduk, kembali menggeleng.


Mariana menggenggam lengan Bima, membawanya ke tempat tidur.


"Dengar, Bima. Seiblis-iblisnya dirimu, apa kau lebih buruk dari Galang?"


Bima menarik nafas panjang.


"Aku yakin tidak."


"Aku lebih buruk."


"Apa kau meniduri seorang wanita bersama dengan sepuluh orang temanmu yang lain?"


"Aku meniduri wanita, ya. Dan dia hamil."


"Siapa pun bisa melakukan itu, Bima. Tetapi kalau kau melakukannya sendiri, kau masih manusiawi."


Bima diam.

__ADS_1


"Kau tidak lebih buruk dari Galang."


Bima menggeleng. "Aku membunuh anak ku."


"Di mana ibunya?"


Bima kembali menggeleng.


"Kau membunuh ibunya?" tanya Mariana. Meski jantungnya saat ini berdegup dengan sangat kencang, tapi dia memberanikan diri untuk terus bertanya, berharap Bima tidak pernah dengan sengaja mencabut nyawa manusia.


Bima menggeleng. Mariana menarik nafas lega.


"Kau masih manusiawi."


Bima kembali menggeleng.


"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"


Bima memberanikan diri mendongak, menatap mata Mariana.


"Wanita itu kembali, dan akan menghancurkan hubungan kita."


Mariana terkesiap, tetapi segera mengubah ekspresinya menjadi biasa saja.


"Kita akan bertahan, bukan?" tanya Mariana tenang. "Kita akan melewatinya lebih mudah karena kau sudah jujur padaku. Aku akan mempercayaimu melebihi segalanya."


Bima kembali menggeleng, tetapi kali ini dia menatap mata Mariana lekat-lekat.


"Wanita itu menjadi mengerikan dengan melakukan ritual kuno."


"Ritual kuno?" Mariana memiringkan kepalanya.


"Ya. Dia mengikatku dengan memakan jantung anak ku."


Mariana menatap ngeri, tetapi kepalanya menggeleng tidak mengerti.


"Kau tahu aku tinggal di desa kecil dengan tetua yang masih memegang tinggi adat suku. Ritual-ritual kuno masih sangat kental di sana dan nyata bisa di lakukan."


"Namanya Sarah. Aku tidak tahu apa anak ku memang terlahir dalam kondisi hampir mati, atau dia yang membunuhnya. Yang jelas, dalam kondisi anak ku sekarat, Sarah membawanya ke hutan menemui dukun tua untuk melakukan ritual mengikat tubuh. Dia memerlukan jantung anak ku sebagai pengganti darahku karena aku tidak bisa ditemui. Saat itu aku sudah pergi ke kota dan memulai bisnisku."


"Apa yang terjadi pada kalian berdua, setelah ritual itu dilakukan?" tanya Mariana.


Bima kembali menarik nafas, pandangannya sedikit menurun.


"Sarah, tidak akan mati selama darahku masih mengalir di dalam diriku dan dirinya."


Mariana mengerutkan kening. "Bukan itu maksud ku. Aku tidak punya cita-cita untuk membunuh siapa pun wanita yang ingin merebut suamiku, kau tahu? Aku bukan serigala hutan yang rela berkelahi dan membunuh hanya untuk mendapatkan pasanganku."


Seharusnya Bima tersenyum, tapi perasaannya belum terlalu baik untuk mendengar kelucuan di dalam nada suara Mariana. Mariana mendesah, tahu gurauannya gagal.


"Maksudku, apa yang terjadi pada kalian berdua, setelah ritual itu dilakukan?"


"Kami terikat," jawab Bima singkat.


"Terikat seperti apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti."


"Setiap kali kita melakukannya, dia bisa merasakannya. Dan itu membuatnya murka."


"Melakukannya... maksudmu...?"


Bima mengangguk, menatap lekat-lekat mata Mariana. "Kami terikat dalam nafsu. Dia memilih untuk mengunci nafsuku, dari pada bagian tubuhku yang lain. Sudah sangat lama aku tidak tertarik pada wanita. Karena itu aku sendiri sebenarnya terkejut saat aku begitu menginginkanmu dan tubuhku bereaksi padamu."


"Bagaiman bisa?" tanya Mariana.


"Cinta."


Mariana tersipu.


"Jangan malu-malu seperti itu, Mariana. Itu membangkitkan sisi liar ku."


Mariana tersenyum, menggeleng. "Kalau kita melakukannya, apa wanita itu akan menyakitimu?"

__ADS_1


Bima balas menggeleng. "Dia tidak akan menyakiti kita. Dia tidak bisa menyakitiku karena tubuh kami terikat, dan tidak bisa menyakitimu karena kau hamil."


Mariana kembali mengerutkan kening.


"Sarah sangat menjaga wanita hamil. Sebenarnya dia sangat mencintai anak itu. Tetapi karena aku menelantarkan mereka dan dia terusir dari rumah orang tuanya, hidup di jalanan memakan makanan seadanya, anak ku terlahir cacat."


Mariana terkesiap.


"Itulah yang membuatnya membalas dendam padaku. Tapi jangan khawatir. Dia tidak akan menyakiti wanita hamil. Jadi selama bayi di dalam kandungan mu sehat, kau aman."


"Bagaimana setelah anak ini lahir?"


"Dia tidak akan menyakiti bayi yang tidak bersalah."


"Tetapi anak kalian?"


"Itu kenapa aku bilang entah apakah anak ku memang lahir dalam kondisi sekarat, atau dia yang membuatnya sekarat, aku tidak tahu. Tetapi dugaanku anak ku memang tidak bisa diselamatkan, selain terlahir cacat."


Mariana menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan.


"Apa kau sekarang membenciku?" tanya Bima datar.


Mariana menggeleng. "Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Kesalahanmu hanyalah bahwa kau tidak bertanggung jawab pada wanita itu, dan anak mu."


Bima mengangguk.


"Apa kau akan menerimaku?"


"Perasaanku tidak berubah."


"Terima kasih, Mariana." Bima meraih wajah Mariana, menangkupnya dengan kedua tangan, lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Mariana.


"Jangan." Mariana mundur.


"Kenapa?" tanya Bima kecewa.


"Aku tidak ingin menyiksanya."


Bima menggeleng. "Apa kisah masa laluku akan mempengaruhi hubungan kita?" tanya Bima sedih.


Mariana menggeleng. "Aku hanya tidak ingin menyakitinya. Aku tidak bisa membayangkan rasanya, ikut merasakan nafsu yang membara sementara dia sendirian dan kita bersenang-senang."


Bima menggeleng. "Bukan seperti itu aturan mainnya, Sayang," katanya, menahan senyum.


"Tapi kau bilang...."


"Ya. Dia memang merasakannya. Tetapi bukan untuk menyiksa dirinya. Dia bisa merasakan saat aku tidur dengan wanita lain, hanya untuk menemukanku dan menerorku. Untuk merusak hubunganku."


"Tapi, apa yang dia cari?"


"Suapaya aku tidak menjadi milik orang lain."


"Apa dia menginginkanmu kembali?"


Bima sekali lagi menggeleng. "Tidak. Dia tidak ingin kembali pada bajingan sepertiku. Dia hanya kenghukumku, membiarkan aku hidup sendiri selamanya, sama sepertinya."


"Apa dia tidak ingin menikah?"


"Setelah kejadian itu, dia telah hilang kepercayaan kepada laki-laki."


Mariana kembali mendesah panjang, kepalanya menunduk.


"Apa kau masih berpikir aku bukan orang jahat?"


Mariana menggeleng. "Itu bukan salahmu."


"Itu salahku, Mariana."


"Umur berapa kalian melakukannya?"


"Aku enam belas tahun. Tapi dia sudah dua puluh tahun."

__ADS_1


"Apa?!" Mariana membelalak kaget. Bima tersenyum samar.


__ADS_2