
Di balik pintu, Bima tersenyum. Dia melangkah pergi dengan tenang, menuju dapur. Bima mengaduk isi lemari es, mengambil beberapa bahan masakan dan mencucinya, lalu mulai memotongnya kecil-kecil.
Bima menyalakan kompor, mengocok telur lalu memasukkannya kedalam wajan yang sudah mengepul dengan mentega leleh di dalamnya. Aroma telur goreng dan mentega menguar memenuhi rumah.
Di dalam kamar, Mariana bergelut dengan monster bernama lapar yang meronta marah di dalam perutnya, sementara egonya ingin tetap bertahan untuk tidak keluar. Mariana semakin jengkel karena dia tahu Bima pasti sengaja memasak sup telur kesukaannya untuk memancingnya keluar. Mariana mendengus, menutup seluruh tubuh dan kepalanya menggunakan selimut.
"Aaaahhh!!" teriak Mariana, saat selimut tebalnya tidak mampu mengatasi aroma sup telur yang semkin tajam menusuk hidungnya dan terlanjur membangunkan monster di dalam perutnya.
Mariana bangun, mencuci muka untuk menyegarkan pikirannya lalu turun. Dengan langkah kasar Mariana berjalan ke dapur. Di dalam sana, dia melihat Bima duduk di meja makan, menghadap semangkuk sup telur yang masih mengepul. Meja di depannya kosong, tidak menyisakan mangkuk lain untuk Mariana. Mata Mariana bergeser ke atas kompor, tetapi dia juga tidak menemukan sisa sup di dalam panci di atas kompor.
"Apa kau memasak untukmu sendiri?" tanya Mariana ketus. Bima menoleh, berlagak kaget melihat Mariana sudah berdiri di pintu dapur.
"Oh, kau mau, Mariana?" tanya Bima dengan kekagetan yang tampak sekali di buat-buat. "Maaf, ku pikir kau masih marah," lanjutnya.
Mariana berbalik, tetapi sebelum kaki Mariana melangkah, Bima sudah mencekal lengannya. Tanpa menunggu rekasi, Bima menggendong Mariana, membawanya ke meja makan, lalu mendudukkan Mariana di pangkuannya.
"Apa apaan kau ini sih!" sewot Mariana.
"Sejak kapan aku pernah memasak untukku sendiri, istriku yang cantik." Bima berkata datar, menatap Mariana dengan tatapan tajam.
Mariana mendengus, beranjak turun dari pangkuan Bima, tetapi Bima mencekal dadanya dengan keras.
"Aah...." desis Mariana reflek.
Saat bibir ranum Mariana terbuka, Bima menyambarnya dengan sigap.
"Bb-im-aah...." Mariana merintih.
Bima tidak peduli pada rintihan Mariana. Dia memagut bibir ranum istrinya dalam-dalam, membuat wanita hamil itu kehabisan nafas.
"Bimaa...h!" Mariana mendorong tubuh Bima menjauh.
"Kenapa?" tanya Bima tenang, seolah dia tidak melakukan apa pun.
"Kau ini!" Mariana menampar lembut pipi Bima.
"Lagi. Lebih keras. Biar semakin nikmat," tantang Bima, menatap mesum pada Mariana.
"Iih, lepaskan aku." Mariana kembali mendorong tubuh Bima yang sudah kembali bergerak mendekat.
"Kenapa. Bukankah kau menyukainya, Sayang?" tanya Bima membelai lembut bagian tubuh paling sensitif Mariana. Mariana menggeliat, menarik tangan Bima dari punggungnya.
"Aku lapar, apa kau tidak tahu?" rengek Mariana.
"Aku tidak pernah melarangmu makan."
"Tapi kau tidak membuatkan aku sup." Mariana melirik mangkuk sup di atas meja."
"Itu milikmu," jawab Bima tenang.
"Lalu mana milikmu?"
"Aku tidak buat."
"Kenapa? Apa kau tidak makan?"
"Makan."
"Makan apa?" tanya Mariana mengerutkan kening. Saat itulah Bima kembali menyambar bibir merah ranum Mariana.
"Aku makan bibir yang selalu cemberut dan mencebik ini saja!" Bima mendesis, menggigit bibir bawah Mariana sembari berbicara.
"Aah!" Mariana meringis, menarik bibir Mariana yang bergerak menjauh, tangan kirinya menahan tengkuk wanita itu.
"Lepaskan!" ucap Mariana tidak jelas, di antara ciuman Bima yang dalam.
"Bima!" Mariana mendorong Bima kasar. "Bagaimana caraku makan kalau kau memakan bibirku terus. Bayi ini lapar dan butuh makan!" Mariana menunjuk perutnya yang tepat saat dia menunjuknya, perut sialan itu berbunyi kruuuukkk.
Bima tersenyum miring, memutar tubuh Mariana di atas pangkuannya agar menghadap meja, lalu kenarik mangku sup mendekat pada Mariana.
"Makanlah."
__ADS_1
"Kau?"
"Aku akan bermain."
"Enak saja. Minggir!"
"Jangan banyak protes!" desis Bima, mencengkeram bagian dada Mariana.
"Aaah!" Mariana berteriak pelan.
"Makan!" perintah Bima.
"Aku ingin makan yang tenang."
"Makan saja yang tenang, dan jangan hiraukan aku."
"Mana bisa," protes Mariana.
"Makan!"
"Kau memerintah terus seperti seorang bos gila!"
Lalu dengan kecepatan cahaya Mariana melahap sup telur yang sudah hangat di hadapannya.
"Pelan-pelan. Nanti kau tersedak," Bisik Bima di belakangnya, kedua lengannya melingkar pada pinggang Mariana.
Mariana terus makan dengan cepat, tidak menghiraukan peringatan Bima.
"Marian...."
Mariana tidak peduli.
"Kau ini mau apa. Kenapa makan seperti orang yang belum makan selama satu bulan."
Mariana meletakkan sendok di dalam mangkuk yang isinya sudah tandas, meminum segelas air putih, laku berbalik menghadap Bima.
"Kita selesaikan di atas!" katanya dingin.
"Tentu saja yang sudah kau mulai!" Setelah berkata demikian, Marina meraup wajah Bima dengan kedua tangannya dan mulai ******* bibir Bima dengan brutal.
Bima tersenyum, menahan bokong Mariana dengan kedua lengannya lalu membawanya ke dalam kamar.
Mariana membuk mata merasakan sentuhan lebut di pipinya. Silau membuatnya mengerjap, lalu menyembunyikan wajahnya di ketiak Bima.
"Bangun, Mariana. Ini sudah pagi."
"Jam berapa ini?" tanya Mariana dari dalam ketiak Bima.
"Apa kau masih lelah?" Bima bertanya, mengabaikan pertanyaan Mariana.
"Sedikit. Memangnya jam berapa ini?"
"Jam sembilan. Kalau kau masih lelah, aku bisa berbicara pada temanku untuk mengundur pertemuannya setelah jam makan siang."
"Pertemuan?" tanya Mariana bingung.
"Satu jam lagi kau diminta datang ke perusahaan untuk mengatur langkah awal pembukaan cabang."
"Oh my God!" Mariana duduk dengan ceoat, menatap kaget pada Bima yang masih tiduran. "Kenapa aku bisa lupa."
"Aku sedang mengingatkanmu," kata Bima tenang.
"Kau mengacaukan jam istirahatku!" Mariana memelotot menatap Bima.
"Kenapa aku?" Bima memundurkan kepala, menekan pda bantal tempatnya tidur.
"Tentu saja kau. Mau siapa lagi," sewot Mariana, melirik ke bagian bawah tubuh Bima.
"Jangan melirik ke sana, dia bisa merasakannya dan biasanya di jam-ham pagi seperti ini sensitifitasnya meningkat berkali-kali lipat."
Buk!
__ADS_1
"Auch!" Bima seketika bergelung menahan bagian bawahnya yang kena tampar.
"Mati, kan?"
Bima menggeleng. "Justru hidup, Sayang."
"Siram saja menggunakan air es! Ini sudah siang." Mariana turun dari atas kasur, berjalan ke kamar mandi.
Bima mengejarnya, masuk lebih dulu ke dalam kamar mandi.
"Bima...!" teriak Mariana geram. Bima tidak peduli, di dalam kamar mandi, Bima menyalakan keran air lalu mandi dengan tenang.
Dua puluh kenit kemudian, Bima kekuar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Air menetes dari rambutnya yang basah dan bagian atas tubuhnya juga masih menyisakan bercak-bercak air mandi.
Mariana menatap Bima dari dalam cermin, menelan ludah.
"Aku sudah menyiapkan air hangat. Hati-hati terpeleset." Bima membalas tatapan Mariana dari balik cermin, mengangguk.
Mariana beroutar di kursinya, menatap tubuh Bima dengan dada berdebar.
"Temani aku."
Bima mengerutkan kening.
"Aku takut terpeleset. Bagaimana kalau aku jatuh." Mariana berdiri, menggenggam lengan Bima dengan manja.
"Mariana, kau harus bekerja."
"Mandi saja tidak sampai setengah jam, kan," katanya, bibirnya mulai cemberut.
"Aku tidak janji."
"Tapi kau berjanji untuk menego temanmu agar mengundur pertemuannya setelah jam makan siang," katanya nakal.
"Dia bosnya, bukan aku, Mariana."
"Tapi kau temannya."
"Aku bisa meminta, tapi tidak berjanji dia kan mengabulkannya," kata Bima datar.
"Kalau begitu cepatlah, anak muda. Jangan mengulur-ulur waktu!" Mariana memelotot galak, satu tangannya menyelusup ke tepi handuk Bima dan menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kau sungguh mengerikan!" Bima tergelak.
"Salah sendiri menikahiku!"
Satu jam kemudian, mobil Mariana sudah terparkir di depan gedung baru yang akan mereka gunakan sebagai kantor cabang FMCG, MBC yang akan dipimpin Mariana.
"Gedung yang sangat mewah," gumam Mariana, saat melangkah masuk ke dalam gedung.
Satpam muda dengan baju serba hitam menyambut Mariana, membungkuk, agak terlalu dalam bagi Mariana. Mariana menatap salah tingkah.
"Nyonya Mariana?" tanya satpam itu sopan. Mariana mengangguk, balas tersenyum sopan.
"Silahkan ke lantai enam. Tuan Marco sudah menunggu di ruang pertemuan."
"Apakah Tuan Sandi sudah datang?" tanya Mariana cemas.
Satpam itu melirik Bima sekilas, lalu menggeleng. "Hanya ada tuan Marco dan tuan Daniel di dalam, Nyonya. Dan tuan Marco tidak mengatakan bahwa akan ada orang lain yang datang selain Anda," jawab satpam itu sopan, lalu kembali melirik ke arah Bima. Mariana mengerutkan kening, menoleh ke arah Bima. Laki-laki itu dengan acuh sedang memperhatikan interior ruangan megah di sekelilingnya.
"Dia... suamiku. Dia tidak akan ikut ke dalam ruang rapat. Dia hanya men...."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Tidak masalah," kata satpan dengan name teks bertuliskan Ponari itu, memotong oenjelasan Mariana.
"Tuan Bima di ijinkan masuk bahkan jika beliau ingin mendampingi Nyonya fi dalam ruang rapat. Tuan Marco berpesan, tamu yang dia tunggu adalah Nyonya Mariana dan Tuan Marco. Silahkan, Nyonya, Tuan. Kalian bisa naik menggunakan lift tamu VIP." Satpam itu menunjuk lift dengan raut wajah bingung dan ketakutan.
"Tapi suamiku...."
"Sudahlah, Mariana. Mereka sudah menunggumu. Ayo." Bima menarik lengan Mariana ke arah lift.
Setelah keduanya menghilang di dalam lift, Satpam itu menghembuskan nafas lega. Tanpa sadar dia menghapus keringat di dahinya menggunakan lengan seragam.
__ADS_1