
"Jadi, Galang adalah cucu Kakek Jeremi?"
"Ya. Satu-satunya cucu dari istri sahnya yang bisa dia akui."
"Apa dia memiliki anak dan cucu dari yang lain juga?"
Kakek Bima terbahak. "Tentu saja. Kau pikir apa yang dia cari dengan memiliki banyak istri simpanan dan selingkuhan, kalau bukan kepuasan biologis. Dia tidak pernah mau menggunakan pengaman, jadi jangan tanya padaku berapa jumlah anak dan cucunya di luar sana yang tidak bisa dia akui secara hukum."
Mariana mendengus panjang, ada kemarahan yang menggelegak di dalam dirinya kepada kakek Jeremi. Hampir saja dia memiliki anak tidak sah dari seorang Galang, karena perbuatan bejad laki-laki itu.
"Mmm... Kek, boleh aku bertanya?"
"Dari tadi kau sudah bertanya," sungut kakek Mariana. Mariana menyeringai.
"Jadi, apakah... itu artinya Bima dan Galang bersaudara?"
Kakek Bima mengangguk. "Bima adalah paman Galang."
"Apakah Bima tidak tahu?"
"Tidak."
"Kenapa ibunya tidak memberitahunya saja siapa ayahnya yang sebenarnya?"
Kakek Bima menggeleng.
"Seharusnya kalian memberitahunya. Pertama, seorang anak pasti ingin tahu siapa orang yang telah menciptakan mereka, maksudku bukan menciptakan seperti yang Tuhan lakukan, melainkan...."
"Aku tahu, aku tahu. Tidak perlu kau jelaskan!" Kakek Mariana mengangkat tangan.
Mariana menahan senyum. "Ya. Seperti itu maksudku. Jadi, kenapa tidak kalian beritahu saja Bima yang sebenarnya. Seandainya saja dia tahu yang sebenarnya, mungkin dia juga tidak akan pernah menghancurkan perusahaan itu karena ada bagian yang menjadi hak kalian berdua di tempat itu."
"Apa maksudmu?" tanya Kakek Bima.
"Maksudku, bukankah yang dihancurkan oleh Bima adalah perusahaan kalian? Seandainya saja Bima tahu...."
"Tidak, tidak, bukan. Kau salah." Kakek Bima menggeleng cepat, memotong kalimat Mariana.
"Kau tidak menyimak. Yang di hancurkan oleh Bima adalah perusahaan keluarga Jeremi. Bukan perusahaan kami. Kedua perusahaan itu berbeda. Perusahaan kami, masih berdiri hingga saat ini."
Mata Mariana membulat, ada pemahaman lain yang terbentuk di dalam kepalanya.
"Aku mengerti," katanya.
"Tidak. Kau belum mengerti. Kisah ini masih sangat panjang sebelum sampai pada hubungannya dengan Sarah dan pernikahan kalian."
__ADS_1
Mariana kembali menatap melongo.
"Bukankah sudah aku bilang, butuh dua kali purnama untuk menyelesaikannya."
Mariana nyengir. "Ya, aku siap mendengar kelanjutannya, Kakek."
"Baiklah. Aku akan lanjutkan. Tapi sebelumnya, Thompson, tidak adakah sesuatu yang bisa digunakan untuk menambah tenaga kami selain air limun ini?" Kakek Bima menatap Tompson yang sejak tadi diam, memperhatikan dengan seksama jalannya cerita.
"Oh, ya. Tentu saja Tuan. Saya akan segera siapkan," katanya, mengangguk sopan lalu berjalan keluar ruangan.
"Jadi, aku akan lanjutkan sementara Tompson mencari sesuatu untuk mengganjal perutku. Perusahaan kami, mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam waktu dua tahun sejak perusahaan itu berdiri. Jeremi menggelontor dana dengan sangat besar, meski dia sama sekali tidak mengubah nilai prosentase saham yang kami miliki. Dia menggelontorkan dana sebagai dana talangan, mengambilnya kemudian dari jumlah keuntungan. Dia tidak pernah bermain curang sama sekali meskipun kami jarang sekali mengawasi keuangan perusahaan."
"Kenapa begitu?"
"Apa yang kau maksud begitu? Sikap Jeremi yang jujur, atau kami yang jarang mengatur perusahaan?"
"Maaf, kenapa kalian tidak menjalankan perusahaan bersama padahal itu milik kalian bertiga."
"Saat itu aku mulai mengenal dunia bisnis bawah tanah. Aku sibuk dengannya, bermain di bawah tanah hingga jarang muncul ke permukaan. Sementara kakek mu yang anak tunggal mulai dibebani perusahaan keluarganya yang jauh lebih besar dibanding perusahaan keluarga Jeremi. Kakek mu sibuk, hampir tidak memiliki waktu untuk datang setiap saat mengurusi perusahaan kami."
"Kalau perusahaan Kakek lebih besar dari perusahaan keluarga Kakek Jeremi, kenapa hanya Kakek Jeremi yang melakukan pendaan di sana."
"Sebenarnya kami juga sempat bertanya-tanya soal itu. Ayah Jeremi sangat perhitungan dengan hartanya. Itu membuat kami curiga, dari mana Jeremi mendapatkan uang dalam jumlah besar yang dia gelontorkan ke perusahaan."
"Jadi?"
"Naaah, tepat sekali kau datang, Tompson. Dia ingin tahu dari mana keuangan Jeremi yang untuk menopang perusahaan dia dapatkan," kata kakek Mariana, masih disela-sela tawanya.
"Maaf, Tuan besar. Sebaiknya Tuan besar saja yang menceritakan." Tompson menunduk sopan, kembali duduk di bangkunya. Ada seberkas tawa yang dia tahan di sudut bibirnya. Mariana menatap bingung.
"Tompson ini, sebenarnya dia adalah putra dari pelayan pribadi Jeremi. Ayah Jeremi tahu di luar sana terjadi desas desus bahwa kami memiliki perusahaan yang sedang berkembang. Itu adalah alasan berikutnya kenapa kami memutuskan untuk menyembunyikan identitas kami dan muncul sebagai sang Glory. Dan Tompson ini lah kunci dari seluruh keberhasilan yang kami dapat hingga saat ini "
"Tuan. Tidak seperti itu. Saya hanya menjalankan tugas." Tompson kembali mengangguk sopan.
"Apa yang terjadi?" tanya Mariana penasaran.
"Jadi, untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakan putranya, ayah Jeremi memasang Tompson untuk mengikuti kemana pun dia pergi. Dia katakan bahwa dunia bisnis itu kejam, dan Jeremi membutuhkan seorang pengawal. Meski masih muda, tetapi Tompson ini jago kungfu. Dia pendekar pedang kelas satu kala itu. Tetapi bagaimana pun Tompson hanyalah anak muda biasa. Jeremi menjebaknya untuk tidur dengan seorang wanita, lalu menggunakan itu untuk mengancamnya jika tidak menuruti perintah kami bertiga. Jadilah dia kaki tangan kami bertiga, alih-alih kaki tangan ayah Jeremi, tuannya yang sebenarnya."
Mariana melirik Tompson, yang menunduk sopan."
"Sialnya, atau lebih tepatnya beruntungnya, ibu gadis yang tidur dengan Tompson memergoki kami. Wanita itu terlihat sangat galak, tegas dan sedikit mengerikan. Aku dan kakek mu mengerut kecil saat wanita itu berjalan mendekat dengan dada membusung, tetapi tidak dengan Jeremi. Pria bajingan itu maju dengan tegap dan percaya diri, lalu membisikkan sesuatu pada wanita itu yang membuat wajahnya semakin merah."
"Apa yang dikatakannya?"
"Kami tidak tahu, karena beberapa saat kemudian wanita itu berbalik, Jeremi mengikuti di belakangnya sambil mengedipkan sebelah matanya."
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang tahu, hingga kami memaksa Jeremi mengatakan yang sebenarnya, dari mana dia mendapatkan uang dalam jumlah banyak untuk menopang perusahaan."
Mariana memiringkan kepala, menunggu dengan penasaran.
"Jeremi menjadi pria simpanan wanita itu dan dia mendapatkan segala harta kekayaan yang dia butuhkan."
"Apa?!" tanya Mariana membelalak kaget. "Apakah saat itu Kakek Jeremi sudah menikah?"
"Tidak. Karena dia menikahi putri wanita itu."
Mariana melongo. "Apakah istri dan ayah mertuanya tidak pernah tahu?"
"Tidak. Suami Hortensia tidak pernah tahu. Dia bekerja di pertambangan luar pulau. Sementara istrinya yang gila kerja, sibuk di perusahaannya dan menggelontorkan berapa pun uang yang di butuhkan Jeremi untuk menopang perusahaan kami."
"Apakah istrinya tidak pernah mencurigai hubungan ibu dan suaminya?"
"Tidak, Mariana. Pertama, hubungan keduanya tidak melibatkan perasaan cinta, yang membuat keduanya tidak terlihat berbeda. Kedua, istri Jeremi, atau nona muda Hortensia, telah dibutakan oleh kemanisan cinta Jeremi. Dia jatuh cinta pada Jeremi, melebihi dirinya sendiri."
"Jadi, perusahaan Hortensia itu yang mendanai perusahaan kalian?"
"Tepat."
"Apakah Nona Hortensia adalah satu-satunya istri sah Kakek Jeremi?"
"Tidak."
Mariana kembali mengerutkan kening.
"Istri sah Jeremi adalah sepupu Tompson. Seorang wanita biasa dari kalangan sederhana. Jeremi dan Hortensia tidak pernah menikah resmi karena Hortensia yang gila kerja tidak ingin karirnya terganggu, meski dia sangat mencintai Jeremi. Hortensia meminta Jeremi menikahi wanita pilihannya, yang akan mengasuh anaknya sepenuhnya, saat dia tahu dia hamil."
"Jadi, Hortensia adalah istri simpanan Kakek Jeremi?"
Kakek Bima kembali menggeleng. "Tidak. Dia wanita yang paling di cintai Jeremi, juga sangat mencintai Jeremi. Mereka hidup bahagia, meski tidak pernah memberitakan pernikahan siri mereka di hadapan publik."
"Bagaimana dengan istri Kakek?"
"Wanita itu sangat tahu diri, bahwa pernikahannya hanya sebagai alibi agar putra putri Jeremi mempunyai ibu. Selebihnya, dia hanyalah seorang pelayan yang harus merawat anak-anak Jeremi, dan akan dibawa keluar saat Jeremi harus menghadiri sesuatu dengan seorang pasangan."
Ada rasa sesak di dalam dada Mariana, mengetahui bahwa ada seorang ibu yang bahkan tidak ingin merawat anak kandungnya demi sebuah karir.
"Apakah publik tidak pernah tahu Nyonya Hortensia hamil? Bukankah dia memiliki dua orang anak?"
"Waktu hamil, Hortensia bersembunyi di luar negeri hingga anaknya lahir. Dan ya, dia memiliki dua orang anak, tetapi bukan berarti dia hamil dua kali. Putra putri Jeremi kembar. Dan Hortensia melakukan operasi pemotongan tuba setelah dia melahirkan, untuk menghindari dia hamil lagi."
__ADS_1
Mariana menggeleng kecewa. "Cukup. Aku tidak bisa mendengarnya lagi. Aku hanya ingin mendengar, bagaimana Bima bisa menjadi saudara Galang, padahal Bima adalah cucumu?" Mariana mengernyit, menahan sesak yang terasa menghujam di dasar hatinya.