
"Galang memintaku."
"Galang... Sebenarnya apa hubungan semua ini dengan Galang. Kenapa namanya terus-terusan di sebut di dalam topik pembicaraan kita!" teriak Leo, habis sabar.
"Karena memang dia lah pusat permasalahan kita. Dan si bodoh Hendra itu telah termakan umpannya!" desis Mapala. "Yah, meski aku juga sempat termakan umpannya, jauh lebih buruk dari Hendra." Mapala mengakui.
"Apa yang terjadi?"
"Dengan kekuatan yang besar, tetapi sama sekali tidak memiliki kekuasaan. Ini di larang, itu di larang, pergi ke mana-mana menggunakan pengawal. Hidup begitu membosankan padahal kekuatan yang aku miliki begitu besar dan aku bisa melakukan apa pun dengannya."
Semua terdiam, tidak ada yang berani membantah karena memang itu lah kenyataannya. Ayah Mapala, selalu mengurung Mapala dengan alasan bengal.
"Waktu berlalu dengan kekuatanku yang semakin besar namun tak tersalurkan. Pada puncaknya, aku mengenal Galang yang sedang mencari seseorang yang akan bertanggung jawab atas kelainan yang dimilikinya."
"Kelainan? Kelainan apa?" tanya ayah Leo, memberanikan diri.
"Aku tidak tahu. Mungkin dia bisa menjelaskannya dengan lebih baik dariku. Yang jelas, aku termakan hasutannya. Aku masuk ke dalam dunia bawah tanah, menjadi ketua bayangan sebuah gengster yang dipimpinnya, tanpa tahu bahwa dia sedang mengincar untuk menghancurkan keluarga kita."
"Menghancurkan keluarga kita?"
"Ya. Kakek Galang, kakek kita dan kakek Bima adalah tiga sahabat yang terpisah karena masalah wanita."
"Apa?!"
"Ya. Itu lah yang terjadi."
"Aku tidak mengerti."
"Tunggu!"
Semua kepala yang sebelumnya terpusat pada Mapala, berputar ke arah Mariana.
"Mapala, Bima belum mengetahui tentang ini. Bisakah kau memberi aku waktu untuk berbicara dengannya terlebih dahulu?"
Bima menyentuh Mariana lembut. "Jangan khawatir. Pengendalian diriku cukup baik, Mariana."
"Tapi...."
"Percayalah padaku." Bima mengangguk.
Mariana menarik nafas panjang, sebelum balas mengangguk. "Baiklah. Tetapi ini mungkin akan sedikit menyakitkan."
"Aku mengerti."
__ADS_1
"Baiklah." Mapala mengembalikan perhatian semua orang padanya. "Jadi, seperti yang telah aku katakan, Kakek, Kakek Bima dan Kakek Galang adalah sahabat. Dengan otak cemerlang yang saling melengkapi, ketiganya dapat tumbuh pesat. Aku mendengar cerita ini, langsung dari kakek Galang, beberapa waktu setelah perusahaannya jatuh oleh ulah Leo Atlas."
"Apa yang dia perbuat sampai-sampai Leo Atlas turun tangan. Orang-orang bodoh itu!" desis salah seorang paman Mariana.
"Apa paman masih belum dapat merangkai puzzle yang hampir lengkap?" tanya Mapala, suaranya terdengar merendahkan.
"Apa maksudmu?!" pria brewok itu mulai naik darah.
"Baiklah, itu nanti saja. Kau akan bisa menarik kesimpulan sendiri setelah potongan puzzlenya lengkap," jawab Mapala.
"Jadi...." lanjutnya. "Kakek singkatnya kakek adalah yang paling pintar dalam akademik, kakek Bima yang paling pintar bertarung, dan kakek Galang yang paling pintar merayu dan membaca peluang. Dengan semua itu, ketiganya menciptakan sebuah bisnis. Bisnis itu mendunia, tumbuh dengan cepat. Sayang hingga saat ini aku tidak pernah berhasil membongkar bisnis apa yang mereka maksud. Aku curiga itu bisnis dunia bawah tanah."
"Tidak." Mariana menyela. "Mereka.... Aku tahu. Tetapi aku tidak memiliki hak untuk membongkarnya di depan kalian semua. Maaf." Mariana menunduk.
"Kau benar, Mariana. Kau tidak bisa membongkar begitu saja sebuah rahasia yang telah dipercayakan kepadamu. Itu keputusan yang sangat baik." Mapala menepuk bahu Mariana, Bima segera merengkuhnya mendekat padanya.
"Maafkan aku, Bima...." bisik Mariana, menatap Bima dengan rasa bersalah."
Bima menggeleng. "Tidak perlu meminta maaf. Karena perusahaan itu oun telah menjadi milik kita. Kakek telah memberikan sahamnya padamu, dan kakekku juga telah mengalihkan sahamnya atas namaku."
"Apa?!" tanya Mariana dan Mapala bersamaan.
"Kita akan membahasnya di waktu yang berbeda. Lanjutkan." Bima memerintah.
"Ya. Perusahaan itu berjalan sangat baik, dan kelihatannya masih berdiri hingga saat ini. Tetapi perusahaan itu sama sekali bukan inti permasalahan ini. Yang menjadi kunci permasalahannya adalah, bahwa kakek Galang telah dengan sengaja meniduri putri dari salah seorang sahabatnya hingga wanita itu melahirkan keturunannya."
Semua wajah menatap datar, seolah hal itu adalah hal yang wajar terjadi di dalam sebuah persahabatan. Tetapi berbeda dengan Bima. Pria dingin itu memucat, aura kelam terpancar jelas dari dalam dirinya.
Mariana mengulurkan tangan, menggenggam erat jemari Bima hingga perlahan aura kelam itu mulai menipis.
Mapala bisa merasakan perubahan aura Bima. Dia tersenyum kecil.
"Maafkan aku, Bima. Tetapi kau harus tahu, dan ketiga orang tua itu memiliki sumpahnya pada mendiang ibumu yang tak dapat mereka langgar."
Bima mengangguk kaku.
"Jadi kenapa Galang memutuskan untuk menghancurkan keluarga kita?" tanya Bima tegang.
"Satu, tentu saja karena hasutan Hortensia. Wanita itu tidak rela kau menerima perusahaan yang disediakan khusus oleh suaminya, untukmu. Sementara kedua anaknya hanya menerima perusahaan keluarga. Kedua tentu saja karena kau hidup bebas di luar sana, sementara kedua anaknya terkekang dengan sangat erat hingga kecelakaan itu terjadi dan menghasilkan Galang."
"Kecelakaan apa?" Leo menyela cepat.
"Kecelakaan ranjang. Dua bersaudara Xillas, Jenny dan Jane Xilas, orang tua Galang adalah dua saudara kandung. Itu kenapa Galang memiliki kelainan genetik, yaitu sindroma klinefelter. Kau tahu arti sindroma itu?" tanya Mapala.
__ADS_1
"Sindrom Kinefelter? Tapi dia...."
"Dia menjalani terapi hormon dan pengangkatan jaringan payudara untuk mengatasi masalahnya. Dinyatakan mandul pada usia puber, membuatnya hancur. Itulah yang membuatnya membalas dendam kepada semua wanita, begitu pengobatannya berhasil."
"Dan apa hubungannya dengan keluarga kita? Bukankah masalahnya sudah jelas, bahwa kelahirannya yang normal membuat ibu dari anak itu tidak terima."
"Nenek. Bukan ibu. Ayah dan ibu Galang tidak pernah mempermasalahkan hubungan ayah mereka dengan Bima. Tetapi tidak dengan istrinya."
"Ya, ya. Tetap saja itu artinya dia lah biang kerok dari semua masalah ini, bukan kita."
"Sayangnya kau salah. Karena kakek lah yang menyuplai penuh keuangan perusahaan yang di rintis kakek Galang untuk diberikan kepada Bima."
"Pria bodoh!!" desis Hendra.
"Tutup mulutmu, anak muda!" Ayah Mariana, yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, bangkit berdiri dan menunjuk Hendra dengan wajah murka.
"Tenanglah, Adik. Maafkan dia. Aku berjanji akan menghukumnya dengan caraku sendiri, nanti." Ayah Hendra berdiri, mencekal lengan ayah Mariana yang menunjuk wajah Hendra.
"Kau boleh menghina putriku, menghina menantuku, anak laki-laki ku, bahkan diriku sendiri kau injak-injak pun aku akan diam, Hendra. Tetapi sekali kau berbicara tentang ayah apa lagi mengoloknya di depanku, jangan harap kau besok masih bisa bernafas panjang." Ayah Mariana berteriak murka.
"Ayah.... ayah, tenanglah." Mapala mencekal pundak ayahnya, menekannya sedikit agar pria itu kembali ke tempatnya.
"Tenang. Kita akan mengurusnya nanti, tetapi biarkan masalah ini selesai satu per satu dulu."
Ayah Mariana menarik nafas panjang, kemudian kembali duduk meski matanya masih menatap tajam Hendra tak berkedip.
"Terima kasih, Ayah. Paman... kau bisa duduk juga supaya kita bisa melanjutkan pembicaraan ini."
ayah Hendra mengangguk, kembali ke tempatnya sambil menatap putra semata wayangnya dengan tatapan memperingatkan.
Hening. Semua kembali tenang, ketegangan perlahan mereda.
"Baiklah, Paman. Ku pikir itu semua yang aku tahu, alasan kenapa Galang ingin menghabisi keluarga kita. Karena dia merasa bahwa kakek lah yang membantu membawa Bima hingga kondisi seperti sekarang. Dia ingin menghabisi seluruh keturunan kakek dan kakek Bima satu per satu hingga tak bersisa."
"Aku tidak pernah menyalahkan Hendra yang terhasut ulah Galang, karena aku pun pernah termakan tipu dayanya. Hanya yang aku sayangkan, Hendra begitu buta dan tertutup ketamakan. Kalian tahu, bahwa hingga detik ini, saham perusahaan yangs secara diam-diam telah berhasil dialih tangankan atas nama Hendra ada hampir 20 persen." Mapala melanjutkan, mulai mengupas kedok Hendra satu per satu.
"Dua puluh persen? Dari mana kau memperoleh nilai saham sebanyak itu, Hendra?!" Leo memelotot, menatap Hendra dengan sengit.
Bruk!
tumpukan dokumen di lempar ke atas meja oleh Mariana. Semua orang menatap ragu pada dokumen-dokumen yang tersebar di atas meja.
"D-dokumen apa ini?" tanya ayah Nico pelan, tangannya bergerak mendekat.
__ADS_1