Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
KEMELUT PERUSAHAAN


__ADS_3

Bima tersenyum. Dia beranjak duduk dan baru menyadari ada selimut tipis yang menutup tubuhnya semalam. Pantas saja dia tidak merasa kedinginan meski angin malam bertiup sangat kencang.


Bima meraih cangkir kopi di atas meja, menyeruputnya. Selesai minum kopi, pria itu berjalan ke dapur, mengintip sayur ikan kuah kuning di atas meja.


"Kenyataannya kau tak semanja kelihatannya, Mariana. Kau bahkan pandai memasak." Bima tersenyum. Lalu pria itu berjalan ke kamar mandi, meraih tas yang berada di atas meja panjang di samping kamar mandi.


Bima menatap kaget tasnya yang kosong, baju-bajunya tidak ada di dalam sana. Padahal dia yakin kemarin masih ada setelah dia mandi.


Bima berjalan ke arah balkon. Dia bisa melihat baju Mariana tergantung di sana, di lorong berkanopi tempat mereka mengeringkan baju di bawah sinar matahari. Baju kaus dan celana panjang yang terakhir kali dia kenakan juga berada di sana, menetes-netes basah. Tapi tidak terlihat ada baju lain di sana. Lalu kemana baju-bajunya yang lain.


Bima mencoba masuk ke kamar tidur Mariana, nekat mengintip ke dalam almari, dan dia bisa menemukan tumpukan bajunya yang hanya seperempat tinggi tumpukan baju Mariana, tertata rapi di sudut almari. Bima tersenyum, mengambil dua helai pakaian dan pakaian dalam, lalu pergi mandi.


Satu jam kemudian, Bima sudah berjalan tenang di trotoar jalan, dengan perut kenyang oleh masakan Mariana dan hati senang. Bima meraih ponsel, mencari satu nama dan menekan tombol panggil.


"Ya, Bos."


"Temui aku di tempat biasa."


"Baik."


Sambungan terputus. Bima melanjutkan berjalan kaki, berbaur dengan keriuhan kota yang semakin padat.


Sementara di tempat lain, Mariana menatap nyalang ke arah seluruh rekan kerja yang ada di hadapannya.


"Sita, berikan laporan keuangannya padaku sekarang." Mariana mengulurkan tangan.


Wanita yang dipanggil Sita berdiri, lalu menyerahkan berkas laporan keuangan kepada Mariana.


"Bukankah laporan ini ku tanda tangani setiap bulan?" tanya Mariana, menatap begitu banyaknya anga ganjil di dalam laporan itu. "Aku selalu memeriksanya sebelum menandatanganinya, dan aku yakin bukan ini yang selama ini aku terima."


"Jangan mengada-ada, Mariana. Jelas-jelas tanda tanganmu berada di atas lembar pengesahan laporan keuangan itu. Bagaimana mungkin kau merasa bukan laporan itu yang kau terima." Hendra, sepupu Mariana yang bertanggungjawab pada bagian pemasaran menyela.


"Aku tahu. Tapi aku masih sangat mengingatnya bahwa tidak pernah terjadi pengeluaran sebesar ini di perusahaan untuk menutup devisit cabang."


"Cabang Belingga memang mengalami devisit di bulan itu. Tetapi pada laporan keuangan mereka, tidak ada gelontoran uang dari induk. Mereka mengatasi devisit mereka secara mandiri." Leo ikut angkat bicara dari ujung meja.


"Tentu saja tidak. Karena kita memang tidak pernah menggelontorkan dana perusahaan untuk membantu menutup devisit cabang." Mariana bersikeras.

__ADS_1


"Tapi laporan keuangan itu tidak bisa berbohong, Mariana. Kami bahkan sudah melakukan pengecekan keabsahan tanda tangan, dan hasilnya itu memang tanda tanganmu. Yang menemukan kejanggalan ini adalah tim auditor independen, bukan kami. Jadi apakah kau bermaksud mengatakan bahwa kami telah mengubah laporan keuangan yang bahkan sudah kau tanda tangani?"


Mariana menatap berang pada Alfredo. "Aku sama sekali tidak mengatakannya, Alfredo. Dan tolong jelaskan padaku, ke rekening mana uang itu di kirim jika catatan keuangan mengatakan uang itu dikeluarkan untuk menutup devisit cabang."


Beberapa wajah tersenyum mengejek, sementara Mariana semakin berang di tempatnya.


"Apa kau yakin kau ingin mendengarnya, Mariana?" tanya Leo sinis.


"Tentu saja aku ingin mendengarnya. Bukankah aku harus tahu kemana uang perusahaan dikeluarkan jika tidak ke rekening cabang?"


"Tunggu, jangan gegabah, Leo." Hendra mengangkat tangan saat Leo siap membuka mulut.


"Apa lagi. Dia sudah siap mendengar kejutan yang dia buat sendiri, bukan."


"Ya. Aku tahu. Tapi aku yakin dia sudah menyiapkan jawaban, melihat wajahnya yang begitu tenang."


"Apa maksud kalian?" tanya Mariana berang. "Apa kalian bermaksud menuduhku korupsi?"


"Ya! Katakan saja kau memang korupsi, dan kami akan memaafkan mu dengan syarat kau membuat surat pengunduran dirimu saat ini juga."


"Tenang, tenang." Noel berdiri, mengangkat kedua tangan, menenangkan.


"Begini, Mariana. Dengan kelakuanmu yang menjijikkan dan telah mencoreng nama baik keluarga...."


"Tunggu!" Mariana memotong penjelasan Noel, mengikuti berdiri. "Kalau kalian bermaksud membicarakan kehidupan pribadiku, bukan di sini tempatnya."


Noel tersenyum masam. "Sebenarnya bukan. Tapi karena ini sangat berhubungan, maka kita harus membicarakannya di sini."


"Apa maksudmu berhubungan?"


"Ya. Jadi, apakah kau mengijinkan aku menjelaskan semua hubungannya di sini, atau tidak?" Noel memancing.


Mariana diam, sejenak dia menatap bimbang kepada seluruh peserta rapat yang tidak semuanya merupakan saudaranya. Separuh dari peserta rapat ini adalah orang luar yang memegang jabatan di perusahaan.


"Bagaimana Mariana, apa kau takut kedok mu dibuka di depan orang lain?" Leo menantang.


Mariana menatap Leo sekilas, kebencian tiba-tiba saja membuncah di dalam dirinya. Selama ini, Leo lah saudara yang paling membenci Mariana. Dia selalu menyudutkan Mariana di setiap kesempatan yang dia miliki, tak peduli dimana pun tempatnya dan ada siapa saja di sekeliling mereka.

__ADS_1


"Baiklah, Noel. Lakukan apa pun yang kalian inginkan." Mariana menelan ludah, mengangguk pasrah.


"Tidak, tidak. Tidak seperti ini aturannya. Kau memiliki suara untuk berpendapat di sini, termasuk melindungi privasi mu, Mariana. Kalau kau memang keberatan, maka kita tidak akan membicarakannya di sini." Hendra menengahi, bersikap sok bijak, meski Mariana tahu di balik raut wajah yang sedang tersenyum itu tersembunyi dua tanduk merah dan gigi taring kuning yang siap mengoyak Mariana hidup-hidup.


Mariana tersenyum sinis. "Tidak apa, Hendra. Lakukanlah. Katakan apa yang terjadi dan hubungan semua ini dengan suamiku."


Hendra mengangguk. "Baiklah kalau itu mau mu, Mariana. Itu artinya kau setuju kita mendiskusikannya di sini, tanpa ada paksaan dari siapa pun."


Mariana tersenyum. Jelas mereka ingin memastikan tidak akan ada tuntutan di kemudian hari dari Mariana. Maka sekali lagi Mariana mengangguk yakin.


"Seperti yang ku katakan sebelumnya. Aku setuju kita membicarakannya di sini, tanpa adanya paksaan apa pun. Semua yang terjadi murni atas ijinku." Mariana menekankan setiap kalimatnya, karena dia tahu pasti salah satu dari mereka menyalakan audio ponselnya untuk merekam.


Hendra mengangguk sekali lagi, lalu kembali duduk, menyisakan Noel dan Mariana yang masih berdiri di dua sisi meja yang berbeda.


"Baiklah. Jadi, sejak kau mencoreng nama baik keluarga dengan melakukan perbuatan zina bersama pria gelandangan yang kau nikahi itu...."


Mariana menelan ludah, menahan amarah yang semakin menggelegak di dalam dirinya.


"Sebenarnya saat itu kami semua memutuskan untuk mencabut jabatan mu dari CEO perusahaan, karena kelakuanmu juga mencoreng nama baik perusahaan kita. Itu berpengaruh pada beberapa kepercayaan publik akan nilai saham yang kita miliki."


Noel diam, menunggu tanggapan dari Mariana yang tak kunjung datang.


"Baiklah. Karena tidak ada sanggahan, ku anggap kau menyetujui penilaian kami. Malam itu, usai kami berdiskusi mengenai pencopotan jabatan mu dari CEO perusahaan, Leo mendapat pesan misterius bahwa kau harus menyelesaikan urusan perusahaan ini hingga masa audit selesai, agar kau tidak bisa cuci tangan atas segala yang sudah kau lakukan."


Mariana menarik nafas panjang dengan perlahan mencoba mengendalikan diri.


"Jadi, Mariana. Tim audit menemukan kau mengeluarkan uang pada rekening mu dengan keterangan dividen saham."


"Tidak...." Mariana menggeleng kaget.


"Ya. Kau mengirimnya di tanggal yang sama dengan dividen saham milik seluruh pemegang saham. Itu sebenarnya sangat wajar, saat suatu perusahaan mengirimkan dana dividen saham kepada para pemegang saham. Yang membuatnya tidak wajar adalah, karena sepanjang yang kami tahu, kau bahkan tidak memiliki sepeserpun saham di perusahaan ini, bukan."


Mariana menelan ludah, mencoba menyusun kalimat yang tepat untuk menjelaskan semua kejadian mengerikan ini.


"Nah. Itulah mengapa kami sepakat untuk melakukan penyelidikan lebih luas. Kami melakukan print rekening koran pada setiap karyawan dan melihat pergerakan keuangan yang tidak wajar. Dan saat itulah kami menemukan dana pemasukan dari rekening perusahaan yang jumlahnya tidak kecil. Kami melakukan kroscek pada laporan keuangan perusahaan, di sana dikatakan pengeluaran itu sebagai dana bantuan devisit cabang. Kami melakukan pengecekan ke cabang. Mereka mendapatkan gelontoran dana devisit dengan jumlah yang sama persis dengan yang dikeluarkan oleh laporan keuangan itu tetapi gelontoran dana itu tidak dari perusahaan induk, melainkan dari hasil hipotek obligasi cabang."


Mariana menggeleng tidak percaya. Ini mustahil dia bahkan sama sekali tidak pernah menerima dana apa pun dari perusahaan selain gaji yang didapatkannya dari jabatannya sebagai seorang CEO perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2