Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
TUTUP SEMUA AKSES!


__ADS_3

"Sarah.... Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Mariana menatap mata kosong Sarah, antara iba dan takut.


Sarah mengangguk. "Katakan."


"Kalau...kalau anak ku besar nanti, dan dia menanyakan ayahnya, kalau memang ternyata ayahnya adalah Bima, bolehkah aku mempertemukannya dengan ayahnya?"


Sarah terdiam.


"Baiklah. Aku akan memegang janjiku."


"Tidak." Tiba-tiba Sarah menggeleng. "Kau boleh membawanya ke ayahnya, siapa oun ayah dari bayi yang kau kandung. Kau boleh membawanya pada Bima. Tetapi berjanjilah untuk memberinya hukuman yang setimpal dengan apa yang telah dia lakukan padaku dan anaknya."


Mariana mengangguk. "Ya, Sarah. Aku berjanji. Dan aku selalu memegang janjiku dengan baik."


"Satu lagi. Bima bukan orang yang mudah di tinggalkan. Kau harus bersembunyi sebaik mungkin, pastikan dia tidak akan pernah menemukanmu, tapi jika suatu saat dia menemukanmu, aku ikhlas kau kembali. Aku ikhlas, Cinta tidak harus memiliki. Aku hanya ingin Bima merasakan bagaimana rasanya kehilangan dua orang yang sangat dia cintai, sekaligus."


Mariana mengangguk, dalam hati dia berjanji untuk membalaskan dendam Sarah pada Bima, meski dia sangat mencintai Bima.


"Mmm... Sarah. Bisakah kau membantuku kabur sekarang juga?" tanya Mariana setelah keduanya saling terdiam beberapa saat. Mariana terlah memikirkan selama diamnya, dia tahu setelah dia kembali ke rumah, maka Bima akan tahu dia tidak ke kantor. Bima juga akan tahu dia menghilang di supermarket. Itu akan membuat pergerakannya semakin sulit. Apalagi jika tanpa bantuan Sarah, Mariana yakin dia tidak akan pernah bisa kabur dari Bima.


"Apa kau yakin?" tanya Sarah sanksi.


"Ya. Kembali ke Bima setelah menghilang, akan membuatku jauh lebih sulit untuk menghilang kedua kalinya."


Sarah berpikir sejenak. "Kau ada benarnya. Tetapi apakah kau sudah membawa keperluan kalian?"


"Aku bisa membelinya. Aku masih memiliki uang tabungan."


Sarah mengangguk. Akhirnya dia berdiri, meraih ponselnya. "Aku ada rumah kecil di kota Frontes. Kau bisa menempatinya dengan anakmu, nanti. Tidak perlu menyewa. Tempati saja sesukamu," kata Sarah sembari mengetik sesuatu di ponselnya. "Orang yang membawa kuncinya bernama Nestopo. Kau bisa memintanya saat tiba di sana, bilang saja namamu Kamila. Aku sudah mengabarinya."


"Kamila?"


Sarah menatap Mariana, mengangguk. "Ya. Aku memiliki identitas atas nama Kamila. Kau bisa menggunakannya sebagai identitasmu setelah kau pergi meninggalkan kota."


Mariana mengangguk.


"Kau yakin mau pergi sekarang?"


Mariana kembali mengangguk.


"Kau sudah siap?"


"Sangat siap."


"Perlu kau ketahui satu hal lagi sebelum kau pergi. Bima adalah pemilik tunggal Four Trainer Group dan perusahaan FMCG. Perusahaan itulah yang sedang dia perjuangkan untuk nasik saat anaknya tumbuh. Itulah yang membuatnya menolak untuk mengakui skandal diantara kami, karena aku adalah sekretaris di perusahannya."


"Apa?!" tanya Mariana kaget.

__ADS_1


Sarah mengangguk tenang. "MBC di bangun atas nama mu."


"Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu?" tanya Mariana.


"Karena bukan hanya Bima yang bisa meminta orang untuk membuntuti mu. Aku pun bisa."


"Sama sekali tidak aku ragukan."


Sarah menyeringai.


"Jadi, aku tanya untuk terakhir kali, apa kau yakin kau tidak ingin mengucapkan selamat tinggal pada suami tercintamu terlebih dahulu?"


Mariana kembali menggeleng. "Itu akan membuat segalanya terasa lebih berat."


Mariana balas mengangguk. "Baiklah. Pegang dan gunakan ini. Ini ATM dengan akun bank atas nama Kamila Sari dan ini KTPmu." Mariana menyerahkan dua buah kartu berwarna biru dan hitam di atas meja tepat di depan Mariana.


"Aku sudah mencarikan mu tiket pesawat. Gunakan identitas itu mulai sekarang. Tiket mu dibooking atas nama Kamila."


"Kapan kau memesan tiket?" tanya Mariana.


"Segalanya bisa beres hanya lewat ponsel, Mariana. Ini era digital dan kau ini seorang CEO."


Mariana menyeringai malu.


Pesawat Mariana landing pukul 17.40 di kota Frontes. Sementara di kota yang Mariana tinggalkan, kehebohan terjadi sejak kaki Mariana menginjak Bandara Internasional.


"Goblog!" teriak Bima tepat pria yang diperintahkan untuk membuntuti dan menjaga Mariana, melapor telah kehilangan Mariana. "Membuntuti wanita hamil saja kau tidak becus. Apa saja yang kau lakukan di sana?" Bima menggebrak meja kerjanya, membuat kertas-kertas di depannya berhamburan.


"Bos, istrimu masih di minimarket." Marco menunjukkan posisi pelacak Mariana yang memang terlihat masih berada di minmarket.


"Cari dia sampai dapat. Posisi ponsel dan mobilnya masih di minimarket!" perintah Bima dingin.


"Tuan, mobil nyonya Mariana memang masih berada di minimarket. Tetapi orangnya tidak berada di sini. Aku sudah mencarinya berkeliling dan tidak menemukannya."


"Posisi kunci mobilnya masih di sana, bodoh!"


"Marco. Lacak posisi ponselnya." Bima memerintah.


"Mati, Bos."


"Apa?!"


Bima berdiri, berjalan cepat menuju pintu diikuti Marco.


Bima mengumpat marah saat menemukan kunci mobil Mariana di keranjang belanja minimarket.


"Nyonya ini tadi mengatakan dompetnya tertinggal di mobil, dan dia mengambilnya, Tuan. Tetapi sampai sekarang dia tidak muncul kembali. Kami juga belum membuka keranjang belanjaannya karena dia belum kembali," jelas kasir tempat Mariana menaruh keranjang belanjaannya.

__ADS_1


"Apa ponselnya belum bisa di lacak, Marco?" tanya Bima.


Marco merogoh saku ponselnya, mencoba melacak sekali lagi ponsel Mariana, lalu menggeleng.


"Kemana dia...." gumam Bima, lalu mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Sarah.


"Kemana anak ini. Tumben sekali dia mengabaikan teleponku. Apa jangan-jangan dia menculik Mariana,"


"Apa wanita itu, Bos?" tanya Marco sedikit berbisik. Bima mengangguk.


Sebaiknya kita pulang dan mencoba melacaknya kembali, atau mengecek tempat-tempat yang didatangi nyonya Mariana, Bos. Beberapa tempat seperti ATM atau pusat perbelanjaan dengan metode pembayaran non tunai akan meninggalkan jejak."


Marco benar. Bima mengangguk setuju, lalu berjalan keluar dari minimarket.


"Bos. Ada sejumlah penarikan, oh tidak dia bahkan mengosongkannya. Istrimu mengosongkan uangnya di bank melalui ATM Simpang Tiga KM 71, Bos." Marco membelalak menatap laptopnya.


"Ayo, Marco!" Bima melompat berdiri, sudah berlari keluar saat Marco bahkan baru berdiri.


Sepuluh menit kemudian, keduanya sampai di ATM di maksud, tetapi sama sekali tidak ada Mariana di sana.


"Penarikan kartu. Bukankah istrimu sudah lama tak lagi menggunakan kartu ATM?" tanya Marco, menghadapi laptopnya di dalam mobil.


"Ya. Seseorang menggunakan kartu ATM Mariana. Ponselnya tidak aktif." Bima memukul kap mobil dengan frustasi.


"Kalau sampai terjadi apa-apa pada Mariana, umpankan si bodoh itu pada Hera!" geram Bima, mengertakkan gigi. Wajah iblis yang sudah sejak lima tahun terakhir ini mati, seolah bangkit kembali menghiasi wajah Bima.


"Bos, ponsel Nyonya menyala. Posisinya... di minimarket?" Marco mengerutkan kening. "Tidak mungkin," gumamnya lagi.


Bima menjejak pedal dalam-dalam, membuat Marco harus mencengkeram laptop di pangkuannya agar tidak terlempar ke depan kalau-kalau suatu saat Bima mengerem mendadak. Dalam tujuh menit, mobil mereka berhenti di depan minimarket.


Bima masuk, berlari dan berteriak murka mengelilingi seluruh bagian minimarket hingga bagian toilet, gudang, dan kantor di lantai dua. Seluruh karyawan minimarket merapat di tembok saat Bima masuk, beberapa pelanggan berlarian keluar seolah mereka baru saja melihat singa yang terlepas dari kandangnya menerjang masuk ke dalam minimarket.


Bima terus mencoba menghubungi ponsel Mariana, tetapi gagal. Nomornya masih tidak aktif.


"Bos, kalau ponselnya mati, tidak mungkin pelacaknya menyala." Marco mencoba mengingatkan, sambil berlari di belakang Bima seperti anjing penjaga.


"Jadi kau pikir aku berbohong?!" Bina menoleh Marco, menatapnya murka dengan tatapan dingin membunuh. Marco menelan ludah dengan kasar.


"Tidak. Bukan seperti itu. Maksudku...." kalimat Marco terhenti saat matanya menangkap sebentuk chips kotak terselip di antara ciki-ciki. Marco berjalan perlahan mendekati chips itu, memungutnya.


"Apa itu?" tanya Bima garang.


Sudut bibir Marco terangkat. "Cerdik. Ini chips pelacak. Siapa pun yang telah membawa istrimu, dia memasukkan kode akses pelacak Mariana ke dalam chips ini dan meninggalkannya di sini. Itu artinya dia sempat memegang ponsel Mariana."


Bima mengambil kasar kartu chips dari tangan Marco, membolak baliknya.


"Sarah," gumamnya pelan, namun sangat mengancam.

__ADS_1


"Tutup semua akses jalan keluar dan lacak kemana wanita itu pergi terakhir kali!" Teriakan Bima seperti gelegar guntur yang membuat seluruh karyawan minimarket mengernyit dan mengerut ketakutan. Beberapa saling menggenggam dengan temannya, saling memberikan kekuatan.


Bima berbalik keluar diikuti Marco yang langsung sibuk menelpon melalui ponselnya. Bima masuk ke dalam mobil, menginjak pedal gas, bahkan saat pantat Marco belum sempurna menempel di tempatnya.


__ADS_2