
Mariana terbangun dalam keadaan sangat kacau. Perutnya mual, kepalanya pening. Mariana memijat pelipisnya, sembari duduk di tepi ranjang.
Aroma telur goreng menusuk hidungnya, membuat perutnya seperti di aduk pada kecepatan maksimal. Mariana melompat dari tempatnya, berlari ke kamar mandi.
Bima menoleh, mendengar suara pintu dibuka dengan kasar. Melihat Mariana berlari ke kamar mandi, Bima menghampirinya.
Bima berdiri di depan pintu kamar mandi, menatap cemas. Hingga Mariana membuka pintu, Bima seketika menangkap kedua lengan Mariana.
"Kau baik-baik saja?" tanya Bima cemas. Mariana mendongak, menatap raut wajah yang baru kali ini dilihatnya terlukis di wajah Bima.
"Kau sangat pucat. Apa aku perlu membawamu ke dokter?" tanya Bima.
Mariana menggeleng. Tidak, tidak perlu. Aku baik-baik saja.
"Baik-baik saja?!" tanya Bima marah.
Mariana menatap keheranan. Sebelum ini, wajah Bima hanya bisa menampilkan dua versi. Datar, atau dingin. Tapi sekarang, kenapa laki-laki di depannya ini berubah. Tadi dia terlihat begitu cemas, dan sekarang sangat marah. Ada apa sebenarnya.
"Aku benar-benar tidak apa-apa, Bima. Hanya masuk angin," kata Mariana, lebih lembut.
Bima mendesah pelan. "Baiklah. Duduklah di meja makan, aku akan membuatkan susu hangat untukmu, lalu makanlah. Aku sudah memasak."
"Eeem... Bima."
Bima menoleh.
"Bisakah kau jauhkan telur itu dari dapur?"
Bima mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Entahlah. Baunya membuatku mual."
"Apa kau hamil, Mariana?" tanya Bima, tidak bisa lagi menunggu pengakuan dari Mariana.
"Tidak." Mariana menggeleng cepat. "Aku, aku sedang datang bulan."
"Tapi kau mual saat mencium aroma tajam, itu seperti wanita hamil."
"Dari mana kau tahu itu ciri wanita hamil?" tantang Mariana. Kegalakannya sudah kembali, meski wajahnya masih pucat.
Bima tersenyum sinis. "Mungkin aku tak punya rumah, tidur di emperan jalan, tapi aku tidak bodoh, Mariana. Aku membaca banyak buku dan mengikuti media sosial."
Mariana mendengus panjang. "Kau punya ponsel, tapi tidak punya tempat tinggal," gerutu Mariana.
"Apa kau mengenal seseorang yang menjual rumah seharga ponsel?"
Mariana membanting tubuhnya ke sandaran kursi, diam. Wajahnya cemberut.
"Ayo makanlah dulu. Atau kau mau aku membawakan sesuatu untukmu kesini?"
"Tidak, tidak. Tidak perlu. Aku akan makan di meja makan saja."
Bima mengangguk, berjalan cepat ke dapur dan menyingkirkan telur goreng ke dalam wadah tertutup.
Mariana masuk, mencari-cari bau telur, tetapi sudah tidak tercium. Dia duduk di meja makan, meraih roti tawar dan mengolesnya dengan mentega, kemudian memakannya.
"Kau tidak mau mengisi rotimu dengan sesuatu? Daging panggang, mungkin. Atau kornet."
Marian cepat menggeleng. "Tidak, terima kasih. Begini saja cukup."
Bima kembali mengangguk, duduk di depan Mariana dan ikut meraih roti di hadapannya.
"Kau makanlah apa pun yang kau mau, jangan mengikuti pola makanku yang aneh."
Bima menggeleng. "Tidak," katanya tenang.
Mariana kembali menghela nafas, menggigit rotinya yang hanya dioles mentega.
"Bima...."
Bima mendongak.
"Aku...." Mariana tidak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
Mariana menggeleng. "Tidak jadi."
"Katakan saja, Mariana. Aku siap mendengar semua keluhanmu."
Mariana kembali menggeleng.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya... tidak. Aku benar-benar baik-baik saja."
"Kau tahu, Mariana. Saat seorang perempuan mengatakan berkali-kali dirinya tidak apa-apa atau baik-baik saja, itu justru menandakan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja."
Mariana menelan roti di mulutnya dengan susah payah, mendorongnya dengan susu yang telah di siapkan Bima. Namun, susu di dalam gelas itu rasanya aneh. Seperti berbau besi yang telah karatan.
Mariana mengerutkan kening, menatap susu di gelasnya. "Susu apa ini?"
"It...tu susu... yang kau beli." Bima tergagap, bingung. Karena dia memang sengaja mengganti susu yang dibeli Mariana dengan susu ibu hamil.
"Ku rasa itu audah kadaluarsa. baunya seperti... besi karatan...." belum selesai Mariana berbicara, dia sudah berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya. Bima mengikuti di belakangnya.
"Mariana... kau baik?" tanya Bima, menggedor pintu kamar mandi.
"Ya...." jawab Mariana pelan.
"Buka pintunya."
"Aku baik-baik saja, Bima."
"Buka pintunya atau aku akan mendobraknya!" gertak Bima.
Terdengar bunyi siraman, lalu pintu terbuka. Wajah pucat mariana menyembul dari balik pintu, rambutnya berantakan.
Bima menangkapnya, membopongnya ke dalam kamar.
"Turunkan aku. Aku masih bisa berjalan."
"Dan pingsan lagi?!" jawab Bima dingin.
"Tidurlah." Bima menaruh Mariana di atas tempat tidur, menutupnya dengan selimut.
"Istirahatlah. Panggil aku kalau kau membutuhkan sesuatu."
"Bima...." Mariana mengulurkan tangan.
Bima mengangkat alis.
"Bisakah kau menemaniku. Aku... entahlah. Aku tidak ingin sendirian," kata Mariana, menunduk. Wajahnya tersipu, memerah.
Bima tersenyum, lalu duduk di samping Mariana.
"Tidurlah. Aku akan di menungguimu di sini."
"Terima kasih," bisik Mariana, sebelum matanya terpejam.
Sebentar kemudian, Mariana kembali membuka mata.
"Ada apa?"
Mariana duduk. "Aku lapar," katanya malu-malu.
"Kau ingin makan apa?"
Mariana menggeleng. "Entahlah. Aku lapar, tapi rasanya tidak ingin makan. Perut ku mual."
"Apa kau hamil?"
Mariana mengejang sejenak lalu cepat-cepat menggeleng. "T-tidak. Aku... aku hanya... sakit maag."
Bima meraih kedua pundak Mariana, meremasnya pelan. "Mariana. Kenapa kamu tidak jujur saja padaku?" tanya Bima sangat pelan.
Mariana membeku, menunduk.
__ADS_1
"Katakan saja kalau kau hamil, Mariana. Aku akan menjaga kalian berdua dengan baik."
Mariana menelan ludah, menatap Bima dalam diam. Kemudian dua bulir air mata meleleh dari matanya. Mariana menghambur memeluk Bima, menangis.
Ragu-ragu, Bima membalas pelukan Mariana, mengelus punggungnya lembut.
"Jangan khawatir. Aku akan menjagamu dan bayimu."
"T-tapi... Dia bukan anakmu."
"Kalau begitu biarkan aku ikut membentuk setidaknya hidung atau telinganya saja."
Mariana melepas pelukannya, menatap Bima bingung. "Apa maksudmu?" tanya Mariana.
Bima tersenyum. "Apa kamu benar-benar tidak mengerti, atau pura-pura bodoh Nyonya Sandiago." Bima menyentil ujung hidung Mariana, membuat pipi wanita itu bersemu merah.
Plak! Mariana menampar pelan pipi Bima. "Jangan mesum!" desisnya.
Bima terbahak.
"Ayo cari makan. Kamu mau apa?" Bima menarik pelan tangan Mariana, membantunya turun.
"Aku mau makan roti saja. Tapi jangan susu itu."
Bima mengangguk. "Kamu mau teh hangat?"
"Aku ingin air sirup dingin."
Bima mengerutkan kening. "Apa kamu yakin perutmu tidak ada-apa di isi air dingin?"
"Aku tidak tahu kalau belum mencobanya, kan."
Bima mengangguk. "Kalau begitu makan dulu rotimu, biarkan itu masuk dulu ke dalam perutmu beberapa saat, baru kamu boleh minum air dingin."
Mariana mengangguk setuju.
Bima menarik kursi untuk Mariana, lalu mendekatkan roti, selai dan mentega ke hadapannya.
"Terima kasih." Mariana tersenyum senang.
Bima duduk di hadapan Mariana, menatap wajah ceria istrinya yang terlihat sangat manis meski berantakan.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Mariana.
"Kamu sangat cantik."
Mariana terbahak. "Kemana saja kau selama dua bulan ini?"
"Kau sibuk menggerutu dan menekuk wajahmu. Itu menutupi kecantikanmu yang sebenarnya."
Mariana menendang kaki Bima di bawah meja.
"Mmm Bima...."
"Hhmm?"
"Mmm... kamu tahu kan, anak ini bukan anak mu. Dan aku juga tidak ingin mengandung anak dari bajingan itu."
Bima mengerutkan kening. "Lalu?"
"Ya... sebenarnya aku...."
"Tidak!" Bima memotong penjelasan Mariana. "Anak adalah titipan Tuhan, Mariana. Kau tidak berhak menentukan dia boleh menghirup udara di dunia atau tidak!" kata Bima tegas, wajahnya mengeras.
"Aku... aku tidak bermaksud..."
"Jangan pernah menolak anak di dalam perutmu, Mariana. Dia bisa merasakanmu."
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Bima. Aku mungkin bisa mengontrol diriku yang di luar, tapi siapa yang bisa mengontrol pikiran dan perasaan di dalam tubuh."
"Kalau begitu biarkan aku menyelesaikannya." Bima menatap Mariana dingin. Dia bangkit berdiri, lalu menggandeng tangan Mariana, membawanya ke dalam kamar.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Mariana bingung, mengikuti langkah cepat Bima masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Bima menutup pintu di belakang Mariana, menguncinya, lalu mengunci tubuh Mariana menempel di pintu.
"B-bima...."