Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
Draft


__ADS_3

Di ruang kerjanya, Bima mondar mandir sambil memegang ponsel di telinganya.


"Tuan. Kau harus melihatnya. Kali ini dia bersungguh-sungguh. Aku bisa melihat auranya yang jujur."


"Tapi, Tompson. Apa kau yakin itu bukan jebakan?"


"Tidak, Tuan. Nona Sarah bukan seorang mimikri, kau tahu itu."


Bima mengangguk, meski Tompson jelas tidak bisa melihatnya.


"Aku ke sana sekarang, Tompson."


"Baik, Tuan. Saya akan menunggu di sini."


Bima mengantongi kembali ponselnya, kemudian berjalan keluar dari ruang kerjanya.


Mobil hitam mengkilap meluncur gagah di jalanan, menuju rumah sakit di mana Sarah di rawat.


Dua puluh menit kemudian, Bima telah melangkah keluar dari lift di lantai lima rumah sakit.


"Tuan...." Tompson menyambut Bima.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Bima, sementara mereka berdua berjalan menyusuri koridor panjang rumah sakit.


"Buruk, Tuan. Peluru mengenai tepat di bawah jantungnya dan mengenai pembuluh nadi."


Bima mengangguk sekali.


"Apa dia sadar?"


"Ya, Tuan. Kesadarannya sangat baik meski tubuhnya begitu lemah."


"Apa yang dia inginkan dariku?"


Tompson berdiri di depan pintu kamar rawat VVIP 6.1, berbalik menatap Bima dengan serius.


"Apa pun yang dia inginkan, dengarkan saja dan percayalah. Aku bisa menjamin kebenaran ceritanya."


Bima mengerutkan kening. "Tompson... kenapa kau begitu peduli pada Mariana? Aku bahkan tidak ingat memintamu untuk menjaga Sarah. Ke mana orang-orang yang diperintahkan Marco untuk menjaganya?"


Tompson menatap Bima sejenak, kemudian menunduk.


"Tuan. Aku meminta maaf padamu, telah menyembunyikan ini selama banyak waktu. Tetapi aku akan memberi tahu mu nanti, setelah...."


"Katakan sekarang saja, Tompson."


Tompson diam, menunduk.


"Tolong. Mungkin itu akan mempermudah diriku untuk bisa mempercayai Sarah setelah seluruh kebohongan yang dia lakukan padaku."


"Tuan, tapi...."


"Apa dia wanita spesial mu?"


Tompson mendongak perlahan, menatap ke dalam mata Bima, kemudian mengangguk pelan. "Ya, Tuan. Maaf."


Bima tersenyum. "Tidak ada orang yang bisa menolak rasa itu saat Tuhan menurunkannya, meski kepada orang yang salah. Kau tahu, Tompson. Bahkan di saat aku tahu Mariana adalah saudara kembar pembunuh ibuku, aku tetap tidak mampu membencinya sedikitpun. Karena Tuhan telah menurunkan rasa cintaku padanya."


Tompson menggeleng sedikit, tapi kemudian cepat-cepat mengangguk.


"Baiklah. Aku mempercayaimu, dan aku akan berusaha untuk bersikap baik pada Sarah." Tangan Bima terulur, membuka pintu sal yang menyembunyikan Sarah di dalamnya. Bima melangkah masuk, diikuti Tompson.


Mata Sarah membeliak lebar saat melihat Bima memasuki ruangan. Mulutnya terbuka membentuk kata Bima, tetapi tidak ada suara yang keluar darinya.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau sampaikan padaku sampai kau begitu ingin menemui aku, Sarah," kata Bima dingin, matanya menatap Sarah tanpa ekspresi.


"A-ku i-ngin mem-beri-tahu-mu... s-suatu. H-hati-hati p-p-ada k-eti-ga s-auda-ra M-maria-na."


Bima menyipitkan mata, menatap Sarah penuh ragu.


"Tuan. Kau tahu dia tidak sedang berbohong. Seandainya pun dia seorang mimikri, dia tidak akan mampu mengendalikan auranya dalam kondisi seperti sekarang ini."


Sarah memejamkan mata, mengangguk. Tangannya menjulur, meminta sesuatu pada Tompson.


Bima menoleh, mengikuti arah gerakan tangan Sarah.


Tompson mengangguk, kemudian membuka laci nakas di samping tempat tidur Sarah dan mengambil selembar kertas yang terlipat rapi.


Sarah menerimanya, lalu menyodorkannya pada Bima.


Bima menoleh Tompson.


"Bukalah, Tuan. Mungkin kurang jelas, tetapi Sarah telah berusaha menulisnya dengan susah payah.


Bima melirik Mariana sekilas, sebelum membuka lipatan kertas di tangannya.


Ponsel Bima berbunyi. Bima mengambilnya dan melihat nama Mariana berkedip di layar.


"Ya, Mariana."


"Kau di mana?"


"Aku... di...." Bima berpikir sejenak. "Kenapa?"


"Kakek. Bibi bilang dia terkena serangan jantung."


"Apa?!" Bima menatap Tompson cemas.


"Ya, ya. Aku segera ke tempat mu. Jangan pergi sendiri, tunggu aku akan tiba dalam lima menit." Bima memutus panggilan.


"Tompson, maafkan aku. Aku harus pergi."


"B-bi-ma...." Sarah memanggil terbata, ujung-ujung jarinya menyentuh lengan Bima.


"Sarah. Aku minta maaf harus pergi. Apa pun yang harus kau katakan, kau bisa ceritakan pada Tompson. Aku mempercayainya, juga kau. Aku mempercayai apa pun yang akan kau ceritakan pada Tompson dan aku percaya Tompson juga akan menyampaikan hal yang sama persis seperti yang kau katakan, tidak kurang, tidak lebih," kata Bima cepat, menatap lekat-lekat mata Sarah yang mulai tampak kosong.


"L-indungi M-aria-na. Ak-u a-kan p-pergi."


"Sarah. Kau tidak akan ke mana-mana selama aku masih hidup, kau tahu itu. Jadi, aku akan kemari lagi nanti setelah mengurus Kakek. Kau sementara bisa ceritakan maksudmu pada Tompson, kau dengar?"


Sarah mengangguk lemah.


Perlahan, Bima membungkuk dan mengecup jemari Sarah. "Istirahatlah. Aku akan kembali."


"H-hati-hati. Lindungi M-ariana."


Bima mengangguk yakin. "Pasti." Kemudian dia berbalik dan segera berlari pergi.


Mobil hitam Bima kembali meluncur dengan kecepatan di atas rata-rata, di jalanan yang cukup padat. Raungan mesinnya yang dalam dan rendah mengesankan gambar cutting singa di kaca belakangnya tengah meraung lapar. Mobil-mobil menepi, memberi jalan.


Sepuluh menit kurang, Bima telah menikung masuk ke pelataran parkir kantor Mariana. Mariana dan Marco segera berlari mendekat.


"Biar aku bawa, Bos." Marco melongok dari jendela yang terbuka.


Mereka kembali meluncur, menuju rumah kakek.


"Bagaimana kau tahu kakek terkena serangan jantung?"

__ADS_1


"Bibi meneleponku."


"Apakah dia mengatakan sesuatu?"


"Sesuatu apa?" tanya Mariana bingung.


"Sesuatu, tentang kakek tentu saja."


Mariana menggeleng. "Tidak. Dia hanya bilang, setelah sarapan kakek pergi tidur karena mengeluh kurang enak badan."


"Kenapa tidak memanggil dokter? Bukankah kakek paling rajin memanggil dokter?"


Mariana mengangguk. "Aku juga bertanya pada Bibi, tadi. Dia bilang ponsel dokter Farhan tidak dapat dihubungi."


"Tumben."


"Entahlah."


"Kau sudah mencoba menghubungi dokter Kuswoyo?"


Mariana mengangguk. "Ya. Dokter Kuswoyo dalam perjalanan ke tempat kakek."


"Kenapa kakek tidak mencoba menghubungi dokter Kuswoyo saat dokter Farhan tidak dapat dihubungi."


"Aku juga tidak tahu. Kau bisa menanyakannya nanti, saat kita bertemu dengan...."


"Awaasss...!"


Dug!


Mariana membelalak menatap kaca mobil di sisi kanan Bima. Bima menoleh, tepat saat jendela kaca mobil di samping mereka menutup dan moncong pistol ditarik masuk.


"Siapa itu. Kenapa dia menembak?!" pekik Mariana ngeri.


Bima tersenyum mencibir. "Jangan khawatir. Dia hanya pria-pria bodoh yang ingin membuang-buang peluru."


"Apa maksudmu?!" Mariana memelotot.


"Kau tahu mobil ini jenis apa?"


Mariana melirik sepanjang body mobil, sebelum mengangguk.


"Kalau begitu kenapa mesti takut."


"Apa mobil ini benar-benar akan tahan peluru kalau mereka menembak beruntun?"


"Soal itu, aku tidak tahu. Mereka mungkin belum mengujinya sejauh itu."


"Tapi... mereka berencana memberondong kita dengan peluru."


Bima menatap Mariana, mengerutkan kening.


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Aku...."


"Mariana...."


Mariana menunduk.


"Sayang...."


"Aku...." Mariana mendongak perlahan. "Kakek mengembalikan kemampuanku yang pernah ditutupnya. Dia bilang, karena kau yang menjadi suamiku, maka aku memerlukan kekuatan itu," katanya takut-takut.

__ADS_1


Bima tersenyum, mengangguk.


"Jadi, ke mana kita harus berbelok sekarang. Kau yang tentukan arahnya."


__ADS_2