Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
SATU KAMAR


__ADS_3

"Aku tidak pernah tahu bagaimana laki-laki tua itu selalu bisa membaca pikiran seseorang." Mariana bersungut-sungut, duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut.


Bima tidak menanggapi. Dia masih terkejut pada kenyataan bahwa Kakek Mariana bisa membaca keinginan seseorang. Bima tahu betul orang seperti itu ada. Tetapi selama ini dia hanya mengenal kakeknya seorang, laki-laki dengan aura transparan yang dapat merasakan maksud dan keinginan seseorang bahkan sebelum orang itu mengungkapkannya.


"Kenapa kamu diam saja?!" tanya Mariana gusar.


"Eh, t-tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya, bingung."


"Apa yang membuatmu bingung?"


"Tentu saja aku bingung. Bagaimana tidak. Kamar ini hanya memiliki satu ranjang dan aku yakin kau tidak akan mengizinkanku tidur di ranjang yang sama denganmu," jawab Bima datar.


Mariana mendengus keras.


"Kau tidur saja di ranjang. Aku akan tidur di bawah."


"Ha! Kau pikir aku sepicik itu. Membiarkan wanita tidur beralas karpet sementara aku mendengkur di atas ranjang empuk." Bima berbalik, berjalan masuk ke kamar mandi.


sepuluh menit kemudian Bima keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan hanya mengenakan kaus dalam dan celana selutut. Dia menarik bantal dari sisi Mariana, melemparnya ke atas karpet bulu dan melempar tubuhnya terlentang di atasnya.


"Selamat tidur," bisik Mariana lirih.


"Hmmm," jawab Bima. "Apa kau tidak akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum tidur?" tanyanya.


"Ya. Tapi aku bekum mau tidur. Aku masih membaca."


Diam. Tidak ada jawaban atau pun sekedar gumaman kecil dari Bima. Mariana menghela nafas panjang, kecewa.

__ADS_1


"Apa kau tidak kedinginan tanpa selimut?" tanya Mariana. Entah kenapa, dia pun tidak mengerti kenapa dirinya harus peduli.


"Selama ini aku bahkan tidur tanpa alas, apalagi penutup," jawab Bima datar.


Mariana diam. Bingung harus bersikap bagaimana lagi. Sejak dia mengatakan maksud sebenarnya dia menerima hukuman pernikahannya dengan Bima, laki-laki itu menjadi sangat dingin dan acuh.


"Apa kau marah padaku?" tanya Mariana ragu-ragu.


"Kenapa aku harus marah."


"Entahlah. Tapi aku merasa kau marah...."


Belum selesai kalimat Mariana, Bima sudah melompat berdiri, melempar bantal ke samping Mariana dan bergelung masuk ke dalam selimut sembari memeluk pinggang Mariana dengan erat.


"Ap...."


Bunyi kunci di pasang pada lubangnya, Mariana merosot masuk ke dalam selimut dan bergelung di dalam dekapan Bima. Mata keduanya terpejam tepat pintu di buka perlahan.


Hening. Tidak ada suara apa pun dari siapa pun yang membuka pintu diam-diam. Dada Mariana berdegup kencang, nafasnya memburu. Bima mendekap Mariana semakin erat.


Rasanya seabad kemudian, terdengar bunyi pintu menutup dan bunyi anak kunci di putar perlahan.


"Ah... Sialan tua bangka itu!" desis Mariana pelan, sambil kepalanya menyembul dari balik selimut dan tubuhnya melepaskan diri dari rengkuhan Bima.


"Dari mana kau tahu dia datang? Aku bahkan tidak mendengar langkah kakinya." Mariana menatap Bima yang masih memandang pintu dengan tatapan serius.


"Ssst..." Bima menempelkan jari di bibir. Mariana diam, membeku.

__ADS_1


sebentar kemudian Bima menghela nafas panjang. "Kakekmu mengerikan."


"Apa sudah aman? Apa dia akan kembali?"


"Untuk sekarang aman. Dia sudah di bawah. Tapi dia akan kembali atau tidak, aku tidak dapat memastikannya. Aku tidak bisa merasakan keinginan seseorang seperti kakekmu."


Bina beranjak turun dari ranjang, melempar kembali bantalnya ke atas karpet.


"Jangan!"


Bima menoleh, tangan Mariana terulur. Bima mengangkat satu alisnya.


"Maksudku, bagaimana kalau kakek kembali. Sebaiknya, sebaiknya kau tidur di sini. Tetapi jangan berani-berani kau menyentuhku!" Mariana cepat menambahkan saat melihat Bima beranjak duduk dari posisi terlentang.


Bima berdiri. Tidak naik ke atas ranjang, tetapi berjalan mendekati pintu. Mariana memperhatikan dengan bingung. Kemudian laki-laki itu memutar kunci pintu satu kali, dan memutarnya lagi setengah putaran. Setelah itu Bima kembali ke tempatnya di atas karpet.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Mariana.


"Mengunci pintu."


"Tapi kakek punya kuncinya. Dia akan masuk lagi dengan mudah."


"Tidurlah. Dia tidak akan masuk."


"Tapi...."


"Kunci yang diputar setengah putaran tidak akan bisa di dorong menggunakan kunci lain dari luar." Bima memotong kalimat Mariana dengan cepat dan datar, lalu dia berbalik di tempatnya, memunggungi Mariana dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2