
Bima menenggak wine ke tiga yang dibukanya dengan kasar.
"Bos, kau harus mengendalikan dirimu dengan lebih baik. Bagaimana kalau kita menemukan anak dan istrimu, dan kau dalam keadaan mabuk seperti ini, Bos. Kau tidak akan bisa melawan orang-orang Sarah yang menjaga Nyonya Mariana."
Bima membanting botol wine di atas meja, meraung marah.
Marco menelan ludah dengan kasar. Dia tahu pasti jika sudah dalam keadaan hancur seperti ini, Bima tidak akan bisa dikendalikan. Amarah dalam dirinya telah menguasainya dan jika dibiarkan berkeliaran, Pria ini bisa menghancurkan seluruh kota.
"Kenapa kalian tidak pergi saja dan mencari informasi tentang Mariana!" kata Bima tidak jelas, kepalanya terkulai di atas meja.
"Mereka sudah tiba di kota ini dan sedang melakukan tugasnya memeriksa seluruh kota."
"Dan apa yang mereka dapat?"
"Mereka sedang bekerja."
"Dan apa yang kalian dapat. Bukankah sebelum menemukan Sarah kalian memeriksa sebuah rumah sakit!"
Marco tersentak di tempatnya. Dia baru ingat, dirinya memiliki sebuah foto bayi mungil untuk dia tunjukkan pada Bima.
"Bos, maafkan aku melupakan itu. Semua ini gara-gara wanita sialan itu, aku jadi melupakannya."
"Apa maksudmu?" tanya Bima, mendongak menatap Marco.
"Ak-u... punya sesuatu untuk kau lihat, Bos."
Bima menatap dingin sementara Marco mengeluarkan ponselnya dan berusaha menemukan foto yang dia ambil dua hari lalu.
"Ini, Bos."
Bima menerima ponsel di tangan Marco. Keningnya mengerut saat melihat foto bayi mungil yang seolah sedang menatap kamera itu.
"Siapa dia?"
"Putra pasangan Nyonya Kamila dan Tuan Sandy."
Bima membanting ponsel Marco di atas meja.
"Pelan-pelan, Bos!" protes Marco. Bima diam, kembali meneguk wine di tangannya.
"Kami.... tidak dapat menemui wanita bernama Kamila itu, Bos. Dia berada di ruang ICU dan dalam keadaan kritis karena perdarahan pasca persalinan."
"Lalu apa hubungannya denganku?!" kata Bima tajam.
"Apa kau tidak bisa melihat hubungannya padamu?"
Bima diam.
"Kalau begitu wine benar-benar telah melemahkan otakmu, Bos!" Marco membalas dengan tajam.
__ADS_1
"Sejak kapan wine mempengaruhiku sebodoh yang kau pikirkan!"
"Nyatanya kau menjadi begitu bodoh setelah meneguk wine itu, bos. Mungkin saja wine yang kau minum itu terbuat dari fermentasi otak patrick."
"Bintang laut tidak memiliki otak, Tolol!"
Marco nyengir. "Perhatikan baik-baik anak ini, Bos. Apakah kau tidak merasa bahwa dia mirip sekali denganmu?"
"Di dunia ini setiap orang terlahir kembar tujuh, apa kau belum tahu?"
"Tidak," jawab Marco datar.
"Kau memang bodoh!"
"Aku minta maaf harus berkali-kali mengataimu, Bos. Tapi kau telah benar-benar menjadi bodoh dan sangat bodoh!"
Bima menatap tajam Marco. Bukan Bima takut untuk menghukum Marco, tetapi meski hubungan mereka adalah bos dan tangan kanan, Marco dan Bima sudah terlalu dekat hingga Marco benar-benar mengenal Bima, bahwa untuk membangkitkan semangatnya kembali, maka pada titik-titik tertentu dia harus mengusik egonya. Sayangnya itu sangat tidak mudah di lakukan hingga membuat Marco terkadang harus berkelakuan sangat tidak sopan kepada Bima hanya untuk bisa menembus dinding tebal hatinya.
"Dengar, Bos. Anak ini sangat mirip denganmu. Dan kami tidak dapat melihat siapa ibunya. Mereka hanya mengatakan bahwa wanita itu bernama Kamila, dari identitasnya. Mereka tidak menggunakan sistem sidik jari seperti di rumah sakit sebelumnya, Bos. Mereka menggunakan kartu identitas. Apa kau masih tidak bisa melihat hubungannya?"
"Kenapa kalian tidak memakai kekuasaan Leo Atlas untuk melihat wanita itu?" tanya Bima datar.
"Kami menggunakannya. Tetapi direktur rumah sakit bersikeras dia lebih memilih kehilangan rumah sakitnya dari pada nyawa pasien. Dia sangat profesional, Bos."
Bima mendengus keras.
"Tetapi anak di dalam rahim Mariana bukan anak ku. Bagaimana bisa dia terlahir sepertiku."
Bima terdiam. Otaknya berusaha mencerna perkataan Marco tetapi dia benar-benar sedang gila dan otak cerdasnya sama sekali tidak mampu melakukan hal kecil seperti itu.
Bima menaruh botol wine yang isinya tinggal setengah, berdiri, lalu pergi ke kamarnya. Bima masuk kamar mandi, mengguyur kepalanya dengan air hangat kemudian berendam. Dia menceburkan seluruh tubuh hingga kepalanya ke dalam bath up dengan air hangat untuk menyegarkan pikirannya.
Tiga puluh menit kemudian Bima keluar kamar, tangannya sibuk mengancingkan kemeja jasnya.
"Ayo pergi lihat wanita itu."
Marco mendongak, menyeringai. "Lambat," desisnya.
Dengan wajah mendongak Bima melewati Marco dan Ronan yang tengah bermain catur di ruang utama. Lucius yang tengah membakar paru-parunya di kursi teras, ikut berdiri mendengar langkah Bima dan mengikutinya ke mobil.
Keempatnya meluncur di atas kendaraan hitam bergambar singa, mobil khas Leo Atlas sejak enam belas tahun yang lalu. Melihat kendaraan itu dari kaca spion, bahkan di di kota yang jauh dari kota kelahiran Leo Atlas ini pun, menepi. Mereka tiba di rumah sakit tempat Mariana melahirkan, tepat tiga puluh menit.
"Pasien atas nama Nyonya Kamila." Marco sudah berdiri di depan meja informasi. Wanita cantik dengan rambut di sanggul di belakang tengkuk di balik counter tersenyum, kemudian mengetikkan nama Kamila di atas keyboard.
"Maaf, Tuan." Wanita itu mendongak. "Nyonya Kamila sudah pulang tiga puluh menit yang lalu," katanya.
"Apa?!" tanya Marco kaget. "Itu tidak mungkin. Dua hari yang lalu dia masih dalam kondisi kritis."
Wanita itu mengangguk, masih mempertahankan senyumnya. "Nyonya Kamila telah sadar dalam waktu kurang dari tiga jam, dan kondisinya pulih dengan cepat. Beliau telah pulang bersama suaminya...."
__ADS_1
"Suaminya?! Tapi dia suaminya!" Bentak Marco kasar, menunjuk Bima yang berdiri satu meter darinya.
Senyum manis dari wajah wanita itu menghilang seketika saat menatap wajah datar Bima dengan sorot matanya yang tajam dan mendominasi.
"M-maaf, Pak. Soal itu kami kurang tahu. Tetapi, Nyonya Kamila pergi beberapa menit yang lalu dengan pria yang mengantarnya dan menjaganya selama beliau di sini."
Bima maju dengan langkah tenang, namun terasa sangat mengancam. Di bawah meja, tangan wanita itu bergetar dengan keringat dingin."
"Boleh saya meminta alamat pasien?" tanya Bima. Meskipun terkesan datar dan dingin, tetapi suara Bima jauh lebih tenang di banding Marco.
Wanita di balik counter menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan. Ingin menolak karena berhubungan dengan kerahasiaan pasien, tetapi pria di hadapannya terlalu mengintimidasi. Ketenangannya seperti sebuah hipnotis.
"Dia istriku, dan ini surat pernikahan kami. Namanya Mariana, bukan Kamila. Seseorang telah menculiknya dan memaksanya mengubah identitasnya yang sebenarnya." Bima menunjukkan surat keterangan pernikahan mereka, dengan foto Mariana terpampang jelas di halaman depannya. Wanita itu membelalak kaget.
"Tolong. Bantu saya menemukan istri dan anak saya."
Wanita itu mengangguk patah-patah, lalu kembali mengetik beberapa perintah pada keyboardnya. Data lengkap Mariana, atau Kamila Sari Kumala, muncul di layar.
"Bukit Cendrawasih, Kompleks Buana III/4b desa Hyacinth, Tuan."
Bima mengangguk. "Terima kasih, Nona." Hal yang baru pertama kali Bima lakukan kepada orang lain. Berterima kasih.
Dengan wajah tetap datar dan tatapan dingin menusuk, Bima berbalik dan berjalan pergi.
Marco berjalan cepat mendahului, duduk di belakang kemudi sebelum ketiga orang lainnya membuka pintu.
Kurang dari lima belas menit, mereka telah menemukan kompleks rumah Mariana. Mobil bergerak pelan, menyisiri deretan rumah-rumah kecil di sekitar sana, mencari nomor 4b.
Tepat mobil mereka melintas di depan rumah nomor 4e, mata mereka menatap dua rumah di depan, seorang wanita anggun turun dari mobil sambil menggendong bayi. Pria baya bertubuh kekar dan rambut gondrong, tergopoh-gopoh mengeluarkan koper Mariana dari dalam bagasi dan mengikuti Mariana berjalan masuk.
Marco menjejak pedal gas, tetapi Bima menahan tangannya.
"Berhenti," kata Bima.
Marco menoleh kaget, lalu menepi dan menghentikan mobil.
"Kenapa, Bos?"
"Siapa pria itu?"
"Bisa saja dia orang suruhan Sarah, Bos."
Bima menggeleng.
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Sarah berada di kota ini. Kalau pria itu orang suruhan Sarah, sementara itu Sarah tahu kita juga berada di kota ini, dia sudah akan berada di sekitar Mariana. Dia pasti bukan orang suruhan Mariana."
Marco mendengus keras. "Jadi, apa kau pikir pria itu selingkuhan istrimu, Bos?!" tanya Marco pedas.
__ADS_1
Bina kembali menggeleng. "Kita akan segera tahu."