
Ketukan di pintu membuat Marco dan Bima yang sedang menunduk di depan komputer, mendongak.
"Tuan, wanita itu bukan siapa-siapa. Dia hanya numpang duduk di sana karena lelah berjalan. Dia bilang tadi di turunkan paksa oleh sopir taksi yang dia naiki karena uangnya kurang."
"Antar di ke tempat tujuannya," kata Bima datar.
"Dia... tidak punya rumah, Tuan. Dia bilang, ayahnya telah mengusirnya dari rumah karena dia hamil."
Bima berdiri. "Suruh dia masuk," katanya.
Pengawal berbalik, menghilang di balik pintu.
Baru Marco membuka mulut untuk berbicara, pintu kembali terbuka dan Edin masuk membawa wanita muda dengan penampilan lusuh itu.
"Siapa nama kamu?"
"Jessy, Tuan." Wanita itu menjawab dengan kepala menunduk.
"Apa kau tahu ini rumahku?"
"T-tidak, Tuan. Saya minta maaf telah mengotori pagar rumah Tuan. Saya hanya...."
"Di mana kau tinggal?" Bima memotong. Wanita itu menggeleng.
"Kau bekerja?"
Sekali lagi wanita itu menggeleng.
"Masih sekolah?"
Dia mengangguk takut-takut.
"Di mana kau mengenal pria tadi?"
"D-di bar, Tuan."
"Dia memaksamu atau suka sama suka?"
Perempuan di depan Bima menggeleng, kepalanya menunduk semakin dalam.
"Siapa orang tua mu?"
Diam.
__ADS_1
"Baik. Pergilah!" kata Bima dingin, melihat perempuan itu susah sekali di ajak berkomunikasi dengan baik.
"T-tuan...." Wanita itu mendongak. Bima menatapnya datar.
"B-bolehkah saya meminjam uang untuk keperluan saya hidup? Kasihan bayi saya, Tuan."
Bima diam, menatap datar wanita di depannya.
"Saya berjanji akan mencicilnya kalau saya sudah mendapat kerja."
"Bisa apa kamu?" tanya Bima dingin.
"S-saya... saya kuliah jurusan perbankan semester akhir, Tuan. Saya bisa bekerja di kantor. Saya sudah lulus karyawan magang."
Bima menatap wanita itu cukup lama, tatapannya dingin dan menusuk.
"Baiklah. Kau bisa menjadi sekretaris ku di MBC. Selama istriku cuti, aku yang memimpin perusahaan itu Tapi stelah istriku kembali, kau harus bekerja padanya atau pindah ke divisi lain kalau istriku memiliki pilihan lain untuk menjadi sekretarisnya."
Wanita itu membelalak, matanya bulat sempurna.
"B-benarkah?" tanyanya tergagap.
"Untuk tempat tinggal, sementara kau bisa menempati apartemenku sampai kau mendapatkan gaji pertama mu. Selanjutnya kau bisa mengurus sendiri tempat tinggal mu. Dan ingat, aku ingin kau bekerja dengan profesional meski dalam keadaan hamil."
"Pergilah."
Marco melongo saat Bima memberi isyarat untuk mengurusi perjanjian kerja dan tempat tinggal untuk wanita itu.
"B-bos...."
"Lakukan," kata Bima singkat.
Marco mengangguk, mengikuti wanita itu keluar ruangan.
Satu jam kemudian....
"Bos, apa kau memiliki rencana khusus?" tanya Marco, masuk ke ruang kerja Bima tanpa mengetuk pintu.
"Kau tahu siapa dia?" tanya Bima.
Marco mengangkat bahu, menggeleng.
"Dia putri Hortensia. Perusahaan penyandang dana utama CV Sanjaya Group."
__ADS_1
"Sanjaya group...."
"Perusahaan yang membuat aku terpaksa menelantarkan Sarah dan putraku, dulu."
Marco membelalak.
"Dari mana kau tahu, Bos?"
"Gadis itu mengenakan kalung Hortensia. Sepanjang yang aku tahu, semua keluarga Hortensia wajib mengenakannya. Aku agak heran kenapa ayahnya tidak mengambilnya saat gadis itu di buang dari silsilah keluarga."
Marco mengangguk-angguk paham.
"Apa rencana mu, Bos?" tanyanya, sambil melangkah duduk di sofa.
"Nanti kau akan tahu. Kau sudah memintanya mengisi seluruh biodata kepegawaian?" tanya Bima, matanya kembali menatap layar komputer dan jari-jarinya sibuk menekan keyboard.
"Sudah, Bos. Aku akan segera menguploadnya ke dalam data kepegawaian."
Bima mengangguk sekilas, jemarinya kembali sibuk bermain di atas tuts keyboard di atas meja.
"Bagaimana perkembangan laporan yang ku minta?"
"Kau akan sangat terkejut. Karena jasa keuangan yang mereka gunakan untuk audit adalah milik ayah pria yang kau pukuli di bar." Marco menjawab tenang.
"Sudah ku duga."
"Kau sudah menduganya?"
Bima mengangguk. "Kau tahu, Marco. Laki-laki itulah yang telah menghamili istriku," jawab Bima dingin.
"Tidak bisa mendapatkan harta kekayaan keluarganya melalui Mariana, rupanya dia memutuskan harus mendapatkan keperawanannya. Baiklah." Bima berdiri, mengambil segelas air lemon dingin dari dalam lemari es dan meneguknya dalam dua kali tegukan besar. Lalu dia mengeluarkan ponselnya setelah melempar botol kosong ke dalam tempat sampah.
"Aku akan menghancurkan JKA Coorp. Kau lakukan tugasmu dengan baik!"
Marco yakin, siapa pun yang berbicara pada ujung satunya pasti sekarang bergidik ngeri.
"Baik, Tuan. Akan saya lakukan dengan baik. Apakah Tuan akan mendengar...."
"Tidak. Biar aku bekerja lebih dulu sampai mereka hilang kepercayaan pada JKA Coorp, lalu masuklah dan lakukan tugasmu sebagai chip kendali."
"Baik, Tuan. Saya akan melakukannya sesuai yang Tuan harapkan."
Sambungan terputus, Bima melempar ponselnya ke atas meja.
__ADS_1
"Kalian akan benar-benar hancur karena telah berani menyiksa istriku di masa lalu. Sekarang, lihat dan buka mata kalian, bahwa Tuhan telah menurunkan pelindung terkuat untuknya yang kebetulan sangat gemar membalas dendam!" Bima mengerikan gigi hingga berbunyi.