
Bima menekan tombol power, layar ponsel Mariana menyala. Ujung kanan ponselnya menampilkan indikator berwarna merah. Baterainya sisa 21 persen. Bima membawanya ke atas almari, menyambung dengan charger.
Rasa penasaran membuat tidur Mariana tidak nyenyak. Dia bangun pagi-pagi sekali, pergi mandi dan sudah cantik saat Bima masuk bermaksud untuk membangunkannya.
"Kau sudah bangun?" tanya Bima.
"Hari ini aku pertemuan pertama bersama para manager, sebelum acara peresmian kantor minggu depan."
"Ah, ya. Pantas kau cantik sekali. CEO baru telah siap memimpin rapat, rupanya." Bima tersenyum lebar. Mariana tersipu.
"Kau mau aku antar, atau berangkat sendiri, ibu Direktur?" tanya Bima.
"Apa aku boleh pergi sendiri? Aku rindu menyetir. Sejak kau membelikanku mobil baru ku, aku belum sempat mengendarainya sendiri sama sekali."
Bima menatap Mariana, mempertimbangkan.
"Oh, ayolah Suamiku. Istrimu ini bahkan sangat tangguh. Apa kau lupa?" tanya Mariana, cemberut.
Bima kembali tersenyum. "Baiklah. Kau boleh pergi menyetir sendiri kali ini, tapi ingatlah selalu untuk berhati-hati."
Mariana mengecup Bima sekilas. "Tentu saja," katanya senang, sambil berlari keluar kamar lalu segera menuruni tangga.
"Hei! jangan berlari di tangga, Mariana!" Bima berteriak.
Mariana mengerem kakinya, berjalan oelan menuruni tangga.
Bima mengecup puncak kepala Mariana setelah memagut bibirnya selama lima menit, saat bersiap melepas istrinya pergi. Mariana melambai senang, kakinya perlahan menginjak pedal gas mobil hingga meluncur tenang keluar pelataran rumah.
Mariana tidak pergi ke kantor, melainkan menemui Sarah.
"Halo, Sarah. Aku sudah berada di tempat yang kau tunjukkan." Mariana menelpon Sarah begitu dia mencapai tempatnya.
"Tunggu. Aku akan segera datang. Kau masuklah ke dalam mini market, parkirkan mobilmu di sana."
"Dari sana aku harus ke mana?"
"Masuklah ke dalam mini market, lalu keluarlah melalui toko pakaian di sampingnya. Kedua toko itu tembus. Aku berhenti tepat di depan toko pakaian, menggunakan mobil merah. Masuklah ke dalam mobilku saat aku sudah memberi aba-aba."
"Kenapa harus begitu?" tanya Mariana curiga.
"Bima menyuruh orang untuk membuntuti mu kemana pun kau pergi selama kau jauh darinya. Tidak mudah melarikan diri darinya dengan banyaknya orang suruhannya di seluruh kota."
Mariana berpikir sejenak, lalu mengangguk, lupa bahwa Sarah tidak dapat melihatnya. "Baiklah, Sarah. Aku mempercayaimu."
Sambungan terputus, Mariana masuk ke dalam minimarket dan memarkir mobilnya di parkiran mini market, lalu berjalan dengan tenang memasuki mini market. Seperti yang sudah dikatakan Sarah, seorang pria tinggi kurus mengenakan topi baseball mengikuti masuk, menjaga jarak di belakangnya.
Mariana nerputar-putar di dalam minimarket, membeli susu, membeli biskuit asin, berdiri lama di bagian perlengkapan bayi untuk memilih minyak wangi hingga pria yang membuntutinya bosan dan menoleh ke arah lain saat seorang anak menjatuhkan yumoukan diapers.
Secepat kilat Mariana berjalan ke area pakaian. Tepat saat itu, Sarah memberi kode dia telah siap di depan.
Mariana meraih beberapa baju yang dilewatinya, berjalan cepat ke arah kasir, menaruh keranjang belanjaannya di sana.
"Oh, maaf sebentar. Domperku tertinggal di mobil." Mariana berpura-pura kengaduk tas. Jantungnya berdegup tak karuan.
Kasir cantik itu mengangguk. Mariana berjalan cepat keluar area mini market dan langsung menuju mobil Sarah.
Tepat Mariana menaruh bokongnya di atas kursi, Sarah menginjak pedal gas dan mobil mereka meluncur pergi.
"Apa kau punya air putih? Astaga... ini membuatku gila." Mariana bernafas cepat sambil menahan dadanya.
Sarah mengulurkan botol air mineral. "Masih tersegel. Aman," katanya.
Dia tidak berbohong. Mariana memutar tutup botol air mineral, bunyi kretek keras menunjukkan botol itu seaman yang Sarah bilang. Tanpa perlu curiga Mariana menenggak seluruh isinya hingga habis.
"Sekarang ke mana kita?" tanya Mariana.
"Apa kau membawa kunci mobilmu?"
Marina menggeleng. "Kau bilang aku harus meninggalkannya."
"Di kana kau meninggalkannya?"
"Keranjang belanja."
__ADS_1
"Cerdik juga. Ku pikir kau meninggalkannya menancap di mobilmu."
Mariana menggeleng. "Kenaoa aku perlu meninggalkan kunci mobilku?" tanyanya lagi.
"Karena aku sangat mengenal Bima. Aku yakin dia telah memasang penyadap dan alat pelacak di kunci mobilmu. Itu kenapa aku juga perlu meminta ponselmu untuk mengecek pelacaknya." Sarah mengulurkan tangan.
Mariana mengerutkan kening. "Aku tidak akan menghancurkan ponselmu. Hanya menghapus aplikasi pelacaknya saja, mumpung kita belum jauh."
Mariana mengambil ponselnya, menyerahkannya pada Sarah. "Bisakah kau menepi dulu, Sarah? Aku takut melihatmu bermain ponsel sambil menyetir begitu. Itu terlalu beresiko."
Sarah tersenyum masam. "Jangan khawatir, Mariana. Aku tidak akan mematahkan kakoku sendiri selama kaki Bima masih utuh dua-duanya."
Mariana menghela nafas panjang. "Tolong jangan sakiti dia. Aku tahi ini kenyakitimu, tapi aku sangat mencintainya, sungguh."
"Aku juga. Itu kenapa kakinya sampai detik ini masih utuh di tempatnya."
Mariana cemberut.
Sarah mengembalikan ponsel Mariana.
"Sudah?"
Sarah mengangguk.
"Bagaimana aku bisa tidak tahu Bima menyisipkan sesuatu di ponselku?" tanya Mariana, membolak balik ponselnya.
"Karena dia sangat licik."
"Siapa dia sebenarnya?"
"Tunggu kita sampai."
"Ke mana kita?"
"Tempat yang paling aman dari orang-orang Bima. Tidak jauh, hanya memerapa puluh meter di depan."
Mariana mengangguk, menatap ke depan. Agak menyesal dia tidak mengamati kalan sejak tadi, sehingga tidak tahu sekarang mereka berada di mana, karena saat mengamati kanan kiri, Mariana sama sekali tidak memgenali daerahnya padahal mereka pergi belum lebih dari lima belas menit. Tentunya mereka belum sampai keluar kota.
"Desa Weling. Jangan takut, aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu, bukan."
Mariana mengangguk patah-patah.
Lima menit kemudian, mobil sarah menepi di dekat sebuah tempat makan kecil yang terbuat dari setengah bata setengah papan.
Mariana membuka pintu dan memberi isyarat kepada Mariana untuk turun.
"Ini rumah makan?"
Mariana mengangguk. "Kau akan menyukai masakannya. Jangan dilihat dari tampilan luarnya."
Dan benar juga. Setelah mereka masuk dan duduk menghadapi hidangan, Mariana tidak bisa berhenti berdecak puas. mKannya sangat lahap seolah sudah lama sekali dia hanya bisa makan mie instan dengan nasi sisa.
"Enak sekali di sini. Kenapa kau bilang Bima tidak akan pernah kemari?"
"Karena ini kawasan terlarang bagi Bima dan kelompoknya."
"Kelompok?" tanya Mariana, menaruk gelas minumnya yang kedua, yang isinya juga tinggal setengah.
Sarah menepikan piring yang telah kosong, menyisalan dua pikir camilan dan gelas minuman.
"Ya. Apa Bima tidak pernah menceritakannya padamu?"
Mariana menggeleng. "Aku tahu dia tidak seperti yang dia perlihatkan, tetapi dia belum juga mau membicarakannya padaku."
"Apa kau yakin ingin mendengarnya dariku alih-alih langsung darinya?"
"Aku perkirakan Bima tidak akan pernah menceritakannya padaku."
"Tapi kalau kau mau menunggu hingga Bima siap, kau tidak akan kehilangannya karena perjanjian kita."
"Tapi aku akan kehilangan bayiku, kan?" tanya Mariana menyelidik.
"Aku minta maaf. Tapi, ya."
__ADS_1
Mariana tersenyum. "Aku memilih kehilangannya. Bukankah cinta tak harus memiliki?"
Sarah diam sejenak, kemudian mengangguk.
"Aku tahu. Dulu aku juga berpikir seperti itu, sebelum anakku akhirnya meregang nyawa karena lapar dan kedinginan. Aku di usir dari rumah karena hamil di luar nikah, terpaksa hidup mengasing di tepi hutan karena Bima tak ingin mengakui anaknya. Sementara aku hidup tersiksa, Bima hidup dengan bergelimang harta. Hingga suatu hari setelah anak ku lahir, dia kedinginan. Menggigil, tubuhnya membiru. ASI ku tidak keluar karena aku kurang makan. Aku berjalan menyusuri hutan, hingga aku muncur di sana." Mariana menunjuk jalan setapak di tepi hutan yang mengarah masuk ke dalam hutan.
"Aku berjalan kemari, menggendong anak ku, dan meminta sedekah makan. Sayang anak ku terlalu lemah. Dia meregang nyawa dua jam setelah aku menyusuinya."
Tanpa dia sadari, air mata Sarah meleleh. Mariana mengelus lengan mariana yang tergeletak di atas meja.
"Aku membawa bayiku ke dalam hutan. Di sana, saat aku menangisinya, alu bertemu seorang wanita kuno yang kemudian mengajarkanku pada ritual untuk mengikat darah Bima agar tak bisa menikahi wanita lain. Itu kenapa aku sangat terkejut saat dia mampu melakukannya denganmu, karena sebenarnya aku telah menbuatnya tidak bisa."
"Membuatnya... maksudmu, dia...."
"Ya."
"Tapi...."
"Aku tahu. Itu kenapa aku sangat terkejut."
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Karena aku merasakannya."
Mariana menghela nafas panjang. "Setiap kali kami melakukannya?"
Sarah mengangguk.
Semburat merah muncul di wajah Mariana yang putih bersih. "Jangan salah sangka dulu. Aku tidak merasakan seperti apa yang kau rasakan. Tetapi aku tahu. Aku bisa... entah bagaimana menjelaskannya padamu," kata Sarah.
"Baiklah, baiklah. Tidak oerlu menjelaskannya. Aku sudah mengerti meski tidak bisa membayangkannya."
Sarah mengangguk.
"Lalu apa yang terjadi dengan Bima?"
"Bima dulu ketua gengster. Di kota besar ini, ada dua gengster terbesar yang menguasai perekonomian bisnis gelap dan keduanya saling perang dingin. Ketua gengster Elang putih, yang kawasannya berada di sini, jatuh cinta padaku saat melihatku. Dia kecewa saat aku memilih melakukan ritual terlaknat itu, dan memutuskan untuk menyerang gengster Singa Belang milik Bima dengan dasar aku membunuh darah dagingnya di kawasan mereka."
"Tapi kau tidak membunuhnya. Dia mati...."
Sarah mengangguk.
"Itu hanya alibi agar mereka bisa menyerang Bima. Karena mereka sedang perang dingin. Tidak ada serangan yang boleh dilakukan di kedua kubu tanpa alasan yang jelas. Dan serangan itu menewaskan ibunya. Wanita yang paling di cintainya bahkan mengalahkan dirinya. Ibunya mengorbankan diri untuk melindunginya. Itulah yang membuat Bima melepas segala kekayaannya, termasuk jubah ketia gangster yang dia sandang. Dan dia mengasingkan diri di hutan, berusaha menemukanku untuk menebus kesalahan."
Mariana menelan ludah dengan kasar meski kerongkongannya terasa sangat kering. Mariana tidak menyangka sama sekali masa lalu Bima semengerikan itu.
"J-jadi, apa yang kau rencanakan sekarang, kalau aku boleh tahu?" tanya Mariana tergagap.
"Menyingkirkan mu dan anak mu dari Bima, agar dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan dua orang yang sangat dicintainya sekaligus."
"Apa itu satu-satunya caramu membalas dendam? Maksudku, setelah aku oergi apakah kau berjanji akan membiarkannya hidup tenang?"
Sarah diam sejenak, lalu memgangguk. "Baiklah. Karena kau telah berkorban untukku, aku berjanji akan membiarkannya hidup. Dan aku akan melepas pengikat itu dari tubuhku, agar aku bisa mati dengan tenang."
"Apa maksudmu?" tanya Mariana tidak mengerti, kenapa Sarah membawa-bawa kata mati.
Sarah tersenyum. "Karena sebenarnya, ritual pengikat darah itu mematikan jantungku. Aku tidak hidup, Mariana. Itu kenapa mereka menyebutku wanita iblis. Karena aku telah mati."
Mariana melongo.
Sarah meraih tangan Mariana, menempelkannya pada dadanya di mana jantungnya seharusnya berdetak.
"Kau bisa merasakannya berdetak?"
Mariana berkonsentrasi, kemudian memggeleng. "Tidak."
"Karena tidak ada yang hidup di dalam sana."
"Ta-tapi.... tapi kamu hidup."
"Ya. Hidup yang semu dan terlaknat. Hidup yang hidup hanya untuk membalaskan dendam. Setelah kau oergid arinya, aku berjanji aku akan pergi dengan tenang untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah mengganggumu dan anak mu."
Mariana kembali menelan ludah yang semakon kemgering di tenggorokannya.
__ADS_1