Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
PENGLIHAT YANG DIBUTAKAN


__ADS_3

Bima melongo menatap Kakek Mariana. Dia tahu, laki-laki ini bisa membaca apa yang ingin dilakukan atau hendak dilakukan oleh seseorang. Tapi dia tidak mengerti dari mana pria ini tahu dirinya telah membeli rumah seharga 50 milyar. Karena Bima bahkan baru memiliki ide itu setelah melihat Mariana diperlakukan tidak adil oleh saudaranya di kantor.


Sebelumnya, Bima bermaksud membeli rumah sederhana saja, yang harganya hanya kisaran 800 juta sampai 1 milyar. Lalu dari mana pria ini tahu dirinya telah membeli rumah mewah itu untuk Mariana.


"Tidak perlu bingung. Aku yakin kau tahu aku bisa menebak keinginanmu."


Bima membeku.


"Aku tahu siapa kamu sebenarnya."


"K-kakek...."


Laki-laki itu tersenyum, mengangguk. "Sudah siap kembali ke duniamu demi cucuku? Siap melepas segala penyesalan yang bahkan tak pernah kau lakukan?"


"A-aku...."


"Cucuku telah lama diperlakukan tidak adil. Dia hanya menjadi tumbal saudara-saudaranya. Mereka menempatkan Mariana di posisi CEO hanya untuk diumpankan kepada Galang, laki-laki yang sebelumnya telah menjadi tunangannya. Keempat anakku dan keenam cucuku telah menjual Mariana kepada Galang, dengan iming-iming afiliasi perusahaan sebesar 20℅ tanpa nilai maksimal"


Bima menatap melongo. "T-tapi, Mariana punya kuasa di perusahaannya. Dia seorang CEO."


"Dia hanya seorang CEO."


"Apa maksud kakek?"


"Mariana memang CEO. Tetapi dia sama sekali tidak memegang saham."

__ADS_1


Bima diam, mencoba mencerna kata-kata kakek Mariana.


"Istrimu diberikan jabatan CEO oleh saudara-saudaranya hanya untuk dihancurkan di tangan Galang."


"Tetapi bukankah seorang CEO biasanya adalah pemilik saham mayoritas."


"Aku pemilik saham mayoritas di sana."


Bima membelalak kaget.


"Kakek?"


Kakek Mariana mengangguk.


"Kalau begitu kenapa kakek membiarkan semua ini terjadi," tuntut Bima.


"Aku... Tidak mengerti."


"Keempat putraku menuntut pembagian saham atas cucu-cucuku, karena mereka semua telah dewasa dan ikut berjuang di dalam perusahaan. Mereka ingin aku juga membagi saham ku pada semua cucuku. Tapi aku menolak. Aku mengatakan pada mereka, biar mereka semua menunjukkan potensinya lebih dulu, baru aku akan membagi saham ku. Karena aku tahu beberapa dari mereka hanyalah anak manja yang hanya bisa menghabiskan uang."


"Kalau seperti itu, bukankah seharusnya mereka memperebutkan posisi CEO untuk membuktikan kepada kakek siapa yang terbaik. Kenapa mereka justru memberikannya kepada Mariana alih-alih memperebutkannya."


Kakek Mariana tersenyum. "Ku pikir kau tidak sepolos itu," katanya.


Bima menarik nafas panjang. "Apakah... Apakah mereka menaruh Mariana di posisi tertinggi perusahaan, untuk kemudian menjatuhkannya ke lantai dasar?"

__ADS_1


"Saat ini seluruh cucuku memegang saham, kecuali Mariana."


Bima kaget, tetapi sebuah pemahaman segera terbentuk di otaknya.


"Ayah mereka memberikan saham kepada anak-anak mereka masing-masing. Meski tanpa sepengetahuanku, aku yakin kau tahu aku tidak dapat dikelabuhi."


Bima mengangguk.


Kakek Mariana berdiri. "Aku mempercayakan wasiatku di tanganmu. Kalau terjadi kematian tak wajar padaku, akuisisi perusahaanku. Kau lihat, bahwa ajalku sudah dekat, bukan."


Bima diam, lalu menggeleng.


"Hanya terhalang satu lapis. Dan jika lapisan itu pergi, maka ajalku akan tiba."


"Apakah itu saham yang kakek pegang?"


"Bukan. Mariana."


Bima terkesiap. Tanpa sadar, matanya melihat ke atas, ke arah di mana kamar Mariana berada.


"Kau tidak akan melihatnya. Mariana adalah seorang mimikri. Tetapi aku mematikan kemampuan Mariana sejak dia lahir, karena kemampuannya jauh lebih besar, dan menyedot kemampuan saudara kembarnya. Jadi aku memonopoli gennya untuk mematikan kemampuannya. Tetapi rupanya usahaku tidak dapat membunuh mimikri di dalam darahnya, meski sekarang dia tidak dapat mengendalikannya secara sadar dan juga bukan lagi seorang penglihat."


"Saudara kembar? Mariana... Kembar?"


Kakek Mariana mengangguk.

__ADS_1


"Kau tahu siapa kembarannya."


Bima mengerutkan kening. Terlintas di kepalanya, satu-satunya mimikri aura yang pernah dia temui sepanjang hidupnya adalah orang yang telah membunuh ibunya.


__ADS_2