
"Debitkan kartuku." Bima mengeluarkan kartu hitam berlogo perak dari dalam dompetnya. Tompson menggeleng cepat.
"Tidak perlu, Tuan. Showroom ini milikmu. Kau tidak membeli barang di tokomu sendiri."
Bima tersenyum hambar. "Kalau aku tidak membayar di toko ku, lama kelamaan perusahaan akan mengalami devisit." Bima berjalan ke arah kasir dan menyodorkan kartu hitam di tangannya. "Debitkan," perintahnya datar.
"Siap, Tuan." Kasir menerima kartu hitam Bima dan menggeseknya sebelum meminta Bima untuk memasukkan pin.
"Sudah terdebit, Tuan. Saldo Anda telah berkurang sebesar 2,95 milyar." Kasir kembali menyodorkan kartu Bima sembari mengangguk sopan.
"Ada potongan harga?" tanya Bima.
"Ya, Tuan. Kami memberikan diskon sebesar 5% kepada setiap pelanggan yang membayar kontan, tetapi manager meminta kali memasukkan diskon sebenar 15% untuk Anda."
"Lain kali jangan memberiku diskon. Kecuali kalau istriku yang datang membeli. Tetapi jangan pernah perlakukan dia sebagai pemilik, kalau dia datang untuk membeli." Bima menatap beberapa karyawan yang mengelilinginya, memastikan bahwa semuanya telah mengangguk paham sebelum berbalik dan melangkah pergi.
"Silahkan, Tuan. Dan ini kunci mobilnya."
Bima menerima kunci mobil dari seorang karyawan teknisi yang berdiri sambil membukakan pintu mobil untuk Bima.
"Terima kasih," jawab Bima.
Dua puluh menit berselang, Bima turun dari mobil barunya dan berjalan masuk rumah.
"Di mana Mariana?" tanya Bima, melihat Marco yang duduk bermain ponsel di ruang tamunya.
"Mungkin tertidur, Bos. Dia hanya keluar sebentar sehabis mandi tadi, lalu kembali masuk saat tidak bisa menemukanmu di mana pun. Sepertinya Nyonya Mariana agak kesal saat dia gagal menghubungi ponselmu."
Bima membelalak kaget, mengeluarkan ponsel dari sakunya yang berada dalam mode silent. Dia lupa menyalakan deringnya setelah mematikannya semalam, agar tidak mengganggu kegiatannya bersama Mariana.
Setelah mengecek ponsel dan menemukan tujuh panggilan tak terjawab, Bima segera berlari ke dalam kamar.
Bima membuka pintu dengan perlahan. Mariana sedang tidur, meringkuk memunggunginya sambil memeluk guling.
Perlahan Bima kembali menutup pintu, lalu berjalan ke dapur.
"Apa kau sudah membawakan semua yang aku perlukan, Marco?" tanya Bima dalam perjalanannya ke dapur.
"Sudah, Bos. Semua ada di dalam lemari es."
Bima membuka lemari es, mengeluarkan bahan-bahan yang dia butuhkan, mengenakan celemek dan segera memasak dengan cekatan.
Marco berdiri di pintu dapur, mengamati sambil tersenyum.
"Ada apa?" tanya Bima, saat melepas celemeknya usai memasak.
"Tidak ada apa-apa. Hanya geli melihatmu di balik celemek pink berbulu, Bos. Kau terlihat seperti kelinci rumahan."
Bima menatap galak.
"Nah, kau lebih pantas berada dalam mode galak seperti itu dari pada mode kelinci imut, Bos. Kau begitu manis setiap kali berhadapan dengan istrimu yang galak itu."
"Berani kau mengatai istriku sekali lagi, ku potong lehermu nanti!" kata Bima dingin, sambil berlalu meninggalkan Marco di pintu dapur, kembali ke kamar untuk membangunkan Mariana.
"Bima.... Dari mana saja kau?" tanya Mariana, membuka mata merasakan sentuhan lembut Bima di pipinya.
"Maafkan aku, Mariana. Aku perlu melakukan sesuatu selama beberapa jam. Apa aku membuatmu kelaparan?"
Mariana mengangguk manja. "Sedikit," katanya cemberut.
Bima menghela nafas panjang. "Baiklah. Ayo kita makan dulu. Aku sudah selesai memasak soup miso untukmu."
__ADS_1
"Tapi aku tidak ingin soup miso," rengek Mariana. Bima membelalak kaget.
"Apa telingaku yang salah, atau aku sudah agak lupa ingatan?" tanya Bima bingung.
"Tidak, tidak. Aku tadi memang mengatakan ingin soup miso, tetapi sekarang sudah tidak lagi."
"Tidak lagi?" tanya Bima kecewa. "Lalu apa yang kau ingin sekarang?"
Mariana membuka kedua tangannya, merengkuh leher Bima yang merunduk di atasnya lalu menyergapnya.
"Aku menginginkanmu," katanya berbisik, nafasnya terdengar pendek-pendek.
"Mariana, ini masih sore."
"Apakah ada larangan melakukannya?" tanya Mariana.
"T-tidak. Tentu saja tidak." Bima tersengal.
Mariana tersenyum, tubuhnya semakin menempel pada Bima.
"Kau agresif sekali. Ingat kehamilanmu, Sayang."
"Dokter bilang itu memang bawaan wanita hamil."
Bima tersenyum, merangkak naik dan menyingkap baju Mariana, laku mengecup perutnya yang masih tampak datar.
"Kita akan melakukannya. Tapi sekarang di bawah ada Marco, dan aku punya kejutan untukmu."
"Marco?" desis Mariana sebal. "Kenapa dia tidak pulang saja. Sudah sejak tadi dia berada di sini, dia bilang sedang menunggumu."
Bima tersenyum. "Aku akan menyuruhnya pulang, kalau itu yang kau mau. Tapi ayo turun dulu, aku punya kejutan kecil untukmu." Bima memaksa, menarik lembut tangan Mariana agar wanita manja mengikuti berdiri.
"Hi, Marco. Kau masih di sini?" tanya Bima, menatap Marco yang masih bermain ponsel di ruang tamunya.
"Oh, tidak. Saya sudah akan pulang, Tuan, Nyonya. Saya permisi." Marco berdiri mendadak, menatap Bima dan Mariana bergantian, lalu segera berjalan keluar.
"Ayo, aku akan menunjukkan kejutannya padamu sekarang." Bima merangkul pundak Mariana, membawanya keluar.
"Ap-mob... il siapa itu, Bima?" tanya Mariana tergagap, melihat mobil kuning kenari terparkir di depan rumahnya.
"Mobilmu."
"Apa?!"
"Ya, aku membelinya untukmu."
"T-tapi...."
"Masuklah. Lihatlah bagian dalamnya, apa kamu suka." Bima mendorong perlahan pinggang Mariana, membawanya masuk ke dalam mobil.
Mariana duduk di kursi penumpang, mengamati seluruh interior mobil dengan tatapan kagum.
"D-dari mana kau mendapatkan uang, Bima. Mobil ini pasti sangat mahal, kan."
"Dari temanku. Soal itu, jangan di pikirkan sekarang. Yang penting kau menyukainya atau tidak," bisik Bima.
"Tentu saja aku sangat menyukainya." Mariana tersenyum lebar, merangkul pundak Bima. "Terima kasih, Bima."
Bima tersenyum, mengangkat tubuh Mariana lalu menggendongnya ke rumah.
"Waktunya makan," kata Bima, membawa Mariana kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
Mariana memakan soup nya dengan lahap.
"Bima...." panggilnya, di sela menyuap soup ke dalam mulut.
"Hmm," jawab Bima.
"Apa temanmu benar-benar membelikanmu mobil mewah itu?" tanya Mariana, menatap curiga.
Bima menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku yang membelinya."
"Tapi kau bilang itu dari temanmu."
"Aku memiliki uang dari temanku."
Mariana mengerutkan kening. "Berapa temanku memberimu uang?" tanyanya.
Bima mengendikkan bahu. "Entahlah. Dia hanya memberiku kartu, dan mengatakan aku bisa menggunakannya untuk keperluanku."
"Kartu?" Mariana menatap Bima. "Kartu apa?" tanyanya bingung.
Bima membuka dompet dan mengeluarkan kartu berwarna hitam keluaran salah satu bank internasional dari dalam dompetnya.
"Central International Bank black card?!" Mariana membelalak menatap kartu tersebut. "Temanku memberikan kartu itu padamu?"
Bima mengangkat bahu, berlagak bloon. "Memangnya ini kartu apa?" tanyanya, sambil membolak-balik kartu di tangannya.
"Kartu itu hanya bisa dikeluarkan dengan limit minimum sebesar 2 juta dolar Amerika Serikat, Bima. Kau tahu apa artinya itu?" tanya Mariana.
Bima kembali mengangkat bahu, bibirnya mencebik membentuk lengkungan ke bawah.
"Itu artinya, saldo di dalam kartu itu minimal sebesar 30 milyar rupiah, kau tahu?"
Bima menggeleng. "Tidak," katanya tenang.
"Kau ini benar-benar gila! Uang sebanyak itu, apa kau sudah meminta ijin padanya saat membeli mobil mewah itu untukku?" tanya Mariana geram, makanannya terabaikan.
Bima kembali menggeleng. "Temanku bilang, aku boleh memakainya untuk apa pun, tanpa meminta ijin padanya. Kartu ini, berikut isinya adalah untukku. Dia juga telah menjanjikan kartu yang sama untukmu, saat kau sudah masuk ke perusahaan nanti," kata Bima tenang, seolah hal ini hanyalah masalah gaji lima juta rupiah per bulan.
"Apa?!"
Bima mengangguk.
"Kalau begitu temanmu lah yang gila! Aku jadi sedikit takut bekerja padanya, Bima."
Bima mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena temanmu itu gila. Mana ada orang waras yang dengan mudahnya menghambur-hamburkan uang sebanyak itu untuk orang lain."
"Aku bukan orang lain baginya," protes Bima. "Kami sudah bersama sejak kecil, Mariana."
Mariana menggeleng tegas. "Tetap saja itu gila!" katanya.
Bima kembali mengangkat bahu dengan acuh, menghabiskan soupnya, lalu berdiri.
"Ayo jalan-jalan menggunakan mobil baru mu. Bukankah kau perlu pergi ke rumah kakek untuk memberitahukan niatmu berpindah perusahaan," kata Bima, membawa mangkuknya ke tempat cuci piring dan mencucinya.
"Biarkan aku saja." Mariana menahan lengan Bima.
"Kau bersiaplah. Kita akan pergi ke rumah kakek."
Mariana tersenyum, mencium pipi Bima, lalu berlari-lari kecil keluar dapur.
__ADS_1