Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
TIDAK ADA YANG MENEMBAK


__ADS_3

Bima tidak yakin Mariana bisa mengenai dengan tepat target di atas gedung bertingkat dengan jarak yang sangat jauh dari tempat mereka berhenti, terlebih hanya dalam hitungan kurang dari satu menit. Dia membidikkan laras panjang dari balik jendela, meminta jendela di turunkan, menarik pelatuk dan menutupnya kembali dalam waktu 37 detik.


Bima menatap Mariana. Dalam hati dia ingin bertanya apakah itu berhasil, tetapi dia tidak ingin memancing tangan Mariana untuk menggeser ujung senapan ke arah kepalanya.


Satu bidikan lagi dengan waktu yang nyaris sama persis, hanya selisih dua detik lebih cepat, Mariana menyimpan kembali senapan jarak jauh ke dalam kotak besi pipih dan mengembalikannya ke atas kotak AC.


Dering ponsel Bima mengalihkan perhatian Bima. Dia menatap ponselnya, lalu menggeser tombol buka kunci.


"T.Nol. Posisi menduduki lawan."


Tepat sasaran, Mariana. Mereka menggantikan posisinya."


"Kita ke rumah kakek. Mereka sudah menunggu."


Marco mengangguk, segera membawa mobil kembali di atas jalanan beraspal, meluncur cepat ke arah rumah kakek Mariana.


"Mariana! Lama sekali, kamu?" ayah Mariana menyambut dengan tatapan tidak suka saat Mariana masuk diikuti Bima di belakangnya.


"Maaf, Ayah. Tapi aku harus menjemput Bima dulu di Bandara."


Ayah Mariana melirik Bima tidak suka. "Sedang apa dia di bandara?" tanyanya dengan nada mengejek.


"Ayah...."


"Sudah, sudah. Bukan waktunya untuk berdebat. Ayo cepat masuk, Mariana." Ibu Mariana menarik lengan suaminya, membawanya masuk.


Di dalam sana, tubuh kakek Mariana telah terbaring kaku di dalam peti mati. Mariana berjalan mendekat, menatap jasad kakeknya yang terpejam dengan sangat tenang.


Mariana memindai seluruh ruangan, yang hanya diisi sanak keluarga, karena tamu hanya diperbolehkan masuk sampai batas ruang tamu saja.


Mariana menatap satu per satu anggota keluarga yang ada di sana, membaca setiap rencana yang terbentuk di pikiran mereka. Aura-aura tamak haus kekuasaan memenuhi ruangan, membungkus wajah-wajah palsu yang tampak berduka.


Mariana tersenyum mencibir.


"Maaf, Kakek." Hanya kata itu yang mampu Mariana katakan, diantara usahanya menahan amarah yang hampir meledak di kepalanya.


Bima berjalan mendekat, menepuk pundak Mariana. "Ayo. Kendalikan dirimu. Galang di atas."


Mariana menarik nafas panjang, mengangguk, berjalan menepi memasuki lingkaran yang mengelilingi peti mati Kakek Mariana.


"Jangan gegabah, Mariana. Auramu begitu jelas terbaca. Galang pasti bisa merasakannya," bisik Bima lirih, tepat di telinga Mariana saat mereka memanjatkan doa untuk mengantar kepergian kakek.

__ADS_1


Mariana mengangguk kecil. Sebentar kemudian, kabut putih kembali menyelimuti tubuh Mariana.


Tepat setelah pemakaman...


"Aku minta maaf, harus mengumpulkan kalian semua di sini. Tidak meninggalkan rasa hormat kepada siapa pun, sebagai anggota keluarga tertua di sini, maka aku yang akan mewakili kakek untuk mengurus harta warisan ke Notaris." Paman Adam, ayah Hendra, mengangguk sopan pada semua anggota keluarga yang hadir.


Beberapa kepala mengangguk, kecuali Mariana.


"Adik, tanpa menghilangkan segala rasa hormat pada putrimu, tetapi aku pikir, cucu perempuan tidak memiliki hak waris karena apa lagi dia sudah menikah dan menjadi tanggung jawab suaminya."


Mariana tertawa masam. Dia sudah tahu pamannya akan mengatakan hal itu. Tetapi, mengikuti harapan mereka, Mariana berdiri.


"Maafkan aku, Paman. Tetapi ku pikir tidak begitu aturannya. Warisan adalah hak anak-anak kakek, tidak termasuk cucu-cucunya."


"Tidak, Mariana. Bukan begitu maksud ku."


"Jadi?" tanya Mariana dengan wajah menuntut, meski dalam hati dia ingin tertawa melihat keyakinan penuh di dalam benak mereka.


"Maksudku adalah, karena kami bertiga memiliki anak laki-laki yang akan menjadi kepala keluarga, sementara ayahmu tidak memiliki tanggungan, karena kau sudah menikah dan menjadi tanggung jawab suami mu."


"Ilmu dari mana yang kau pelajari, Paman. Kau benar-benar terlihat begitu bodoh!" pancing Mariana.


"Mariana!" ayah Mariana berdiri, memelotot galak.


"Tidak akan. Mereka hanya membaginya secara adil."


"Adil? Ha!" Mariana mencibir.


"Jadi, mau mu apa, Mariana?" Hendra mengikuti berdiri, menatap Mariana dengan tatapan tidak suka.


"Tidak ada. Karena kakek sudah menyerahkan semuanya untukku. Jadi, berhentilah bermimpi akan membagi saham kakek untuk para pecundang seperti kalian!" Mariana memelotot berani, menatap satu per satu setiap orang yang berada di dalam ruangan, termasuk ayah dan ibunya.


"Apa maksud kamu, Mariana?" Ibu Mariana mengikuti berdiri, memegang pundak ayah Mariana dengan lembut.


"Yang aku maksud adalah ini." Mariana menerima lembaran yang di sodorkan oleh Bima, membukanya dalam sekali sabetan pelan dan menyerahkannya pada Hendra.


Hendra membacanya dengan cepat, tanpa menyentuh kertas di tangan Mariana.


"Sudah aku duga."


Mariana memiringkan kepalanya, meski dia tahu apa yang ada di benak Hendra saat itu.

__ADS_1


"Kau yang terakhir menginap di sini bukan, Mariana. Kami telah mengonfirmasinya pada para asisten kakek, dan kau lah yang terakhir mengunjunginya sebelum kami datang dan mendapati dia sakit."


Mariana tersenyum mencibir.


"Rupanya kau telah memaksa kakek menandatangani penyerahan seluruh hartanya kepadamu seorang, Mariana. Kau benar-benar licik!" Nicco ikut berdiri, menuduh Mariana bahkan tanpa bukti.


"Yang jelas wasiat ini sah dan tanda tangan kakek asli, tidak di bawah tekanan. Jadi, silahkan kalian pergi dari rumah ku sekarang juga," kata Mariana angkuh, kepalanya mendongak menantang.


"Apa maksudmu?!"


Hampir semua yang berada di ruang tamu rumah kakek Mariana membelalak kaget dengan sikap Mariana yang mengusir mereka terang-terangan dari rumah kakeknya.


"Seperti yang di katakan di dalam wasiat ini, bahwa seluruh harta yang mengatas namakan kakek, dipindahtangankan padaku setelah dia meninggal. Itu berarti termasuk rumah ini, akan menjadi milikku. Jadi, silahkan kalian pergi dari sini sekarang juga."


"Kau pikir kau siapa, berani-beraninga mengusir kami seperti anjing!" Paman Mariana berteriak berang, menunjuk wajah Mariana dengan tatapan murka.


Mariana tertawa mengejek.


"Mariana. Kau jangan tidak sopan kepada paman mu." Ayah Mariana menegur dengan tatapan tegas.


"Maaf, Ayah. Tetapi mereka lah yag mengajarkan ku untuk tidak pernah bersikap sopan."


"Apa maksud mu?"


"Yang aku maksud, Paman." Mariana menoleh pamannya, tersenyum. "Adalah memerintah seorang bajingan untuk memperkosaku, bersama dengan 10 orang temannya yang lain hanya untuk mendapatkan persetujuan kontrak kerjasama."


"Apa yang kau maksud?"


"Jadi kau sudah mulai pelupa, Hendra. Kau bahkan memerintah Galang untuk menghabisiku setelah menikmati tubuhku, agar aku tak menghalangi jalanmj untuk menduduki posisi CEO di perusahaan."


"Posisi yang kau pegang hanyalah hadiah dari kakek."


"Tentu saja. Dan kakek menghadiahkanku posisi itu karena dia tahu aku yang paling mampu di antara kalian."


"Persetan!" teriak galang marah, kemudian pria itu menekan sesuatu di ponselnya dengan gerakan kasar.


Dia menunggu, tetapi tidak ada yang terjadi.


Hendra meraih ponselnya, mengetik sesuatu dan mengirimnya.


Hening. Masih tidak ada satu pun yang terjadi.

__ADS_1


"Hei bodoh! Lakukan sekarang!" teriak Hendra, menempelkan ponsel di telinganya.


"Mereka tidak akan menembak," kata Bima dengan suara yang sangat tenang dan dalam.


__ADS_2