Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
RUMAH SEWA


__ADS_3

Tatapan Mariana menurun, bahunya merosot. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Bima, tetapi Mariana bisa merasakan adanya perubahan besar pada laki-laki itu.


Selama ini Bima memang terkesan acuh dan selalu datar. Tetapi dia tidak pernah bersikap sedingin ini kepada Mariana.


"Apa dia sudah mulai jengah dengan sikapku , sehingga dia marah padaku," batin Mariana, masih menatap pintu kamar mandi yang tertutup.


Mariana lalu berbalik, berjalan menuruni tangga menuju meja makan.


"Kakek?" Mariana menatap kakeknya yang menghadapi sepiring penuh sup jagung yang masih mengepul.


Kakek Mariana mendongak. "Ada apa, Mariana?" tanyanya.


"Bukankah, bukankah kakek sudah makan dengan Bima baru saja?"


"Memangnya kenapa kalau aku sudah makan. Apa seseorang yang baru saja makan tidak boleh memakan sepiring sup jagung panas?"


"Oh, tidak. Bukan begitu maksudku."


Kakek Mariana mendengus panjang.


"Apa yang kakek bicarakan tai dengan Bima?" tanya Mariana.


"Apa suamimu tidak memberi tahu mu?" tanya kakek Ariana tenang. Mariana menggeleng.


"Kalau begitu tanyakan padanya. Komunikasi di antara suami istri itu penting. Agar tidak timbul curiga dan fitnah.


Mariana mendesah, duduk di hadapan kakeknya juga dengan semangkuk penuh sup jagung yang masih mengepul.

__ADS_1


"Kakek...."


"Hhmmm."


"Apa bima mengatakan soal rumah yang akan kami tempati?"


"Bukankah tadi kau bilang dia tidak memberitahumu apa yang kami bicarakan?" tanya kakek Mariana datar.


Mariana menghela nafas. "Baiklah. Dia mengatakan padaku, kami tidak bisa menempati rumah temannya yang rencananya akan dia pinjam sementara kami belum memiliki rumah."


Kakek mariana mengangguk-angguk, tangannya tidak berhenti menyuap sup hangat ke mulutnya.


"Lalu, apakah kakek bersedia menampung kami?"


"Ada suamimu...."


"Betul."


"Tapi dia tidak mengatakan apakah kakek mengijinkan."


Kakek Mariana menggeleng. "Tidak."


Mariana menata kaget.


"Kau punya banyak uang kalau hanya untuk sekedar menyewa apartemen kecil dengan satu kamar."


"Tapi kami tidak bisa tinggal di rumah hanya dengan satu kamar," protes Mariana.

__ADS_1


"Kenapa?" Kakek Mariana mendongak menatap Mariana heran. "Memangnya kau akan menyiapkan kamar satu lagi untuk siapa. Kau bahkan bekum memiliki anak. Atau, kalian sudah berencana mempunya seorang bayi?"


Mariana menelan supnya yang masih panas, membuat tenggorokannya seketika terbakar. Dia lupa bahwa perjanjian pra nikah itu hanya disepakati olehnya dan Bima saja. Tentu saja kakeknya akan curiga kalau sepasang suami istri tidur di kamar yang terpisah.


"T-tidak. Aku... Kami... Bekum memikirkan soal anak. Hanya saja, ku pikir satu kamar tidak akan cukup menampung barang-barang ku."


"Kalau begitu bawa seperlunya saja."


Mariana mengangguk, tidak berani membantah.


"Jadi, di mana kalian akan tinggal?"


"Kami belum tahu."


"Aku sudah menemukan apartemen murah yang cocok untuk kami tinggali." Bima menyela. Mariana mendongak, menatap ke arah pintu. Bima sudah berdiri di sana dengan rambut basah dan wajah lebih segar.


"Kemasi barang-barangmu, Mariana. Kita akan segera menempati rumah kita."


"T-tapi...."


"Kenapa? Apa kau masih ingin tinggal di sini?" tanya Bima.


Mariana melirik kakeknya yang kini menuang jul apel ke dalam gelas dengan tenang, seolah tak mendengar percakapan keduanya.


"Baiklah. Aku akan berkemas," kata Mariana, menaruh sendok dan membawa mangkuk sup yang masih sisa setengahnya ke tempat cuci piring.


Bima berbalik, berjalan ke kamarnya tanpa menunggu Mariana selesai mencuci piring.

__ADS_1


__ADS_2