
"Mmm... Bima."
Bima menatap Mariana, mengabaikan sejenak soup tofu di hadapannya.
"Aku berpikir, sebelum benar-benar menerima tawaran temanmu, bagaimana kalau kita menemui ayah dan kakek. Aku merasa mereka perlu tahu apa pun yang akan ku putuskan untuk kehidupan kita."
Bina mengangguk. "Meskipun kau sekarang sudah menjadi tanggung jawabku, ku rasa ada baiknya tetap memberi tahu mereka apa pun keputusanmu. Toh mereka masih berstatus sebagai orang tua mu, yang membesarkanmu sejak kecil." Bima mengangguk setuju.
"Terima kasih sudah mengerti aku."
Bima kembali mengangguk. "Habiskan makananmu, lalu kita akan pergi menemui mereka."
Satu jam kemudian, Mariana bercucur air mata dalam rengkuhan tangan Bima. Wajah Bima merah padam menahan amarah.
"Baiklah. Biarkan Mariana menjadi tanggung jawab saya mulai saat ini." Bima berkata dingin.
"Haha.... Memangnya kau bisa apa. Memberi makan Mariana dengan benar saja kau tidak mampu," teriak ayah Mariana, mengejek.
"Pa, sudah. Mariana sedang hamil. Jangan terlalu keras kepadanya."
"Mariana hamil?" Suara lain membuat keempatnya menoleh. Seseorang sedang berdiri di pintu, menatap curiga pada Mariana.
"Ya. Dan dia tengah mengandung bayi gelandangan tak berguna ini. Bisa kau bayangkan seperti apa keturunanku nanti terlahir, bukan. Cuih!" Ayah Mariana meludah dengan jijik.
"Anak siapa yang kau kandung, Mariana?" tanya Galang curiga, kedua alisnya bertaut menatap Mariana.
"Tentu saja anak ku dan suamiku." Mariana berdiri, menatap galak pada Galang.
Galang mencibir, tetapi tatapannya masih curiga.
"Ayo kita pulang, Bima. Aku sudah tidak tahan berada di dalam neraka jahanam ini!" Mariana menarik tangan Bima agar berdiri.
"Rumah nyaman ini kau sebut neraka? Lalu mau kau sebut sebagai apa kotak kardus yang kau tempati saat ini," Galang mencibir.
"Lebih baik aku tinggal di kotak kardus tetapi aku bersama kelinci putih yang manis dari pada tinggal di rumah mewah bersama serigala!" balas Mariana ketus. Lalu dengan kekuatan penuh dia berjalan keluar, menabrak pundak Galang yang berdiri di pintu.
"Pergilah dari sini, bawa gelandangan itu dan keturunannya, dan jangan pernah menginjakkan kaki mu lagi di rumah ini. Kau bukan anak ku lagi!" teriak ayah Mariana murka. Mariana berjalan pergi tanpa menoleh, sementara Bima menghentikan langkah tepat di tengah pintu. Kepalanya menoleh perlahan pada ayah Mariana.
"Ku harap kau tidak akan pernah menjilat ludahmu sendiri, Tuan," kata Bima dingin, lalu berjalan pergi mengikuti Mariana.
"Tinggalkan mobilmu dam semua barang yang pernah kuberikan padamu!" Kepala ayah Mariana menyambul keluar tepat Mariana membuka pintu mobil. Wajahnya terlihat merah padam.
Bina tersenyum menatap Mariana, mengangguk. Kemudian laki-laki itu merangkul pundak istrinya, membawanya keluar pagar dengan berjalan kaki.
"Jangan khawatir. Aku akan membelikanmu mobil yang lebih bagus dari itu," bisik Bima menghibur.
Mariana tersenyum hambar. "Tidak apa. Kita bisa pergi naik taksi."
"Ya. Tapi kau seorang CEO. Tidak pantas seorang CEO pergi bekerja menggunakan taksi," jawab Bima.
Mariana tertawa lirih, duduk bersandar pada bahu Bima sambil menunggu bus di halte.
"Memangnya kau pikir berapa harga sebuah mobil, heh?" tanya Mariana, tanpa nada mengejek.
"Entahlah. Lima juta, sepuluh juta. Aku mungkin bisa meminta setengah gajiku terlebih dahulu kepada temanku, untuk membeli mobil untukmu."
"Kau pikir aku mau naik mobil remote kontrol yang digerakkan menggunakan aki dan dinamo." Mariana tergelak.
Mariana melempar tubuhnya ke atas sofa di depan televisi raksasa di ruang keluarga. Rambutnya kusut dan wajahnya sedikit pucat setelah berhimpitan dengan banyak orang di dalam bus. Tetapi wanita itu sama sekali tidak mengeluh, bahkan satu rengekan kecil pun tak pernah muncul dari mulutnya.
"Kau mau berendam air hangat? Ku pikir selama ini kau tak pernah bisa melakukannya di apartemen kita yang kecil." Bima menawarkan, sembari menyodorkan susu coklat hangat ke tangan Mariana. Mariana menerima gelasnya, menenggaknya hingga tersisa setengah, lalu mengangguk.
"Ku pikir kau benar. Berendam air hangat mungkin bisa sedikit mengurangi rasa stres ku."
Bima mengangguk, tersenyum. "Akan aku siapkan," katanya.
Mariana menghabiskan sisa susu di gelas, lalu mengikuti Bima naik ke kamarnya.
"Sudah siap. Kau mandi lah, aku akan keluar sebentar mencari makanan."
"Kenapa tidak pesan lewat kurir saja?" tanya Mariana.
"Tidak apa, di dekat sana banyak penjual makanan. Kau mau apa?"
"Mmm... sebenarnya aku ingin soup miso buatanmu saja," kata Mariana, wajahnya bersemu merah.
Bima mengangkat alis, laku tertawa. "Baiklah, aku akan membeli bahannya dulu. Kau berendam lah, tetapi hati-hati. Jangan biarkan kakimu basah saat turun, aku sudah menyiapkan handuk dan keset di dekatmu."
__ADS_1
Mariana mengangguk, tersenyum lebar.
Bima melangkah keluar setelah memastikan Mariana aman di dalam bak mandi. Pria itu berlari ke ujung jalan, menemui Marco yang sudah siap dengan mobilnya sejak setengah jam lalu.
"Showroom. Cepat."
"Mau beli mobil lagi, Bos?"
"Mobil Mariana diambil ayahnya. Aku harus menggantinya."
Marco mengerutkan kening.
"Dia wanita yang luar biasa. Meski aku bisa melihatnya sangat tidak nyaman berada di dalam bus kota, tapi tak sedikit pun dia mengeluhkannya. Senyumnya terus terkembang meski gerakan badannya jelas menunjukkan dia tidak nyaman berdesakan dengan banyak orang."
"Bos...."
Bima menoleh.
"Apa kau sudah tergila-gila padanya?" seringai Marco.
Bima menatap datar. "Aku sudah jatuh cinta padanya bahkan sebelum melihat wajahnya," katanya dingin.
"Oh, pantas saja," ucap Marco, mengangkat bahu sedikit. "Apa kau sudah berhasil menakhlukkannya?"
"Tentu saja."
Marco tergelak, kakinya reflek menginjak rem.
"Hati-hati kalau menyetir, Bodoh! Jangan sampai anak ku mempunyai ayah yang cacat."
Marco menoleh kaget. "Anak mu, Bos?"
"Tentu saja."
"B-bukan... maksud ku, maaf. Bukankah itu anak...."
"Aku sudah memperbaikinya," sahut Bima dingin, memotong pertanyaan Marco.
"Apa maksudnya itu?" tanya Marco bingung.
"Mariana enggan mengandung dan membesarkan anak dari bajingan itu. Jadi... aku harus membuatnya mau membesarkan anak itu. Kau tahu, kan. Memanipulasi otaknya."
"Ya."
"T-tapi, Boss...."
Bima menggeleng keras. "Tidak akan. Mariana sudah hamil saat melakukannya denganku. Anak itu bukan darah dagingku. Mariana hanya berpikir bahwa janin itu adalah bayiku. Hanya supaya dia sanggup merawat dan mencintai anak itu saja."
"Tapi, Bos. Apa kau yakin itu tidak berbahaya?"
"Entahlah. Semoga saja tidak."
"Kau benar-benar ceroboh!" Marco menggeleng tidak percaya.
"Aku akan menyempatkan mengunjungi kakek dan menanyakannya nanti. Tapi sekarang mengemudilah lebih cepat, karena istriku sendirian di rumah. Aku tidak mau meninggalkannya terlalu lama."
Marco mengangguk mengerti, lalu menambah kecepatan dua kali lipat.
Mereka tiba di showroom dalam sepuluh menit.
"Pergilah ke supermarket dan belikan aku bahan-bahan soup miso. Lalu temui aku di rumah."
Bima masuk ke dalam showroom, sementara Marco meluncur pergi ke supermarket.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu untukmu?" tanya seorang pramuniaga berambut panjang, make up tebal dan mengenakan seragam rok mini berwarna pink bergaris putih.
"Aku Bimantara Sandiago. Katakan pada Manager mu, aku menunggunya..."
Semua telinga yang mendengar, seketika menoleh. Sementara pria di balik jas licin yang baru saja menuruni tangga, segera berlari mendekat begitu tatapan matanya menangkap wajah Bima yang berdiri di depan salah satu karyawannya yang bahkan tidak menunduk padanya.
"Tuan Bima." Pria itu muncul kurang dari tiga detik, membungkuk sopan di hadapan Bima. Beberapa mata yang melihatnya, membelalak kaget melihat sikap penguasa tertinggi di kantornya itu, membungkuk rendah pada laki-laki yang bahkan hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek tak bermerk.
"Kenapa anda datang sendiri, Tuan. Anda bisa menghubungi kami melalui telepon jika membutuhkan sesuatu," kata pria itu, masih menunduk dalam.
"Aku butuh mobil yang bisa ku bawa langsung."
Pria itu mendongak, menatap kaget.
__ADS_1
"K-kami...."
"Apa tidak ada?"
Manager setengah botak itu menoleh ke salah seorang karyawan pria dengan seragam biru laut. "Hey, kamu. Kemari."
Laki-laki muda itu segera berjalan mendekat.
"Beri salah pada Tuan Bima, Bodoh!" desis sang manager, saat anak laki-laki itu hanya berdiri sopan di depan mereka.
Anak itu bersiap membungkuk, tetapi Bima menahannya.
"Tidak perlu. Kau juga tidak perlu bersikap terlalu formal padaku, Tuan Tompson. Aku berada di sini untuk membeli mobil."
"Tapi, Tuan...."
Bima menggeleng. "Tunjukkan padaku mobil yang siap aku bawa pulang sekarang juga." Bima berbicara pada karyawan dengan seragam biru laut yang baru di panggil.
Pria itu mengangguk, membungkuk sopan sedikit, lalu berjalan pergi diikuti Bima.
"Audy A8L, Audy RS5, dan Audy RS7. Mereka siap dikendarai, kami hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mempersiapkannya, Tuan," kata pria itu sopan.
"Aku mau yang ini." Bima menunjuk satu mobil berwarna kuning, yang menurutnya akan sangat cocok dikendarai Mariana yang lincah.
"Audy A8L ini dila...."
Bima mengangkat tangan. "Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku tidak mengerti soal otomotif. Aku hanya membelikan istriku mobil." Bima memotong.
Karyawan itu diam seketika, lalu mengangguk dan tersenyum sopan.
"Tuan Bima, mari menunggu di ruangan saya, sementara teknisi kami menyiapkan mobil Anda." Manager menunduk sopan di hadapan Bima. Bima mengangguk, lalu mengikuti sang manager berjalan ke ruangannya.
"Tuan, apa yang terjadi. Kenapa Anda tiba-tiba muncul kembali?" tanya manager setelah menutup pintu dan memastikan tidak ada karyawan yang mengikuti.
Bima duduk di sofa hitam, menyandarkan tubuhnya dengan santai.
"Aku menikah."
"Ya, saya mendengarnya. Tapi, bagaimana...."
"Kami melakukannya."
Manager botak itu menelan ludah dengan kasar, menatap kaget pada Bima. "T-tuan. Apakah... apakah kakek tahu?"
"Belum. Aku akan berbicara padanya nanti."
"Apakah itu artinya kutukan itu akan...."
"Soal ini aku bekum tahu. Istriku hamil, tapi tidak denganku. Kau mendengar awal mula pernikahan kami?"
"Ya, saya mendengar. Tapi tidak yakin."
"Aku menolongnya usai dia di perkosa, tapi tetua mengira kami melakukannya. Karena itulah mereka menikahkan kami dan mengusirku keluar dari desa. Tapi kami tidak pernah melakukan apa pun selama ini, sampai dia tahu dirinya hamil."
"Tuan, dia sudah hamil dengan laki-laki lain, laku kenapa Anda melakukannya?"
"Karena dia membenci anaknya."
Manager mengerutkan kening.
"Tapi aku mencintainya, dan aku mencintai anak itu. Aku ingin membuatnya menjadi anak ku. Dia berjanji akan menerima anak itu, kalau dia adalah anak ku."
"S-saya tidak mengerti, Tuan."
"Aku hanya memanipulasi pikirannya. Anak itu tetap bukan anak ku, tapi aku mengelabuhi pikirannya seolah janin itu bisa berubah menjadi anak ku kalau aku menanam benih di sana."
Manager paruh baya itu menggeleng tidak percaya. "Itu sedikit konyol, bukan," katanya.
"Ya. Itu sangat konyol. Tapi itulah yang terjadi. Dan itulah kenapa aku melakukannya, tanpa peduli pada apa yang akan terjadi nanti."
Manager kembali menelan ludah, tapi mengangguk memahami.
"Apa wanita itu belum muncul?" tanyanya.
"Sejauh ini belum," jawab Bima masih sangat tenang.
"Mungkin dia tidak akan pernah muncul."
__ADS_1
"Ku harap begitu, Tompson."