
Marco berbalik di tikungan dengan tanda di larang putar balik. Untung saja kota ini tergolong kota kecil dengan tingkat ketertiban lalu lintas rendah karena jalanan masih sangat lengang, jadi kelakuan gila Marco tidak sampai membunyikan klakson pengemudi lain.
"Dia berbelok di sana!" Lucius menunjuk.
Bima menjejak rem lebih dalam, mengejar.
"Masuk ke rumah sakit itu. Mutiara Hati."
Bima mengikuti masuk.
"Hubungi Bos."
"Tuan! Kami menemukan Nona Sarah."
"Di mana dia?!" teriak Bima, membuat Marco mengernyit karena bisa mendengar suara Bima dari ponsel di telinga Lucius.
"Masuk ke Rumah Sakit Mutiara Hati."
"Awasi dia. Marco, jemput aku."
Lucius turun tanpa di perintah. Marco mundur dengan kecepatan penuh, meluncur keluar dan segera kembali ke jalan raya. Kecepatannya hampir secepat kilatan cahaya.
Sementara itu Lucius memperhatikan Sarah yang turun dari mobil dan berjalan tenang sendirian memasuki rumah sakit.
"Di mana Nyonya Mariana," batin Lucius penasaran. "Apa mungkin sudah di dalam sana."
Lucius berjalan jauh dari Sarah, hanya mengikuti auranya yang bergerak ke lantai lima rumah sakit. Wanita itu berbelok ke kiri setelah keluar dari lift, menuju kantin.
Dua puluh menit mengawasi, Sarah tampak tenang di dalam sana. Wanita itu memesan makanan, lalu makan dengan tenang.
Ponsel Lucius bergetar, Lucius menolak panggilan Bima.
Lantai lima sisi kiri lift, kantin. Dia masih makan. Lucius mengirim pesan alih-alih menjawab telepon Bima.
"Dia makan?" tanya Bima, tidak pada siapapun. Matanya menatap pesan Lucius.
"Mungkin Nyonya Sarah berada di dalam sana, Tuan. Sebaiknya kita mengikutinya diam-diam hingga berhasil menemukan Nyonya." Ronan berbicara dari kursi belakang.
"Ya. Aku akan naik menemani Lucius, kalian tunggu di sini."
"Bos...."
Bima menoleh. "Tidakkah Sarah akan mengenali auramu?"
Bima terdiam sejenak. Lalu dia memejamkan mata, berkonsentrasi penuh.
Sepuluh menit berlalu, Bina membuka mata, lalu mengetik sesuatu pada ponselnya.
Baca auraku. Apa kau masih bisa mengenaliku? Lucius membaca pesan Bima. Dia menoleh ke arah jendela besar, mengintip ke parkiran di mana Bima dan yang lain memarkir mobil. Dia hanya bisa mengenali Marco dan Ronan, sementara aura Bima terasa berbeda, bukan Bima yang biasanya dingin dan angkuh. Auranya terasa hangat dan tenang.
Tidak, Bos. Lucius mengetik pesan balasan.
Bima tersenyum, lalu turun.
Naik ke lantai lima, Bima bisa melihat Sarah berjalan melewati lift tepat sebelum pintunya terbuka. Bima menunggu langkah kaki sarah menjauh sebelum berjalan keluar.
__ADS_1
Alih-alih mengikuti Sarah, Bima berjalan ke arah kantin menemui Lucius.
"Bagaimana Tuan melakukannya?" tanya Lucius, begitu Bima duduk di depannya.
"Aku memiliki gennya di tubuhnya, yang selama ini tidak pernah aktif. Aku tahu, karena ibuku juga memilikinya."
Lucius mengangguk. "Sangat langka."
Giliran Bima yang mengangguk.
"Kenapa dia duduk di depan ruang operasi?"
"Mungkin Nyonya Mariana di dalam sana, Tuan."
"Apa kau bisa meraba auranya?"
Lucius menggeleng.
"Aku juga tidak. Tetapi aura Mariana memang diselimuti kabut. Mungkin dalam kondisi seperti ini, kabut terlalu tebal untuk kita tembus."
"Seperti itu juga yang saya pikirkan sejak tadi, Tuan."
Bima kembali mengangguk.
Tiga jam mereka menunggu, tanpa hasil apa pun. Sarah masih duduk dengan tenang di depan ruang operasi, tidak bergerak sama sekali. Dia hanya memainkan ponselnya seolah sedang menunggu sesuatu.
Dua jam kemudian, Seorang dokter yang mengenakan baju serba hijau keluar dan memanggil Sarah. Sarah berdiri, berjalan mengikuti dokter.
Lima belas menit menunggu, Sarah keluar dari ruangan dokter lalu berjalan ke arah lift. Lift bergerak turun.
"Ke mana dia?"
"Maaf, Dokter." Bima menyapa. Pria itu menoleh.
"Pasien di dalam, kalau saya boleh tahu atas nama siapa?"
Dokter muda itu mengerutkan kening, menatap Bima sesaat sebelum menoleh ke belakang ke arah ruang operasi.
"Di dalam?" tanya laki-laki itu.
"Ya. Siapa yang baru menjalani operasi?"
Dokter itu kembali menatap bingung. "Tidak ada," katanya.
"Tidak ada?!" Bima bertanya kaget.
Dokter menggeleng.
"Lalu siapa yang wanita itu tunggu sejak enam jam yang lalu?!" tanya Bima, mulai tersulut.
"Ooh, Sarah maksud Tuan?" tanya dokter, setelah menatap Bingung pada Bima selama beberapa detik. Bima mengangguk.
"Dia menunggu saya. Saya tadi masih di ruang rawat jalan, kemudian dari sana langsung ke ruang operasi untuk memberikan pelatihan kepada dokter-dokter muda. Ini ruang operasi mahasiswa praktik, bukan ruang operasi rumah sakit, Tuan."
Bima membelalak kaget, tepat dering ponsel Bima terdengar.
__ADS_1
"Ya."
"Dia keluar membawa mobilnya, Bos."
Tanpa mengucapkan apa pun, Bima mematikan ponsel, mengantonginya sambil berlari menuju tangga diikuti Lucius. Keduanya berlari cepat menuruni tangga.
Marco telah menunggu mereka di depan pintu keluar saat keduanya muncul.
Begitu pantat keduanya menyentuh jok, Marco menginjak gas dan mobil melaju keluar area rumah sakit.
"Ke mana dia?" desis Marco, menatap sela-sela kendaraan yang mengantri di lampu merah.
Bima memindai hingga lima puluh meter ke depan, mengamati sisa-sisa aura Sarah.
"Belok Kiri!" perintahnya, saat matanya menangkap sekelebat sisa aura Sarah yang baru saja menghilang.
"Jangan!" Lucius menahan tangan Marco. "Tidak, Bos. Dia tahu kita mengejarnya."
Bima menatap Lucius.
"Dia sengaja meninggalkan jejak pekat. Sarah tidak hidup, auranya begitu tipis. Dia sengaja melewati jalan ini berkali-kali untuk meninggalkan jejak pekat. Gerakannya melingkar di sana." Lucius menunjuk bundaran taman di ujung depan jalan yang mereka lalui.
Bima menggeram marah. "Kembali ke rumah sakit. Dia sengaja mengalihkan kita dari sana, untuk membawa Mariana pergi dari tempat itu!"
Marco membelok tajam memutar kendaraannya kembali menuju ke rumah sakit. Tiba di sana, tidak menunggu mobil berhenti, dia melompat turun dan menerjang masuk ke dalam rumah sakit. Setiap kamar rawat dimasuki. Bima dengan kalap mengecek satu per satu pasien yang terbaring di atas tempat tidur.
"Maaf, Tuan. Kalau boleh tahu, siapa yang Anda cari?" seorang pria berwajah semi bule mengenakan jas rapi mendekati Bima.
"Aku mencari istriku. Seseorang menculiknya dan dia hamil, mungkin saat ini sudah melahirkan. Aku yakin istriku ada di rumah sakit ini."
"Siapa nama istri Tuan? Saya akan meminta staf kami mencarikannya untuk Tuan." tanya Pria itu tenang, meski tatapan Bima sudah bagaikan belati es yang siap merobek.
"Seseorang menyembunyikannya dariku!"
Pria itu mengerutkan kening. "Maaf, Tuan. Saya yang berkuasa di sini. Mungkin seseorang bisa menyembunyikannya dari Tuan, tetapi tidak dari saya. Boleh saya tahu identitas dan foto istri Anda?"
Perlahan tatapan Bima melunak. Dia mengeluarkan copy identitas Mariana dan berikut menunjukkan fotonya pada direktur muda di depannya.
Direktur itu menerimanya, membawanya kepada salah satu stafnya untuk mencari data-data yang di maksud.
"Maaf, Tuan. Kami tidak menemukan identitas istri Anda di tempat kami." Pria itu kembali dalam waktu sepuluh menit.
"Seseorang mungkin telah mengganti identitasnya untuk menyembunyikannya dariku."
Pria itu menggeleng, tersenyum. "Sistem pendaftaran kami menggunakan sidik jari, Tuan. Seseorang tidak akan menggunakan identitas palsu kecuali dia telah merubah data dirinya di kantor kependudukan."
Bima mengebor mata direktur yang tetap tenang di hadapannya itu untuk beberapa saat, sebelum berbalik dan berjalan pergi. Marco dan yang lain segera mengikuti.
"Sial! Di mana wanita iblis itu menyembunyikan Mariana!" Bima memukul cap mobil dengan keras.
"Kita pasti mendapatkannya, Bos."
Bima mendengus keras. "Perintahkan seluruh pasukan 27 kemari dan lakukan penyisiran di seluruh rumah sakit dan seluruh kota!"
"Baik, Bos." Marco menjawab di balik kemudi.
__ADS_1