Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
HASIL TES


__ADS_3

"Apa maksudmu mengajukan surat pengunduran diri ini, Nona Yumi? Apa kau lupa berapa nilai yang harus kau tanggung untuk pemutusan kontrak kerja sepihak?" Tanya Hendra galak, menggebrak mejanya dengan kasar.


"Tidak, Tuan. Saya tidak lupa sama sekali. Tetapi, saya benar-benar meminta maaf harus tetap keluar dari perusahaan Anda."


"Apa alasanmu?!" tanya Hendra menatap galak Yumi yang balas menatapnya dengan tenang.


"Bekerja di bawah Anda, jujur saja saya tidak seproduktif bekerja di bawah Nona Mariana, Tuan. Saya merasa ilmu saya tidak terpakai dan saya tidak dihargai. Terlalu banyak rahasia yang Anda sembunyikan dari saya," jelas Yumi berani.


"Sial! Beraninya kau...!" Hendra menuding Yumi tepat seorang pria masuk tanpa mengetuk pintu.


"Siapa kau? Beraninya kau masuk ke kantorku tanpa mengetuk pintu. Kau pikir tempat ini toilet!" teriak Hendra semakin marah saat melihat seorang pria berjalan mendekat ke mejanya.


"Saya hanya ingin mengantar uang kompensasi Nona Yumi. Silahkan di hitung, kami telah menyiapkan sedikit pelicin untuk percepatan prosesnya."


Hendra menatap bungkusan kertas coklat tebal dengan logo salah satu bank yang teronggok di atas mejanya, matanya berbinar rakus.


"Aku tidak perlu pelicin untuk itu! Aku akan menandatanganinya sekarang juga karena dia memang sudah tidak layak bekerja di sini. Dia memang tidak produktif!" Hendra menggeram rendah, menandatangani dengan kasar kertas berkas pengajuan pengunduran diri Yumi tanpa membacanya.


"Anda tidak ingin menghitung...."


"Tidak!" Hendra memotong kasar. "Cepat kalian keluar dari sini, karena aku sudah muak melihat wajahnya berada di ruangan ku."


"Tapi, Tuan. Apakah Anda juga tidak ingin me...."


"Pergi kataku!" Hendra menghardik dengan menggebrak meja.


Yumi mengambil berkas pengajuan dirinya yang sudah di tandatangani Hendra, senyum tertahan menghiasi sudut bibirnya. "Terima kasih, Tuan," katanya, kemudian berbalik pergi.


Yumi mengemasi barang-barang pribadinya dari meja sekretaris di depan ruangan Hendra, lalu berjalan keluar. Dia berbelok sebentar ke ruang HRD untuk menyerahkan salinan berkas pengunduran dirinya, lalu berjalan pulang dengan langkah tenang meski beberapa mata menatapnya heran.


"Yumi...." Seseorang menyapanya saat Yumi memasuki lift.


"Hi, Irish."


"Kau mau ke mana?" tanya wanita itu, matanya melirik barang bawaan Yumi yang mencapai dua tas penuh.


"Pindah."


"Pindah? Kau di pindah tugaskan?" tanya wanita itu penasaran.


Yumi tersenyum tenang.


"Ke mana?"


"Mau tukar?" tanya Yumi menggoda.


"Nggak, ah. Pingin tahu aja."


Ting! Lift berbunyi, pintu terbuka di lantai satu.


"Ke Perusahaan MBC." jawab Yumi sambil melangkah keluar. "Aku pergi dulu ya, Irish." Yumi melambai sementara Irish masih melongo di depan pintu lift.


Bima tersenyum hambar saat membuka pesan dari Yumi di ponselnya. "Yumi sudah pergi. Urus sisanya," katanya pada Marco, tanpa menatap pria itu.


"Bagaimana dengan Amanda?"


"Taruh sebagai direktur baru JkA dan gadis Hortensia itu sebagai Manager Umum."


"Namanya Jessy, Bos."

__ADS_1


"Terserah," jawab Bima dingin. Marco mendengus keras.


"Bagaimana dengan Galang?"


"Biarkan dia menjadi gelandangan tak terurus. Awasi dia agar tak satu orang pun membantunya."


"Baik, Bos."


"Bagaimana sisanya?"


"Kedua orang tua dan seluruh kastanya pergi meninggalkan kota. Mereka meninggalkan Galang karena dianggap sebagai biang kehancuran mereka."


Bima mengangguk sekali.


"Hubungi Tompson. Lihat apakah umpannya bisa mendapat tangkapan besar setelah kehancuran JkA.


Marco meraih ponsel di meja di depannya, tanpa menjawab perintah Bima.


"Ya, Tompson. Bagaimana perkembangan urusanmu?"


"Ikan masuk ke dalam jaring. Sasmita Group baru saja menelepon untuk memastikan penawaran kita untuk menjadi badan audit perusahaannya masih berlaku," jawab Tompson, terdengar melalui pengeras suara yang sengaja Marco nyalakan.


"Terima kerjasamanya dan lakukan tugasmu." Bima menyela.


"Baik, Tuan. Kami akan menandatangani kontrak dalam dua hari mendatang."


Bima mengangguk.


Marco memutus sambungan telepon setelah membahas beberapa rencana kecil bersama Tompson.


"Bos. Bagaimana dengan Sanjaya Group?"


"Perusahaan itu terlalu kuat."


Bima menggeleng. "Tidak. Kita hanya gagal membaca kelemahannya karena tidak tahu siapa seseorang yang mengendalikannya. Sama seperti FMCG dan Four Trainer Group. Mereka tidak bisa menghancurkannya karena tidak tahu bahwa aku yang berada di balik semuanya."


Marco mengangguk paham.


"Tetapi paper bisnis dapat membaca kekacauan dunia bisnis yang sedang kau buat, Bos. Satu minggu ini, mereka mengamati dengan baik perusahaan-perusahaan yang hancur dan yang mengambil alih."


"Biarkan saja. Itu tidak akan menghentikan jalan kita menghancurkan mereka. Biar dunia tahu sekalian kepada siapa mereka harus membungkuk."


"Leo Atlas." Marco mencibir.


Bima tersenyum sinis. "Mereka bahkan bergidik saat baru mendengar namanya, padahal tidak pernah tahu wujud Leo Atlas."


"Ketakutan pada ketidak tahuan itu sendiri memang bisa menimbulkan perasaan mencekam yang jauh lebih buruk. Kau benar, Bos."


"Itulah yang aku maksud. Teror atas sesuatu yang tidak mereka ketahui wujudnya jauh lebih mengerikan dari pada sesuatu yang berwujud nyata, karena akan lebih mudah dicari kelemahannya."


Marco kembali mengangguk setuju.


"Untuk sementara, Marco. Kau bisa duduk di kursi direktur sebagai wakil. Sebenrnya aku ingin menaruh Jessy sebagai pengganti Mariana, tetapi...."


"Bos, maaf menyela mu. Tapi aku punya berita tentang Nyonya Mariana."


"Tidak perlu membahasnya."


"Maaf, Bos. Tapi kau harus mendengar ku."

__ADS_1


"Di sini aku atau kau yang jadi bos? Kenapa kau yang lebih sering mengatur dan memerintah ku?" tanya Bima dingin.


Marco mencibir. "Maaf, Bos. Karena terkadang otakku jauh lebih sehat darimu."


Bima mendengus keras. "Baiklah. Katakan, tapi cepat. Jangan berbelit-belit."


"Lihat sendiri saja, Bos. Aku telah mengirimnya ke ponselmu."


Bima mengerutkan kening, membuka pesan file yang di kirim oleh Marco.


"Apa ini?"


"Kau harus melihatnya sendiri, Bos."


Bima membuka file, terpampang jelas di sana tulisan pada judul file tepat di bawah kop sebuah rumah sakit, berbunyi Hasil DNA Tes.


"Milik siapa ini?"


"Apa kau sudah lupa cara membaca, Bos?" tanya Marco malas.


Bima kembali mendengus keras, lalu mulai membaca. di sama terdapat hasil 99,9% identik. Hasil tes DNA terhadap ayah, Bimantara Sandiago, dan anak, by. Ny. Kamila.


"Bayi Nyonya Kamila?"


"Nyonya Mariana menggunakan identitas Kamila."


"Kenapa padaku?"


"Astaga, Bos. Apa aku masih harus menjelaskannya?" tanya Marco kesal.


"Tunggu. Kapan kalian melakukan tesnya?"


"Apa kau tidak ingat saat seorang petugas kebersihan menabrak mu dan membuat tanganmu terluka waktu kita mengejar Nyonya ke rumah sakit, Bos?" tanya Marco. Bima memutar kembali ingatannya dan ya, dia ingat waktu keluar dari rumah sakit dia menabrak petugas kebersihan, tangannya tergores kaleng pel cukup dalam sehingga harus meminta perban, dan saat itu seorang perawat membersihkan lukanya.


"Kau mencuri darahku?" tanya Bima sengit.


"Terpaksa."


"Untuk apa kau melakukannya?"


"Bos! Bisakah kau lebih pintar sedikit dariku biar aku tak pelu menggantikan mu sebagai Leo Atlas!" teriak Marco habis kesabaran. "Aku melakukannya, tentu saja untuk hasil yang saat ini kau pegang!" Raung Marco frustasi.


Bima kembali menunduk, menatap file di dalam ponselnya.


"Jadi, apa maksudmu bayi itu anak ku?"


"Ya!" geram Marco.


"Lalu kemana bayi Mariana dengan bajingan itu?"


"Hanya nyonya yang bisa menjawabnya, Bos! Bisa saja saat itu dia tidak hamil, lalu kalian melakukannya dan istrimu menjadi hamil, bukan. Oh demi kerang pemuja kenapa bos ku menjadi sebodoh ini setelah menikah. Apakah ini kutukan!" Marco mengertakkan gigi dengan geram.


"Marco, kita harus memastikannya sekarang. Ayo. Siapkan pesawat pribadiku untuk menemui Mariana. Ini sudah satu minggu sejak kita meninggalkannya, jangan sampai Sarah membawanya pergi." Bima beranjak berdiri, menyambar apa pun yang ada di atas meja dan bersiap keluar.


"Tidak perlu," jawab Marco datar. Bima mengerem langkahnya tepat tangannya teracung untuk meraih handle pintu.


"Apanya yang tidak perlu?" tanyanya bingung, menatap Marco.


"Nyonya Mariana sudah tidak berada di kota itu."

__ADS_1


Bima memelotot kaget.


__ADS_2