
"Kau tadi mau bilang dia apa, Ara?" tanya Mariana begitu Ara menaruh kembali ponselnya.
"Eh, dia... Siapa?" tanya Ara. Setengah kesadarannya masih berada di seberang, fokus pada pesan si penelpon.
"Kau tadi bilang, suamiku... apa?"
"Oh, eh, ya. Maksudku... Bukankah kalian tinggal di...."
"Ya. Kami tinggal di apartemen yang ia sewa. Dan itu menguras seluruh tabungannya selama puluhan tahun, padahal dia hanya menyewa apartemen Kecil dengan satu kamar." Mariana menyelamatkan Ara dari kewajiban menyelesaikan kalimatnya.
Ara bernafas lega. "Tidak apa-apa, Mariana. Setidaknya dia sudah bertanggung jawab memberimu tempat tinggal, kan."
"Ya, begitulah. Tetapi... Ku pikir seharusnya dia tidak perlu memaksakan diri. Meskipun pernikahan kami hanya sebatas di atas kertas, tapi aku sama sekali tidak keberatan berbagi uangku dengannya. Aku tahu dia tidak punya, tetapi aku tidak pernah merasa harus mempermasalahkan hal itu," jelas Mariana.
"Mariana... Kau benar-benar wanita yang sangat luar biasa. Bagaimana bisa kau tumbuh begitu berbeda dari semua saudaramu."
Mariana mengangkat bahu dengan acuh.
Sementara di tempat lain....
Bima tersenyum menatap rekaman video call yang terus aktif, menunjukkan aktifitas dan percakapan kedua sahabat perempuan itu.
"Hatimu begitu murni, Mariana. Sayang kau memiliki saudara-saudara seperti telur busuk," gumam Bima. Pria itu mengambil ponsel di sakunya, mencoba menghubungi seseorang.
"..." Pria di seberang menjawab, tetapi tidak berbicara.
"Cari tahu apa yang terjadi dengan aliran dana pada perusahaan Medali Corporindo dan seluruh cabangnya, juga data rekening atas nama Mariana Hadi Subagja."
__ADS_1
"Hm." Pria di balik sambungan telepon Bima menjawab singkat.
Bima mengangguk. Meski lawan bicaranya tak merespon dengan baik, tetapi dia yakin pria itu sudah mengerti apa yang dia minta.
Bima memutus sambungan telepon, begitupun laki-laki yang duduk di belakang Mariana. Pria itu menarik earphone dari telinganya, memutuskan sambungan videocall pada ponsel yang mengintip di sakunya, kemudian beranjak pergi.
sepeninggal pria berperawakan kecil itu, datang pria lain bertubuh kekar, duduk di tempat yang baru saja dikosongi.
Mariana melirik canggung. Masih banyak bangku kosong di tempat ini, tetapi kenapa pria ini memilih duduk di meja kotor yang bahkan masih menyisakan cangkir kosong, batin Mariana.
"Ara, bisakah kita pergi sekarang?" bisiknya pada sahabatnya.
"Ada apa?" tanya Ara bingung.
Mariana membungkuk, mendorong tubuhnya lebih dekat ke arah Ara.
"Apa kau tidak merasa aneh?"
"Ya. Bukankah tempat ini cukup luas dan masih banyak meja kosong?"
Ara mengerutkan kening, menatap sekitar. Benar juga. Matanya menangkap banyak meja-meja kosong dan bersih.
"Sepertinya tempat ini menjadi kurang populer sekarang. Mungkin kalah dengan para pendatang baru," katanya tenang.
"Aduuuh... Bukan itu," bisik Mariana gemas.
Ara kembali menatapnya bingung.
__ADS_1
"Jangan langsung menoleh."
"Apa...?"
"Ssst! Aku beri tahu, tapi tahan kepalamu dan jangn melihat pada apa yang ku beri tahukan," bisik Mariana tegang.
Mariana menatap bingung, tetapi tak ayal dia mengangguk juga.
"Perasaanku tidak enak," bisik Mariana lagi, sembari mengendikkan kepala kepada pria yang duduk di dekat mereka.
"Bagaimana maksudnya?"
"Kau lihat pria di belakang kita?"
Baru saja Ara mau menoleh, Mariana menginjak kaki Mariana di bawah meja. "Sudah ku bilang jangan menoleh!" bisik Mariana mengertakkan gigi.
"Ooh ya, ya. Aku mengerti. Maaf." Ara mengangguk cepat, menatap Mariana penuh permintaan maaf. Lalu Ara menyenggol tasnya dari atas meja hingga jatuh.
"Aduh," katanya sedikit terlalu keras dari yang seharusnya. Wanita itu kemudian membungkuk, mengambilnya, sembari matanya melirik cepat ke arah yang di tunjuk Mariana.
"Memangnya dia kenapa?" tanya Ara balas berbisik, setelah menaruh kembali tasnya di atas meja.
"Kau lihat. Masih banyak meja kosong dan bersih di sini, tapi kenapa dia memilih duduk di sana, di meja yang masih kotor dan bahkan masih ada sisa cangkir yang belum dibereskan oleh waiters. Aku curiga dia sengaja memilih tempat duduk di dekat kita."
Ara menelan ludah, matanya membulat dengan pemahaman.
"Baiklah. Ayo kita pergi."
__ADS_1
Mariana mengangguk. Keduanya berdiri, menyelipkan dua lembar uang di bawah cangkir kopi, lalu berjalan beriringan keluar restoran.
Laki-laki yang baru saja duduk di dekat mereka menatap tajam keduanya, sebelum mengikuti berdiri dan berjalan keluar, tanpa memesan apa pun. Tatapannya tidak terlepas dari keduanya, saat dia berjalan mengikuti dari jarak sepuluh meter di belakang.