Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
BAYI LAKI-LAKI SARAH


__ADS_3

Mariana mengusap wajahnya yang terasa lelah terlalu tegang mengikuti seluruh informasi yang baru saja diterimanya.


"Sudah hampir empat jam, masih sangat jauh dari tujuan utama cerita ini. Apa kau yakin ingin terus mendengarnya, Mariana?" tanya Kakek Bima.


Mariana menarik nafas panjang, mengangguk.


"Tetapi aku sangat lapar. Ini sudah lewat waktu makan siang. Nanti lambungku marah."


"Aah, Kakek...." Mariana mengeluh.


"Tompson, bisakah kau membelikan kita semua makanan, sementara kami melanjutkan kisah ini? Perutku benar-benar meronta minta di isi."


Tompson berdiri. "Baik, Tuan besar. Itu tidak masalah," katanya lalu beranjak keluar.


"Baiklah, Nyonya Sandiago. Apa yang kau ingin tahu selanjutnya?" tanya Kakek Bima, menyandarkan diri di kursinya.


"Bagaimana Bima bisa kehilangan semuanya, atau seperti yang sarah Bilang, dia melepas semua kemewahan yang dimilikinya."


"Sebelum itu, kau harus tahu bahwa Bima harus melalui hari-hari yang sangat menyedihkan. Dia menarik diri dari semua orang, mengurung dirinya dari semua keramaian yang selama ini dia miliki. Aku sudah berusaha menolongnya, tetapi tidak bisa. Dua tahun dia hidup dalam keterpurukan, terlebih ayahnya meninggalkan dia dan ibunya begitu saja setelah menghinanya habis-habisan di depan teman-temannya."


"Bagaimana ayahnya tahu dia bukan putranya. Maksudku, apa yang membuatnya tiba-tiba melakukan tes DNA."


"Hortensia memberinya pesan kaleng, kau tahu? pesan tanpa nama. Dia mengatakan pada ayah Bima untuk melakukan tes DNA, karena anak itu bukanlah anaknya. Tidak ingin percaya begitu saja dengan informasi yang didapatnya, ayah Bima sama sekali tidak menanyakan hal itu pada istrinya. Dia hanya mengajak keduanya untuk melakukan cek up kesehatan di rumah sakit, dengan alasan dia membaca banyak berita tentang penyakit-penyakit yang tak terdeteksi gejalanya. Sebagai wanita penurut, Marian membawa Bima ke rumah sakit bersama ayahnya, tanpa banyak bertanya."


"Dan mereka melakukan tes DNA?"


"Benar."


Mariana kembali menghembuskan nafas panjang.


"Lalu, apa yang terjadi setelah dua tahun Bima mengurung diri? Bukankah perusahaan-perusahaan yang saat ini dimilikinya, adalah hasil kerja kerasnya sejak sebelum kematian ibunya?"


"Ya. Berita itu sampai di telinga Jeremi, lalu pria itu datang menemui ku. Hampir saja aku membunuhnya karena berani menginjakkan kakinya di dalam rumahku."


Mariana merengut tidak setuju.


"Tidak, aku tidak melakukannya. Meski aku masih marah karena dia telah merusak rumah tangga anak ku dan membuat cucuku terpuruk, tetapi aku masing ingat dia sahabat terbaik yang pernah aku miliki sepanjang hidup ku."


"Tidak kau tidak ingat lagi seandainya saja aku tidak datang tepat waktu, saat itu."

__ADS_1


"Ya. Itu saat aku mengetahui Bima bukanlah anak Javier dan Maria, melainkan anak penjaja burung itu. Aku sempat kehilangan kendali dan hampir membunuh Jeremi, kalau saja kakek mu tidak datang menolong."


"Jadi, apa yang membuat kakek batal membunuh Kakek Jeremi, untuk yang kedua kali?" tanya Mariana tenang.


Laki-laki tua itu tersenyum. "Dia membawa bukti bahwa selama lima tahun terakhir ini Javier juga tidak setia. Dia memiliki anak dari wanita lain yang sudah berusia tiga tahun."


Mariana melongo.


"Itulah yang membuat Bima kembali bangkit. Dia ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa tanpa laki-laki itu pun dia dan ibunya akan tetap hidup. Bima bangkit, dengan semangat baru, masuk ke dalam kelompok gengster yang aku pimpin. Dalam waktu singkat dia bisa menjadi orang yang paling ditakuti di seluruh kawasan negara bagian timur ini. Dia tumbuh menjadi pria dingin, bergerak penuh ketenangan tetapi menerkam dengan sangat berani di saat yang tepat. Cakar dan taringnya begitu mematikan. Itu kenapa saat dia menggantikan ku duduk di kursi kepemimpinan, mereka memberikan julukan Leo Atlas."


"Leo Atlas?!" Mariana. membelalak lebar sampai bijih matanya hampir keluar.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu kaget mendengar namanya?" tanya kakek Mariana mengerutkan kening heran melihat tingkah cucunya.


"T-tidak, hanya saja... aku... aku sangat mengidolakan pria itu."


Kedua lelaki tua di hadapannya mengerutkan kening mereka yang sudah keriput termakan usia.


"Ya, Kek. Nama Leo Atlas begitu besar. Dia menerkam banyak perusahaan dalam sekali lahapan, termasuk JkA Coorp. Jadi, pria misterius yang tak pernah menampakkan wujudnya itu, ternyata suamiku sendiri?" tanya Mariana antara kagum dan senang.


"Ku pikir kau sudah mengetahuinya dari Sarah."


"Jadi, kau juga tidak tahu perusahaan MBC juga milik Bima?"


"Apa?!" Mata Mariana sekali lagi membelalak kaget.


"Tapi dia bilang...."


"Semua itu milik Bima. Apartemen, rumah yang kau tempati, perusahaan tempat kalian bekerja, pusat hiburan yang menggemparkan seluruh kota, hingga perusahaan asing yang meruntuhkan JkA adalah milik Bima, suami mu."


Mariana mematung, bibirnya membentuk lingkaran sempurna.


"K-kakek tahu?" tanya Mariana, tergagap.


"Tentu saja aku tahu."


"Lalu kenapa kakek diam saja?!" teriak Mariana kesal.


"Aku tidak ingin kau gagal dan dikendalikan oleh harta seperti ketiga saudaramu yang lain, Mariana. Kau begitu murni. Aku tidak ingin harta yang melimpah meracuni pikiranmu dan membuatmu jatuh di kemudian hari. Itu kenapa aku diam saja dan berpura-pura semua berjalan seperti kelihatannya."

__ADS_1


"Apakah Bima tahu kakek mengetahui semuanya?"


"Tidak. Dia tahu aku dan kakeknya saling mengenal, tetapi dia tidak tahu aku mengerti sejauh ini. Dia berpikir kami hanya sebatas teman dekat."


"Jadi, setelah keberhasilannya, lalu Bima bertemu Sarah, menghamilinya dan...."


"Salah. Sarah itu di kirim sebagai jebakan. Wanita itu tidak pernah mengenal Bima sebelumnya. Dia datang sebagai umpan. Sayang sekali, umpan yang digunakan justru terjerat kail ikan dan tak bisa terlepas."


"Apa maksudnya itu?" tanya Mariana tidak mengerti.


"Begini...."


Kakek Bima, kakek Mariana, juga Mariana menoleh saat Tompson kembali membawa beberapa kantung plastik berisi makanan.


"Aaah... ini yang sudah ku tunggu sejak tadi. Lama sekali kau membeli makanan ini."


"Maaf, Tuan Besar. Pesanan Anda mengantri panjang," jawab Tompson, meletakkan seluruh makanan di atas meja kerjanya kemudian membaginya.


Mariana beranjak berdiri, membantu Tompson.


"Apa ini semua sama, Paman?" tanya Mariana saat hendak membagi makanan untuk kakeknya dan kakek Bima.


"Sama, Nyonya. Sesuai pesanan mereka berdua," jawab Tompson. Dia membungkuk di lemari es, mengeluarkan empat botol limun baru dari dalamnya.


"Risotto paling lezat di kota ini. Aah sudah lama sekali aku tidak memakannya." Kakek Bima menerima mangkuk dari tangan Mariana, menghirup asapnya yang masih sedikit mengepul dengan wajah puas.


"Ravioli? Ooh itu sangat lezat juga." Matanya berbinar senang saat melihat Mariana meletakkan sepiring besar jamur kancing ravioli di atas meja.


Usai menyerahkan semua makanan dan menata sisanya di atas meja, Mariana mengambil miliknya sendiri dan duduk.


"Jadi, bagaimana kelanjutannya, Kek?" tanya Mariana yang masih penasaran.


"Makanlah dulu, makan jangan sambil membahas masalah yang terlalu berat." Kakek Bima menunjukkan mangkuk di tangannya, kepalanya mengisyaratkan Mariana untuk memakan miliknya.


"Aah, Kakek. Tapi aku sangat penasaran. Ini bisa tiga kali purnama kalau kau menundanya lagi. Pembaca bisa marah karena gelisah menunggu kelanjutan kisah mu, Kek." protes Mariana sembari mengentakkan kaki.


"Tidak apa. Mereka juga biar mengisi perutnya terlebih dahulu. Ini sudah kelewat waktu makan siang. Nanti mereka sakit kalau telat makan hanya untuk mendengar kisah masa lalu Bima," jelas Kakek Bima tenang, kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya.


Mariana cemberut, mengentakkan kaki, tetapi tangannya terap menyendok makanan yang telah dipegangnya dan mulai menyuap ke dalam mulutnya yang manyun.

__ADS_1


__ADS_2