
"Tentu saja aku sedang membuntuti mu. Apa kau lupa?" tanya wanita aku dengan tubuh dan dandanan ala-ala cewek-cewek Korea itu, sambil tersenyum tenang.
"Tidak bisakah kau melupakan semua masa lalu kita, Sarah. Aku mohon, biarkan aku menjalin rumah tanggaku bersama Mariana."
Wanita itu mencibir. "Enak sekali kau mengatakan untuk melupakannya. Apa kau lupa yang telah kau perbuat padaku?"
Bima menggeleng. "Tidak. Aku tidak pernah lupa. Kau tahu aku telah menebusnya dengan pengasingan selama bertahun-tahun."
Senyum sinis Sarah tak menghilang dari bibirnya.
"Bagimu itu sebuah penebusan, tapi apakah itu bisa mengembalikan aku pada orang tua ku?"
Bima terdiam.
"Lalu apa yang kau inginkan sekarang? Aku?" tanya Bima setelah diam selama beberapa saat.
Tawa sinis Sarah terdengar lirih dari bibirnya. "Setelah semua yang kau lakukan padaku, dan kau masih berharap aku menginginkan mu?"
"Tidak. Aku sama sekali tidak berharap itu," jawab Bima datar. "Hanya ingin tahu apa yang kau inginkan dan aku akan memberimu dengan syarat."
"Ha! Lalu bagaimana kalau aku menginginkan kematian bayi yang kau tunggu-tunggu. Apa kau akan memberikannya padaku?"
Bima membelalak. "Apa maksudmu?"
"Kau telah membunuh bayi ku. Bagaimana kalau aku sekarang menginginkan bayimu sebagai ganti."
"Tidak!"
Sarah mengangkat satu alis.
"D-dia... kau tak bisa. Dia... bukan anak ku," lirih Bima.
"Bukan anak mu?"
"Bukan."
"Lalu kenapa kau pertahankan, sementara anak mu sendiri kau terlantarkan?!" Sarah berdesis kejam.
Bima mundur satu langkah, menjaga jarak.
"T-tidak seperti itu. Maksud ku, aku...."
Sarah menyunggingkan senyum iblis di sudut bibirnya.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengambilnya darimu."
"Sarah!"
Sarah melenggang pergi tanpa menghiraukan teriakan Bima.
Bima memasuki kamar perawatan Mariana, membawa sekaleng kopi dingin dan susu.
"Mariana...."
Mariana tampak tertidur pulas di tempatnya. Bima tersenyum, berjalan ke lemari es dan memasukkan susu Mariana ke dalam lemari es, sementara dia meminum kopinya sendiri sambil duduk di sofa panjang.
Ponsel Bima bergetar, nama Marco tertera di layar.
"Hmm...." Bima menyapa pelan.
"Bos, mana Nona Mariana? Bukankah seharusnya hari ini dia ke kantor untuk mempersiapkan peresmian besok?"
"Dia sakit."
"Sakit?"
"Urus saja dulu semuanya, nanti aku ke sana."
__ADS_1
"Siap, Bos."
Bima memutus sambungan telepon. Dia berdiri, mendekati Mariana, membelai lembut pipinya.
Mariana membuka mata.
"Oh, aku tertidur?" tanya Mariana kaget.
"Istirahatlah. Aku hanya mau bilang, perusahaan yang kau pegang akan di resmikan besok. Temanku bertanya, apa kau kuat untuk menghadirinya? Kalau tidak dia akan menundanya."
"Astaga! Jam berapa ini. Seharusnya aku ke kantor hari ini, untuk mempersiapkan segalanya."
Bima tersenyum. "Tidak perlu. Kau istirahatlah. Marco bilang, dia telah mengurus segalanya."
"Marco?"
Bima mengangguk. "Dia kemari tadi, saat temanku bilang kau sakit dan masuk rumah sakit."
"Oh, Tuan Marco ke sini?"
Bima kembali mengangguk.
"Bima, katakan padamu aku benar-benar meminta maaf karena mengacaukan persiapan acara. Padahal besok akan menjadi acara yang sangat besar bagi perusahaan."
"Jangan khawatir, sebelum kau memintaku, aku sudah melakukannya. Mewakili mu, aku sudah meninta maaf pada temanku. Lagi pula, semua ini gara-gara aku."
Mariana tersipu. "Kau memang sangat liar. Tapi aku menyukainya," katanya, pipinya merona.
"Kalau kau suka, aku hanya mengingatkan padamu jangan lakukan itu lagi saat kondisimu masih hamil. Nanti kalau sudah tidak ada lagi nyawa yang harus kau jaga di dalam kandungan mu."
Mariana tersenyum, mengangguk. "Maafkan aku," lirihnya.
Bima membungkuk, mengecup kening Mariana dengan lembut. "Istirahatlah."
"Tapi aku lapar."
Tepat Bima berjalan kembali ke arah Mariana, perawat mengetuk pintu dan masuk sembari membawa nampan berisi makanan.
"Aah, tepat sekali. Kau lapar, kan?" Bima tersenyum pada pengantar makanan.
"Maaf, makanan nyonya Mariana sedikit terlambat, Tuan. Karena kami harus mengkonsultasikannya dulu pada instalasi gizi."
Bima mengangguk. "Tidak apa. Terima kasih."
Wanita yang mengenakan peci hijau senada dengan seragamnya, dengan rambut digelung rapi di belakang itu mengangguk, lalu segera berbalik pergi setelah menaruh nampan makan Mariana. Bika membuka plastik pembungkus piring, menyiapkannya di depan Mariana yang sudah duduk rapi di atas tempat tidurnya.
Mariana makan dengan lahap. Semua makanan masuk ke dalam perutnya tanpa sisa, termasuk susu coklat yang dibelikan Bima.
"Kau ini lapar atau memang doyan?"
"Selain sangat lapar, makanan ini juga sangat enak. Padahal biasanya masakan rumah sakit itu terasa hambar."
"Kau ini ibu hamil, bukan orang sakit. Mereka harus memberimu makan yang bergizi dan lezat agar kamu banyak makan."
Mariana tersipu.
"Mmm, Bima. Apa Marco sempat bilang bagaimana dengan persiapan besok?" tanya Mariana, usai dia makan.
Bima mengangkat bahu sedikit. "Aku tidak tahu, mungkin iya. Sepertinya tadi dia mengatakan bahwa seluruh persiapan sudah siap, dan hari ini mereka mendapatkan undangan dari Four Trainer Group. Mereka akan meresmikan pembukaan pusat hiburan dan belanja," jelas Bima dengan nada acuh.
"Oh, wow. Four Trainer Group? Itu sebuah perusahaan raksasa. Mereka pasti melihat nilai keuntungan yang besar sehingga berani membuka peluang bisnis di sini."
"Temanku bilang, induk perusahaan yang kau pimpin sudah memiliki kerja sama dengan Four Trainer Group. Mereka sudah menggunakan sistem pembelian tiket dengan uang virtual di negara asal mereka."
"Benarkah?!" Mariana membelalak senang.
Bima menggangguk. "Katanya sih seperti itu."
__ADS_1
"Aku tidak sabar menunggu peresmian MBC. Aku ingin lihat reaksi saudara-saudaraku saat tahu aku yang duduk di kursi kepemimpinan."
"Kenapa harus menunggu peresmian perusahaan?"
Mariana mengerutkan kening.
"Ku pikir lusa kau akan hadir di peresmian Paka Lea Land 2, sebagai direktur perusahaan MBC."
"Aku? kenapa bukan temanmu?"
"Yang mendapat undangan MBC, bukan FMCG. Tetapi FMCG juga mendapat undangan, hanya saja temanku tak bisa datang. Dia memintaku untuk mewakilinya."
"Kau?"
Bima mengangguk. "Karena dia tahu kau akan datang, maka sekalian saja dia menyuruhku, dia bilang begitu."
Mariana diam, kepalanya sedikit tertekuk.
"Kenapa?" tanya Bima.
"Jujur saja, aku sedikit merasa takut. Kalau mereka mengundang perusahaan-perusahaan, maka perusahaan keluarga ku tentu juga akan datang, kan. Entah kenapa, aku merasa...."
Bima mengerutkan kening, seberkas pengertian terbentuk di dalam kepalanya. Bima tersenyum. "Jangan khawatir. Besok, aku berjanji aku tidak akan mempermalukan mu."
"Tidak, tidak. Aku tidak pernah malu menjadi suami mu."
"Tentu saja. Dan aku berterima kasih soal itu."
"Bukannya aku malu, Bima. Sungguh. Aku hanya takut kau dilecehkan di hadapan orang banyak. Bagaimana pun kau kepala keluarga. Aku tak ingin melihatmu dihina di depan banyak orang, sementara aku di sana berdiri di atas jabatan ku yang mengesankan. Padahal tanpa mu, aku tidak mungkin bisa berada di sana."
"Jangan khawatirkan soal itu, Mariana. Kau fokus saja pada kesehatanmu dan anak kita, agar dokter mengijinkan mu pulang untuk menghadiri peresmian taman bermain super megah itu."
Mariana tersenyum dan mengangguk, tangannya mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
Sementara di tempat lain....
"Paka Lea Land?" Hendra memukul meja saat membuka undangan peresmian pusat hiburan terbesar di kota itu.
"Ini benar-benar gila. Mereka bahkan baru mulai membangunnya bulan lalu, dan sekarang sudah pembukaan. Four Trainer Group memang rajanya pusat hiburan," gumam Hendra kagum.
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Bang?" tanya Noel disambut anggukan persetujuan Leo.
"Tentu saka kita akan menyambut dengan sukacita kehadiran mereka dan akan secepatnya mengajukan kerja sama agar kita dapat bergabung di dalam mall milik mereka."
"Mall?" tanya Leo.
"Kemana saja kau selama ini, Leo. Mereka di sini tidak hanya membuka pusat hiburan raksasa, tetapi sekaligus mall terbesar sepanjang abad kota ini berdiri. Menurut informasi terakhir, di dalam mall itu bahkan akan ada pusat kebugaran, bukan hanya pusat perbelanjaan. Mereka meraup segala bentuk kesenangan dari berbagai kalangan dan jenis."
Hendra mengangguk. "Ya. Mereka membuka taman permainan, hotel, pusat belanja, gym, karaoke, studio musik, bioskop, pasar, perputaran, hingga lapangan futsal, salon dan spa."
"Ini sungguh gila. Dan mereka mempersiapkan semuanya hanya dalam kurun waktu satu bulan?"
Hendra kembali mengangguk. "Kalian sudah mengintip lokasinya?"
"Ya. Lokasi mereka seperti area kompleks, alih-alih taman hiburan."
Hendra kembali mengangguk.
"Aku tidak sabar untuk memasuki area kompleks hiburan itu. Tempat itu bahkan masih tertutup rapat hingga hari ini."
Dua yang lain ikut mengangguk bersemangat.
"Kita akan tampil sebaik mungkin, saat itu. Aku bahkan rela mengeluarkan uang demi membeli tuksedo terbaik untuk menghadiri acara itu. Direkturnya, pasti sangatlah luar biasa dan dia tidak akan melirik kita jika kita mengenakan setelan jas biasa."
"Ya. Sepertinya kita harus memanipulasi sedikit lagi uang perusahaan untuk membelinya. Semoga ayah kita tidak akan pernah curiga."
Leo dan Noel ikut mengangguk setuju.
__ADS_1