
Mariana berdiri di depan cermin, menatap perutnya yang semakin membuncit di balik dress pendek warna hitam yang tertutup coat coklat muda.
"Kamu cantik," bisik Bima, merapikan rambut bergelombang Mariana yang berwarna coklat gelap.
"Tapi perutku buncit."
Bima tersenyum, memeluk pinggang Mariana dari belakang dan membelai perutnya.
"Tentu saja. Di dalam sini ada bayi mungil yang sedang tumbuh. Kau perlu memberikan ruang gerak bebas untuknya, karena itu perutmu membesar."
Mariana balas tersenyum, membalas tatapan Bima pada cermin. Lalu dia berbalik, memeluk leher Bima. Matanya memindai bagian tubuh Mariana dari atas ke bawah.
"Kau juga sangat tampan hari ini."
"Bukankah aku berjanji untuk tidak mempermalukan istriku?"
Mariana tersenyum.
"Kalau bukan karena baju ini pilihanmu, aku juga tidak akan setampan ini," bisik Bima, menjepit ujung hidung Mariana.
Mariana tergelak.
"Baju itu tidak seberapa. Kau bahkan memilih yang termurah. Tapi begitu gagah menempel di tubuhmu."
"Sudahlah. Waktu semakin siang. Kau mau mengagumi ku yang tampan ini sampai sore atau kita akan berangkat sekarang?" Bima mengecup kening Mariana.
"Baiklah. Ayo kita berangkat, Tampan. Dan kejutkan semua orang yang berada di sana."
Bima melaju pelan di tempat parkir, melewati beberapa mata yang menatapnya kagum dan langsung menuju tempat parkir VIP.
"Lihat. Semua orang menatap kita gara-gara mobil ini." Mariana protes, pipinya terlihat sedikit memerah.
"Aku mewakili temanku dan dia berada pada jajaran 10 orang terkaya di dunia, Mariana. Mana mau dia melepas perwakilannya untuk menaiki mobil rongsokan."
"Enak saja. Mobil yang kau belikan bukan mobil rongsokan!"
"Bagi kita itu yang terhebat, tapi bagi pria seperti temanku yang terbiasa mengendarai buggati, itu rongsokan, Mariana."
Mariana cemberut.
Melihat mobil seharga milyaran terparkir di posisi VIP, Leo, Nathan dan Hendra berhenti, mata ketiganya memelotot hingga hampir terlepas. Mereka menunggu dengan jantung berdebar, ingin tahu siapa yang turun dari sana.
"Mungkin itu direkturnya," bisik Nathan. Kedua saudaranya mengangguk.
Pintu depan terbuka, Kaki jenjang dibalut hills tahu 6cm terlihat menuruni mobil disusul tubuh anggun di balik coat panjang sebatas lutut.
"Direkturnya perempuan?" Leo membelalak. Mata jalangnya seketika dipenuhi fantasi.
"Cermati yang benar, bodoh! Dia naik di bangku depan. Mana ada direktur perusahaan sebesar ini bersedia duduk di samping sopir."
"Ku tebak dia istri direktur yang membawa sendiri mobil mewahnya tanpa sopir. Agak lain dia rupanya."
__ADS_1
Leo menggaruk rahangnya yang tiba-tiba terasa ingin digaruk meski tidak gatal, wajahnya nyengir kuda.
"Sialan! Pakai di tutup tas segala sih wajahnya!" Nathan berseru tertahan.
"Silau, bego. Mungkin dia tidak memiliki kacamata hitam."
"Ssst, lihat. Kenapa aku tidak asing dengan wajah pria itu?" tanya Hendra, menunjuk sepasang suami istri yang baru turun dari mobil, menggunakan dagunya.
"Ah, masa."
"Perhatikan. Sepertinya aku pernah mengenalnya."
"Aku tak dapat mengenalinya. Kaca mata hitamnya menyamarkan wajahnya."
"Ayo kita dekati dan sambut mereka." Leo berjalan maju lebih dulu, meninggalkan kedua saudaranya yang segera menyusul di belakangnya.
Enam langkah sebelum mencapai tempat keduanya, kehadiran enam bodyguard yang langsung mengelilingi mereka membuat Hendra, Noah dan Leo tidak mungkin untuk berjalan lebih dekat lagi.
"Oh, sial!" umpat Hendra, menatap kecewa pada rombongan CEO muda yang berjalan dikelilingi bodyguard dan menghilang di balik pintu masuk VIP.
Hendra, Leo dan Noah berjalan menuju pintu untuk tamu undangan, mengantri masuk seperti ibu-ibu di pasar, sebelum akhirnya mereka bisa duduk di kursi yang dilapisi kain putih dengan pita emas.
Hendra, Leo dan Nathan berkali-kali berdiri dan membungkuk rendah saat mereka bertemu pengusaha-pengusaha kelas atas yang mulai berdatangan. Mereka juga melihat ayah dan ibu mereka masuk dengan mengenakan setelan dan dress mewah, berjalan dan duduk di kursi deretan paling depan, tepat di depan sofa sofa mewah yang diperuntukkan para ekskutif perusahaan.
"Aah, Paman." Leo berdiri, menyapa sepasang suami istri yang baru saja berjalan melewati mereka bertiga. Laki-laki beruban itu berhenti, menoleh.
"Aah, Leo. Tentu saja. Noel dan Hendra juga?" Edi Sasmita, Papa Mariana, membalas uluran tangan Hendra dan kedua sepupunya yang lain.
Sasmita melambaikan tangan dengan malas. "Jangan bicarakan dia di acara spesial seperti ini. Namanya sungguh merusak pemandangan," gerutu Sasmita jengkel, lalu pria itu meneruskan berjalan diikuti wanita yang sebelumnya tersenyum ramah, kini wajahnya berubah suram demi mendengar nama anaknya di sebut.
"Seandainya saja kau tidak begitu keras pada...."
"Berhenti membicarakannya atau lebih baik kita pulang!" Sasmita memotong ucapan lirih istrinya, membuat wanita itu seketika menutup bibirnya rapat-rapat.
Lima belas menit kemudian, tepat pukul 10.00 seperti yang tertera pada undangan, seorang lelaki baya mengenakan setelan biru gelap dengan rambut hitam legam yang disisir rapi, berjalan keluar bersama seorang wanita yang sangat anggun di balik balutan kebaya senada. Rambutnya di sanggul di tengkuk, sudah seperti pramugari-pramugari pesawat.
Pria tampan berdedikasi itu tersenyum, mengangguk kepada seluruh hadirin sebelum berbicara pada mikrofon di tangannya.
"Selamat siang, Hadirin semuanya. Terima kasih yang sebesar-besarnya kami haturkan kepada seluruh tamu undangan yang berbahagia, yang telah meluangkan waktunya untuk menghadiri acara...."
"Peresmian Paka Lea Land," teriak keduanya bersemangat. Tepuk tangan menggema di seluruh area, menyambut sapaan ramah pembawa acara.
"Baik, terima kasih. Dan sebelum acara ini resmi kita buka, perkenankan saya untuk meminta saudara-saudara sekalian agar berdiri sejenak untuk menghormati tamu-tamu undangan kita yang akan menempati tempat yang telah di sediakan. Kami persilahkan, para tamu undangan untuk memasuki area peresmian."
Seluruh hadirin serentak berdiri, sementara kedua pembawa acara menunduk sedikit untuk memberikan penghormatan kepada seluruh tamu undangan yang memasuki area. Ada kurang lebih lima belas orang, berjalan tegap menggandeng pasangan masing-masing.
Dua puluh menit acara pembukaan, tibalah acara puncak yaitu pengguntingan pita. Semua hadiri berdiri, membeku di tempatnya menunggu pita emas di hadapan mereka terpotong dan menurunkan kain lebar yang menutupi pintu masuk utama kawasan wahana wisata yangs edang diresmikan.
"Kami persilahkan kepada Tuan Edgar Wildhead dari WH Coorporation untuk naik ke tas panggung."
Laki-laki bertubuh lebar dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya berdiri dari kursi berlengan di bagian depan dan berjalan naik.
__ADS_1
"Selanjutnya, Nyonya Antony Abbot dari PT Nilam Wijaya."
"Tuan Jaya Wijaya dari PT Indocakra."
Dan seterusnya.
Dan seterusnya.
Hingga....
"Nyonya Mariana Sandiago, CEO PT MBC yang sejak beberapa hari lalu mengguncang kota kecil kita dengan berita-berita besar yang di bawanya." Bunyi kasak kusuk terdengar di hampir seluruh sudut area peresmian, mengingat hampir seluruh pejabat eksekutif perusahaan tahu Mariana adalah CEO yang telah dibuang oleh keluarganya karena skandal yang dibuatnya bersama seorang gelandangan miskin yang tidak memiliki rumah.
"Itu Mariana Sandiago, bukan Mariana Sasmita."
"Tapi dia sudah menikah. Bisa saja dia menggunakan nama belakang suaminya."
"Memangnya siapa nama gelandangan itu?"
Noel mengangkat bahu.
"Aku tidak bisa melihatnya. Yang mana orangnya?" desis Leo, ikut berbisik di antara kasak kusuk yang lainnya.
"Bersama Tuan Bimantara Sandiago, sebagai perwakilan dari induk PT MBC yaitu PT FMCG, yang bukan sebuah kebetulan bahwa beliau pada hari ini juga akan memimpin prosesi pemotongan pita yang akan kita lakukan." Pembawa acara kembali berteriak.
"Kepada Tuan dan Nyonya Sandiago, dipersilahkan menempati posisi."
Seolah mantra silencio milik Harry Potter telah di ucapkan, seluruh audience hening seketika. Seara gemersik lenyap. Tak ada sedikitpun suara yang terdengar sampai suara ketukan sepatu para bodyguard yang menghampiri Bima dan Mariana dapat terdengar jelas bahkan oleh para penjaga yang berdiri di pintu masuk area peresmian.
Bima membantu Mariana berdiri. Keduanya tampak serasi di balik balutan jas dan coat yang berwarna gelap dan terang, seolah keduanya saling melengkapi.
Bodyguard memberikan jalan, Bima berjalan pelan sambil menggandeng lengan Mariana, menaiki tangga rendah menuju podium. Sementara Mariana berjalan tenang dalam gandengan lengan Bima, kepalanya mendongak. Meski perutnya membuncit, namun keanggunan dan wibawa Mariana sama sekali tidak berkurang sedikit pun dari wajahnya.
"M-m...mar-maria...na Sandiago." Edi Sasmita tergagap, tatapannya terpaku pada sepasang pria dan wanita yang kini berjalan penuh percaya diri ke posisi tengah barisan.
Tak terkecuali Hendra, Leo, Noel, dan ayah mereka yang membeku seperti patung es di tempat mereka masing-masing.
"K-kapan ****** itu bekerja di sana. K-enapa dia bisa tiba-tiba menjadi CEO sebuah perusahaan raksasa seperti MBC." Hendra bicara dengan wajah yang masih memelotot tidak percaya.
"Betulkan kalau aku salah. Tetapi, bukankah mereka adalah pasangan yang turun dari mobil buggati hitam mengkilap tadi?" tanya Leo, masih menatap tidak percaya ke arah dua orang yang kini tersenyum di bagian depan, menatap langsung ke arah mereka.
"Tidak. Ku pikir kau tidak salah. Aku ingat betul wajah dan kacamata yang dia kenakan. Dan apakah dia benar-benar Bima? Kenapa dia bahkan tidak mau melepas kacamatanya?" timpal Noel, menatap Bima yang memang masih mengenakan kacamata hitam persegi dengan bingkai kuning emas.
"Dia pasti bukan Bima sibgelandangan itu. Pasti bukan!" desis Hendra. "****** itu pasti sengaja menyewa laki-laki untuk menunjukkan kepada kita kalau dia lebih baik. Konyol sekali. Aku bahkan tidak ingat nama belakang pria itu Sandiago."
"Tapi itu sepertinya akan sedikit sulit untuk dilakukan, Hen. Kalau hanya untuk sekedar mencari suami oengganti saja, mungkin mudah. Tetapi melobi untuk bisa berdiri di tengah sana...." kata-kata Noel menggantung.
"Apa kalian mulai meragukan analisisku?" tanya Hendra geram.
"Ini bukan soal keuangan, Bung. Ini kehidupan." Leo menjawab datar, matanya menatap heran ke depan.
"Kalau kalian tidak percaya padaku, akan ku buktikan sekarang juga. Wajah di balik kacamata hitam itu, aku yakin dia bukan Bima!"
__ADS_1
Sebelum kedua saudaranya bisa mencegah, Hendra sudah meluncur pergi, berjalan cepat mendekati podium di mana para pejabat perusahaan raksasa di seluruh kota bersiap memotong pita.