
"Mapala." Bima bergumam pelan.
"Ya. Mapala adalah saudara kembar Mariana."
Gelegak amarah seketika membuncah di dalam diri Bima, mengingat kematian ibunya. Wanita luar biasa itu mengorbankan dirinya demi melindungi Bima dari serangan Mapala.
"Ini salahku." Tatapan kakek Mariana jatuh ke atas meja. "Mapala lolos dari pengawasanku, bergabung dengan kelompok mafia di usianya yang masih sangat muda. Dia belum tahu benar dan salah, belum bisa membedakan baik dan buruk. Yang dia dapat dari kelompoknya hanyalah solidaritas kelompok, pemimpin yang hebat, dan kekuasaan wilayah. Maka dia tumbuh menjadi pria mematikan dan duduk di kursi pimpinan mafia di usianya yang begitu belia.
"Kemana dia pergi setelah kejadian itu. Saya mencarinya, tetapi dia menghilang begitu saja seolah di telan bumi."
Kakek Mariana mengangguk. "Dia sadar telah menyerang orang yang salah, dan mengasingkan diri. Keluar dari semua aktifitas gelap yang selama ini dia geluti, kau tahu itu tidak mudah. Dia harus menyingkir dan menyembunyikan diri."
Bima membuka mulut, ingin bertanya, tapi kakek Mariana menyela.
"Tidak ada yang tahu kemana anak itu pergi, termasuk aku, kalau kau tanya aku. Awalnya aku berpikir kau telah berhasil menghabisinya dan membuang mayatnya ke tengah lautan. Tapi saat kau mundur dari seluruh duniamu, kakek mu mengkonfirmasi padaku bahwa kau gagal membalaskan dendam kematian ibu mu pada Mapala."
Bima diam. Kelebat bayangan kematian ibunya kembali membayangi matanya. Dia ingat bagaimana ibunya meminta di detik-detik nafas terakhirnya, agar dia tidak mencari Mapala, tidak membalaskan dendam apa pun pada laki-laki itu.
Itu adalah kali pertama Bima tidak menuruti perintah ibunya. Dia mencari Mapala begitu ibunya memejamkan mata dan menghembuskan nafas untuk terkahir kalinya. Bima berkelana kesana kemari, bahkan menolak pulang ke rumahnya, hanya untuk mencari Mapala. Tetapi hingga detik ini, dia bertemu Mariana, Mapala tak juga berhasil dia temukan.
"Kakek...."
"Aku tahu kau kecewa. Aku minta maaf."
"Apa Mariana tahu tentang semua ini?"
"Tidak, kecuali kau memberitahunya."
__ADS_1
Bima diam.
"Aku serahkan sepenuhnya keberuntungan Mariana kepadamu. Aku tahu kalian menikah bukan karena keterpaksaan, tapi ku harap kau bisa membantu Mariana keluar dari masalahnya."
"Aku akan mencobanya, Kek. Agak lebih sulit dengan bayang-bayang Mapala sebagai saudara kembarnya dan kematian ibuku, tapi aku akan berusaha meyakinkan diriku bahwa Mariana tidak mengetahui apa pun."
"Maaf membebani mu dengan ini."
Bolehkah aku melakukannya dengan caraku? Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu."
Kakek Mariana mengangguk. "Bukankah sudah kukatakan, ku serahkan keberuntungan Mariana kepadamu."
Bima balas mengangguk.
"Aku hanya berpesan satu hal kepadamu. Jika kematianku tidak wajar, maka akuisisi perusahaanku."
"Apa?!"
"Tapi bagaimana...."
"Tidak perlu bermain saham, karena kau bukan pialang saham yang andal. Pertama, kupercayakan penjualan saham milikku di tanganmu. Aku ingin kau mengeluarkannya saat menemukan ketidak wajaran pada kematianku. Tetapi kalau kematianku wajar, aku menitipkan wasiatku padamu untuk Mariana."
"Bagaimana maksudnya?"
"Kau akan menemukan jawaban semuanya di peti matiku."
Bima menatap bingung.
__ADS_1
"Apa kau tidak melihat bahwa aura kematianku sudah semakin dekat?" tanya Kakek Mariana.
Bima menggeleng.
"Hanya terhalang satu lapisan. Dan lapisan itu adalah Mariana. Saat ini, Mariana sudah diturunkan dengan tidak hormat dari jabatan CEOnya. Tinggal menunggu waktu untuk dia di buang dari perusahaan, dan dari keluarga besar, karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarga."
"Apa semua ini sudah mereka rencanakan?"
Kakek Mariana mengangguk yakin.
"Bre***ek!"
Kakek Mariana mengerutkan kening. "Ku pikir kau tidak sebegitu peduli pada Mariana?" tanyanya.
"Tidak. Mariana masih bukan siapa-siapa di hatiku. Hanya wanita yang pelu aku tolong, itu saja. Tetapi tetap saja kelakuan mereka itu bre***ek."
Kakek Mariana menghela nafas panjang. "Aku tahu. Semua ini karena sejak kecil ibu mereka selalu memicu persaingan ketat di antara mereka. Siapa yang juara, dia akan mendapatkan semua yang diinginkannya, termasuk barang kesayangan milik siapa yang berada di posisi terakhir. Persaingan itu kacau. Kecurangan tak masuk dalam hitungan pelanggaran, yang terpenting kau bisa menang. Rasa empati mereka mati. Tak pernah peduli pada kondisi saudaranya." Kakek Mariana menatap menerawang, mengenang masa kecik anak-anaknya. Bima memperhatikan dengan perasaan miris. Salah asuhan. Itu hal yang pertama kali terpikirkan oleh Bima.
"Tetapi dengan kemampuan mereka membaca aura, seharusnya persaingan itu bisa sangat seimbang, bukan."
Kakek Mariana menggeleng. "Tidak ada putra-putraku yang mewarisi gen penglihat sepertiku. Aku sendiri sedikit kaget saat Mariana dan Mapala mewarisinya, bahkan kekuatannya sangat besar."
"Kenapa begitu?"
"Gen itu sebenarnya bukan gen keturunan. Tetapi gen penemuan. Di dunia ini, hanya aku, kakek Galang, dan kakekmu yang memilikinya."
Bima melongo.
__ADS_1
"Kami bertiga dulu bersahabat. Di usia kami yang ke 16 tahun, kami bertiga melakukan perjalanan panjang untuk membuktikan penemuan kakekmu akan sebuah naskah kuno tetang rawa yang menyimpan misteri aura manusia."
Bina membelalak kaget, menatap Kakek Mariana tidak percaya.