Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
PEMECATAN


__ADS_3

Bima menyesap kopi di sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan.


"Bos...."


Bima mendongak.


"Bagaimana?" tanyanya.


"Sempurna." Pria itu menunjukkan foto sebuah rumah mewah melalui ponselnya.


"Atur interiornya sebaik mungkin untuk wanita karir yang sangat keras kepala."


"Apa yang dia sukai, Bos?"


"Tidak tahu."


Pria di depan Bima menelan ludah.


"Mungkin,kau tahu kebiasaannya yang sering dia lakukan? Merawat bunga mungkin, atau melukis, atau apa pun."


"Mengomel."


Pria itu menepuk dahi.


"Lalu aku harus menyesuaikannya seperti apa, Bos."


"Itu mobilnya. Lihat saja apa yang dia miliki di dalamnya."


Pria itu menoleh ke arah Audy kuning kenari yang terparkir di seberang jalan.


"Lihatlah." Bima mengulurkan kunci.


Pria muda itu menerima kunci di tangan Bima, kemudian berjalan menuju audy keluaran terbaru yang di tunjuk Bima. Pria itu mengamati interiornya sejenak, memeriksa barang-barang pribadi Mariana, lalu mengangguk dan berjalan kembali ke arah Bima.


"Bagaimana?" tanya Bima.


"Sempurna. Aku akan menyiapkan segalanya untukmu. Kapan kau akan menempatinya, Bos?"

__ADS_1


"Malam ini."


"Apa?!" teriak Pria itu membelalak.


"Kenapa?" tanya Bima tenang.


"Tidak. Tidak apa-apa, Bos. Aku senang melihat kegilaanmu sudah kembali. Aku akan menyiapkan semuanya sekarang," jawab Pria itu, lalu berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Bima.


Bima menaruh gelas kopi hitamnya yang telah tandas, berjalan menuju mobil saat ponselnya berdering.


"Mariana...." gumamnya.


"Halo, Mariana."


"Jemput aku sekarang," jawab Mariana di seberang.


"Ada apa? Bukankah kau bilang kau pulang jam empat sore paling cepat."


"Jemput aku sekarang. Kita akan makan siang di luar."


Bima mengangguk, tidak peduli meski Mariana tidak bisa melihatnya. Dia mematikan sambungan telp lalu segera meluncur ke kantor Mariana.


"Ke mana?"


"Jalan. Aku akan menunjukkannya nanti," jawab Mariana.


"Ada apa?" tanya Bima, melihat raut wajah Mariana yang masam.


"Tidak apa-apa."


Bima mengangguk.


Mariana mendengus keras, sebal. Sejujurnya, Dia ingin Bima membujuknya untuk bercerita, bukan hanya mengangguk menerima jawabannya. Sialnya, Bima bukan orang keras kepala seperti itu. Dia tidak akan pernah membujuk Mariana soal apa pun. Alih-alih melakukannya, Bima hanya akan mengangguk menerima setiap jawaban Mariana dengan tenang.


"Belok kiri." Mariana menunjuk persimpangan di ujung jalan. Bima menurut, berbelok ditempat yang di tunjuk Mariana.


Mariana menunjuk sebuah restoran mewah di deretan ruko, Bima menepikan mobil. Tepat mobil berhenti di pelataran restoran, ponsel Mariana berdering.

__ADS_1


"Ya, Kek." Mariana menyapa.


"Tapi, kami sudah berada di restoran."


"Baiklah, baiklah. Aku akan pulang."


Bima menoleh, menatap Mariana sambil mengerutkan kening.


"Kakek mau kita makan siang di rumah," katanya kemudian, menatap marah kaca depan mobil yang bening, seolah dia bisa melihat musuh besarnya sedang menyeberang jalan dan bersiap menabraknya hingga tewas.


Bima mengangguk, menyalakan kembali mesin mobil dan meluncur pergi.


Di rumah kakek....


"Aku tidak lapar. Aku mau tidur." Mariana melangkah menaiki tangga, bahkan tidak menemui kakeknya lebih dulu.


Bima menggeleng dan berjalan ke ruang makan di mama kakek Mariana sudah menunggu di meja makan.


"Mariana tidak mau makan."


"Sudah ku duga," jawab kakeknya tenang.


"Kenapa?"


"Sebelum kau tahu kenapa, aku ingin kau membatalkan pembelian rumahmu untuk Mariana."


Bima menelan ludah, menatap pria tua itu tidak percaya. Bagaimana dia bisa tahu bahkan tanpa harus melangkah keluar dari rumahnya.


"Aku... Aku tidak membeli apa pun. Aku hanya meminjamnya dari seorang teman."


"Hmmm. Teman yang baik, bukan. Tapi ku ingatkan kau, itu belum waktunya."


Bima mengerutkan kening.


"Mariana diturunkan dari jabatan CEO, dan dia terancam dikeluarkan dari perusahaan."


Bima menatap kaget kakek Mariana.

__ADS_1


"Apa karena dia menikah dengan pria miskin seperti saya?"


Laki-laki tua itu tersenyum. "Keturunanku sangat menjunjung tinggi kasta sosial. Jadi, tentu saja. Semua ini karena dia memutuskan untuk menikahi pria miskin yang baru saja memberi rumah seharga 50 Milyar."


__ADS_2