Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
MASA LALU 2


__ADS_3

"Kakek...."


"Tuan Besar...."


Mariana dan Tompson berdiri hampir bersamaan begitu melihat dua orang tua beruban berjalan memasuki ruangan.


Mariana berlari menyambut kakeknya, memeluknya.


"Apa kabarmu, Nak?" tanya Kakek Mariana, menepuk punggung cucunya.


"Baik, Kakek."


"Kau berbohong. Baik dari mana kalau kau baru saja kabur dari suami kamu selama berbulan-bulan."


Mariana melepas pelukannya, menatap cemberut pada kakeknya. Lalu Mariana beralih ke Kakek Bima, meraih tangan pria tua itu dan menciumnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kakek Bima dengan suara rendah.


"Seperti yang Kakek bilang, tidak terlalu baik, Kek."


Kakek Bima mengangguk paham, lalu berjalan ke sofa.


"Apa yang kau ingin tahu, Anak ku?" tanya Kakek Bima, begitu semua orang sudah menempati kursinya dan dua botol limun baru tersaji di atas meja.


"Aku ingin tahu segalanya tentang Bima, Kek. Karena aku tidak ingin hanya mendengarnya dari satu pihak."


"Dari siapa kau mendengarnya?"


"Sarah."


Kakek Bima, juga kakek Mariana mendengus bersama.


"Kenapa, Kek. Sarah sepertinya sangat baik."


"Dia itu iblis."


Mariana menggeleng. "Selama ini dia sangat baik padaku. Dia bahkan memberikan rumahnya untuk aku tempati selama aku kabur dari Bima."


"Dia itu iblis bermuka dua, Mariana."


"Sarah hanya kecewa terhadap Bima, Kek."


"Salah. Wanita itu di datangkan sebagai jebakan."


"Jebakan?"


"Ya. Seseorang mengetahui Bima mulai meniti karir dengan baik, dia mendatangkan Sarah di dalam kehidupan Bima untuk menghancurkannya."


"Siapa itu?"


"Kau tidak bisa mendengar ceritanya dari tengah. Kau harus mendengar keseluruhannya untuk bisa memahami situasinya dengan baik."


"Aku siap mendengarnya, Kek."


"Butuh dua purnama untuk membahasnya."


Mariana melongo.


"Kau siap?"

__ADS_1


"Oh, a... ah... aku... siap, Kek," jawab Mariana tergagap.


Kakek Bima mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu kau harus mulai membuka pikiranmu agar tidak salah menerima informasinya. Karena ini begitu rumit untuk diceritakan ulang."


Mariana menarik nafas panjang, mengangguk.


"Semua ini berawal dari saat kami bertiga duduk di bangku SMA dan terjerumus ke dalam dunia gengster. Aku, Kakek mu, dan satu lagi teman kami bernama Jeremi Andalas."


"Andalas...?"


"Jangan memotong. Segalanya akan berhubungan."


Mariana mengangguk cepat.


"Sebagai remaja, putra dari pengusaha kaya raya, tampan, terpandang, membuat kami bertiga begitu di idolakan. Tetapi Jeremi yang paling liar di antara kami. Puluhan gadis perawan dia habiskan seorang diri."


Mariana mendengarkan dengan seksama, beberapa kali mengerutkan kening.


Kakek Mariana tertawa sinis. "Ya. Sampai berumur pun dia tidak berhenti bermain perawan. Dia memiliki satu istri sah, entah dua atau empat istri simpanan, dan banyak selingkuhan."


"Termasuk ibu Bima." Kakek Bima menambahkan.


"Apa?!" teriak Mariana kaget.


"Benar. Dengan tanpa rasa bersalah dia meniduri putriku, padahal putriku sudah bersuami dan baru saja menikah."


"Bagaimana bisa?"


"Pesona Jeremi memang yang paling kuat di antara kita. Tetapi, lebih dari itu pesona kami bertiga memang semakin populer setelah kami berhasil mengembangkan sebuah bisnis yang naik ke permukaan dengan kecepatan cahaya."


"Perusahaan?"


"Bisnis mafia?"


"Gengster. Ya, mafia itu bahasa kerennya."


"Apa... apa itu gengster yang kemudian dipegang oleh Bima?"


"Kau sudah banyak mengetahui latar belakang Bima, rupanya."


Mariana kembali mengangguk. "Sarah sudah memberitahu ku banyak hal. Itu kenapa aku mencari opsi lain, karena tidak ingin melihat hanya dengan sebelah mata saja."


"Ya, Nak. Yang kau lakukan sudah benar." Kakek Bima mengangguk pada Mariana.


"Jadi, setelah melejitnya perusahaan itu, aku mulai terpisah. Aku mulai sibuk dengan bisnisku sendiri, sementara Jeremi juga sibuk mengurusi istri-istri dan selingkuhannya yang jumlahnya puluhan. Perusahaan terbengkalai, hanya diurus oleh kakek mu seorang."


Mariana menoleh kakeknya.


"Tidak, tidak. Itu bukan berarti kemudian perusahaan itu menjadi milikku, tidak. Perusahaan itu tetap milik kami bertiga hingga detik ini. Keuntungan pun masih mengalir ke dalam rekeningku, dari saham yang aku tanam."


Mariana mengangguk kecil. "Jadi, bagaimana bisa sekarang Kakek Jeremi tidak bersama dengan kalian. Apa dia masih ada?"


"Oh, ya. Tentu saja dia masih sangat sehat, terutama lambang kejantanannya."


Tiga pria tua di ruangan itu terbahak, kecuali Mariana yang wajahnya menjadi merah.


"Tidak, tidak aku hanya bercanda. Ya tapi dia benar-benar masih sangat sehat."


Mariana tersenyum.

__ADS_1


"Ke mana dia sekarang?" tanya Mariana.


"Aku tidak tahu. Karena suami mu baru saja menghancurkan seluruh perusahaan keluarganya dan mengakuisisi semuanya."


"Bima?"


"Tentu saja. Siapa lagi suami kamu?"


Mariana menatap tidak percaya.


"Tidak, tidak. Tentu saja itu tidak termasuk perusahaan kami. Bima tidak pernah tahu siapa yang berada di balik perusahaan raksasa itu, jadi dia tidak akan pernah menghubungkan perusahaan itu dengan Jeremi."


"Jadi, siapa yang memimpin perusahaan itu?"


"Sang Glory."


Mariana mengerutkan kening.


"George, Leonardo, dan Jeremi." Kakek Bima menunjuk kakek Mariana, lalu menunjuk dadanya sebelum menyebut nama Jeremi.


"Jadi, kenapa kalian tidak pernah menunjukkan diri?"


"Satu, karena saat kami membangun bisnis itu, kami masih sangat muda. Itu akan menghancurkan kepercayaan orang yang ingin bekerjasama atau minimal bekerja pada perusahaan kami. Karena itu kami memutuskan untuk menyembunyikan diri."


"Kedua, karena kami tidak ingin orang tua kami tahu kami membangun sesuatu yang tidak akan pernah disetujui oleh mereka."


Marina diam, memperhatikan.


"Itulah alasan kami tidak menampakkan diri."


"Tapi, bukankah sudah aman kalau kalian menampakkan diri saat ini? Kalau perusahaan kalian sudah merajai bisnis, tentunya tidak akan ada krisis kepercayaan dari masyarakat untuk perusahaan dan aku yakin ada atau pun tidak kedua orang tua kalian, untuk saat ini mereka akan bangga melihat titik pencapaian yang kalian miliki."


"Tidak, kau salah." Kakek Mariana menggeleng.


"Memiliki perusahaan besar tidak kemudian membuatku bangga, Mariana. Seperti yang sudah kaku ketahui, perebutan kekuasaan. Sesama keluarga saling sikut, saling menyingkirkan."


Mariana menghela nafas panjang, mengangguk.


"Apakah itu juga yang terjadi pada kakek Leonardo dan kakek Jeremi?"


"Tidak. Anak ku hanya satu, Maria, ibu Bima. Sedangkan Jeremi, kedua anaknya begitu rukun, bekerja sama mengembangkan bisnis keluarganya dengan sangat baik."


Mariana menunduk.


"Kenapa kau merasa bersalah? Anak-anak Jeremi memang rukun, tapi belum tentu cucunya seperti itu."


"Apakah cucunya menghancurkan perusahaannya?" tanya Mariana.


"Secara tidak langsung, ya."


Mariana menatap tidak mengerti.


"Dengan apa yang telah dia lakukan padamu, sehingga membuat suami mu murka dan menghancurkan perusahaannya, apakah itu namanya tidak secara langsung dia telah menghancurkan perusahaan keluarganya?"


"Apa yang cucu Kakek Jeremi lakukan padaku?" tanya Mariana bingung.


"Cucu Jeremi adalah Galang. Satu-satunya cucu yang dia akui, yang secara kebetulan mewarisi seluruh sifat playboy kakeknya."


Mariana melongo menatap kedua pria tua di depannya.

__ADS_1


__ADS_2