Menikahi Gelandangan Kaya

Menikahi Gelandangan Kaya
ORANG KETIGA


__ADS_3

Bima memasuki lift, menggandeng lengan Mariana.


"Bima, apa kau yakin kau akan ikut masuk bersama kami?" tanya Mariana ragu.


Bima tersenyum, menggeleng. "Aku bukan siapa-siapa, Mariana. Aku akan menunggu di luar.


"Tapi satpam itu bilang Tuan Marco berpesan bahwa kau boleh masuk."


Bima kembali menggeleng. "Aku pasti akan bosan hanya mendengarkan kalian berbicara, tanpa tahu apa yang sedang kalian bicarakan.


Mariana terdiam, mengangguk.


"Di mana kau akan menungguku?" tanya Mariana.


"Aku akan menunggumu di cafe seberang. Telepon aku kalau rapatnya sudah selesai."


Mariana mengangguk. "Apa kau membawa uang?"


"Aku tinggal menggesek kartunya, bukan?"


Mariana cemberut. "Bima, bisakah kau tidak menggunakan kartu itu? Aku takut," kata Mariana.


Bima mengerutkan kening. "Takut?"


"Bima. Sebaik-baiknya teman, siapa orang yang akan dengan mudah memberikan begitu banyak uang pada orang lain tanpa pamrih. Aku hanya takut dia menuntut imbalan."


Bima menggeleng. "Temanku bukan orang seperti itu. Saat peresmian taman hiburan miliknya nanti, kau akan tahu siapa dia."


"Taman hiburan?" tanya Mariana.


Bima mengangguk. "Dia juga berencana membangun taman hiburan besar di sini."


"Apa temanmu pemilik Four Trainer Group?"


Ting!


Pintu lift terbuka.


"Ayo. Masuklah. Aku bukan orang yang tepat untuk memberimu penjelasan." Bima mendorong pinggang Mariana, menjauh dari lift.


"Aku menunggumu di cafe depan gedung ini."


Mariana mengangguk, melambai sebelum pintu lift kembali menutup.


Bima bergerak turun, kembali ke lantai dasar.


"Bos...." Satpam yang tadi menyapanya dan Mariana menunduk sangat dalam.


"Kau ini tidak hidup di jepang. Kenapa memberi hormat saja seperti sedang sholat," tegur Bima. Pria itu segera berdiri tegak.


"Maaf, Bos."


Bima mengangguk, raut wajahnya menatap dingin, seperti biasa.


"Bersikaplah lebih profesional. Di tempat ini istriku lah bosnya, bukan aku. Istriku sangat jeli, jadi jangan sampai dia curiga padamu. Aku memilihmu karena kau yang terbaik."


Pria itu kembali mengangguk, menunduk setengah inchi lalu kembali tegak. "Siap, Bos. Akan saya lakukan."


Bima berjalan pergi, tidak menuju ke parkiran melainkan menyusuri trotoar untuk menyeberang jalan ke cafe.


"Bimantara Sandiago."


Bima membeku di tempatnya. Sebelum menoleh pun, dia tahu suara siapa yang memanggilnya dengan mendayu-dayu.


"Mau apa kau?" tanya Bima dingin, langkahnya terhenti.


"Merebut mu kembali, tentu saja. Wanita murahan itu tidak pantas mendapatkan mu."


"Aku tidak berbuat zina dengannya. Kami sudah menikah."


Suara tawa merdu terdengar dari bibir wanita itu. "Tapi dia makhluk kotor yang sama sekali tidak patut kau tiduri."


"Aku mencintainya."


"Jangan berbicara soal cinta di hadapanku, Bima. Kau tidak pernah mencintai. Kau hanya nafsu."

__ADS_1


Bima berbalik, menatap sosok wanita ayu mirip gadis-gadis korea, mengenakan mantel panjang yang menutupi baju minim di baliknya.


Mata Bima memindai dari atas ke bawah. Di balik mantel panjang itu, wanita itu mengenakan tank top hitam tali gantung dan hot pants yang hanya menutupi bagian fitalnya saja.


"Maaf, aku sama sekali tidak tertarik dengan gaya berpakaianmu," kata Bima tenang.


"Begitu?"


"Jangan macam-macam, Sarah." Bima mundur selangkah.


Wanita itu tersenyum. Tawa lembut terdengar meski bibirnya sama sekali tidak terbuka.


"Kalau begitu aku akan memaksamu."


"Pergilah."


"Aturannya tidak begitu, Bima."


"Aku tidak peduli. Pergilah. Aku sudah beristri."


"Tapi aku peduli."


Bima berbalik, melangkah pergi tanpa menghiraukan wanita di belakangnya.


Wanita itu kembali tertawa. "Kau akan menebusnya, Bima."


Bima terus melangkah, berusaha menghalau aura yang ditampilkan wanita itu untuk memikatnya.


Dua setengah jam menunggu, akhirnya ponsel Bima berdering.


"Aku sudah selesai."


"Aku akan menjemputmu. Tunggu di loby saja." Bima segera bangkit, meninggalkan selembar uang berwarna merah untuk dua cangkir kopi yang telah dihabiskannya.


"Ada apa? Kau terlihat kusut?" tanya Mariana, begitu menatap wajah Bima.


"Kusut?"


Mariana mengangguk yakin.


"Bagaimana tidak kusut kalau aku menunggumu selama hampir tiga jam hanya dengan meminum kopi."


Bima menggeleng. "Aku takut kekenyangan kalau makan, nanti aku tidak bisa menemanimu makan di rumah."


Mariana tergelak, meraih lengan Bima dan bergelayut di sana.


"Kalau begitu ayo cepat ita pulang, dan segera makan di rumah. Anak ini juga sudah lapar," katanya, sambil mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit.


Bima menyetir lebih pelan dari biasanya. Selain Mariana tengah hamil, konsentrasinya juga sedang sangat menurun. Berkali-kali bayangan Sarah seolah berkelebat di hadapannya, menghalangi jarak pandangnya ke jalanan.


"Kenapa kau pelan sekali menyetir, Bima?" tanya Mariana, menatap Bima bingung.


"Aku kan sedang membawa wanita hamil. Aku menjaga dua nyawa sekaligus."


Mariana tertawa. "Bukankah sudah sejak tiga bulan yang lalu?"


Bima tersenyum masam.


Mobil berbelok memasuki pagar rumah, meluncur masuk hingga berhenti di depan garasi.


"Silahkan, Tuan Putri." Bima membuka pintu, mempersilahkan Mariana untuk turun.


Mariana turun, tersenyum lebar, lalu mengecup bibir Bima sekilas.


Bima tertawa.


"Bagaimana pekerjaanmu tadi?" tanya Bima, saat keduanya sudah menghadapi sepiring besar spaghetti bolognese buatan Bima.


"Luar biasa. Kami akan mengerjakan proyek uang digital yang sedang ramai di luar negeri."


"Oh, ya?" tanya Bima berpura-pura tertarik.


"Apa kau pernah tahu uang digital?"


Bima menggeleng, memasang tampang bodoh.

__ADS_1


"Uang itu sedang ramai satu bulan terakhir ini, di luar negeri. Mereka mengubah mata uang mereka menjadi mata uang digital. Coin digital."


"Bagaimana cara menggunakannya?"


"Sama seperti kartu yang kau bawa. Hanya saja nominal di dalamnya tidak berbunyi rupiah, dolar, yen atau mata uang mata uang lainnya, tetapi berbunyi coin."


"Satu coin, setara berapa rupiah?" tanya Bima, seolah dia samma sekali tidak mengerti.


"Tergantung. Karena mereka yang menggunakan mata uang ini tidak mengkonversi rupiah atau dolar ke nilai coin. Mereka menjual barang dengan harga coin. Jadi pada setiap item barang, nilai coin mu tidak akan sama karena coin ini bertindak seperti sebuah mata uang tersendiri."


Bima kembali manggut-manggut.


"Jadi, kau menjual aplikasi?"


"Ya. Semacam itulah."


"Apa itu terlalu berat untuk kehamilanmu?"


"Aku tidak bekerja menggunakan fisik, Bima. Hanya menggunakan otak. Lelah mungkin saja, tapi kami bekerja dengan tim."


Bima kembali mengangguk-angguk paham.


"Ku menyukai pekerjaanmu?"


Mariana mengangguk yakin. "Sangat suka."


"Bagaimana rekan kerjamu?"


"Tuan Marco sangat hebat. Begitu pun Daniel. Dia masih sangat muda, tapi sangat hebat. Cara pandangnya jauh ke depan."


"Siapa Daniel?" tanya Bima seolah ingin tahu.


"Dia orang yang memegang kantor pusat di Malaba. Pria itu, sangat muda tetapi mampu menjalankan perusahaan sekelas FMCG di Malaba, sekaligus mengendalikan tangan-tangannya di banyak kota lainnya."


"Menurutmu begitu?"


"Tentu saja. Dia masih sangat muda, kalau kau tahu. Tetapi cara berpikirnya begitu terbuka. Dia bahkan mampu membaca situasi dengan sangat baik, membuat prediksi dengan bahkan hampir akurat."


Bima diam,, menyendok spagety di depannya. Matanya melirik Mariana yang berbinar-binar.


Entah bagaimana, bagian dalam dadanya tiba-tiba terasa nyeri menusuk yang tidak ada hubungannya dengan sakit jantung. Seperti ada sesuatu yang runcing yang mengganjal di sana dan harus dilepaskan dengan cara berteriak, marah, atau memukul.


Bima meletakkan sendoknya, bangkit berdiri tanpa mengucap satu kata pun. Dia tahu dia sedikit kesulitan mengontrol emosinya. Rasa ini, hampir sama dengan apa yang dia rasakan kala itu, yang membuat Sarah hamil yang kemudian dibunuhnya dengan tangannya sendiri.


Takut hal yang sama terjadi pada Mariana, Bima pergi. Dia keluar melalui pintu belakang, berjalan di taman belakang yang sudah ditumbuhi banyak bunga-bunga cantik oleh Mariana.


"Bima...."


Bima tidak menjawab.


"Bima, ada apa denganmu?"


"Pergilah," jawab Bima dingin, meski dia sudah mencoba menekannya ribuan pascal, agar tidak muncul ke permukaan.


"Apa kau marah?"


"Pergilah, Mariana. Tolong."


"Tapi aku tidak ingin sendirian."


"Aku akan menyusulmu, nanti."


"Kalau begitu aku akan menunggumu di sini."


"Tolong, Mariana. Pergilah."


"Apa kau mengusirku?"


"Tidak. Aku sedang tidak baik-baik saja, dan aku takut menyakitimu."


"Ceritakan saja masalahmu padaku. Aku siap menjadi pendengar meski mungkin tidak bisa memberi solusi. Seperti katamu, kau akan lebih baik kalau menceritakan masalahmu dari pada menyimpannya sendiri."


"Ya. Aku akan menceritakannya oadamu, nanti. Tapi sekarang tolong tinggalkan aku sendiri untuk menenangkan diri."


Mariana menarik nafas oanjang, mengangguk, lalu melangkah pergi.

__ADS_1


"Em... Kalau kau mencariku, aku akan ada di ruang kerja di deoan kamar kita. Aku perlu menelpon Daniel untuk rencana besok." Mariana berbalik di pintu, memberitahu Bima dari sana.


Bima berbalik kasar, menatap Mariana dengan tatapan murka. Mariana menatap kaget melihat perubahan ekspresi Bima.


__ADS_2