
Mobil meluncur di atas jalanan beraspal. Bima membawanya dengan sangat tenang. Mariana bersandar, menatap kosong ke arah jalan raya.
"Mariana." Bima menyapa. Mariana menoleh sebagai jawaban.
Bima melirik sekilas, kemudian menggeleng.
"Ada apa?" tanya Mariana ketus, meski nada suaranya terdengar datar dan kosong.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Bima.
Mariana menghela nafas panjang. "Kecewa," katanya.
Bima mengangguk. "Tentu saja kau kecewa. Kau wanita terhormat dan kaya raya, harus terbuang bersama pria yang bahkan tak memiliki rumah sepertiku."
Mariana cepat menggeleng. "Aku tidak kecewa soal itu."
Bima menoleh, mengangkat alis. Mariana tersenyum hambar. Kepalanya kembali bersandar pada kursi, menatap lurus ke depan.
"Boleh aku menyalakan audio?" tanya Bima.
Mariana mengangguk.
Bima menyalakan audio, memilih lagu-lagu slow yang menenangkan. Mariana melirik Bima. Laki-laki itu mengganti lagu dan mengatur volume hampir tidak melihat ke arah audio. Matanya memandang ke tengah jalanan yang padat, sementara satu tangannya di atas layar audio.
Mariana memperhatikan jalan. Dia baru menyadari, di bawah tangan Bima, mobil ini seolah sedang berjalan di jalan tol. Bima membawanya tidak pelan, namun Mariana hampir tidak merasakan guncangan apa pun saat Bima menyalip atau menginjak rem. Cara menyetir pria ini sangat halus. Kalau ini baru pertama kalinya Bima memegang mobil semacam milik Mariana, seharusnya tidak akan selincah ini pria ini membawanya.
"Cara menyetir mu begitu halus. Apa kau pernah menyetir mobil jenis ini sebelumnya?" Mariana bertanya.
"Oh, aku... aku dulu pernah bekerja menjadi sopir," jawab Bima yang tiba-tiba saja gugup.
"Sopir pribadi?"
Bima mengangguk patah-patah.
"Kenapa tidak lagi?"
__ADS_1
"Bos ku meninggal dalam kecelakaan."
Mariana membelalak.
"Aku tidak pernah menggores mobil sedikit pun. Dia mengemudi sendiri saat kecelakaan itu terjadi," kata Bima datar, melihat ekspresi tegang di mata Mariana.
Mariana tersenyum. Senyum termanis yang baru pertama Bima lihat tersungging di bibir tipisnya yang berwarna pink pucat.
"Eh, Bima."
Bima menoleh.
"Jangan tersinggung, hanya ingin tahu."
Bima mengangguk, tatapannya kembali ke jalan.
"Di mana kau tinggal selama ini?"
Bima diam.
"Tidak masalah. Aku, numpang di rumah kakek. Tetapi lebih sering berkeliaran di hutan."
"Di hutan?" tanya Mariana kaget. Bima mengangguk.
"Tidur di hutan maksud mu?"
Bima tertawa masam. "Kau pikir aku monyet, tidur dengan bergelantungan di pepohonan."
"Oh, tidak. Bukan seperti itu. Maksudku...."
"Aku mengerti. Jangan khawatir membuatku tersinggung."
Mariana mengangguk pelan.
"Emmm, Bima. Tidak bisakah kalau kita menumpang semalam saja di rumah kakekmu?" tanya Mariana ragu-ragu.
__ADS_1
"Pertama, Kakekku pasti tidak sedang di rumah saat ini. Kalau kau mengatakannya tadi, mungkin aku bisa meminjam kunci rumahnya."
"Oh. Mana aku tahu kalau kita akan terdampar di jalanan seperti ini." Mariana menggerutu. "Memangnya dari mana kau tahu kakekmu tidak di rumah? Maaf, bukan aku tidak percaya padamu. Hanya ingin tahu." Mariana cepat menambahkan.
"Sudah ku bilang tak perlu khawatir aku tersinggung. Rasa ingin tahu itu manusiawi," jawab Bima tenang. "Ya. Jadi, setiap terjadi pelanggaran adat di dusun kami, para tetua biasanya akan pergi dan bermalam di bungalo nenek moyang untuk memohon doa keselamatan agar desa kami aman dari kutukan."
"Maksudmu pelanggaran adat, apakah seperti yang kita lakukan?"
"Ku pikir kita tidak pernah melakukan apa pun," kata Bima datar.
"Oh, maksudku... Bukan, aku..."
Bima menahan senyum. "Tidak perlu panik. Aku tahu yang kau maksud."
Mariana berdecak kesal, kembali menatak jalan dengan wajah cemberut.
"Aku minta maaf kalau kau merasa tidak nyaman tidur di jalan. Tapi bagaimanapun, rumah kakek hanya memiliki satu kamar."
"Tidak apa. Aku tidak terlalu membutuhkan kasur untuk tidur. Aku hanya butuh kamar mandi. Besok pagi aku harus bekerja. Bagaimana aku akan bersiap kalau mandi saja susah."
" Bekerja? Bukankah kita masih berbulan madu?" tanya Bima santai.
Mariana menoleh, membelalak.
Bima tersenyum pahit. "Ku pikir kita akan berbulan madu seperti pengantin-pengantin baru pada umumnya," kata Bima acuh.
"Ingat oerjanjian kita, Bima. Kau yang mengusulkan kalau kita hanya menikah di atas kertas."
Bima mengangkat bahu.
"Kita menyewa hotel. Aku akan menyewakan satu kamar untukmu."
"Tidak perlu. Kalau kau memang ingin tidur di hotel, aku tidak akan ikut. Aku sudah terbiasa tidur di mana pun."
Mariana mendengus panjang. Tepat bibirnya terbuka untuk menjawab, ponselnya berdering.
__ADS_1
"Kakek...." gumam Mariana menatap layar ponsel.