
Di tempat Kakek Bima....
"Aku sudah menduga," kata kakek Bima mengangguk-angguk.
"Kau sudah menduganya?"
"Kita harus menerima segala resikonya. Cucu ku jatuh cinta. Aku menyadarinya, bahkan saat dia sendiri tidak menyadarinya. Tapi auranya tidak bisa membohongiku."
"Tapi istrinya hamil, Kakek."
"Bayi itu aman. Dia bukan keturunan Bima."
"Apakah itu artinya wanita iblis itu tidak akan muncul?" tanya Tompson.
"Dia sudah keluar dari persembunyiannya."
Tompson membelalak kaget. "Kenapa kau diam saja?" tanyanya.
Kakek Bima tersenyum tenang. "Aku yakin Bima sudah merasakannya."
Tompson menggeleng. "Tidak. Dia tidak merasakannya."
"Kalau begitu cintanya kepada istrinya begitu besar."
"Apa itu artinya?"
"Itu artinya, kita akan bisa menyingkirkan wanita iblis itu untuk selamanya."
"Bagaimana...?"
"Kau tahu bagaimana wanita iblis itu terbentuk, bukan?"
"Bukankah Monata yang menciptakannya, dari bayi itu?"
Kakek Bima mengangguk. "Aku tidak pernah menyalahkan Monata yang mengikat cucuku dengan wanita iblis yang diciptakannya dari jantung bayi mereka. Itu karena kesalahan Bima juga. Seandainya saja Bima tidak pernah lari dari tanggung jawab menikahi Monata, mungkin kutukan ini tidak akan pernah terjadi padanya."
Kakek Bima mendesah panjang. "Terapi bagaimana pun, kita harus memutus kutukan ini. Satu-satunya cara adalah dengan membiarkan Bima tunduk pada seorang wanita yang mampu menggenggam hatinya. Berat. Akan sangat berat resiko yang harus di tanggung Bima, tetapi jika dia tunduk pada rasa cintanya, maka dia akan mampu melaluinya. Dan dengan segala kekuasaan yang dimilikinya sekarang, aku yakin dia mampu mengatasinya."
"Apa kau tahu iblis itu muncul sebagai apa?"
"Wanita."
"Wanita?"
Kakek Bima mengangguk. "Ya. Dia akan mencoba merusak rumah tangga Bima dan istrinya. Tentu saja, kalau kau mengingat masa lalu Bima dan Monata, tentu kau sudah bisa menebaknya."
Tompson mengangguk mengerti.
"Apa kau pikir mereka akan berpisah?"
"Tidak. Melihat begitu besar perasaan Bima kepada Mariana, aku yakin dia mampu memperjuangkannya. Itu kenapa aku mengatakan, dengan kekuasaannya saat ini, itu tidak akan terlalu sulit."
"Maksudmu, Bima bisa mengerahkan banyak orang?"
"Tentu saja. Aku perkirakan iblis wanita itu akan mempengaruhi istri Bima untuk pergi. Tapi dengan kekuasaan yang Bima miliki, akan mudah baginya untuk menemukannya kembali."
"Apa kau pikir wanita itu akan menyakiti Mariana?"
Kakek Bima menggeleng. "Mariana hamil, dan itu bukan darah daging Bima. Monata sangat menghargai wanita hamil. Dia dulu begitu mencintai bayinya, hingga kondisi gen yang diturunkan Bima membunuhnya dengan tidak sengaja."
"Apa kematian bayi itu karena Bima?"
"Secara tidak langsung, ya. Gen pembaca aura yang dia bawa, mengacaukannya. Tanpa pendampingan Bima, jelas bayi kecil itu hidup dalam ketakutan dan kecemasan, hingga membuat jantungnya bekerja di luar kemampuannya."
"Aku mengerti. Aku akan membicarakannya dengan Bima kondisi saat ini. Dia sedang bersiap membuka pusat hiburan di Maraya dan membuka cabang perusahaan besar untuk istrinya," jelas Tompson.
"Katakan pada Bima, selesaikan sebelum purnama tenggelam," pesan Kakek Bima.
Bima tertegun di balik meja kerjanya, menatap kosong pada Tompson yang duduk di hadapannya.
"Sebelum purnama tenggelam. Itu artinya kita hanya memiliki waktu 20 hari, tidak lebih."
Tompson mengangguk. "Apa Anda pikir Anda mampu menyelesaikan semuanya sebelum dia muncul dengan sempurna, Tuan?"
"Segala persiapan bisa di lakukan hingga sebelum waktu itu. Kemudian mereka bisa menjalankannya sendiri. Kau tolong awasi Mariana, pastikan iblis wanita itu tidak mengganggunya."
Tompson mengangguk. "Serahkan padaku, Bos."
Ponsel Bima berdering. Wajah Mariana muncul di layar depan. Bima segera mengangkatnya.
"Ya, Mariana."
"Apa kau masih sibuk, Bima?"
"Tidak. Aku sudah di perjalanan pulang. Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Bima. Aura dingin yang selalu mengelilinginya seketika berubah menghangat setiap kali mendengar suara Mariana.
Tompson tersenyum. Benar yang di katakan Kakek Bima. Perasaan Bima kepada Mariana terlalu dalam untuk bisa dihancurkan.
__ADS_1
"Aku akan sampai sebentar lagi. Tunggulah. Aku akan membawakan pesananmu."
Bima menutup telepon, berdiri. "Maafkan aku, Tompson. Mariana menungguku, dan dia memesan Es Terompet. Aku harus pergi."
Tompson mengangguk, mengikuti berdiri. "Saya mengerti, Tuan. Saya juga harus pergi. Hendrik akan memulai pekerjaannya di showroom mulai hari ini, jadi aku harus memberitahunya segala yang harus dia kerjakan."
Bima mengangguk, meraih jaket di kursi dan mengenakannya.
Bima meluncur cepat di jalanan padat, tangannya memegang es terompet pesanan Mariana.
"Mariana...." Bima memanggil, begitu kakinya menginjak lantai ruang tamu.
Sunyi.
"Mariana...!" Bima memanggil sekali lagi. Masih tidak ada jawaban.
Bima ke ruang keluarga, melongok ke dapur, lalu ke kamar. Mariana tidak terlihat di mana pun.
"Mariana...!" Bima berteriak sekali lagi, lebih keras.
"Bima. Kau sudah pulang?" Kepala Mariana menyembul dari pintu belakang.
"Mariana. Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Bima. Keningnya berkerut melihat baju Mariana yang penuh lumpur coklat.
"Menanam bunga. Taman di belakang cukup luas, tapi sayang bunganya hanya sedikit," jawab Mariana tenang.
"Astaga, Mariana. Kenapa kau tidak bilang saja padaku. Kita bisa memanggil orang untuk mengatur kebun sesuai keinginanmu." Bima berjalan mendekat, merangkul pundak Mariana dan membawanya ke dapur. "Ayo cuci tanganmu. Aku sudah membawakan es pesananmu."
Mariana membelalak senang, lalu berjalan ke dapur, mencuci tangan. Membuka bungkus es pesanannya, bibirnya cemberut.
"Ada apa?" tanya Bima.
"Kenapa ada nangkanya."
"Oh, maafkan aku. Kau tidak mengatakannya tadi," kata Bima menyesal.
Mariana meletakkan sendok, melangkah keluar dari dapur.
Astaga... kenapa wanita begitu rumit. Perkara nangka saja dia bisa ngambek seperti ini. Desis Bima dalam hati, tangannya menepuk dahi dengan frustasi.
"Mariana... ayo, aku akan mengantarmu beli lagi." Bima melongok ke kamar, menatap punggung Mariana yang meringkuk di atas tempat tidur. Mariana menggeleng.
"Apa kau mau aku membelikanmu lagi? Kau tidak mau nangka dan apa?" tanya Bima sabar.
Mariana kembali menggeleng.
Bima membuka mata, berjalan pelan dan duduk di belakang Mariana. "Sayang, lalu kau mau apa?" tanyanya pelan.
"Tidak mau," jawab Mariana sewot.
Untung saja kesabaran Bima sudah setebal karang di lautan sejak dia menjalani meditasi di hutan selama empat tahun terakhir. Andai saja dia masih menjadi dirinya yang dulu, gembong mafia dengan kesabaran setipis tisu toilet, mungkin sudah di bakarnya tubuh Mariana tubuhnya yang masih bergelung tak bergerak di atas tempat tidur itu hidup-hidup.
"Mariana. Jadi aku harus bagaimana?" tanya Bima, setelah menarik dan membuang nafas panjang berkali-kali.
"Terserah," kata Mariana datar.
"Baiklah." Bima berdiri, melangkah keluar. "Istirahatlah. Telepon aku kalau kau mau sesuatu, aku...."
"Mau ke mana lagi?" Mariana bangun, berbalik menatap Bima dengan tatapan galak.
"Aku... cuma mau ke minimarket depan cari cemilan."
"Ooh, cari cemilan. Mau cari cemilan yang manis-manis, kan."
Bima mengerutkan kening. "Eh, i-iya. Kamu mau titip makanan manis?" tanya Bima bingung, melihat perubahan ekspresi Mariana yang tiba-tiba.
"Tidak perlu. Aku sudah manis, tidak perlu di tambah yang manis-manis lagi!" sewotnya, membanting diri ke atas kasur, kembali memunggungi Bima.
"Mariana, kau kenapa?" tanya Bima semakin bingung.
"Tidak!" jawabnya singkat.
Bima berjalan kembali ke tempat tidur, kembali duduk di sisi ranjang sambil membelai punggung Mariana.
"Mariana. Katakan padaku ada apa?"
"Bukankah kau yang seharusnya mengatakan padaku ada apa denganmu di luar sana."
Bima menatap bingung. "Aku?"
Marina diam.
"Mariana...."
"Pergilah."
"Mariana. Kenapa kau seperti ini. Hanya perkara nangka di dalam es saja kau begitu marah padaku. Kita bisa membelinya lagi, bukan."
__ADS_1
"Aku juga tidak suka di beri susu."
"Tapi kau tidak mengatakannya, Mariana. Mana aku tahu."
"Tentu saja kau tidak tahu kebiasaanku. Karena kau terlalu sibuk di luar sana!" Bentak Mariana.
"Apa maksudmu, Mariana?" tanya Bima bingung. Kepalanya terasa berdenyut-denyut menyakitkan menghadapi ulah Mariana.
"Mariana! Bagun dan jelaskan padaku ada apa sebenarnya?" Bima menarik tubuh Mariana sedikit kasar, memaksa wanita itu berbalik.
"Kemana saja kau sepanjang hari ini?" tanya Mariana galak.
"Apa kau tidak membaca pesanku?"
"Justru karena aku membacanya, makanya aku bertanya padamu kemana saja kau sepanjang hari ini!"
"Aku menemui temanku, Mariana."
"Apa kau pergi ke Bandara?" tanya Mariana, matanya menyipit menyelidik.
"I-iya," jawab Bima tergagap.
"Bandara mana?"
"Bandara Internasional Skyway."
Senyum iblis muncul di kedua sudut bibir Mariana, membentuk lengkungan tajam. Bima reflek memundurkan kepala, membuat jarak dengannya.
"Oh, jadi BIS sekarang pindah lokasi, rupanya. Baiklah." Mariana kembali bergelung.
Seberkas lampu pijar tiba-tiba menyorot tajam menerangi isi kepala Bima, membentuk sebuah pemahaman baru. Satu-satunya penjelasan yang mungkin terjadi adalah Mariana sempat mengecek posisi ponselnya melalui GPS dan menemukan titik keberadaannya tidak di bandara internasional seperti yang telah dia sebutkan.
"Apa kau mentracking posisiku?" tanya Bima dengan suara sangat tenang, bahkan senyumnya terkembang.
Mariana menoleh, menatap tajam meski tampak jelas rasa penasaran dari balik sorot matanya.
"Aku tidak akan menyangkal kalau aku menghabiskan lebih banyak waktu di tempat lain, selain di bandara, Mariana."
Mariana mengerutkan kening.
Bima tersenyum, meraih tangan Mariana dan menggenggamnya. "Apa itu cemburu?" bisik Bima menggoda.
Mariana menarik kadar tangannya dari genggaman Bima, berbalik kembali memunggunginya. Bima tetgelak.
"Baiklah. Ku anggap itu sebagai jawaban, iya."
Mariana mendengus kasar tanpa berbalik.
Bima beringsut tidur di belakang Mariana, memeluk pinggang wanita itu dengan lembut.
"Apa pinggang ini mulai melebar, atau ini hanya perasaanku saja?" bisik Bima di telinga Mariana.
Sungguh sebuah kesalahan besar. Karena dalam kondisi hamil sekali pun, seorang wanita, terlebih yang sangat kenjaga tubuhnya seperti Mariana, akan murka kendengar kalimat melebar dari mulut pasangannya.
Mariana berbalik cepat, duduk sembari menatap Bima dengan tatapan iblis murka.
"Apa sekarang kau bermaksud mengataiku gendut?!" katanya dengan Nada mengancam.
"T-tidak." Bima tergagap. "Tentu saja tidak. Aku... aku hanya bermaksud mengatakan bahwa bayi di dalam perutmu sedang mengalami pertumbuhan." Bima mencoba meralat maksud perkataannya.
"Keluar!"
"Mariana...."
"Keluar!" teriak Mariana murka. Air mata menetes di kedua matanya, luruh membasahi pipi.
Bima berdiri dengan gugup. "Mariana, maafkan aku. Aku... maksudku, aku sama sekali t...."
"Pergi...!" Mariana berteriak lebih keras, melempar Bima dengan guling.
Bima berlari ke pintu, menatap Mariana antara bingung dan takut.
"Mariana. Sungguh aku sama sekali tidak mengataimu gendut. Kau sangat seksi, cantik seperti biasanya."
"Pergi, kataku!"
"Mariana."
"Apa kau tuli!"
"Tidak, tapi...."
"Pergi!"
"Ma...."
Mariana berjlan cepat mendekati Bima, mendorong tubuh laki-laki itu keluar, laku kenutup pintu dengan kasar.
__ADS_1
Brak!